
Happy Reading...
Rumah mewah dan megah itu awalnya dihiasi oleh hiasan khusus pengantin dengan penuh warna-warni sekarang berubah dalam sekejap menjadi rumah duka cita yang sudah dipenuhi oleh karangan bunga ucapan turut berbelasungkawa. Rumah tersebut yang awalnya dihiasi dengan canda tawa dan nyanyian dari tamu undangan sekarang berubah menjadi Isak tangis dan ratapan dari anggota keluarga Wiguna.
Baju seragam yang mereka pakai di dalam pesta syukuran pernikahan Rangga dan Aulia pun sudah berganti dengan pakaian berkabung. Rumah yang besar dengan fasilitas yang lengkap pun sudah mulai dipadati oleh berbagai kalangan masyarakat. Tetapi mereka tetap melaksanakan protokol kesehatan. Anak buah Arya pun menfasilitasi mereka dengan cara membagikan kepada pelayak dengan masker gratis dan diperiksa satu persatu yang datang Apa kah vaksinnya sudah lengkap atau pun belum. Jika belum lengkap mereka akan dilarang masuk dan peraturan tersebut berlaku untuk siapa pun.
Hari ini adalah hari akad nikah dari Rangga Azof dan Aulia Maharani sekaligus menjadi hari terakhir pak Wiguna di Dunia ini. Mama Elisabeth tak kuasa melihat tubuh suaminya yang sudah lebih tiga puluh tahun menemaninya terbujur kaku di dihadapannya. Hingga tubuhnya pun tumbang.
Delia yang ada didekat mertuanya langsung memeluk tubuh mama mertuanya agar tidak terjatuh ke lantai. Dan Eliana yang ada di depannya pun ikut membantu Delia untuk membangunkan mamanya yang sudah pingsan.
"Mama bangun Ma, jangan begini ma kasihan Ayah" ucap Eliana.
"Ambil Minyak kayu putih" perintah Delia.
Eliana pun tidak henti-hentinya menangis. Canda tawa pak Wiguna masih terngiang di telinga mereka.
"Eliana kamu harus sabar" ucap Rina.
"Aku sudah tidak punya sosok Ayah yang selalu melindungi kami anak-anak dan cucunya" kepergian ayah yang tiba-tiba sangat membuatku terpukul Rina" ucap Elliana.
"Saya tahu itu, tapi kasihan juga sama Om jika kalian tidak ada yang mengikhlaskan kepergian om Wiguna itu sama saja kalian menyiksa Om" ucap Dessy.
"Ayah sangat kuat menanggung beban penyakitnya, kata dokter sudah setahun Ayah menderita asma dan jantung" ucap Emilia.
"Mungkin ini ada kaitannya dengan luka bekas tembakan Ayah yang sempat membuat Ayah sampai koma bertahun-tahun" ucap Delia.
"Kenapa Ayah menyembunyikan penyakitnya dari kami?." tanya Eliana.
"Mungkin paman tidak ingin memberikan beban fikiran kepada kalian" jawab Rina sambil mengelus lengan Eliana
Satu persatu pelayak datang bergantian ke rumah pak Wiguna. Mereka sangat terpukul dan kehilangan sosok seorang pimpinan perusahaan dan Ayah yang baik, bijaksana dan suka menolong orang lain yang sedang kesusahan. Mereka sangat kehilangan sosok yang selalu mereka puji, Karena ketulusan dan kebaikan hatinya pak Wiguna yang tanpa banyak pikir akan membantu mengatasi masalah dari orang-orang yang datang meminta bantuan.
__ADS_1
Setelah shalat Dzuhur, Jenazah pak Wiguna disemayamkan dan disholatkan serta akan dimakamkan di TPU khusus untuk keluarga nya. Semua berbondong-bondong ikut mensholati jenazah pak Wiguna. Ruangan yang dipadati oleh masyarakat yang ingin mensholati jenazah pak Wiguna saling berdesakan dan berhimpitan saking banyaknya orang yang ingin ikut mensholati. Padahal ruangan tersebut sangat besar.
Setelah disholatkan, Jenazah pak Wiguna diantar ke peristirahatan terakhirnya pas di samping ibunya, Oma Estella. Pak Ustadz membacakan do'a untuk kelancaran proses pemakaman pak Wiguna. Satu persatu menaburkan bunga di atas pusara tersebut setelah sudah ditutup dengan tanah.
Arya tidak mampu berkata-kata lagi hanya air mata yang bisa mewakili rasa kehilangan sosok seorang ayah yang bijaksana, baik dan pemimpin yang tegas dan disiplin. Satu persatu pelayak meninggalkan TPU tersebut.
Sedangkan anak, cucu keluarga dekat belum ada yang beranjak dari pemakaman tersebut. Mereka masih ingin memandang gundukan tanah yang sudah dipenuhi oleh bunga. Nisan yang bertuliskan nama Wiguna Albert Kim Said tidak hentinya dicium oleh Mama Elisabeth dan anak dan cucunya. Dibalik air mata kesedihan itu ada tawa bahagia yang terukir di wajah seseorang setelah mendengar berita duka tersebut.
"Selamat jalan wahai sahabatku akhirnya kamu mati juga, tunggu lah anggota keluargamu yang akan menyusul mu di alam sana hahahaha" ucap orang tersebut yang sangat bahagia karena pak Wiguna telah mati.
Ke Esokan Harinya, Rumah duka masih didatangi oleh pelayak yang tidak sempat datang di hari sebelumnya. Mereka mengucapkan do'a dan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya pak Wiguna.
Malam harinya, Mereka mengadakan tausiyah meninggalnya pak Wiguna. Kediaman Utama pun kembali di padati oleh keluarga, masyarakat dan beberapa rekan bisnisnya baik dari ibu kota sendiri maupun yang dari luar kota. Rekan bisnis pak Wiguna yang dari Korea, Jepang dan Amerika juga hadir di sana. Tausiyah tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam berturut-turut.
Dari mulai hari meninggalnya pak Wiguna sampai hari ke tujuh Mommy kece dan hot Daddy belum ada yang beranjak dari kediaman Wiguna. Mereka masih kadang ada rasa tidak percaya dan sangat kehilangan sosok ayah mereka. Kematian sungguh datangnya tiba-tiba tanpa ada sinyal informasi sebelumnya. Tak ada satupun orang yang tahu akan kabar kematian dari anak cucu Adam. Manusia hanya bisa mempersiapkan bekal yang akan kita bawa kelak ke Akhirat. Jadi sesungguhnya manusia amat rugi jika tidak bisa mengambil pembelajaran dan hikmah dibalik kematian seorang anak cucu Adam.
Satu bulan kemudian, Aditya dan Helena sudah pamit pulang ke Australia. Adrian dan Emilia pun sudah terbang ke Amerika. Awalnya mereka belum ada niat untuk pulang tetapi Mama Elisabeth menyarankan mereka untuk kembali beraktivitas dan melanjutkan hidup mereka. Mama Elisabeth tidak ingin kepergian ayah mereka menjadi beban dan penghambat dari hidup anak-anak yang cucu-cucunya. Eliana pun sudah mengemas barang bawaannya. Sedangkan Keyna bertemu diam-diam dengan Zack.
"Key" ucap Zack yang sudah duduk di samping keyna.
"Iya" jawab key yang melihat ke arah Zack.
"ini ambil yah dan tolong selalu pakai agar kamu selalu mengingatku" ucap Zack yang memberikan sebuah kotak ke atas telapak tangan Key.
Key pun mengambil kotak tersebut dan perlahan membukanya. Dan wajah Keyna langsung berubah menjadi senyum kebahagiaan dan tersipu malu.
"Bisa gak aku yang pakaikan?." tanya Zack.
Key hanya menganggukkan kepalanya dan tak hentinya tersenyum saking bahagianya mendapatkan sebuah kalung yang sangat indah. Zack pun memakaikan kalung tersebut ke leher putih dan jenjang Keyna.
"Sudah" ucap Zack.
__ADS_1
"Makasih" ucap Key yang tak hentinya memandangi kalung indah itu di lehernya.
"Tolong jaga baik-baik kalung ini seperti kamu menjaga hatimu selalu untukku" ucap Zack setelah selesai memasangkan liontin perak ke leher Key.
Key hanya menganggukkan kepalanya. Zack langsung mencium dahi Key. Sedangkan Key yang diperlakukan seperti itu pun langsung memejamkan matanya.
Awalnya Key geli disaat tangan halus Zack menyentuh lehernya. Karena ini hal yang pertama kali Key alami disentuh oleh lelaki. Kejadian tersebut dilihat langsung oleh Amanda adiknya Key dan Amanda tersenyum melihat kedekatan kakaknya.
"Kapan aku yah punya cowok yang perhatian sama Amanda? Amanda juga ingin seperti Kakak Key" ucap Amanda yang sempat di dengar oleh seseorang.
"Insya Allah akan tiba masa itu dek jadi bersabarlah dan jaga kehormatan kamu dengan baik" Ucap Raditya yang ternyata mengikuti mereka dan melihat mereka sedari tadi sambil mengelus kepala adiknya.
"Ihh Kakak rambutku berantakan nih" ucap Amanda.
"Ingat jangan tanya Key jika aku tahu apa yang kalian lakukan sekarang" Ucap Raditya yang melarang Amanda untuk buka mulut dengan meletakkan Jarinya didepan bibirnya.
Amanda pun menganggukkan kepalanya. Amanda sangat bahagia karena memiliki dua keluarga besar yang sangat menyayanginya. Hari itu menjadi hari terakhir pertemuan Key dan Zack hingga mereka dewasa nanti.
Duka kehilanga masih sangat dirasakan oleh Arya dan lainnya. Tapi mereka berusaha untuk ikhlas dan sabar menerima ketetapan dari Allah. Mereka tidak ingin karena kesedihan tersebut membuat Ayahnya tidak tenang di alam sana.
Mama Elisabeth mencoba selalu tersenyum jika beliau berada di samping anak-anak dan cucunya. Tapi jika Mama Elisabeth sudah berada di dalam ruangan pribadi Suaminya maka Mama Elisabeth akan menumpahkan segala rasa kerinduannya kepada sang Suami melalui Foto dan lukisan dari Pak Wiguna.
"Aku sangat merindukanmu Ayah" ucap Mama Elisabeth yang wajahnya sudah dialiri air matanya.
To Be Continued..
Typo Mohon dimaklumi 🙏
Makasih banyak atas dukungannya 🙏.
Alhamdulillah Level Novel FANIA sudah berubah 🤲🙏.
__ADS_1
Met Menjalankan Ibadah puasa bagi Yang Menjalankan 🙏✌️🤲