
Happy Reading..
Hanya pak Hendry lah yang merasakan kebahagiaan diantara semua orang yang hadir. Tak henti-hentinya Pak Hendry mengucap syukur karena akhirnya dirinya bisa bersatu kembali dengan wanita pujaan hatinya. Pak Hendry bertekad dan berjanji tidak akan menyakiti Elizabeth.
Villa yang awalnya bercat putih tulang sekarang Villa itu sudah diganti dengan warna cat nuansa biru. Semua furniture rumah pun diganti dengan yang baru, barang-barang elektronik juga sudah diganti.
Tuk... tuk.. tuk..
Suara kaki seseorang yang menapaki undakan tangga dengan langkah kaki lebarnya. Wajahnya tampak garang dan sesekali berlari kecil, langkanya menandakan seseorang itu sedang tergesa-gesa.
"Papa" panggilnya.
Pak Hendri menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum kearah anaknya. Pak Hendry yang melihat putranya berlari ke arahnya sudah mengetahui alasan dari anak angkatnya untuk mencari keberadaannya.
"Ada apa nak?." tanya pak Hendry sekedar basa-basi saja.
"Tolong jelaskan kepada ku apa maksud dan tujuan papa menikahi Mama dari musuh lama kita?." tanya Arman yang sudah duduk di kursi dan wajahnya nampak tegang dan urat-urat seluruh wajahnya seakan ingin keluar.
"Ayok sini mendekat ke arah Papa" ucap pak Hendry yang tidak ingin membalas perkataan Arman dengan suara yang keras pula tapi sedikit lembut dari biasanya sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
"Arman tidak suka dengan rencana pernikahan Papa dengan perempuan itu yang jelasnya hentikan rencana bodoh Papa sebelum papa menyesal" ucap Arman yang sedikit tegas.
"Dengarkan baik-baik Papa Nak, Papa akan jelaskan semuanya" ucap Pak Hendry yang berusaha untuk meyakinkan putra angkatnya tapi sudah dianggap anaknya sendiri.
"Arman tidak suka jika Papa menikah dengan dia, apa Papa lupa gara-gara siapa yang menyebabkan kematian putri papa? apa Papa sudah melupakan seMuanya??." tanya Arman yang sudah berapi-api.
"Papa masih ingat dengan jelas hal itu nak, tapi apa kamu tahu sifat adik kamu itu dan penyebab adikmu meninggal karena obsesinya sendiri yang membuatnya mati, Papa ingin memperbaiki hidup papa disisa usia Papa, dan Papa tidak ingin disisa umur Papa harus hidup sendiri berteman dengan sepi dan kelak jika Papa tua apa kamu sanggup untuk selalu menemani dan merawat Papa, dan jika kamu kelak punya kehidupan sendiri apa kamu masih siap untuk bersama Papa? tentu tidak Nak." ucap Pak Hendry dengan suara yang dilembutkan agar Arman emosinya reda.
__ADS_1
"Papa Arman siap dan sanggup untuk menjaga Papa hingga papa tidak mampu berdiri lagi, dan Arman tidak suka dengannya gimana kalau dia hanya mencintai Papa sedangkan Saya tidak, apa lagi jika dia tahu saya yang pernah ingin mencelakai Anak dan menantunya Papa" ucap Arman yang sudah tegang bahkan suaranya sudah naik beberapa oktaf.
"Arman insya Allah Mama Elisabeth akan menyayangimu sepenuh hatinya dan cobalah untuk membuka hati dan menerimanya, dan Papa mohon besok datanglah di acara Papa, dan Papa sangat berharap kedatangan kamu" ucap Pak Hendry yang memegang punggung tangannya.
"Ingat tidak semua Mama itu sama Nak, yakinlah Mama Elisabeth adalah Mama yang akan menyayangimu dengan sepenuh hatinya dan tunjukkan kepadanya jika kamu menyayanginya juga" harap Pak Hendry.
Perdebatan Papa dan anak itu berlanjut hingga sampai sore hari. Arman berdiri dan berlalu dari hadapan Papanya dengan emosi yang meluap-luap saking marahnya sampai-sampai urat lehernya semakin nampak dipandangan mata.
Di kamar yang cukup besar dan megah, ada seseorang yang sedari tadi berdiri di depan sebuah lukisan yang tidak membuatnya bosan dan capek untuk memandang wajah orang dalam lukisan tersebut. Air matanya tak hentinya mengalir membasahi wajahnya yang sudah nampak ada keriput di sekitar area Matanya.
"Maaf bukannya Aku sudah melupakanmu atau pun sudah tidak mencintaimu, tapi Aku lakukan ini semua demi Anak-anak kita dan cucumu, Mama tidak ingin melihat mereka menderita lagi Ayah" ucap Mama Elisabeth yang berdialog dengan lukisan Pak Wiguna.
Langkahnya terhenti setelah melihat Mama nya sedang menangis tersedu-sedu di hadapan lukisan Ayahnya dan dirinya sempat mendengar alasan Mamanya menerima lamaran dari mantan suaminya dulu. Arya berdiam diri terlebih dahulu di depan pintu sebelum masuk tapi hingga beberapa menit lamanya dirinya berdiri di depan pintu tapi Mama nya masih sibuk dengan tatapannya di depan lukisan suaminya pak Wiguna.
Arya segera berjalan ke arah Mamanya Dan langsung memeluk tubuh Mamanya dari belakang.
Arya pun membalikkan tubuh Mamanya menghadap ke arahnya dan langsung menghapus jejak air mata di wajah Mama Elisabeth.
"Sudah Ma, mereka pasti akan mengerti dengan keputusan Mama Ayah dan adikku, mereka cukup Sabar dan bijaksana dalam menanggapi perihal ini" ucap Arya yang menarik tubuh renta Mama nya ke dalam pelukannya.
Mama Elisabeth langsung menangis sejadinya, dan tidak percaya jika anak ke duanya tidak keberatan dengan keputusan yang diambil nya bahkan Arya sangat berharap agar keputusan mamanya tidak membuatnya bersedih dan menyesal dikemudian hari.
"Makasih banyak nak atas pengertiannya, ternyata putraku yang selama ini sering bermanja-manja dan selalu menginginkan dibacakan cerita jika ingin tidur sudah dewasa dan semakin bijaksana, Mama bangga sekali dengan kamu nak" ucap Mama Elisabeth didalam pelukan putra ke duanya.
"Besok adalah hari bahagia Mama jadi Arya tidak ingin melihat ada lingkaran hitam di sekitar mata Mama nanti jadi saigannya panda hehehe" ucap Arya yang berusaha menghibur Mamanya.
"Kamu bisa saja Nak, makasih banyak nak, kamu membuat Mama jadi semakin mantap untuk melangkah ke depan" ucap Mama Elisabeth yang kemudian naik ke atas ranjang king size-nya.
__ADS_1
Arya kemudian menyelimuti Mamanya dan mengecup kening Mamanya.
"Tidurlah ma, besok mama harus tampil cantik agar pak Hendry semakin pangling melihat Wajah neneknya si Kembar" ucap Arya yang kemudian mencium kening Mamanya dan sebelum keluar mematikan lampu utama kemudian menyalakan lampu tidur yang ada di atas meja nakas.
Arya berjalan ke arah luar dengan langkah yang lebar. Arya baru saja menghapus jejak air matanya setelah beberapa menit menahan laju air matanya agar Mama Elisabeth tidak terbebani dengan pemikirannya sendiri yang bisa membuat Mama Elisabeth sulit untuk melangkah ke depan. Ini adalah hidup Mama Elisabeth yang harus berlanjut dan jangan menghalangi niat baik seseorang. Arya bersandar di balik pintu kamar pribadi Mamanya.
"Ya Allah lindungilah selalu Mamaku, jauhkan mamaku dari segala marabahaya Dan semoga Mamaku Bahagia selamanya" ucap Arya Wiguna Albert Kim Said.
Persiapan sudah banyak yang dilakukan oleh ke dua keluarga mempelai wanita maupun mempelai prianya yang mempersiapkan keperluannya, Mereka berbaur seakan-akan tidak pernah ada rasa saling bermusuhan dan dendam dari hati mereka. Arya pun ikut membantu persiapan tersebut dan Arya meminta kepada mereka untuk menurunkan ego mereka demi kebahagiaan di kemudian hari.
Beberapa jam kemudian, Mama Elisabeth tiba-tiba bangun dari tidurnya dan nafasnya memburu dan ngos-ngosan seakan-akan dirinya dari berlari. Mama Elisabeth segera meraih gelas yang ada di atas Meja Nakas ranjangnya dan mengisi gelas tersebut dengan air putih.
"putraku" ucap Mama Elisabeth setelah keadaannya sudah kembali normal.
Mama Elisabeth bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memiliki dua buah tanda lahir di punggungnya.
"Ya Allah jikalau memang putraku masih hidup maka dekatkanlah dia denganku dan jika dia sudah meninggal maka berilah aku petunjuk bahwa dia masih hidup" Harap Mama Elisabeth yang sangat ingin bersua dengan putra pertamanya yang hilang saat diculik oleh selingkuhan mantan suaminya.
To Be Continued..
Mohon Maaf Jika sering ada typo yang kakak Readers temukan 🙏
Tetap Dukung Bertahan Dalam Penantian Yah 🙏🥰.
Makasih banyak atas dukungannya 🙏
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, 10 April 2022