Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 350. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Happy Reading…


"Makasih banyak Uncle, kalau gitu Kami akan menyusul Uncle untuk segera ke Kantor Polisi," jawabannya sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Listie masih setia di dalam dekapan hangat Zi. Dia seakan-akan tidak ingin melepas pelukannya itu. Dia hanya menatap wajah Zi yang sedang berbincang dengan keluarganya.


Senyuman selalu terpatri di raut wajahnya. Zi sedikit pun tidak melonggarkan pelukannya dari pinggang perempuan yang sudah berhasil menyentuh hatinya dan perlahan sudah mulai dia sayangi walaupun dia sangat tahu, jika perempuan tersebut masih berstatus istri orang lain.


"Bagaimana Zi, apa mereka bersedia membantu kita?" Tanyanya Listi yang berharap besar kepada Zi dan keluarganya.


Zidan tersenyum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Listie.


"Alhamdulillah Uncle Dimas bersedia membantu Kita, dan beliau sudah menghubungi tim pengacara yang terbaik untuk membantu mengatasi masalah Tante," terangnya.


Wajah Listie bertambah berseri-seri dan bahagia. Karena masalahnya dalam bertahun-tahun akan segera mendapatkan solusi dan jalan keluar yang terbaik untuknya.


Setelah sambungan teleponnya terputus, Zi bergegas ke dalam mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Kantor Polisi.


Zidane sangat bahagia dan bersyukur dengan kebersamaan dan kekompakan di dalam keluarganya.


Dari dulu keluarganya selalu bahu membahu mengatasi masalah apa pun yang dihadapi oleh salah satu anggota keluarganya.


Mereka berkomitmen jika ada di antara mereka haruslah jujur dan terbuka dengan masalah yang dihadapi oleh mereka. Dan berkerja sama untuk mencarikan solusi yang terbaik dan tepat untuk masalahnya.


Dimas membuka lemarinya lalu mengambil pakaian santainya. Dia menelpon Emre sebelum berangkat ke Kantor Polisi. Dia meminta Emre untuk segera menyelidiki kelebihan dan kekurangan dari lawan yang akan dia hadapi.


Dia ingin mengetahui siapa Roy sebenarnya. Dia harus mengetahui semua tentang musuh yang akan mereka hadapi. Supaya cara untuk mengatasinya tepat sasaran.


"Sayang, Abang pamit dulu, ada urusan penting yang Abang urus di luar," ucapnya lalu menarik selimut istrinya dan tak lupa mencium kening Dessy.


"Hati-hati yah Abang," jawabnya lalu kembali memejamkan matanya.


Dimas selalu memperlakukan istimewa istrinya. Usia pernikahan mereka boleh sudah banyak angka nominal jumlahnya, tapi kasih sayang dan perlakuan mereka masih seperti di awal pernikahannya.


Dimas segera menyusul Zidane dan menunggu kabar dari Emre. Mereka selalu seperti itu dalam menghadapi ujian salah satu anggota keluarganya.


Kecuali di antara mereka ada yang tertutup dan tidak ingin berbagi suka maupun duka, pasti mereka juga akan diam dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Seperti halnya, dahulu waktu Zack menikahi diam-diam Keyna. Andai saja Zack tidak minta tolong padanya waktu itu pasti mereka tidak akan tahu masalah yang dihadapinya.


Dalam keluarga besar Wiguna Albert Kim Said mereka sudah berkomitmen bahwa Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tidak ada perbedaan diantara mereka.

__ADS_1


Itu lah alasannya kenapa hingga sekarang kedekatan dan keakraban tidak pernah pudar dan luntur hingga lekang dimakan waktu.


Zidane segera menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya ke arah jalan raya yang menuju Kantor Polisi.


Perasaan dan hatinya Listie menghangat setelah mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari Zi.


Baginya dia sangat bahagia karena baru kali ini mendapatkan perlakuan yang baik dan sepesial dari seorang pria. Sedangkan Suaminya yang seharusnya jadi tempat dia bersandar dan mengadu, malahan jadi tempat pertama dia merasakan kekerasan, penyiksaan lahir bathin. Sedikit pun tidak pernah merasakan nikmatnya hidup berkeluarga.


Dia tidak bosannya melihat wajah seorang pria yang terpaut jauh dengan usianya. Dia tidak memungkiri perasaannya sendiri jika dia sudah mulai membuka hatinya untuk pria brondong yang ada di depannya.


Zi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum ke arah Listi.


"Tante kok sedari tadi lihatin Zi? Apa ada yang aneh di wajahnya Zi?" Tanyanya lalu melirik sekilas ke arah kaca spion.


Zi tidak ingin jika ada sesuatu di wajahnya yang membuat kepercayaan dirinya hancur seketika gara-gara sesuatu itu.


"Tidak ada apa-apa kok di wajahmu, malahan wajahmu sangat bersih yang mampu membuat hatiku cenat cenut tak karuan," jawabnya dengan sedikit gombalan.


Zi tersenyum menanggapi perkataan dari Tante Listie. Zi terenyuh hatinya dan gembira terpancar dari wajah dan ke dua bola matanya yang berbinar itu.


Listi menyentuh pipinya Zi lalu berkata, " wajahmu akan tetap tampan di matanya Tante hingga lima puluh tahun yang akan datang."


Perlahan mobilnya sudah memasuki area parkiran Kantor Polisi. Zi sudah melihat mobil Uncle Dimas dan Emre terparkir di depan Kantor Polisi.


"Ayok kita masuk jangan buang-buang waktu lagi," teriaknya lalu berjalan ke arah pintu mobil bagian kiri.


Zi membuka pintu khusus untuk Listie mengingat kondisinya yang tidak dalam keadaan baik saja.


Listi masih sering kali tiba-tiba mengeluh kesakitan. Terutama di bagian punggung dan tangannya. Wajahnya yang memerah,memar dan lebam sudah nampak sangat jelas sehingga untuk melakukan pelaporan dan visum akan mempermudah dan memperlancar proses penyelidikan.


Zi awalnya ingin menggandeng tangannya Listie, tapi segera ditolak oleh Listie mereka tidak ingin hanya karena gara-gara hal tersebut membuat memperkeruh suasana dan menambah masalah untuknya.


Mereka berjalan menuju ruangan tempat keberadaan Dimas dan Emre berada. Zi berjalan lebih cepat ke arah Unclenya setelah melihatnya.


"Assalamualaikum Uncle," jawabnya lalu meraih tangannya Dimas untuk dia cium punggung tangannya.


"Waalaikum salam," balasnya Dimas.


Emre hanya menepuk pundak keponakannya lalu tersenyum penuh arti melihat ke arah Listi. Mereka terkejut melihat wajahnya Listie yang babak belur bekas tanda tangan dan pukulan oleh Roy.


Dimas kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Listi dan betapa terkejutnya melihat Listi ternyata adalah teman masa kecilnya.

__ADS_1


Listie yang ikut kaget melihat Dimas yang ternyata teman sekolahnya dulu waktu masih duduk di bangku sekolah dasar.


"Kamu Listiani Anwar kan?" Tanyanya dengan nada suara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu Dimas Anggara yang jatuh dari atas pohon saat berniat ingin mengambil buah mangga pak Dodi kan?" Tanya balik Listi.


Mereka menutup mulutnya, mereka sama-sama tidak menyangka jika akan bertemu dalam keadaan seperti ini.


Zi hanya menatap mereka secara bergantian.


"Jadi perempuan ini yang Kamu tolongin Zi?" Tanya Dimas yang tidak menyangka jika sahabat baiknya adalah perempuan yang dibawa kabur oleh keponakannya.


"Iya Uncle, benar sekali emangnya Uncle mengenalnya?" Tanyanya keheranan dengan yang terjadi.


"Kami sahabat sejak kecil hingga SMA yah Dim, dan saya sangat tahu siapa Dimas ini luar dalam," terangnya.


"Alhamdulillah kalau Tante dan Uncle berteman dan sudah saling kenal," ujarnya.


"Tante….!!" Teriak Dimas dan Emre bersamaan.


Teriakannya mereka membuat Zi terkejut dengan reaksi dari keduanya yang menurutnya terlalu berlebih-lebihan.


"Kamu memangil dia Tante?" Tanyanya sembari menunjuk ke arah wajahnya Listie.


Zi hanya menganggukkan kepalanya ke arah ke dua pamannya itu.


"Ya ampun emak-emak gini Kamu selamatkan dan tolong? Apa tidak ada lagi perempuan yang single gitu Zi?" Tanyanya Dimas.


"Hey!! Aku sudah menikah dan sebentar lagi sudah jadi janda dan satu hal lagi Aku bukan emak-emak loh,aku belum punya anak," terangnya yang sedikit mengerucutkan bibirnya.


Begitu lah reaksi dan percakapan mereka setiap kali bertemu satu sama lain. Dari dulu memang mereka sudah seperti Tom and Jerry yang selalu berdebat dan bertengkar hal apapun itu.


Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak setelah mereka bertengkar kecil.


Mereka sama-sama tidak menyangka jika akan kembali dipertemukan setelah enam tahun lamanya tidak bertemu.


...Makasih banyak all Readers....


...by Fania Mikaila Azzahrah...


...Makassar, Kamis, 07 Juli 2022...

__ADS_1


__ADS_2