Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 279. Tepat Sasaran


__ADS_3

Happy Reading..


Setelah mengecek langsung bukti yang ada di dalam tas ibu itu mereka langsung bergerak menuju Rumah Sakit DA setelah merencanakan cara untuk mengahadapi kejahatan Putri.


Arya bersama ke dua anak buahnya bersama dalam satu mobil, sedangkan Dimas dan Adrian bersama dalam satu mobil.


Arya melihat ada tiga mobil Jeep Cherokee yang menurutnya sangat mencurigakan, karena mobil itu sedari mereka meninggalkan RS menuju kediamannya serta ke rumah utama mereka tetap mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Arya.


"Anton berhati-hati lah ada tiga mobil yang membuntuti kita sedari tadi, coba Kamu perhatikan tapi, Jangan sampai ketahuan mereka", ucap Arya.


"Siap bos," Jawab Anton.


"Ada kan, kalau gitu ambil senjata kalian tapi jangan cuma satu, isi amunisinya terlebih dahulu sepertinya kita akan berpesta sore ini dan aku juga ingin mengetahui kemampuan dari semua senjata yang baru kita beli," tutur Arya.


Mereka pun sudah bersiap dan mengatur strategi untuk mengahadapi penguntit itu.


Arya segera menghubungi nomor ponsel Dimas untuk menyampaikan apa yang telah terjadi.


"Dimas berhati-hati lah ada tiga mobil Jeep yang mengikuti kita dari belakang, dan Persiapkan senjata kalian, kita akan memberikan pelajaran kepada mereka agar mereka tahu siapa kita," terang Arya.


"Baik perintah dilaksanakan,"


Adrian segera memakai rumpi anti pelurunya dan segera memeriksa senjata dan pelurunya.


"Untung saja kita pakai mobil yang ada sistem anti pelurunya, jadi bisa membantu kita untuk menghadapi mereka," jelasnya.


"Arya memesan beberapa mobil seperti ini dan kemarin juga datang dari Amerika Serikat, lumayan menguras dompetnya Arya," ucap Dimas.


"Uang tidak dibawa mati, lagian mobil ini sangat berguna untuk melindungi seluruh anggota keluarga yang berada di dalam mobil ini, keselamatan adalah yang terpenting, sedangkan uang bisa dicari," ujarnya.


"Betul itu, hubungi Arya apa lagi yang kita lakukan pada mereka?" tanya Dimas.


"Hallo Arya, di depan ada belokan apa yang harus kita lakukan?" tanya Dimas dengan tetap mengemudikan mobilnya.


"Iy kalau tidak salah ada dua lajur belokan, dan ujung jalan itu kita bisa bertemu kembali, dan itu kita bisa pergunakan, Kamu jalan ke kiri dan aku yang ke kanan dan dalam hitungan tiga kita berpisah," jelas Arya.


"Tapi bagaimana kalau kita tidak habisi mereka sekaligus, kita amankan satu Orang untuk dijadikan mata-mata dan jalan alternatif ke dua jika Ibu Surti Tejo tidak bersedia membantu kita," ucap Adrian.


"Itu ide yang bagus juga, aku akan menghubungi Aditya untuk segera mengirimkan beberapa anak buah kita," ucap Arya.


Sambungan telpon berlanjut ke Aditya.


"Aditya cek jalan yang kami lalui Sekarang dan 5km dari depan dan Kirim beberapa anak buah yang ada di situ untuk menyusul kami, ada tiga jip yang sedari tadi mengikuti kami," ucap Arya.


"Ok,".. Aditya langsung memerintahkan empat mobil anak buahnya untuk menyusul Arya dan yang lainnya mereka sudah dipersenjatai lengkap dan memakai jaket anti peluru agar tidak terlalu mencolok di mata masyarakat umum.


"Arya satu kilo meter dari hadapan kalian hingga empat km keadaan jalan yang Sangat sepi, baik itu disisi kiri maupun lajur kanan semuanya aman, tapi 1km selanjutnya ada penutupan jalan karena ada perayaan pesta pernikahan, jadi sebelum masuk ke area itu kalian harus sudah bisa melumpuhkan mereka," jelas Aditya dengan jarinya yang masih menari di atas keyboard laptopnya.


"Dimas dan Adrian apa kalian sudah mengerti apa yang kalian lakukan?" tanya Arya lagi.


"Sudah," ucap mereka kompak.


"Dalam hitungan tiga kita berpisah di depan Ok," titah Arya.


Mereka sudah bersiap untuk melaksanakan rencana mereka.


"Satu, dua tiga go "


Mobil mereka pun berpisah di ujung jalan depan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, kenapa mereka berpisah?" tanya anak buahnya Putri.


"Sepertinya mereka mengetahui kalau kita sudah mengikutinya," ucap si B.


"Kalian ikuti mobil putih dan Kamu ikut saya untuk mengejar mobil hitam," ucap si C.


"Ok perintah dilaksanakan."


Mereka pun mengejar mobil Arya, tapi mereka terlalu ceroboh dan tidak mengetahui ada apa di atas aspal. Mereka menggunakan mobil yang tinggi bodynya sehingga membuat Jarak pandang mereka terbatas pada jalan yang mereka lalui. Dan Hanya dalam hitungan detik saja ban mobil mereka meletus.


Buuuummmm...


Satu persatu bank mobilnya kempes karena telah menginjak beberapa paku payung yang dibuang oleh Dimas ke jalanan. Untung Dimas tidak sengaja melihat ada kantong kresek yang berisi paku tindis di dalam kotaknya.


"Yes berhasil, saatnya beraksi," ucap Dimas yang langsung mengambil senjatanya.




Doorrrr... Doorrr..


Dimas menembaki Ban mobil yang tidak berhasil kempes tersebut dengan membabi buta. Adrian memelankan laju mobilnya dan mengeluarkan sedikit tubuhnya ke jendela mobilnya dan ikut menembaki supir mobil Jeep itu. Tembakan ke dua baru berhasil mengenai orang itu.


Penjahat itu tidak tinggal diam mereka melakukan perlawanan yang cukup berarti dan hampir saja Adrian terkena tembakan untung saja segera menarik tangannya ke dalam mobilnya. Tembakan itu berhasil mengenai kaca spion mobilnya.


"Mereka hebat juga rupanya," ucapnya.


"Iya mereka tidak mudah ditumbangkan."


Dimas ingin menembaki si botak itu tapi, pelurunya ternyata habis.


"Tersisa dua orang dari mereka, bagaimana apa kita turun dan meladeni mereka dengan tinju saja?" tanya Adrian.


"Jangan terburu-buru, kita lihat dahulu apa yang terjadi jangan sampai mereka masih punya banyak cadangan senjata, itu bisa gawat,"


Sedangkan Arya dan anak buahnya cukup kewalahan menghadapi dua mobil sekaligus, karena apa yang dilakukan oleh Dimas untuk mengempeskan bannya tidak dia lakukan karena mereka tidak punya senjata rahasia seperti itu.


Arya segera menelpon anak buah yang dikirim oleh Aditya.


"Hallo cepat kesini karena Andrew terluka, dia terkena tembakan dibagian tangannya," jelas Arya.


"Tunggu kami bos, posisi kami semakin dekat," ucapnya.


Arya membuka atap mobilnya dan mengambil senjata yang lebih panjang yaitu Sniper terbarunya dan sangat berbahaya, sniper ini bisa menembus Tiga lapis tembok.



Arya tidak ingin bermain-main lagi dan amarahnya sudah berada di puncak ubun-ubunnya. Arya segera membidik kepala si penembak jitu yang mereka miliki.


"Tunggu pembalasanku si gondrong," Arya tanpa ba-bi-bu langsung menembak kepala penjahat tersebut Hanya dengan satu kali tarikan pelatuk Snipernya.


Doooorrrr....


Kepala si Gondrong langsung pecah hingga terbelah saking kuatnya dan tepat sasarannya Arya membidik sasarannya itu.


"Yes berhasil, gak sia-sia Aku beli Kamu dari Jerman,"


"Andrew bertahan lah, sisa tiga orang yang akan kita lumpuhkan," ucap Arya sambil membalut luka ditangan Andre, untung Arya selalu membawa ramuan obat tradisional yang diracik oleh Delia untuk menutupi luka agar pendarahan berhenti segera mungkin.

__ADS_1


"Langsung saja buat meledak mobilnya bos," ucap Andre yang berusaha menahan sakit dilukanya.


"Hallo Dimas, Hallo."


"Iya Arya ada apa, ingat jangan bunuh mereka semua tapi sisakan satu orang yang selamat dari mereka, karena yang di Sini kemungkinannya aku akan meledakan mobilnya sebelum masuk ke Perkampungan yang akan membahayakan masyarakat."


"Oke."


Adrian stop mobilnya, sepertinya kita harus menyimpan pistol kita, kita hadapi mereka dengan mengunakan tinju ini," ucap Dimas sambil mengepalkan tangannya seperti seseorang yang sudah bersiap melayangkan tinjunya ke arah lawannya.


"Baik."


Dimas pun berjalan ke arah penjahat yang tersisa sedangkan Aditya berjaga di belakang Dimas untuk berjaga-jaga untuk menghindari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Sniper pemburu yang dipegang oleh Adryan sedari tadi sudah bersiap untuk membidik musuhnya.


Ternyata penjahat yang dihadapi oleh Dimas adalah penjahat yang di RS dahulu yang pernah membuatnya harus menjalani operasi.


"Kali ini aku tidak akan mengalah dan akan membuat kamu bertekuk lutut d hadapanku."


Sedangkan Dimas kembali membidik ban mobil serta tangki bensin mobil Jeep itu. Arya menghitung sebelum menembaki mereka.


"Lima, empat, tiga, dua, satu go.."


pelurunya meluncur pas mengenai tangki bensin mobil Jeep tersebut.


"Anton cepat lajukan mobilnya agar kita terbebas dari ledakannya."


Anton langsung tancap gas dengan kecepatan 100/jam.


"Satu dua tiga....."


Booommmmm...


suara ledakan itu sangat besar hingga terdengar sampai ke tempat Dimas berada.


"Adrian Kamu dengar suara ledakan itu kan?" tanya Dimas.


"Iya sepertinya berasal dari jalan yang di sebelah jangan-jangan ada yang terjadi dengan Arya," ucap Dimas yang sudah Khawatir.


Karena konsentrasi Dimas terpecah gara-gara suara ledakan itu sehingga pertahanannya melemah membuat kesempatan besar untuk Penjahat tersebut untuk langsung ingin menendang punggung Dimas.


"Dimas a-was.....!!!"


..........


Apakah berhasil tendangan yang dilayangkan oleh si Botak itu??


Dan apa mobil yang Arya pakai terbebas dari amukan bom yang dia ciptakan sendiri??


Yang penasaran dengan kelanjutan kisahnya so pantengin terus yah Updatenya BDP 👌.


*Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏🥰


Mohon maaf jika selalu ada kesalahan dalam pengetikan cerita ini ✌️*


...********To Be Continued********...


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Rabu, 25 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2