
Happy Reading..
Praaangggggg…
"Tidak mungkin!!!!"
Bibi Ainun melihat ke arah sumber jatuhnya vas bunga. Dia menjatuhkan hpnya yang belum dimatikan sambungan teleponnya dengan Delia dari Jakarta.
"Bapak!!!!"
Bibi Ainun segera berlari tergopoh-gopoh menyelamatkan tubuh suaminya yang sudah terkapar di lantai.
"Bapak bangun Pak, apa yang terjadi pada bapak?" Tanyanya sambil memangku kepala Suaminya.
Bibi Ainun sudah menangis histeris melihat kondisi Suaminya yang sudah tidak berdaya lagi.
Dia menurunkan tubuh Pak Hussein ke atas lantai lalu berlari ke arah luar untuk memanggil orang-orang yang berada di luar sana untuk segera menolongnya.
"Tolong!!!!" Teriaknya yang sangat kencang.
Masyarakat yang mendengar teriakan histeris dari Bibi Ainun segera mendatanginya. Mereka keheranan dan terkejut tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Ada apa Bi Ainun?" Tanyanya dari salah satu tetangga bibi Ainun.
"Suamiku Pak," jawabnya dengan tangisannya yang tidak terbendung lagi.
__ADS_1
"Ada apa dengan pak Hussein Bi, tolong bicara yang jelas," pinta ibu Lia.
Bibi Ainun tidak menggubris perkataan tersebut malahan hanya berlari ke arah dalam rumahnya. Dia lakukan itu agar suaminya segera mendapatkan pertolongan.
Orang-orang tersebut segera mengikuti langkahnya bibi Ainun. Dan ikut terkejut melihat tubuh Pak Hussein yang sudah tidak berdaya lagi.
"Ayo cepat bawa ke Puskesmas," teriak seseorang warga masyarakat.
"Pak Joko tolong ambil mobilnya bapak kesini Kasihan kalau dibawa pakai motor," ucap pak RT setempat.
Tubuh pamannya Delia segera dibawa ke puskesmas, tetapi sampai di sana mereka disuruh rujuk ke RS yang lebih besar. Dokter di Puskesmas mengatakan jika peralatan di sana belum memadai untuk menangani pasien penyakit jantung.
Bibi Ainun tak henti-hentinya menangis melihat kondisi suaminya.
"Adiguna kenapa kau melakukan ini semua, lihatlah bapak gara-gara perbuatanmu bapak harus sakit," ratap Bibi Ainun.
Delia segera menelpon pihak RSnya untuk segera menyiapkan perlengkapan dan peralatan untuk mereka bawa saat akan menjemput Pamannya di Kampung.
Jet pribadinya pun sudah siap hanya tinggal menunggu aba-aba dari Arya dan Delia saja.
Hanya butuh waktu sekitar kurang lebih dua jam, pamannya sudah berada di dalam ruangan perawatan VVIP dengan peralatan medis penunjang yang sangat lengkap dan canggih.
Delia dan Arya yang kebetulan berada di sana sangat sedih melihat kondisi dari Kakak dari ibunya Delia.
"Delia maafkan Adiguna kakakmu Nak, Bibi sangat malu dengan perbuatannya yang sudah sangat merugikan Perusahaanmu," jelasnya dengan disertai tangisannya.
__ADS_1
"Bibi jangan seperti ini, Delia merasa sangat berdosa jika bibi berlutut di hadapan Delia," tutur Delia yang membantu bibinya untuk berdiri dan bangun dari posisi berlututnya.
Arya ikut terharu melihat penyesalan dan kesedihan yang dirasakan oleh bibinya sendiri. Dia tidak menyangka jika berita tersebut berdampak negatif pada kesehatan pamannya.
Kemarahan Arya bisa terbendung sekejap mata. Dengan perlakuan lembut dan penuh kasih sayang dari Delia lah obat penawar yang paling mujarab untuk meredam amarah Arya.
Keesokan harinya, mereka makan pagi bersama di dalam satu meja. Mereka membicarakan tentang penyakit jantung yang diderita oleh Pamannya Pak Husein di Kampung.
Pamannya tiba-tiba sakit gara-gara mendengar perkataan dari istrinya Ibu Ainun. Beliau mendengar perkataan dari Istrinya mengenai tindak kejahatan yang dilakukan oleh putranya yang merugikan Perusahaan Sinopec Group milik keponakannya.
"Mama jadi Kakek gimana sudah kabarnya?" Tanya Zack yang menatap ke arah Delia.
"Kalau perkembangannya masih seperti kemarin sih," jawabnya.
"Aku kadang heran dengan orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya sendiri, apa mereka Sudah tertutup mata hatinya untuk berfikir positif dan jernih sebelum bertindak kejahatan," ujar Zidane yang menikmati roti buatan Omanya.
"Begitulah manusia nak, tidak ada rasa syukur yang tertanam di dalam dirinya sehingga dia nekat melakukan apa pun walaupun tidak dengan cara yang benar dan baik," jawab Arya.
"Nenek berharap kejadian ini bisa kalian ambil hikmahnya dibalik musibah yang menimpa keluarga kita, bertindak lah dengan pemikiran yang matang jangan memakai emosi dan ego sesaat sebelum kalian menyesali keputusan kalian," terang Mama Elisabeth.
Mereka terdiam dan manggut-manggut mendengar penuturan dari Mama Elisabeth. Mereka menggelengkan kepalanya dan sangat tidak setuju dengan perilaku yang merugikan orang lain.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian.
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Jumat 15 Juli 2022