Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 122. Khawatir


__ADS_3

Happy Reading..


Emre khawatir melihat kondisi Rina. Rina sepertinya trauma dengan kejadian yang terjadi dulu. Emre andai saja tidak dalam keadaan pengaruh obat perangsang dan minuman alkohol pasti Emre tidak akan melakukan hal itu.


Emre segera menghubungi nomor handphone Arya. Karena hanya Arya orang yang bisa membantunya mengatasi masalah yang sedang dialaminya.


Emre segera menghubungi nomor handphone Arya. Tetapi sudah berulang kali Emre menghubungi nomor handphone Arya, tetapi belum mendapatkan hasil. Emre tidak putus asa dan tetap berusaha untuk menghubungi nomor handphone Arya.


Emre bernafas lega karena telponnya akhirnya diangkat juga. Emre bahagia karena sudah putus asa dengan keadaan Rina.


"Assalamu alaikum Arya" ucap salam Emre setelah telponnya tersambung.


"Waalaikum salam" jawab Arya.


"Arya, boleh kah tidak Aku minta tolong??" tanya Emre kepada Arya.


"Silahkan Emre, Emangnya mau minta tolong apa??" tanya Arya.


"Boleh gak kamu datang ke kamar hotel Aku??" Tanya Emre.


"Emangnya ada apa yah, sepertinya ada yang penting??" ucap Arya.


"Tolong jangan lakukan itu padaku, Aku mohon jangan" ucap Rina setengah berteriak.


Saking kerasnya suara Rina hingga Arya mampu mendengarnya. Arya pun kaget dan heran kenapa ada seorang perempuan di kamar Hotel Emre dan perempuan itu berteriak.


"Emre, itu suara siapa, kok ada suara perempuan yang meminta tolong??" tanya Arya yang dibuat penasaran.


Delia pun mendengar teriakan dari perempuan itu.


"Kak, sepertinya Aku mengenal suara itu" ucap Delia yang mencoba mengingat dengan baik suara itu.


Arya dan Delia langsung saling berpandangan setelah memikirkan tentang siapa pemilik suara itu.


Arya dan Delia sudah dalam perjalanan pulang ke Kediamannya setelah dari acara resepsi pernikahan Rangga Azof dan Rindu Kirana.


Emre mencoba untuk menenangkan Rina, tetapi Rina malahan semakin bertambah takut bahkan sudah histeris dan berteriak. Karena Emre tidak ingin Arya dan Delia salah paham, karena Emre sangat yakin kalau Arya pasti mendengar suara dari teriakan Rina.


"Jangan mendekat, Aku mohon pergilah dari sini" teriak Rina yang semakin menjadi saja bahkan Rina sudah melempar apa saja yang ada di dekatnya.


"Arya cepatlah ke sini, please" ucap Emre yang sudah terkena lemparan pas bunga mawar.


Emre terkena lemparan pas bunga yang ada dia atas Nakas. Emre berusaha untuk menghindarkan tetapi naas nasib Emre karena Jidadnya menjadi sasaran empuk dari amukan Rina.


"Kak, Ayo cepat putar balik mobilnya, Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Rina" ucap Delia.


Arya segera memutar balik mobilnya yang untungnya belum terlalu jauh dari Area Hotel DA "Delia Arya".


Arya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sudah mengkhawatirkan keadaan Rina. Arya dan Delia sangat yakin kalau perempuan yang berteriak itu adalah Rina.


"Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi kepadamu Rina" ucap Delia yang sudah semakin mengkhawatirkan keadaan Rina.


Arya dan Delia segera turun dari mobilnya dan tidak memarkirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang disediakan.


Maklumlah Arya dan Delia kan pemilik dari Hotel DA jadi bebas saja mau parkir di mana pun tidak ada yang berani melarang atau pun berkomentar.


Arya dan Delia segera berlari ke dalam Hotel dan segera menaiki Lift.


"Sayang, hati-hati jalannya, ingat kamu itu sedang hamil" ucap Arya yang khawatir melihat Delia yang sudah setengah berlari.


"Jangan khawatirkan Aku Kak, insya Allah Aku dan bayiku baik-baik saja" ucap Delia yang tetap melangkahkan kakinya ke Kamar Hotel Emre.


Arya tidak bis berbuat apa-apa lagi kalau Istrinya berkata seperti itu, Arya mencari aman saja dari pada dirinya tidak mendapatkan jatah.


Delia langsung masuk ke dalam kamar Hotel Emre yang kebetulan tidak terkunci. Delia sangat kaget melihat kondisi Rina. Pakaiannya sudah acak-acakan, hijabnya sudah hampir terlepas dari kepalanya. Makeup Rina pun sudah belepotan.


"Ya Allah Rin, Kamu kenapa sayang??" ucap Delia yang berusaha untuk menenangkan diri Rina dengan cara memeluknya.

__ADS_1


Rina langsung menoleh ke arah Delia, Rina langsung berhambur ke arah Delia dan membalas pelukan Delia.


"Del, kamu sudah datang, Bawa aku pulang yah, Aku takut Del" ucap rengekan Rina.


"Okey, kita akan pulang tapi tolong jangan seperti ini, Aku sedih melihatmu" ucap Delia sambil mengelus punggung Rina.


"Del, Pria itu ingin menyentuhku, tapi aku tidak mau Del" ucap Rina sambil menangis tersedu-sedu seperti ana kecil yang ingin dibelikan permen.


Rina menunjuk ke arah Emre. Emre langsung tidak enak karena Emre tidak ingin Arya dan Delia salah paham kepadanya. Delia langsung menatap Emre, Delia kasihan pada Emre Karena luka yang ada di kepalanya belum diobati dan darah sudah menetes membasahi pipinya.


"Kak Arya , Tolong bantu Pak Emre untuk mengobati lukanya, kasihan sudah banyak darah yang keluar" ucap Delia.


"Tidak apa-apa kok Bu, Ini hanya luka kecil yang tidak ada artinya" ucap Emre sambil menyentuh bagian kepalanya yang terluka.


Arya segera membantu Emre untuk mengobati lukanya walaupun Emre berulang kali melarang Arya untuk membantunya.


"Diam, kamu ini seperti anak kecil saja bahkan kamu kalah dari ke dua anak kembar ku" ucap Arya sambil tetap membersihkan luka Emre.


Emre Akhirnya diam dan tetap memperhatikan Rina.


"Maaf ini semua gara-gara Aku Andai saja waktu itu, Aku tidak terpengaruh dengan obat itu pasti kamu baik-baik saja" ucap Emre di dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Rina sudah tenang dan mulai memejamkan matanya. Delia Sudah cukup tenang setelah melihat Rina terlelap.


Delia membantu Rina untuk menyelimuti seluruh tubuhnya agar tidak kedinginan.


"Boleh kah kita berbicara sebentar??" tanya Emre setelah kepalanya sudah diobati.


"Baik" ucap Singkat Arya.


Mereka berjalan ke arah Kursi yang ada di dalam kamar hotel itu. Emre grogi dan agak takut untuk menjelaskan semuanya. Emre bahkan tidak tahu harus memulai semuanya dari mana.


Arya dan Delia pun saling berpandangan ketika mereka melihat Emre yang tampak mengkhayalkan sesuatu.


"Maaf kalau boleh tahu kamu mau bicara apa??" Tanya Arya.


Arya dan Delia kaget mendengar penjelasan Emre. Arya tidak ingin memperkeruh suasana sehingga Arya tidak ikut berkomentar. Sedangkan Delia marah, tidak menerima perbuatan Emre bahkan emosinya sudah ada di ubun-ubun. Delia langsung menampar wajah ganteng Emre.


Arya memegang tangan Delia agar tidak menambah luka dan beban fikiran Emre. Arya menenangkan Delia agar tidak semakin marah yang berdampak tidak baik kepada kandungannya.


"Sudah sayang, kasihan sama Emre, Emre di sini juga termasuk korban, dan ingat anak kita sayang" ucap Arya sambil mengelus perut Istrinya yang sudah nampak buncit.


"Tidak apa-apa Arya, Aku emang pantas untuk mendapatkannya" ucap Emre.


"Kamu sadar juga yah" ucap Delia yang masih marah dan menunjukkan wajah bermusuhan.


"Karena itu lah Aku Ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu" ucap Emre.


"Hidup seorang perempuan itu ada pada mahkotanya jika mahkota sudah terenggut hancur sudah masa depan perempuan tersebut" ucap Delia yang sudah tidak Esmosi.


Emre langsung berlutut di hadapan Delia. Emre memohon ampun dan memint ijin agar dirinya diijinkan dan direstui untuk bertanggung jawab dan menikahi Rina.


"Maaf tidak semudah itu Furguso" ucap Delia sambil memalingkan wajahnya dari Emre.


"Sayang berilah Satu kesempatan kepada Emre untuk memperbaikinya dengan cara Menikahi Rina, Aku pun akan melakukan hal itu jika aku berada di posisi Emre" ucap Arya.


Delia Langsung menatap jengkel suaminya.


"ooohh jadi kamu mengumpamakan dirimu ada di Posisi Emre gitu??" ucap Delia yang sudah ingin memukul lengan suaminya.


Emre Hanya tertawa kecut melihat Arya dan Delia bertengkar.


"Aku juga ingin seperti mereka Rina" ucap Monolog Emre.


"Aku tidak berhak untuk menjawab semua pertanyaan dan permintaan Kamu, Kamu seharunya datang ke rumah orang tua Rina dan yang paling penting Kamu sendiri yang berterus terang kepada Rina Tapi bukan sekarang" ucap Delia yang memandang ke arah Ranjang king size milik Emre.


Rina terbangun dari tidurnya dan ngos-ngosan seakan-akan Rina dari berlari mengelilingi stadion Gelora Bung Karno saja. Delia langsung berlari ke arah Rina.

__ADS_1


Bonus Visualnya..


1.Delia Paramitha Wirawan




Arya Wiguna Albert Kim Said.





Adrian sang asisten pribadinya Arya sekaligus Saudara angkatnya Arya




4.Emilia Wiguna Albert Kim Said




Emre





Rina




5.Aditya




Kim Hyuna




Moga kalian suka dengan Visualnya mereka.


Maaf banyak perubahan pada visualnya jangan sampe ada yang koment " kok visual mereka beda dengan yang ada di bab lalu??". Pernah Mau rubah tapi ternyata aku salah pencet ujungnya bab yang aku buat malah terhapus 🤧🤧🤧😭✌️.


TBC..


"Typo Mohon dimaklumi Yah Kakak Readers 🙏"


Ditunggu Yah masukannya Kakak 🙏.


Rencananya mau Crazy up lagi Tapi ngantuk sudah n mata aku Juga sudah agak kabur lagi 🤧🤧🥱✌️.


by FANIA Mikaila AzZahrah dg Sayang.

__ADS_1


Makassar, 19 Februari 2022.


__ADS_2