
Happy Reading..
Hari ini Mama Elisabeth akan masak makanan khas Korea Selatan yaitu negara asal nenek moyang suaminya Wiguna Albert Kim Said. Hari ini Mama Elisabeth sangat ingin makan masakan Korea tersebut tetapi tidak ingin membeli langsung atau pun menyuruh koki yang memasaknya, Dia ingin makan dari hasil tangannya sendiri. Tetapi hal tersebut tidak terwujud dengan cepat karena lemari pendingin mereka tidak terdapat bahan makanan Korea dan mereka di Villa tersebut tidak pernah ada sejarahnya mereka masak makanan khas Korea Selatan.
Jadilah Mama Elisabeth, Hyuna dan Rian berada di Swalayan tetapi langkah mereka terhenti sesaat dikarenakan ada seseorang yang berteriak memanggil namanya Rian. Mereka pun menoleh bersamaan ke sumber suara tersebut. Rian yang awalnya bahagia dan selalu tersenyum ke arah Hyuna tiba-tiba senyuman itu pudar seketika dan wajahnya langsung berubah menjadi dingin dan tidak terbaca. Ternyata perempuan itu adalah Tunangannya Rian yang rencananya mereka akan bertunangan Minggu depan dengan wanita tersebut yang bernama Putri.
Putri pun pamit pulang setelah mereka berbincang-bincang santai dan membuat Hyuna ilfeel dengan kehadiran putri yang dimatanya sangat mengjengkelkan dan siapa pun yang melihat tingkah laku Putri akan mengundang bisik-bisik tetangga. Karena sikap dan gaya berpakaiannya yang cukup seksi.
Mama Elisabeth dan Hyuna sibuk berbelanja di Swalayan. Mereka berburu berbagai macam bahan makanan yang nantinya mereka akan masak dan sebagian akan di simpan sebagai stok bahan makanan tersebut di dalam lemari pendinginnya.
Hyuna mendorong Troli yang berisi penuh dengan belanjaan mereka, bahkan tidak hanya satu troli belanja yang terisi, tapi ada empat Troli yang muatannya melebihi kapasitas dari Troli tersebut. Rian mendorong dua troli sekaligus sedangkan Hyuna dan Mama Elisabeth hanya satu saja.
Setelah mereka sampai di depan kasir, Hyuna meletakkan barang belanjaannya ke hadapan kasir tersebut.
"Aunty sepertinya masih ada bumbu yang belum kita ambil?" tanya Hyuna setelah melihat semua isi trolinya.
"Kalau gitu kamu cari bumbu itu, Aunty yang mengurus pembayarannya" ucap Mama Elisabeth.
"Aunty gak apa-apa kalau Hyuna tinggal sebentar?" tanya Hyuna yang tidak enak hati jika meninggalkan Mama Elisabeth sendirian.
"Tidak apa-apa Kok, Kayak kita ini sedang di tengah hutan belantara saja yang bahaya jika saya hanya sendiri" ucap canda Mama Elisabeth.
"Oke kalau gitu Hyuna jalan dulu" ucap Hyuna sambil berlalu dari hadapan Mama Elisabeth.
Hyuna pun mencari beberapa macam bumbu dapur yang terlewat tidak sempat tadi dia ambil. Saking sibuknya dan fokusnya ke arah bumbu dapur itu, Hyuna sampai tidak menyadari kehadiran Rian di sampingnya. Rian celingak-celinguk mengamati di sekitarnya dan membuka resleting tas selempang Hyuna dan memasukkan sesuatu ke dalam tas tersebut.
Setelah melakukan hal tersebut, Rian langsung berjalan ke arah kasir di mana Mama Elisabeth berada. Mama Elisabeth pun tidak menyadari jika sedari tadi, Rian tidak ada.
Hyuna pun berjalan dan sedikit berlari kecil ke arah kasir karena melihat antrian di kasir yang sudah cukup panjang di karenakan belanjaan mereka yang sangat banyak.
"Lama banget sih belanjanya ibu-ibu itu" ucap seorang cewek yang sudah nampak bosan antri.
"Iya nih, Saya sudah antri hampir 29 menit nih tapi belanjaan mereka belum habis di dalam troli tersebut" timpal perempuan yang ada di belakangnya.
Hyuna yang mendengar beberapa omelan tersebut hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka dan tidak mau ambil pusing. Setelah mereka menyelesaikan transaksinya mereka pun pulang dan meminta tolong kepada pegawai Swalayan untuk membantu mereka membawa semua barang belanjaannya karena melihat Rian yang sudah kesulitan untuk membawa sampai ke mobil.
Mobil mereka sudah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang siang hari itu cukup terik dan panas.
__ADS_1
"Kenapa yah di Indonesia setiap hari semakin panas saja" ucap Hyuna yang mengeluhkan cuaca yang siang itu sangat panas.
"Baru panas segitu sudah ngeluh padahal itu hal wajar jika sudah masuk musim kemarau" timpal Rian yang baru kali ini ikut berbincang dengan mereka.
Mama Elisabeth dan Hyuna hanya berpandangan sambil tersenyum karena heran dengan sikap Rian yang biasanya banyak diam dan terkesan cuek, tapi kali ini agak cerewet.
Mobil mereka sudah memasuki area Villa milik Hendry Wijaya Lim. Hyuna hanya memanggil maid untuk membawa seluruh belanjaan mereka karena sudah terlambat untuk melaksanakan shalat ashar. Hyuna pun berlari ke dalam Villa tersebut tanpa memperhatikan kondisi jalan yang dilaluinya. Hingga Hyuna hampir saja menabrak tubuh Rian, untung saja Rian sigap membantu Hyuna agar mereka tidak tabrakan.
"Maaf Saya tidak sengaja" ucap Hyuna yang meminta maaf karena terlalu buru-buru.
"Tidak apa-apa kok, santai saja" ucap Rian sambil memasukkan kembali benda yang dia tadi masukkan ke dalam tas selempang milik Hyuna yang hampir saja terjatuh dan keluar dari tas tersebut dikarenakan Hyuna yang hampir terjatuh.
"Aku pamit ke atas dulu mau shalat Ashar dulu" ucap Hyuna yang sudah berlari naik ke tangga.
"Masih seperti dulu selalu saja ceroboh".
Hyuna pun melaksanakan shalat ashar dengan khusyuk walaupun sedikit terlambat. Hyuna kemudian melipat perlengkapan shalatnya lalu memasukkan kembali ke dalam lemari.
Hyuna beristirahat sejenak dan mencari hpnya karena sedari tadi berdering di saat dirinya shalat. Hyuna membongkar seluruh isi tasnya hingga ada benda yang terjatuh dan ikut keluar bersama dengan barang-barang yang ada di dalam tasnya.Bola matanya langsung melihat suatu benda yang berkilauan terkena cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamarnya.
"Inikan cincin Mas Alan yang Saya cari waktu Mas meninggal, kenapa bisa cincin ini berada di dalam tasku?."
Hyuna pun memakai cincin tersebut dan masih berfikir apa sebenarnya terjadi, karena mustahil jika cincin yang sudah lama dinyatakan menghilang dan cincin selalu dipakai oleh Alan suaminya hingga nafas terakhirnya Alan. Tapi Hyuna tidak menyangka jika cincin yang tidak dipakai oleh Alan disaat dirinya dinyatakan meninggal dan orang sudah mencari dimana pun tapi tidak ditemukan keberadaannya sampai berada di dalam genggamannya.
"Sepertinya ada yang ganjil dengan kematian Mas Alan apa kah ini suatu pertanda dan petunjuk yang diberikan oleh Allah untuk mengetahui misteri kematiannya Mas Alan, sepertinya Aku harus memberitahukan kepada Kak Arya dan yang lainnya tentang Cincin ini"
Hyuna pun melupakan rencana awalnya yang ingin menghubungi nomor hp mertuanya dan bertanya tentang kondisi Arjuna putra tunggalnya.
Hyuna langsung berlari ke arah garasi mobil tanpa memberitahu kepada Mama Elisabeth kalau dia akan pergi menemui Arya kakak sepupunya.
"Semoga kamu segera menemukan dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum terlambat"
Hyuna memakai mobil yang kebetulan ada kuncinya di pos Security. Mobil itu milik Ratna Antika Monata sedang berada di luar negeri karena masih menikmati bulan madu bersama suaminya yaitu Firman.
Hyuna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untung saja jalanan sore hari itu cukup sepi tidak seramai dan sepadat biasanya. Sehingga Hyuna segera sampai ke perusahaan DA milik Arya Wiguna Albert Kim Said. Hyuna tidak mematikan mesin mobilnya dan berteriak ke arah Security yang sudah sangat mengenal dan mengetahui siapa Hyuna.
"Maaf pak" teriak Hyuna sambil berlari ke arah Lift khusus pemilik perusahaan DA.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Hyuna sudah sampai ke lantai 14 tempat kantor Arya berada. Hyuna kembali berlari dan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Arya. Nafas Hyuna ngos-ngosan dan wajahnya dipenuhi buliran air keringat.
Arya, dan Dimas bingung melihat sikap Hyuna yang seperti orang dikejar Hantu saja. Dimas pun mengambil gelas lalu mengisi gelas tersebut dengan air putih kemudian menyodorkan gelas tersebut ke arah Hyuna.
"Minumlah dulu dan duduk agar keadaan kamu membaik" perintah Dimas.
Sedangkan Arya mengamati apa yang mereka lakukan. Dan heran melihat Hyuna yang tidak seperti biasanya selama dirinya sudah menikah dan berkeluarga. Karena hal ini biasa terjadi sewaktu Hyuna belum menikah.
Hyuna pun langsung mengeluarkan cincin yang ada di jari manisnya dan memberikan kepada Arya. Setelah Hyuna merasa tenang dan siap berbicara.
Arya dan Dimas tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Hyuna saat melepas ke dua cincin yang bertahta di jarinya. Mereka pun saling berpandangan sedangkan Dimas hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu apa-apa.
"Kakak mengenal siapa pemilik cincin ini?" tanya Hyuna.
"Itu kan cincin pernikahan kamu, terus ada apa dengan cincin ini?" Tanya balik Arya.
"Ini cincin yang Hyuna cari sewaktu Alan meninggal dan Hyuna tidak mengerti kenapa cincin ini tiba-tiba ada di dalam tasku?" tanya Hyuna yang nampak bingung dengan apa yang telah terjadi.
"Iya ini cincin yang dipesan khusus oleh Alan dan tidak mungkin ada imitasinya ataupun barang yang sama persis dengan ini, itu sama Saja sudah menyalahi aturan dari perjanjian saat kalian membuat cincin itu" ucap Arya yang heran dengan kenyataan yang ada.
"Bagaimana kalau kita mendatangi Toko perhiasan emas ini dan bertanya langsung apa yang terjadi di sini, karena jika ini cincin asli milik Alan berarti ada sesuatu misteri dibalik kematian Alan" ucap Dimas.
"Kalau gitu kita ke Toko perhiasan itu sekarang juga, Dimas batalkan semua janji Meeting kita hari ini" ucap Arya yang langsung mengambil jasnya serta kunci mobilnya.
Mereka bersiap ke Toko perhiasan emas tempat Hyuna dan Alan dulu memesan khusus dan sekaligus membuatnya.
...--------To Be Continued--------...
Makasih banyak Fania ucapkan kepada kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian 🙏
Ada beberapa Readers yang sejak awal selalu setia memberikan dukungannya kepada BDP Walaupun Fania tidak minta.🙏✌️🥰
Maaf jika selalu ada typo dalam pengetikan cerita ini 🙏✌️🤭.
by FANIA Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at 06 Mei 2022
__ADS_1