Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 225. Belajar untuk Berubah


__ADS_3

Happy Reading...


Sudah Liam hari Arman di rawat di Rumah Sakit dan selama itu pula Mama Elisabeth tidak pulang ke Villa dan sudah hampir hampir dua Minggu Mama Elisabeth tidak bertemu dengan anaknya dari suaminya terdahulu yaitu pak Wiguna Albert Kim Said. Ada kerinduan yang membuncah di dada Mama Elisabeth Kepada ke dua putrinya sedangkan Arya dan Delia setiap hari mereka berkomunikasi walaupun hanya lewat telpon saja. Mereka sudah melepas rindu. Arya sebenarnya masih kecewa dengan sikap dan kelakuan Papa sambungnya mengingat kejadian dulu, karena pak Hendry dan anaknya lah yang menyebabkan kematian Oma Estella dan hingga oak Wiguna tertembak dan berujung koma.


Tapi Arya tidak ingin membuat Mamanya tertekan dan terbebani sehingga Arya dan Delia berusaha untuk terus mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya. Karena memendam rasa kecewanya, benci dan dendam tidak kaan membuat seseorang bisa hidup dengan tenang dan bahagia.


Arman masih mendiamkan Mama Elisabeth dan sama sekali tidak ingin berbicara dengan ibu kandungnya sendiri. Tapi Mama Elisabeth mengerti dan memberikan waktu bagi Arman untuk membiasakan dirinya hidup bersama Mama Elisabeth. Seperti itulah kehidupan, jika ada anggota baru yang datang ke dalam keluarga inti pasti ada rasa canggung, malu maupun segan dengan orang baru tersebut.


Setelah dokter melakukan pemeriksaan kepada Arman dan diputuskan kalau hari ini Arman sudah bisa pulang.


"Dokter gimana dengan hasil pemeriksaan putraku, apa sudah membaik atau gimana??" Tanya Mama Elisabeth.


"Alhamdulillah putra ibu sudah membaik dan hari ini juga sudah bisa pulang tapi obatnya harus rutin diminum, kontrol ke sini jika ada keluhan dan ini resep obat untuk ibu tebus" jelas dokter tersebut sambil menyerahkan secarik kertas resep obat.


"Makasih banyak dokter" ucap Mama Elisabeth setelah mendengar kabar tersebut.


Mama Elisabeth kemudian menghubungi nomor handphone suaminya untuk mengabarkan kabar tersebut. Mama Elisabeth mengemas seluruh barang bawaanya selama di rumah sakit. Arman dibantu oleh perawat me Atas kursi roda dan mama Elisabeth sendiri yang langsung mendorong kursi roda putra sulungnya.


"Biarkan saya saja Bu yang mendorong tuan muda" ucap supir pribadinya.


"makasih banyak tapi tidak usah, selama ibu bisa kenapa harus minta tolong kepada orang lain" tolak Mama Elisabeth secara halus dengan nada bicara yang lembut


Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka pulang ke villa. Arman tidak mengerti dengan jalan pikiran Mama Elisabeth walaupun diperlakukan kasar, tidak sopan bahkan sering kali dibentak dengan perkataan yang cukup kasar, tapi tidak menyurutkan perhatian yang dicurahkan oleh mama Elisabeth. untuk buah hatinya.


Arman sudah berbaring di ranjang king size-nya Tapi belum bisa untuk berdiri bahkan untuk duduk saja harus ada yang membantunya. Arman bagaikan bayi besar yang tidak bisa bebas bergerak hanya berbaring dan sesekali duduk.


Mama Elisabeth dengan sabarnya merawat dan menjaga bayi besarnya. Bahkan Arman sendiri malu kepada dirinya sendiri jika harus bergantung terus kepada Mama Elisabeth sehingga Dia meminta untuk mendatangkan perawat pria yang khusus untuk membantunya jika ingin pup.


Sore harinya Arman terduduk di ranjangnya dan melihat ke arah jendela kamarnya, tiba-tiba terbersit rasa sedih dan penyesalan atas apa yang telah dia lakukan selama ini. Arman menyadari dirinya sudah terlalu tersesat dan jauh dari yang namanya kebaikan.


"Apa Allah masih bisa memaafkan Aku yang terlalu banyak dosa dan kesalahanku, Aku manusia yang terlalu hina".


Mama Elisabeth yang datang dengan nampan yang berisi bubur serta sayur sup dan ikan bakar beserta keluarganya dabu-dabunya kesukaan Arman yang sempat melihat Arman yang termenung sambil memperhatikan ke arah luar jendela kamarnya.


"Waktunya Makan siang Nak, Mama suapi kamu yah tapi pakai langsung tangan Mama gak apa-apa kan?" ucap Mama Elisabeth yang ingin membantu Arman makan.


Arman hanya menganggukkan kepalanya dan ingin mencoba makan dari tangan Mamanya. Selama dalam hidupnya Arman tidak pernah makan dengan tangan seorang ibu, selama Arman masih bayi dia disuapi oleh baby sitternya. Mama Elisabeth pun mulai menyuapi Arman menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan alat makan seperti sendok atau garpu.


Arman merasakan nikmatnya sangat berbeda jika makan dari tangan seseorang mama yang tulus menyayangi kita dengan tangan orang lain.


"Kamu suka ikannya dicelupin ke dabu-dabunya atau gimana Nak??." tanya Mama Elisabeth.

__ADS_1


"Dicelupkan ikannya saja Ma" ucap Arman yang untuk pertama kalinya berbicara langsung dengan Mama Elisabeth dengan suara yang sedikit lembut dan manja layaknya seorang anak kecil yang bermanja-manja dengan ibunya.


Arman heran karena ucapannya itu refleks terlontar dari bibirnya tanpa ada pemikiran sebelumnya sedangkan Mama Elisabeth sudah meneteskan air matanya sambil Terus menyuapi putranya. Arman menghapus jejak air mata Mama nya dengan jarinya. Mama Elisabeth langsung memegang tangan putranya dan semakin terharu dengan perlakuan putranya itu.


"Jangan menangis lagi Ma, Maafkan Arman Ma..ma" ucap Arman yang ingin memeluk tubuh mamanya tapi tidak bisa karena kemampuan geraknya yang terbatas dan kalau banyak goyang kakinya akan ngilu dan sakit.


Mama Elisabeth meraih tangan putranya lalu terus menciumi tangan putranya saking bahagianya mendengar dirinya yang dipanggil Mama oleh putranya yang sudah sekian lama dia nantikan.


"Mama sangat bahagia mendengar kamu memanggil nama Mama Nak, saking bahagianya Mama sampai-sampai Mama tidak bisa menahan air mata ini" ucap Mama Elisabeth.


"Maafkan Arman yah Ma, Arman sudah banyak dosa dan kesalahan Arman sangat besar Ma bahkan gara-gara Arman mertuanya Mama meninggal dan..." ucapan Arman terhenti karena Mama Elisabeth menutup mulutnya.


"Sudah nak jangan diteruskan lagi, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan karena manusia itu tidak ada yang sempurna Nak karena kesempurnaan itu hanya Allah yang maha sempurna dan maha memaafkan hambanya yang ingin bertaubat dan berubah jadi manusia yang lebih baik" jelas Mama Elisabeth yang membantu Arman untuk membersihkan mulutnya setelah makan siang.


"Tapi gimana caranya Arman untuk berubah ma shalat dan pegang Al-Qur'an saja Arman tidak pernah" ucap lesu Arman.


"Jangan menyerah sebelum kamu mencoba dan mama akan membantumu nak dan kita akan cari seseorang yang bisa membantu kamu untuk mengaji" ucap Mama Elisabeth yang menyemangati Arman.


"Makasih banyak Ma" ucap tulus Arman dibarengi dengan senyuman manisnya di wajah tampannya yang sudah terkontaminasi dengan oplas.


Seseorang yang berada di balik pintu ikut hanyut dalam keharuan yang terjadi antara seorang anak dengan seorang Ibu yang telah lama terpisah bukan dua tahun atau sepuluh tahun tapi 30 tahun lamanya mereka terpisah sehingga tidak mudah untuk memperbaiki dan mengisi waktu yang telah terbuang karena adanya pihak yang memanfaatkan hal tersebut.


Pak Hendry menghapus air mata yang membasahi pipinya. Pak Hendry bersyukur karena berkat kehadiran istrinya yang mampu membawa kebaikan di dalam rumahnya. Pak Hendry bahagia karena pilihan dan keputusannya untuk menikah kembali dengan mantan istrinya sangat berpengaruh baik terhadap dirinya secara pribadi serta putranya. Walaupun dengan jalan yang salah.


Setiap manusia punya kesempatan ke dua untuk menjadi manusia yang lebih baik dan ingatlah manusia itu tempatnya salah dan khilaf, kita manusia wajib membantu siapa pun yang ingin berubah dan memperbaiki dirinya menjadi manusia yang semakin baik. Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna karena yang sempurna itu hanyalah milik Allah. Selama kamu masih ada waktu dan Ingin berubah maka berubah lah untuk menjadi lebih baik lagi walaupun kadang banyak yang mencibir atau pun tidak percaya dengan apa yang akan kamu lakukan.


Arman hari ini mulai belajar bacaan Shalat dan tata cara wudhu tapi baru sekedar teori saja karena kondisi Arman yang belum bisa untuk praktek langsung. Mama Elisabeth dengan sabar dan telaten membantu Arman untuk belajar. Pintu kamar Arman di ketuk oleh seseorang. Mama Elisabeth pun berdiri dan langsung membuka pintu kamar tersebut.


"Maaf ganggu nyonya, di bawah sudah datang Orang yang akan membantu Tuan Muda Arman belajar ngaji" ucap Maid itu yang memakai seragam ungu soft.


"Makasih banyak, suruh beliau duduk dulu baru saya turun menemuinya" ucap Mama Elisabeth.


"Baik Nyonya" ucap maid itu.


Dua hari yang Lalu, Mama Elisabeth bertanya kepada salah satu Security-nya tentang seseorang yang mampu dan sanggup untuk mengajarkan Arman menbaca ayat suci Al-Qur'an dan Security tersebut punya tetangga yang katanya pintar dan fasih dalam baca tulis Al-Qur'an. Security tersebut pun menyarankan untuk menggunakan jasanya.


"Maaf yah nak, mama turun sebentar untuk bertemu dengan orang yang akan membantu kamu untuk mengaji dan Mama ingin melihat apa dua pantas untuk mengajarimu".


Arman hanya menganggukkan kepalanya sambil dan menatap sepintas ke arah Mamanya dan kembali melanjutkan untuk membaca buku panduan bacaan sholat serta doa harian.


Mama Elisabeth menuruni tangga dengan wajahnya yang semakin menunjukkan keibuannya. Wajah yang menyimpan rasa rindu kepada ke dua putrinya yaitu Emilia dan Eliana beserta cucunya. Tapi wajah itu dua tutupi dengan senyuman yang selalu terukir di wajahnya.

__ADS_1


Seseorang yang duduk di kursi tamu membelakangi tangga yang memakai Hijab biru tosca yang senada dengan gamisnya walaupun pakaiannya terbilang sederhana tapi tetep memancarkan aura kecantikan alami dan natural tanpa polesan make up. Mama Elisabeth terkejut sekaligus terpesona setelah berada di depan perempuan itu dan bertatapan langsung dengan ustadzah tersebut. Mama Elisabeth langsung memeluk tubuh Karina yang semakin cantik dengan penampilan barunya yang lebih tertutup. Karina pun membalas pelukan Mama Elisabeth.


"Silahkan duduk Nak" ucap Mama Elisabeth setelah melepaskan pelukannya.


"Saya ke sini sesuai perintah pak Anwar yang katanya ibu membutuhkan seseorang yang bisa membaca tulis Al-Qur'an" ucap Karina dengan wajah seriusnya


Mama Elisabeth tersenyum sebelum dia berbicara.


"Iya benar sekali dan kebetulan anak Saya yang butuh seseorang yang bisa membimbingnya dan mengajarkan tentang pengetahuan agama serta tata cara shalat, sebenarnya Saya bisa tapi saya lebih mempercayakan hal tersebut kepada kamu dan saya yakin Anak saya akan cepat belajar dan cepat pintar jika kamu yang mengajarinya" ucap mama Elisabeth yang tersenyum penuh arti.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat dan mereka telah sepakat dengan perjanjian tersebut, Karina mendapatkan gaji terbilang cukup besar yaitu 15 juta perbulan. Mama Elisabeth tidak ingin main-main Jika menyangkut pendidikaa agama anak dan cucunya dan ini berlaku untuk semua anggota keluarga Wiguna.


"Kalau gitu ini Al-Qur'an serta beberapa buku tentang doa harian dan tata cara shalat yang bisa kamue pakai untuk membantu putraku" ucap Mama Elisabeth fat meletakkan ke atas Meja beberapa buku tersebut.


Karina sempat terdiam dan bingung dan bertanya-tanya apa kah anak kecil yang ingin belajar, tapi sudah dua kali dia ke Sini tapi tidak pernah melihat anak kecil.


Karina memang hanya tamatan sekolah dasar tapi kalau masalah pengetahuan agama tidak diragukan lagi Wati selama ini Karina tidak memakai Hijab dalam kesehariannya. Bahkan Karina sempat jadi juara satu kori'ah setingkat kabupaten dan tingkat propinsi karena itu lah pak Anwar menyarankan untuk dia menjadi guru les privat tuan Muda Arman.


"Kalau gitu Saya antar kamu ke atas" ucap Mama Elisabeth dan berjalan terlebih dahulu ke arah tangga. Mereka pun berjalan ke kamar pribadi Arman. Mama Elisabeth membuka perlahan pintu kamar yang bercat cokelat itu. Dan Masuklah keduanya ke dalam kamar tapi Arman sedang serius membaca buku panduan bacaan sholat dan tidak menyadari kehadiran Mamanyq dan Karina. Karina yang sedari tadi menundukkan kepalanya dan terkejut setelah melihat kondisi Arman.


"Arman, Orang yang akan mengajari kamu untuk mengaji l, orangnya sudah datang" ucap Mama Elisabeth sambil mengelus pundak putranya agar perhatian tertuju kepada apa yang beliau katakan. Arman hanya memandangi perempuan cantik dengan hijab yang menutupi kepalanya yang semakin cantik dengan penampilan barunya dan yang belakangan ini membuatnya merindukan senyuman dan suara perempuan tersebut.


Bonus Visualnya Arman yang sudah operasi plastik dan Karina yang sudah berhijab.



Sedangkan yang ini Karina yah



Semoga suka dengan Visualnya mereka, kalau ada yang kurang srek dengan Visualnya silahkan berimajinasi dan berhalu yah


...********To Be Continued********...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap BDP 🙏


Maaf Jika sering kakak Readers temukan kesalahan dalam pengetikan ✌️


Makasih banyak


Makassar, 15 April 2022

__ADS_1


__ADS_2