
Happy Reading...
Rasa kecewa, bahagia dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Banyak diantara mereka yang tidak menyangka, jika selama ini Mark memperlakukan anaknya seperti tawanan perang saja.
Mama Elisabeth merasakan keheranan yang sangat. Rumah tangga anaknya ternyata menyimpan duri yang sangat tajam.
"Moms apa kita benar akan pergi jauh dari Indonesia?"
Keyna melihat raut wajah Mommynya tidak bisa terbaca olehnya. Key baru tersadar jika selama ini orang yang telah melahirkannya hidup tertekan dengan sikap dari Daddy-nya itu.
Rumah tangga yang kelihatan aman,adem ayem saja ternyata tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan apa yang kita lihat.
"Maafkan aku, ini jalan yang terbaik untuk kita berdua, selama ini Aku sudah cukup bersabar untuk menerima semua sikap dan perlakuan kasarmu padaku dan karena anak-anak lah Aku bertahan sampai detik ini."
Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobilnya, agar ke dua anaknya tidak mengetahui apa yang dia alami saat ini.
"Kita akan tinggal di Bali, untuk sementara waktu kita akan ke Makassar mungkin sekitar satu minggu di sana baru kita berangkat ke Bali."
Matanya sedari tadi berkaca-kaca dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya.
"Sedari awal kita menikah aku emang belum ada rasa cinta, tapi setelah mengetahui Mas selingkuh dan akhir-akhir ini sering bersikap kasar, aku sudah tidak sanggup diperlakukan seperti itu lagi."
Awalnya mereka menikah karena perjodohan, tapi baru berjalan beberapa bulan pernikahannya diterjang ombak prahara. Di mana hingga 1 tahun dirinya belum juga hamil. Dan yang paling parah adalah saat dirinya ketahuan tidur dengan wanita lain dan wanita itu hamil anak perempuan.
Eliana hampir saja putus asa dan menyerah dengan keadaannya. Tapi, dia kembali teringat dengan masa depan anak kembarnya. Key dan Raditya.
Elliana kembali mengurungkan niatnya untuk bercerai dengan suaminya. Dia pun diam dan tidak ingin membuka aib rumah tangganya di hadapan orang lain dan untuk siapa pun.
"Mommy," Key menyentuh punggung tangan Momsnya.
Eliana menatap putrinya dengan senyuman yang sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Raditya Kamu tahu kan jalan ke pelabuhan?, kita ke Makassar naik kapal laut saja, dan tolong singgah di jalan XX kita jual mobil ini baru kita gocar ke Pelabuhan."
Zack dan Raditya menatap ke arah wajah Mommynya.
"Moms apa sudah memikirkan baik-baik, Raditya tidak ingin Moms menyesali semuanya, tolong berfikir lah sebaik mungkin, jika kita meninggalkan kota Jakarta menuju Makassar, maaf tidak ada lagi kata untuk pulang bersama Daddy lagi," dengan suara yang cukup tegas.
Eliana memantapkan hati dan pikirannya agar sejalan sehingga bisa menentukan pilihan jalan yang akan mereka lalui nantinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, kita ke Makassar," jawabnya dengan penuh keyakinan dan tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya.
Kesungguhan dan keseriusan itu terpatri di mimik wajahnya. Key yang melihat Momsnya meneteskan air matanya.
Raditya kedua matanya memerah entah menahan amarahnya atau menahan kesedihannya, hanya dia yang tahu dengan Sang Pencipta semata.
"Aku tahu apa yang Mommy rasakan, aku pernah melihat Mommy dipukuli oleh Daddy, tapi Mommy sangat baik menutupi kelakuan Daddy dengan sangat baik, Mommy terlalu sabar dan baik."
Raditya sesekali menatap ke arah Mommynya melalui kaca spion mobilnya.
__ADS_1
"Raditya, stop depan yah sayang," perintahnya yang memegang pundak putranya.
"Kok kita harus berhenti di depan sih Kok?" ucapnya yang keheranan atas perintah sekaligus permintaan Mommynya.
"Kalian harus ganti hp dan nomor sekalian dan ingat beli kartu perdananya yang sudah di daftar sebelumnya."
Mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah Conter hp dan pulsa. Mereka akan menjual hp mereka lalu membeli kartu dan nomor baru sekaligus.
"Salin kontak yang sangat penting saja ke kartu perdana Kamu dan hapus semua data Hp kalian apa pun itu."
Eliana kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan penuh keanggunan layaknya wanita bangsawan. Kebiasaan dan sikap seperti itu sudah tertanam pada dirinya sejak kecil.
Sedih, kecewa, sakit, terluka dan hancur sudah menjadi makanan sehari-harinya selama tiga tahun terakhir ini.
Sejak Suaminya mengenal keluarga besar Jefri sehingga perlahan sifatnya sangat berubah total dan drastis.
Mereka berjalan sambil memperhatikan keadaan jalan. Mereka tidak ingin jika nantinya ada kelurganya yang melihat mereka, apa lagi salah satu dari anak buah Mark.
"Baik Moms," jawabnya mereka.
Setelah bertransaksi dengan pemilik Conter dan sudah menyelesaikan semua sesuai petunjuk yang diberikan oleh Eliana. Hanya sekitar lima menit setelah mereka beli hp baru, orang yang akan membeli mobilnya juga sudah datang. Di dalam genggamannya terdapat koper hitam yang penuh dengan uang.
"Makasih banyak Pak."
"Sama-sama, kalau masih ada Mobil yang ingin Nyonya jual telpon saya saja," dengan senyuman ramahnya.
"Setelah ini kita ke Pelabuhan Moms?" tanya Zack Lee.
"Aku pesan Gocar yah Moms," Key sudah mengutak-atik hpnya lalu menghubungi Gocar tersebut.
Eliana hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka pesan sudah datang. Satu persatu mereka masuk ke dalam mobil tersebut.
Malam yang sudah larut tidak menyurutkan niatnya untuk berangkat ke Pelabuhan. Eliana sedikit pun tidak akan membalik tubuhnya ke belakang.
Cukup sudah penderitaan yang dia alami. Mulai detik ini dia ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Hp Eliana berdering, dia segera mengangkat telponnya.
"Selamat malam Pak,"
"Waalaikum salam, maaf Nyonya, surat cerai yang ibu minta itu sudah jadi hanya membutuhkan tanda tangan Nyonya saja."
"Bagaimana kalau berkasnya bapak bawa ke Jalan xx sekarang juga, kalau bisa karena saya akan kembali ke Inggris," jawabnya sedikit bohong agar tidak ada yang mengetahui di mana keberadaan mereka.
"Oke Nyonya sekitar lima menit saya akan tiba, kebetulan saya tidak jauh dari tempat Nyonya sekarang," balasnya.
"Aku tunggu bapak kalau gitu, makasih banyak atas bantuannya Pak."
"Sama-sama Nyonya."
__ADS_1
"Kalian tunggu di Kafe seberang jalan di jalan X saja, Mommy takut jika pengacara itu nantinya akan melihat kalian."
"Baik Moms."
"Maaf ya Pak, turunkan Kami di jalan di depan saja," sedikit teriak Eliana.
"Baik Bu," jawab driver ojol tersebut.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggir jalan pas depan Kafe tempat janjian mereka bersama dengan pengacara yang urus perceraiannya.
Di hari kedatangannya di Indonesia, Elliana sudah mantap dan memutuskan untuk menggugat cerai suaminya dengan banyaknya bukti yang cukup untuk melakukan hal itu.
Bukti yang paling buat dia sedih dan kecewa adalah Mark bermain perempuan bahkan hampir setiap hari. Tapi, Eliana tidak ingin mengatakan hal ini kepada pihak pengacaranya dan terutama kepada anggota keluarganya.
Bukti itu dia peroleh dari detektif yang dia sewa selama ini. Hancur sangat hancur berkeping-keping hingga tak tersisa.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian, jangan bosan untuk memberikan dukungannya kalian kepada BDP yah.
Semoga masih suka baca novel recehan ku ini. Mungkin Akhir bulan novel recehku ini akan pamit pada kalian semua.
Kalau gak punya waktu untuk baca setiap Babnya bisa dicicil juga boleh. Tidak apa-apa kok so Monggo saja lah Fania Ikhlas sangat malah.
Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg judulnya:
Sang Penakluk
Cinta Yang Tulus
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Tetap Dukung BDP dengan Cara:
Like setiap Babnya,
Rate Bintang 5,
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya
dan
Votenya Juga serta Giftnya yah bagi lah Kakak hehehe ✌️
********To Be Continued********
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Senin, 27 Juni 2022