Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 222. Tidak Mungkin


__ADS_3

Happy Reading..


Anak itu terlahir bagai kertas kosong yang masih putih dan yang mengisi kertas itu adalah lingkungan pergaulan, lingkungan di dalam Keluarganya sendiri dan Karakter turunan genetik dari ke dua orang tuanya.


"Jangan pukul saya lagi Ma, Arman tidak kuat lagi, Arman mohon Mama sakit huuuuhuuuuhuu" suara tangis kesakitan Arman tidak dihiraukan oleh Mamanya.


Ruangan sempit selalu menjadi saksi teriakan dan tangis kesakitan dari Arman kecil. Sejak Arman berumur 5 tahun Arman sudah kerap kali mendapatkan perlakuan yang sangat kasar bahkan tidak berperikemanusiaan. Hingga usianya menginjak 10 tahun. Perlakuan kasar tersebut Arman dapatkan jika Sang Ayah pergi ke luar kota atau pun keluar negri. Entah hanya kesalahan kecil saja atau pun hanya masalah sepele bahkan jika perempuan itu habis minuman keras pasti Arman yang akan jadi sasarannya. Hidup Arman kecil bagaikan di Neraka tapi dengan pintarnya Mamanya bersilat lidah dan menyembunyikan semua itu dari Pak Hendry. Semua orang yang berada di Villa itu di ancam oleh Linda jika ada yang buka mulut. Arman juga sering melihat langsung Mamanya berselingkuh di depan matanya Arman dengan ber-bagai pria.


Arman yang sudah tersungkur di lantai masih saja terus dipukuli hingga punggungnya berdarah dan memar. Tapi perempuan itu sama sekali tidak menghiraukan teriakan kesakitan dan permintaan dari Arman kecil.


"Ini lah akibatnya jika kamu tidak mau mendengar semua perkataan Mama" ucap Mama Linda yang tersenyum licik ke arah Arman.


"Ampun ma, Arman janji tidak akan nakal lagi dan akan mendengar semua perkataan Mama" ucap Arman yang menghiba belas kasihan pada mamanya sambil merayap ke arah kaki Mamanya.


"Begitu dong, kan bagus kalau kamu jadi anak yang tidak membangkang dan selalu patuh apa kata-kata Mama dan siapa suruh lahir dari rahim perempuan luknuct itu" ucap Mama Elisabeth lagi yang sudah berjongkok di hadapan Arman yang masih tengkurap.


"Pak Amir" teriak Linda kepada kepala pelayannya.


Pak Amir berlari tergopoh-gopoh kehadapan Linda selaku Nyonya besar di Villa itu.


"Iya nyonya" ucap Pak Amir yang sedari tadi menundukkan kepalanya yang tidak berani menatap langs wajah Linda.


"Bawa Anak ini untuk kamu obati dan ingat jangan sekali-kali kamu buka mulut tentang apa yang selalu aku lakukan padanya kepada tuan besar atau pun orang luar, camkan itu baik-baik" Ancam Linda sambil menunjuk langsung wajah pakk Amir.


Pak Amir hanya menganggukkan kepalanya dan kembali bersedih melihat kondisi Arman yang sudah merintih kesakitan.


"Tuan muda baik-baik saja kan?, Tuan muda yang sabar yah" ucap Pak Amir sambil menggendong tubuh kecil Arman.


Lima tahun bukan waktu yang singkat, selama 5 tahun lamanya Arman sering kali mendapatkan perlakuan seperti itu. Hingga suatu hari Arman tanpa sengaja melihat Mamanya bermain kuda-kudaan dengan Pria yang selama ini menjadi anak buah Papanya. Arman meneteskan air matanya karena merasa kasihan dengan Papanya yang siang malam berkerja untuk mencari uang sedangkan Mamanya hanya menghamburkan uang Papanya dengan berfoya-foya di Bar, memberikan uang kepada selingkuhannya hingga bepergian ke luar negeri bersama kekasih gelapnya. Dan waktu itu umurnya Arman kira-kira 10 tahun.


Pak Hendry sedang ke luar Kota untuk mengunjungi salah satu proyek barunya, Arman menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya agar tidak bersuara. Tapi Arman Ingin berlari dari tempat itu saat dirinya mendengar kalau Selingkuhan Mamanya bercerita akan melenyapkan nyawa Papa nya setelah mereka mengambil seluruh kekayaan Papanya. Arman ingin berlari ke luar rumah, tapi kakinya tersandung ujung meja sehingga dia ketahuan oleh Linda dan selingkuhannya.


Arman berusaha untuk melarikan diri dari sana, tapi langkahnya terhenti saat tangan besar dari Fatir selingkuhan Linda berhasil meraih kera bajunya Arman dan langsung mengangkat tubuh Arman.


"Tolong Paman jangan sakiti saya, Saya tidak dengar apa-apa" ucap Arman yang tubuhnya sudah menggantung di langit-langit rumah.


"Hahahaha, apa kamu kira aku orang bego apa yang tidak menyadari bahwa kamu berdiri menguping apa yang kami lakukan haaaa" hardik Fatir yang sudah sangat marah.


Sedangkan Linda hanya jadi penonton saja dan dalam keadaan yang masih setengah telanj***.


"Apa kamu marah Jika aku melempar Anak ini??." tanya Fatir yang menghadap ke arah Linda.

__ADS_1


"Sesuka hatimu saja sayang, lagian dua anaknya wanita murahan itu jadi aku sangat bersyukur jika dia mati di tanganmu" ucap Linda.


"Mama tolong Arman Ma, Arman takut, Arman tidak akan membocorkan rahasia Paman sama Mama" iba Arman yang terus memohon agar dirinya dilepaskan dan tidak disiksa lagi.


"Jangan panggil aku Mama, Aku ini bukan Mama kandung kamu, Mama kamu itu sudah pergi dari sini dan bahkan dia tidak pernah kasihan dan sayang sama kamu sedikitpun buktinya Dia membuang kamu di panti asuhan dan menikah lagi dengan pria selingkuhannya" ucap Linda yang ingin mencuci otaknya Arman agar membenci Mama kandungnya.


"Kamu sudah sadar haaaaa, kamu itu cuma anak pungut di Sini jadi jangan dik jadi tuan Muda, kamu itu hanya sampah yang dibesarkan oleh Hendri" bentak Pak Fatir lagi.


Arman sudah menangis tersedu-sedu dan tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru dia dengar langsung dari mulut mamanya yang selama ini dia sudah anggap orangtuanya sendiri ternyata dia hanya anak pungut. Arman kecil mulai marah dan berusaha untuk meraih tangan Pak Fatir dan usahanya berhasil dan langsung menarik tangan pak Fatir lalu menggigitnya dengan sangat kuat dan kencang.


"Aaaaahhhh" teriak pak Fatir yang suaranya yang melengking memenuhi ruangan Villa yang sangat besar itu.


"Aaaaaaahhh papa toooooolonggg Arman" teriak Arman.


Arman lalu dilempar oleh Pak Fatir ke arah tembok dan kepala Arman langsung terbentur dengan kuat, darah segar menetes membasahi seluruh wajah Arman. Arman perlahan-lahan matanya mulai kabur dan akhirnya pingsan juga.


"Aaaaaaahhhh Papa" teriak Arman.


Nafas Arman memburu, seakan-akan tidak ada lagi pasokan udara yang masuk ke dalam rongga hidung hingga masuk ke paru-parunya, Keringat membasahi sekujur tubuhnya, bahkan baju tidurnya pun sudah basah, dinginnya pendingin ruangan tidak mampu mendinginkan panasnya tubuh Arman.


lagi-lagi aku bermimpi itu dan hampir setiap malam mimpi itu selalu menghantuiku, selalu datang membayangi hidupku.


Arman mencari gelas yang biasanya berada di atas meja nakasnya, tapi tumben tidak ada apa-apa.


Mama Elisabeth dan Pak Ade berjalan ke arah gudang penyimpanan alat-alat atau barang-barang lama. Banyak barang furniture atau pun lukisan dan beberapa barang-barangnya yang masih tersimpan utuh dan teratur, walaupun ada banyak sarang laba-laba dan debu di sana sini. Ada sebuah kotak kayu jati yang sudah usang bahkan hampir lapuk dimakan rayap.


"Di sini tempat penyimpanan barang-barang lama sewaktu masih kecil Tuan Muda" ucap pak Ade yang membuka kunci kotak tersebut.


Debu berterbangan dan mengenai wajahnya pak Ade.


"Huhuu" batuk pak Ade.


Setelah kotak kayu jati itu terbuka, tampaklah ada banyak mainan dan pakaian bayi Arman. Pak Ade mengeluarkan beberapa barang-barang yang ada. Mama Elisabeth memperhatikan setiap lembar baju Kecilnya Arman. Mama Elisabeth pun meneteskan air matanya. Kemudian memeluk pakaian bayi itu, Mama Elisabeth mengingat baik pakaian itu yang dulu sewaktu Mama Elisabeth masih mengandung ke dua anak kembarnya Dia lah yang menyulam sepasang pakaian itu.


"Anakku Mama kangen nak" ucap Mama Elisabeth yang kembali meneteskan air matanya.


Setelah pak Ade memeriksa semua barang bekas Arman, Mama Elisabeth sama sekali tidak menemukan barang yang bisa dia ambil sebagai bukti Kalau itu barang peninggalan anak kembarnya. Pak Ade menutup kembali penutup Kotak kayu jati itu dan ada suara benda jatuh dari penutup Kotak tersebut.


Mama Elisabeth yang mendengarnya langsung mencari sumber suara itu. Pak Ade pun ikut membantu mencarinya. Mereka mencari ke mana-mana benda itu dan ternyata benda itu menggelinding hingga ke bawah kolong Meja.


"Pak Ade bisa minta tolong ambilkan kotak itu?." ucap Mama Elisabeth sambil menunjuk ke arah bawah meja.

__ADS_1


"Baik Nya" ucap pak Ade.


Pak Ade pun segera membungkukkan badannya lalu berusaha untuk mengambil benda tersebut. Dengan susah payah Pak Ade berhasil mengambil benda tersebut. Benda itu adalah sebuah kotak buludru yang warnanya sudah pudar.


"ini nyonya benda yang ada di kolong meja" ucap pak Ade yang melap hingga bersih kotak tersebut hingga nampak bersih.


Mama Elisabeth penasaran dan langsung membuka Kotak tersebut. Mama Elisabeth terkejut dengan benda yang berada di dalam tangannya. Mama Elisabeth langsung meneteskan air matanya.


"Daniel ini gelang kamu nak, gelang yang aku berikan kepada putraku dulu Pak Ade sebelum aku pergi dari Villa ini" ucap haru mama Elisabeth.


Pak Ade hanya memperhatikan istri dari tuannya.


"Apa benar gelang ini ada bersama Arman sewaktu Arman di bawah masuk ke rumah ini bersama dengan Linda??." tanya Mama Elisabeth.


"Benar Nyonya gelang ini dipakai oleh tuan Muda Arman waktu itu saat pertama kali datang ke sini dan seingat Saya, tuan Muda memakai baju yang berwarna biru dengan motif winni the Pooh di bagian dadanya dan ini baju itu" jelas pak Ade yang kemudian mengambil baju bayi Arman lagi.


"Arman adalah Daniel putraku pak Ade, Aku tidak salah lagi, Arman adalah anak kembarku" ucap Mama Elisabeth yang kembali menangis dan terduduk di lantai saking bahagianya setelah mengetahui kalau Arman adalah anaknya hanya dari gelang dan pakaian Baby itu.


"Alhamdulillah kalau emang Arman adalah putra Nyonya bersama tuan besar Hendry yang telah lama hilang" ucap oak Ade yang ikut terharu dengan kenyataan yang ada.


Sedangkan di balik pintu seseorang tidak ingin mempercayai sesuatu yang baru dia dengar.


"Itu tidak mungkin, pasti ini salah dan dia pasti telah salah paham, aku adalah anak panti asuhan yang dipungut oleh pak Hendry dan aku anak yang dibuang karena tidak diharapkan oleh ke dua orang tuaku jadi tidak mungkin dia mamaku" ucap Arman.


Arman yang awalnya berniat ingin mengambil air minum di lemari pendingin tapi belum sempat dirinya membuka kulkas tersebut, samar-samar telinganya mendengar ada seseorang yang berbincang-bincang dari arah gudang, Arman minum air terlebih dahulu sebelum ke ruangan itu karena terlalu haus.


Arman melangkahkan kakinya perlahan tapi pasti dan tidak sengaja mendengar percakapan Mama Elisabeth dan pak Ade. Arman tidak percaya dengan semua itu, lalu berjalan mengjauh dari ruangan gudang tersebut yang kebetulan posisinya tidak jauh dari dapur.


Arman masuk ke dalam kamarnya dan mengganti cepat pakaiannya, Arman mengambil secara acak dan asal pakaiannya di dalam lemari.


"Pasti Mery keliru, aku pasti bukan anak kandungnya, itu tidak mungkin kan, aku yakin mereka ingin menipuku makanya mereka sengaja bersekongkol untuk berpura-pura" ucap Arman sambil memakai pakaiannya.


Arman lalu mengambil dompet dan kunci mobilnya dan segera berjalan mengendap-endap agar tidak ada yang melihatnya kalau dia ingin keluar di tengah malam yang masih geremis membasahi bumi. Arman tidak peduli dengan keadaannya yang kurang sehat. Arman tetap pergi mencari udara segar di luar sana. Hujan turun semakin deras saja yang membuat pandangan matanya kabur dan kepalanya sedikit pusing. Hingga di perempatan jalan depan tiba-tiba muncul kendaraan yang lajunya sangat kencang. Arman tidak mampu mengendalikan dengan baik mobilnya. Hingga kecelakaan pun tak terelakkan. Mobil Arman menabrak tiang listrik hingga mobilnya mengalami kerusakan parah. Seseorang yang sedang berjalan membawa kantong kresek berlari ke arah mobil Arman.


To Be Continued..


...****************...


Makasih banyak atas dukungannya dan Jangan pernah bosan untuk Like Bertahan Dalam Penantian 🙏


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 13 April 2022


__ADS_2