Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 286. Kembali Berduka


__ADS_3

Happy Reading..


Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling berat adalah amanah, yang paling dekat adalah kematian.


Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia yang paling dekat dari segala yang dekat dari kita.


Duka mendalam kembali dirasakan oleh keluarga besar Wiguna. Kali ini duka itu datang dari pak Hendry suami pertama sekaligus suami ke tiga Ibu Elizabeth.


Kematiannya sangat tragis karena harus mati di tangan seorang wanita gila yang psikopat, Pak Hendry menggantikan tubuhnya Arya yang awalnya sudah dibidik dan diwanti-wanti akan ditembak oleh Putri. Tapi, naas malah tubuhnya yang menjadi amukan si timah panas itu.


Putri melesatkan hingga lima peluru yang berhasil bersarang di dalam tubuhnya. Arya dan yang lainnya tidak percaya jika ke dua kalinya anggota keluarga mereka meninggal dunia di hadapan mereka semua.


"Itu tidak mungkin!!!!"


Teriak Mama Elisabeth yang mendengar pembicaraan Delia lewat telpon bersama dengan Dimas, yang mengabarkan jika Pak Hendry telah berpulang ke Rahmatullah.


"Apa yang kalian katakan? pasti kalian berbohong kepada ku!!" ucap Mama Elisabeth yang sudah berjalan menghampiri Delia yang mematung tidak berdaya di tempatnya.


Emilia yang melihat kondisi Mamanya yang terguncang dan shock mendengar kabar tersebut langsung memeluk erat-erat tubuh mamanya.


"Mama harus sabar, ingat Kami masih ada bersama Mama," ucap Emilia yang sudah ikut menangis.


Sedangkan Delia masih berdiri di tempatnya saking terkejutnya dengan berita itu. Rina yang melihat kondisi sahabatnya segera mendekati Delia dan berusaha menyadarkan Delia.


"Delia sadar Del, Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rina.


"Dessy tolong bawa ke sini minyak anginnya," perintah Rina.


"Ya Allah cobaan apa lagi ini yang Engkau berikan pada Kami," ucap Hyuna yang ikut memeluk tubuh Mama Elisabeth yang sudah terhuyung ke belakang.


"Angkat tubuh Mama Kamu cepat ke atas tempat tidur," titah Ibu Anne Avantie.


Mereka bekerja sama untuk mengangkat tubuh Mama Elisabeth ke atas ranjang.


"Apa yang terjadi Dessy?" tanya Eliana yang baru saja datang.


"Paman Hendry meninggal dunia terkena tembakan dari penjahat," tutur Dessy yang tersedu-sedu.

__ADS_1


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, kenapa hal ini bisa terjadi? Aku harus segera menelpon nomor hpnya Mark," ujarnya.


Elliana segera menghubungi nomor hp suaminya untuk mengetahui kepastian dari apa yang sedang terjadi.


Kondisi yang dialami oleh Delia kurang lebih sama halnya dengan Arya yang sangat terpukul dengan kenyataan bahwa Papa sambungnya telah meninggal dunia karena, menyelematkan dirinya.


"Hp Kamu berdering," ucap Emre saat mendengar suara deringan hpnya Mark.


Mark menemani Arya duduk di kursi jok belakang mobilnya.


"Assalamu alaikum sayang," ucap Mark.


"Waalaikum salam Mas, apa yang terjadi sebenarnya dengan kalian? tolong jelasin sama Kami, kondisi Mama Elisabeth di sini sangat mengkhawatirkan," jelasnya.


"Papa terkena tembakan dari Putri bos penjahat itu, Putri menembaki Papa Hendry dengan membabi buta hingga banyak peluru yang bersarang di tubuhnya Papa, dan sangat disayangkan Papa lupa memakai jaket anti pelurunya," terang Mark.


Eliana menutup mulutnya mendengar penuturan dari mulut suaminya itu.


"Astaugfirullah, jadi gimana kondisi Papa apa tidak bisa tertolong lagi?" tanya Emilia yang mengambil alih hp kakaknya Emilia.


"Papa meninggal di tempat dan tidak sempat Kami larikan ke rumah sakit karena kondisinya yang sangat parah, peluru tersebut langsung mengenai jantung Papa," jelas Mark lagi.


Arya memandang kosong ke luar jendela mobilnya seperti mayat hidup saja yang seperti orang linglung.


Mark melihat ke arah Arya yang sudah tidak berdaya dan sangat terguncang hebat.


"Arya tidak bisa diajak berbicara Eliana, kondisi Arya yang shock melihat tubuh Papa tumbang di sampingnya membuatnya seperti orang gila yang hanya terdiam saja sedari tadi dan kadang langsung histeris menangis," terang Mark yang menyeka air matanya.


"Ya Allah kuatkan kami, dan sabarkan hati kami yah Allah, berikan kami keihklasan untuk mengahadapi cobaanMu ini," ratap Eliana saat sambungan telpon terputus.


Suasana dalam ruangan itu sangat terasa menyayat hati bagi yang mendengarnya. Kesedihan yang mereka rasakan hingga membuat mereka tak sanggup berdiri dengan tegak.


Mama Elisabeth masih tidak sadarkan diri hingga kedatangan jenazah dari Pak Hendry tiba di rumah duka. Mereka memutuskan untuk membawa pulang jenazah Pak Hendry ke kediaman utama keluarga Wiguna Albert Kim Said.


Arman dan Ratna hanya terdiam dan manut dengan keputusan yang sudah mereka ambil. Berita kematian tersebut langsung tersiar ke Seantero Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.


Pengusaha sukses yang terkenal dengan kepintaran dan kepiawaiannya dalam menangani kontrak kerjasama dan memimpin perusahannya hingga menjadi besar seperti sekarang ini.

__ADS_1


"*Papa maafkan Arman yang tidak bisa melindungi Ayah."


"Ratna memohon maaf kepada Papa yang selama ini sudah memberikan beban fikiran dan masalah dalam hidupnya papa*."


Tangis kehilangan dari mereka tidak hentinya terdengar. Walaupun selama ini pak Hendry terkenal ambisius dan jahat karena, Ingin menghancurkan keluarga dari Wiguna tapi, bagi mereka beberapa hari belakangan ini sudah sangat baik dan berubah, tidak seperti dahulu lagi.


"Jangan biarkan Mama sendirian di dalam kamarnya, jaga mama Elisabeth dengan baik, Arman tidak mau melihat mama sampai kenapa-kenapa," perintah Arman kepada saudaranya yang lain.


"Kamu tidak perlu khawatirkan dengan keadaan Mama, insya Allah kami akan jaga dengan baik tanpa Kamu suruh pun pasti kami akan jaganya," ucap Emilia.


"Mama jangan seperti ini, Eliana mohon sadarlah," ucap Eliana yang memegang tangan mamanya.


Arya dan Delia perlahan kondisinya sudah membaik setelah minum obat penenang. Malam itu menjadi malam yang kelam untuk dua keluarga besar. Semua kerabat terdekat, rekan bisnisnya dan tetangga pun sudah memadati area rumah Utama.


Malam yang semakin larut dan cuaca yang cukup dingin tidak membuat menyurutkan niat pelayak untuk datang mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.


Ratna Antika Monata, Karina Ranau, Delia serta yang lainnya membaca surat Yasin serta beberapa jamaah majelis taklim yang biasa diikuti oleh Mama Elisabeth setiap hari jum'at.


Hingga tidak terasa fajar pun sudah menyingsing dan terbit di ufuk timur. Cahaya yang berkilauan menyinari seluruh isi belahan bumi.


"Papa maafkan Ratna yah Pa, Ratna belum membahagiakan papa," ucap Ratna yang tidak habisnya menciumi seluruh wajah Papanya.


Tubuh tegap nan tinggi itu sekarang terbujur kaku dan tidak berdaya. Setiap insan manusia yang bernyawa pasti suatu saat akan merasakan yang namanya kematian, cepat atau lambat hal itu pasti terjadi. Setiap manusia akan tiba masanya untuk kembali ke sisi Sang maha Pencipta. Hanya amal ibadah yang bisa menjadi bekal kita kelak di akhirat.


............


*Makasih Banyak atas Dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian 🙏


Jangan Lupa untuk selalu memberikan dukungannya kepada BDP dengan Cara Like 👍,Gift 🎁, Favoritkan ♥️ dan Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐ yah.


Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg lainnya yang Alhamdulillah juga sudah kontrak yaitu:


1.Cinta Yang Tulus


1, Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar


...********To Be Continued********...

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Senin, 30 Mei 2022


__ADS_2