
Happy Reading..
Arman meninggalkan ruangan Perawatan Ratna bersama dengan Karina. Rencananya malam ini Arman ingin melamar Karina langsung di hadapan Karina dan setelah dia diterima batu lah Arman mendatangi ke dua orang tuanya Karina untuk meminta restu. Arman sudah merencanakan semuanya dengan baik dan sempurna tinggal menunggu harinya saja.
Arman bahkan sudah menyiapkan semua seserahan yang nantinya akan dia bawa untuk melamar pujaan hatinya. Arman sudah memantapkan hatinya untuk meminang Karina. Arman takut jika nantinya ada pria lain yang akan lebih duluan datang ke rumahnya Karina untuk melamarnya.
"Karina temani aku yah bukber" ucap Arman yang pandangan matanya masih terarah ke depan sedangkan tangannya masih sibuk di kemudi mobil.
"Maaf Mas, Aku tidak bisa soalnya Aku ingin mengantar Ibuku periksa ke rumah sakit kebetulan ini hari adalah jadwal pemeriksaannya" ucap Karina yang bimbang antara menolak permintaan Arman atau memenuhi ajakan Arman.
"Gimana kalau kita buka bersama saja di rumah kamu, setelah pulang dari antar ibu kamu periksa, emangnya jadwal periksanya jam berapa?" tanya Arman yang menatap sekilas ke arah Karina.
"Tapi mas aku malu rumahku terlalu kecil dan Mas mau duduk di mana Kursi saja kagak ada" ucap Karina yang menunduk malu mengingat kondisi rumahnya.
Karina rencananya setelah gajinya dibayarkan semua oleh Mama Elisabeth, Karina ingin merenovasi rumahnya, tapi Ayah sambungnya mengambil semua uang tersebut tanpa menyisakan sepeserpun untuk uang belanja maupun uang untuk biaya pengobatan ibunya. Karina diam-diam meneteskan air matanya karena kecewa tidak bisa melawan Ayah tirinya.
"Kalau gitu kita jemput Ibu kamu baru kita bareng ke rumah sakit dan ajak seluruh adikmu untuk ikut kita saja" usul Arman.
"Tapi bukannya kami akan membuat tuan muda kerepotan dengan kehadiran adik-adikku" ucap Karina yang menolak bantuan dari Arman karena tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua dan serahkan semuanya kepada Saya, Saya yang akan mengurusnya" ucap Arman lagi.
Mobil Arman berhenti di depan lorong jalan setapak untuk sampai ke rumah Karina harus melewati satu-satunya akses jalan untuk ke rumah Karina. Arman hanya geleng-geleng kepala melihat perkampungan yang sangat kumuh itu walaupun ini yang ke dua kalinya Arman mendatangi lokasi tersebut.
Karina membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat kondisi ibunya yang sudah terkapar di lantai rumahnya yang masih beralas tanah. Karina segera berlari ke arah ibunya. Ada banyak bercak darah di sekujur tubuh ibunya terutama di bagian tangannya. Sedangkan ke dua adiknya pun terluka.
"ibu bangun Bu, ini Karina" ucap Karina yang sudah menangis histeris melihat kondisi ibunya yang sudah bersimbah darah dan langsung memangku ibunya.
"Adik kamu nak, tolong adik kamu" ucap lemah ibunya Karin.
"Apa yang terjadi dengan adikku Ibu dan di mana mereka?." tanya Karina.
"Adikmu ingin dijual oleh bapak ke Luar negeri, komplotan bapak tadi datang ke rumah dan memaksa adik-adik kamu untuk ikut dengan mereka dan Ibu mencoba untuk melawan mereka tapi Ibu tidak berdaya" ucap Ibu Lestari yang sudah menangis tersedu-sedu mengingat ke dua anaknya dibawah paksa pergi.
"Ayok kita segera bawa Ibu ke rumah sakit terlebih dahulu" ucap Arman yang langsung menggendong tubuh renta ibunya Karina.
"Ibu harus kuat kita akan ke rumah sakit" ucap Karina yang sudah membantu ibunya untuk mencegah pendarahan yang semakin parah dan semakin banyak darah yang mengalir.
"Maafkan Ibu Karina yang selama ini belum bisa membahagiakan kamu nak, Ibu hanya bisa menyusahkan saja" ucap ibunya Karina yang kondisinya semakin lemah saja.
"Ibu tidak perlu minta maaf, Ibu tidak punya salah sedikit pun sama Karina, Ibu adalah Ibu yang paling terbaik yang ada di Dunia ini" ucap Karina yang sekuat tenaga mencegah air matanya.
"I....bu tii....dak kuat la...gi Ka...ri..na" ucap Ibu Lestari yang sudah sulit untuk bernafas dan nafasnya semakin tersengal.
"Tuan muda cepat sedikit bawa mobilnya" Teriak Karina dari kursi belakang.
Arman semakin mempercepat laju kecepatan mobilnya. Hingga mobilnya sudah sampai di depan UGD rumah sakit. Arman langsung membuka pintu mobilnya dan bergegas kembali menggendong tubuh ibu Lestari langsung ke dalam ruangan UGD.
__ADS_1
"Tolong bapak menunggu di luar saja, kami akan segera menangani pasien" Ucap perawat tersebut yang berusaha untuk mengusir Arman dari ruangan UGD.
Tapi tangannya digenggam kuat oleh Ibu Lestari sehingga dokter dan suster yang ada akhirnya membiarkan Arman di dalam ruangan tersebut.
"Nak to....long ja...ga Ka..rina putri ibu dan i..bu mo...hon huhuhu" ucapan Ibu lestari yang sudah susah untuk keluar dan semakin sulit untuk bernafas lagi dan kadang batuk.
"Ibu harus kuat ibu pasti akan selamat dan kembali berkumpul dengan anak-anak Ibu" ucap Arman yang ikut menangis melihat kondisi ibu Lestari.
Sedangkan Karina mondar mandir di depan UGD antara khawatir dengan kondisi ibunya dan juga adiknya. Karina sudah tak hentinya menangis tersedu-sedu dan tak lupa berdoa untuk keselamatan Ibunya.
"Nak ibu mohon jaga Karina dan tolonglah cari adiknya Karina" ucap Ibu Lestari yang sudah tidak jelas bicaranya.
"Arman janji akan menjaga Karina dan mencari adik-adiknya Karina secepatnya, ibu tidak perlu khawatir bahkan Arman akan menikahi Karina setelah idul Fitri Bu" ucap Arman.
Ada perasaan lega dan tenang setelah mendengar penjelasan dari Arman. Perlahan ibu Lestari menutup matanya sambil mengucap kata.
"La... Ilaha... iillallah" ucapan terakhir yang mampu diucapkan oleh Ibu Lestari sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Dokter yang melihat kejadian tersebut segera memeriksa secara menyeluruh kondisi ibu Lestari dan dokter hanya menggelengkan kepalanya tanda Ibu Lestari telah tiada. Karina pun segera dipanggil oleh Arman untuk melihat kondisi ibunya terakhir kalinya sebelum jenazah ibunya dibawa pulang ke rumah.
Karina histeris setelah mengetahui kalau ibunya sudah tiada dan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Ibu pasti masih hidup Tuan Muda, Aku yakin Ibu hanya pingsan saja nanti juga akan sadar, iya kan dokter?" ucap Karina yang memegang tangan dokter tersebut.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa ibu Anda tapi Tuhan berkehendak lain" ucap dokter tersebut.
"Karina kamu harus kuat dan sabar menghadapi semua ini, ingat pesan ibu kamu yang terakhir kalinya dan kita harus segera mencari keberadaan adik kamu" ucap Arman agar Karina segera bangkit dari kesedihannya.
"Aku tidak punya Ibu lagi Tuan, Aku sudah menjadi anak yatim piatu" ratap Karina.
Arman hanya bisa memeluk tubuh Karina untuk memberikan kekuatan moril agar tidak semakin terpuruk dalam kesedihannya.
Arman segera menghubungi anak buahnya untuk mengurus segala keperluan untuk pemakaman ibu Lestari dan segera mencari keberadaan adik-adiknya Karina.
Mama Elisabeth dan pak Hendry pun sudah datang ke rumah sakit dan meminta untuk jenazah mamanya Karina di bawah ke Paviliun yang ada di belakang Villa untuk segera di urus segala macam keperluan pemakamannya. Karina sangat berterima kasih karena sudah ditolong dan dibantu untuk mengurus semuanya karena seandainya tanpa bantuan dari mereka Karina tidak akan mampu memberikan penghormatan terakhir yang baik untuk ibunya.
Jenazah sudah dikafani bahkan sudah siap untuk dibawah ke tempat pemakaman umum yang terdekat dari Villa tersebut. Banyak tetangga yang mengetahui berita tersebut berbondong-bondong mendatangi Paviliun tersebut dan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Ibu Lestari yang mereka kenal adalah sosok yang baik hati, ramah dan sederhana. Bahkan mereka juga menjadi saksi hidup saat kejadian tersebut terjadi. Tapi mereka takut untuk berkomentar karena orang yang berada dibalik semua kejadian tersebut adalah orang Paling terkaya di Kampung mereka.
"Yang sabar yah Nak, kami turut berdukacita atas kepergian ibumu" ucap tetangga Karina.
"Iya kamu harus sabar dan harus kuat menghadapi cobaan ini" ucap si Ibu A.
"Makasih banyak yah Bu, Kalian sudah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke sini" ucap Karina.
Setelah berhasil saat kemudian, Mereka pun berangkat ke TPU setempat dan mengantar ibu Lestari ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Selamat jalan Ibu, Karina minta maaf belum bisa membahagiakan ibu" ucap Karina sambil menaburkan berbagai macam bunga di atas pusara ibunya.
__ADS_1
Anak buah Arman segera membisikkan kata-kata. Sedangkan Arman menampilkan wajah yang sangat cantik marah setelah mendengar perkataan dari anak buahnya.
"Segera tangkap mereka dan jangan bawa langsung ke penjara tapi bawa mereka ke ruang bawah tanah" ucap Arman.
Karina masih betah duduk di atas tanah pusara ibunya. Sedangkan Arman masih setia membawa payung tepat di atas kepala Karina karena panas matahari siang itu sangat lah terik.
"Tuan gimana dengan pencarian adikku apa mereka sudah ditemukan?" tanya Karina sambil membersihkan pakaiannya yang terkena tanah.
"Nanti kita bicarakan masalah itu yang jelasnya adikmu sudah aman dan kamu juga jangan terlalu bersedih kasihan jika ibumu melihat kamu seperti ini pasti beliau semakin tidak tenang di alam sana" ucap Arman sambil menggandeng tangan Karina untuk berjalan ke arah parkiran mobilnya.
"Makasih banyak tuan, Karina tidak tahu harus membalas apa semua pertolongan tuan muda" ucap Karina setelah mendudukkan tubuhnya di atas kursi mobil.
"Kamu tidak perlu khawatirkan hal tersebut, Saya hanya meminta satu hal dari kamu" ucap Arman yang menatap wajah Karina sambil menghapus jejak air matanya Karina menggunakan jari manisnya.
"Maksudnya tuan apa, Saya tidak mengerti" ucap Karina.
Arman langsung berlutut di hadapan kaki Karina lalu mengambil sebuah kotak dari dalam saku celananya.
"Mau kah kamu menjadi istriku sekaligus menjadi ibu dari anak-anakku kelak?' Tanya Arman yang sedari awal emang sudah berencana ingin melamar Karina tapi dikarenakan keadaan yang tiba-tiba berubah menjadi duka nestapa. Memang saat sekarang bukanlah waktu yang tepat, tapi Arman berharap dengan lamarannya ini bisa membuat kesedihan Karina berkurang sedikit.
Karina pun memutuskan untuk menerima pinangan dari Arman dan Karina hanya memiliki Arman sekarang yang bisa membantunya untuk melewati segala macam ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Karina pun menganggukkan kepalanya tanda siap dan Setuju untuk menikah dengan Arman.
"Makasih banyak sayang, Aku sangat bahagia" ucap Arman yang sangat bahagia setelah mengetahui kalau Karina siap untuk menikah dengannya.
Arman memasangkan cincin yang bertahtakan berlian berwarna pink ke dalam jari manisnya. Arman menekan tombol power agar sekat antara kursi kemudi mobilnya dengan kursi penumpang terpasang dan apa yang mereka lakukan tidak menjadi tontonan gratis dari Pak supir.
Arman memajukan wajahnya, tapi langsung dicegah oleh Karina. Sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak boleh mereka lakukan.
"Ingat mas kita masih puasa loh" ucap Karina malu-malu dengan wajahnya yang sudah nampak memerah seperti kepiting rebus saja dan sedari tadi selalu menunduk.
"Berarti kalau sudah buka puasa sudah bisa dong Karina" ucap Arman lagi yang tidak putus asa.
"Maaf Mas sebelum janur kuning melambai dan sebelum ada kata Sah diantara kita, hal tersebut tidak boleh kita lakukan" ucap Karina yang tidak ingin hubungannya ternodai dengan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.
...--------To Be Continued--------...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏
Biasakan yuk untuk menekan tombol Like setiap kali selesai membaca ✌️.
Sambil menunggu Updatenya BDP kakak Readers juga bisa singgah ke Novelku yg judulnya Cinta Yang Tulus ✌️🙏👌.
Typo Mohon untuk dimaklumi 🙏
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, 22 April 2022
__ADS_1