Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 229. Sisi Lain Ratna


__ADS_3

Happy Reading..


Ratna menikmati makanannya di siang hari itu di mana umat muslim lainnya sedang menjalankan ibadah puasa kecuali yang berhalangan. Ratna sangat menyukai makanan buatan resto tersebut. Bahkan Ratna disela makannya tak hentinya memuji makanan yang dua santap.


"Mbak sini." Teriak Ratna yang memanggil salah satu pelayan restoran.


Pelayan yang dipanggil langsung berjalan ke arah Ratna.


"Iya Mbak ada yang bisa saya bantu?." tanya Mbak pelayan itu.


"Maaf boleh nanya siapa yang masak semua makanan ini?." tanya Ratna Antika Monata sambil melap sisa makanan yang ada di mulutnya.


"Itu Chef handal kami Mbak dan kebetulan yang punya restoran tersebut orang yang memasaknya" terang Mbak pelayan tersebut.


"Karena makanan yang ada di sini membuat saya kenyang dan makanannya lezat Saya kasih tips ke mbak deh" ucap Ratna sambil menyerahkan uang beberapa lembar dan juga kartu kredit untuk pembayaran semua makanan yang sudah dia habiskan.


"Makasih banyak Mbak" ucap pelayan tersebut lalu berjalan ke arah meja kasir.


Beberapa saat kemudian, Mbak pelayan tersebut kembali dengan wajah yang kurang bersahabat. Dan langsung menyerahkan kartu kredit milik Ratna.


"Maaf kartu Mbak tidak bisa dipakai" ucap Mbak pelayan tersebut.


"Apa??? maaf Apa yang kamu katakan??." tanya Ratna yang sudah naik pitam.


"Iya Mbak kartu Mbak tidak bisa dipakai dan sepertinya sudah diblokir" ucap Mbak tersebut.


"Itu tidak mungkin pasti ada yang salah di Sini atau mungkin mesin Mbak yang bermasalah" kilah Ratna yang tidak percaya jika kartu kreditnya tidak bisa dipakai.


"Kalau Mbak tidak percaya, ikut Saya kita cek langsung ke kasir Mbak" jelas Mbak itu lagi.


"Ok, Karena aku yakin pasti ada kekeliruan di sini, gak mungkin banget kartuku gak bisa dipakai padahal di luar negeri saja Aku pakai sesuka hatiku" ucap Ratna lalu mengikuti langkah kaki Pelayan tersebut.


Mereka pun berjalan ke arah kasir dan ternyata apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut benar adanya. Ratna pun mengambil kartu kredit lainnya dan hasilnya sama tidak bisa dipakai. Ratna mengambil kartu debitnya dan kembali mendapatkan hasil yang sama pula.


"Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan yang terjadi, atau mungkin mesin Mbak yang bermasalah lagi" ucap Ratna.


"Kalau Mbak tidak punya duit gak usah berlagak sok jadi anak sultan, kasih tips ke saya padahal apa yang Mbak Makan saja gak mampu mbak bayar" Sindir Mbak pelayan itu lagi.


"Apa kamu bilang ha!!!." ucap Ratna Antika Monata yang sudah ingin berdiri dan menarik tangan pelayan tersebut tapi tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang dan mencegah tangan Ratna.


"Tolong jaga sikap Mbak, kalau Mbak membuat kekacauan di sini tolong tinggalkan restoran kami dan sebelum anda keluar tolong bayar makanan yang anda makan" ucap Firman.


"Cantik tapi sayang banget kelakuannya seperti preman pasar saja yang tidak tahu etika dan sopan santun".


"Apa kamu bilang??." ucap Ratna.


"Orangnya ganteng sih tapi sayangnya mulutnya pedes juga kayak bin cabe level 11 saja".


"Aku hanya meminta Anda untuk membayar semua jumlah makanan yang anda makan lalu Anda angkat kaki dari sini, dari pada mempermalukan diri Anda sendiri, coba perhatikan di sekeliling restoran bukannya anda sudah menjadi pusat perhatian" ucap Firman lagi.


Ratna kemudian memperhatikan seluruh penjuru resto, banyak orang-orang yang sudah berbisik-bisik sambil melihat kearahnya. Ratna semakin dibuat jengkel karena seakan-akan dirinya sengaja dibuat esmosi jiwa raga.

__ADS_1


"Berapa semua tagihannya aku masih sanggup untuk bayarnya jadi Anda semua tidak perlu marah dan mempermalukan saya seperti ini" ucap Ratna yang mulai jengah.


"Kenapa gak sedari tadi saja sih Mbak bayarnya kan gak akan sepanjang ini permasalahannya" ucap Mbak pelayan tersebut.


"Totalnya 2juta mbak" jawab Mbak pelayan tersebut sambil menyerahkan secarik kertas nota atau bill ke tangan Ratna.


Ratna mengambil kertas tersebut dan mengambil sejumlah uang yang ada di dalam dompetnya dan untungnya kemarin masih sempat menarik tunai uang yang ada di kartu debitnya.


"Ini Uangnya kembaliannya ambil saja" ucap Ratna sambil menghentakkan kakinya di atas lantai lalu mengambil tasnya dengan kasar.


Firman dan yang lainnya hanya tersenyum melihat tindakan yang dilakukan oleh Ratna. Firman sudah tahu siapa Ratna Antika Monata setelah ada yang membisikkan sesuatu ke telinganya tentang jati dirinya Ratna.


"Ini pasti ulah Papa dan Kak Arman yang sengaja memblokir semua kartuku, apa mereka ingin melihat Aku hidup di jalan melebihi gelandangan" ucap Ratna yang menendang ban mobilnya.


Ratna segera mengemudikan mobilnya ke arah Perusahaan milik keluarganya, karena ingin segera bertemu dengan Papanya. Ratna memarkirkan asal mobilnya di depan lobby Perusahaan Papanya dan langsung berlari ke arah Lift. Ratna yang berlari tidak sengaja menabrak tubuh seseorang tapi Ratna tidak perduli bahkan Ratna kembali berlari ke arah lift. Sedangkan Pria yang ditabrak hanya tersenyum menanggapi dengan senyuman saja tanpa harus ingin menegur atau pun bertindak untuk membalas.


"Gadis yang sangat ceroboh dan urakan".


"Apa tuan Muda baik saja?." tanya asisten pribadinya.


"Aku tidak apa-apa Kok" ucapnya sambil membersihkan pakaiannya karena sempat terjatuh ke lantai dan bertabrakan dengan pegawai yang membawa troli beberapa berkas.


Semua pegawai yang melihat kejadian itu tidak satu pun dari mereka yang berani untuk berkomentar ataupun ikut campur. Mereka tahu siapa perempuan tersebut dan apa yang akan terjadi kepada nasib mereka jika mereka berani buka mulut. Sehingga mereka seolah-olah tidak tahu apa yang telah terjadi.


"Maaf yah pak atas kelakuan dari putri Pak Hendry" ucap salah seorang karyawan perusahaan tersebut yang merasa bersalah karena telah membuat pria yang ada di depannya terduduk di lantai dan ada beberapa berkas yang jatuh ke atasnya.


"Tidak masalah Kok Pak, tidak usah diperbesar" ucap pria tersebut.


Ratna menoleh pun tidak sama sekali apa lagi akan perduli dengan nasib orang yang ditabraknya. Ratna tetap berlari hingga ke depan pintu ruangan kerja papanya pak Hendry. Ratna tanpa permisi langsung saja masuk ke dalam ruangan kerja papanya. Untungnya saja klien papanya baru saja pergi yaitu pria yang ditabrak oleh Ratna di lobi Perusahaan.


"Apa kamu tidak ingin duduk dulu, capek loh kalau harus berdiri terus sambil marah-marah?." tanya pak Hendry.


Ratna yang sedang marah-marah langsung duduk dan melempar tasnya di sembarang tempat. Pak Hendry yang melihat kejadian tersebut hanya geleng-geleng kepala.


"Ya Allah lembutkanlah hati putriku dan berilah hidayah agar dia segera menyadari kesalahan dan kekeliruannya selama ini, dan maafkan lah Saya ya Allah yang selama ini telah salah mendidiknya".


"Tolong tarik nafas yang dalam lalu buanglah perlahan-lahan" perintah pak Hendry kepada putri angkatnya.


Ratna langsung mengikuti perintah papanya. Ratna sudah sedikit bisa bernafas lega dan tidak marah-marah lagi.


"Papa melakukan hal itu karena Papa tidak ingin melihat kamu semakin tambah tidak terkendali saja dan semakin terjerumus ke arah hal-hal yang negatif dan tidak pantas kamu lakukan, dan papa sudah sepakat dengan kakakmu untuk memblokir semua kartu kredit maupun kartu debit kamu dan mulai detik ini kamu harus bekerja dan berusaha untuk menafkahi hidup kamu sendiri" jelas pak Hendry yang panjang lebar hingga ke pulau Merauke.


"Ini semua gara-gara istri baru papa, pasti dia yang memberikan saran kepada papa untuk melakukan semua ini kepada Ratna" teriak Ratna yang sudah melempar tasnya ke hadapan papanya.


pak Hendry tidak bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Ratna karena seperti itu lah karakter dan tempramen Ratna jika dia marah dan hal itu terjadi pada Ratna sejak kecil. Pak Hendry hanya menatap ke arah putrinya dan berharap putrinya bisa mengerti dan menerima keputusannya itu.


Ratna tidak bisa berkata apa-apa lagi jika papahnya yang sudah berbicara. Ratna langsung berjalan ke luar tanpa ingin mendengar perkataan dari papanya lagi. Ratna sangat marah dan orang yang pertama dia ingin hancurkan adalah mama Elisabeth sebagai ibu tirinya. Ratna akui kalau dirinya hanya lah anak angkat tapi Ratna tidak pernah diperlakukan tidak adil semenjak Ibu angkatnya pergi dari Villa yaitu ibu Linda yang tidak pernah ingin disebut Mama oleh anak angkatnya jika pak Hendry tidak ada di rumah.


"Maafkan papa nak, papa melakukan hal ini untuk kebaikan kamu sendiri, semoga putriku bisa berubah dan suatu saat mengerti dengan apa maksud dari semua yang aku putuskan untuk nya".


Ratna kembali ke dalam mobilnya dan menyandarkan kepalanya di atas kemudi mobilnya. Ratna tidak bisa menerima keputusan dari papanya yang menurutnya itu sangat lucu dan tidak masuk akal. Ratna bahkan melampiaskan rasa amarahnya kepada Mama sambungnya.

__ADS_1


"Awas kamu yah, aku pasti akan buat perhitungan untuk kamu dan tunggulah pembalasanku".


Ratna kemudian mengemudikan mobilnya hingga ke depan panti asuhan yang pernah dia tempati dan diangkat menjadi anak di keluarga pak Hendry hingga sekarang. Ratna meneteskan air matanya ketika mengingat masa-masa anak-anaknya yang kurang bahagia. Sedangkan anak-anak di panti tersebut dengan bebas bercanda, bermain Sesuai dengan yang mereka harapkan.


"Apa salahku sehingga aku harus menjadi anak angkatnya dan apa aku salah jika aku ingin menjadi seperti mereka yang kehadiranku sangat dibutuhkan oleh seseorang".


Ratna semakin terisak saja dalam tangisnya. Dan tidak menerima kenyataan bahwa dirinya hanya anak angkat. Ratna kemudian membawa mobilnya berkeliling Kota M dan hingga arah mobilnya berhenti di depan Taman yang cukup ramai di sore hari itu.


"Aku ingin seperti mereka yang walaupun hidup serba kekurangan tapi mereka hidup di dalam keluarga yang utuh dengan keluarga kandungnya mereka sendiri" .


Ratna melihat ada satu keluarga yang sedang berkumpul bersama di sebuah taman sambil menikmati indahnya pemandangan taman tersebut. Ratna menghapus jejak air matanya lalu mengemudikan mobilnya ke arah lain dikarenakan senja telah datang, matahari telah terbenam di ufuk barat dengan Kilauan Cahayanya yang membuat mereka yang senang dengan cahayanya menikmati indahnya warna matahari yang sedang terbenam. Ratna duduk di atas kap mesin mobilnya. Ratna melihat banyaknya orang yang sedang sibuk berlalu lalang dengan membawa berbagai macam kantong kresek yang berisi beberapa takjil untuk persiapan buka puasa mereka bersama dengan keluarga atau pun dengan orang terkasih.


Ratna merasakan kesepian yang mendalam padahal dirinya berada di tengah keramaian. Suasana semakin ramai dikala ada beberapa mobil yang sengaja parkir di sekitar area Taman yang menjajakan dagangannya bahkan tidak jauh dari sana ada juga yang berbagi takjil dan sembako gratis. Hingga malam hari Ratna masih betah di taman tersebut. Karena perutnya yang keroncong membuatnya mencari makanan, Ratna merogoh tasnya dan memeriksa isi dompetnya yang hanya terisi beberapa lembar uang biru saja.


"Mulai sekarang aku harus berhemat karena papa dan Kakak Arman sudah tidak perduli lagi dengan hidupku".


Ratna terpaksa membeli makanan yang dijual di Sekitar Taman saja. Ratna agak enggan untuk ikut memilih dan mengantri di salah satu warung lesehan yang ada di Taman tersebut tapi mau tidak mau dia harus ikut membeli dan makan. Ratna sudah duduk di warung lesehan yang menjajakan makanan yang cukup menggiurkan dan menggoyang lidah. Yaitu warung ayam goreng dan ber-bagai jenis ikan bakar dan aneka gorengan. Warung lesehan tersebut tersedia hanya jika malam telah datang, maka sang pemilik Warung berbondong bondong untuk membuka dan memasang perlengkapan Warung mereka yang hanya untuk semalam saja.


Ratna sudah duduk manis di dalam salah satu warung dan sudah memesan ikan goreng beserta sambal lalapannya. Tidak berapa lama Mas yang punya warung membawa beberapa piring di atas nampang yang berisi Ikan goreng beserta teman-temannya dan tak lupa air putih di dalam sebuah mangkok kecil. Ratna langsung berselera hanya mencium dari aromanya saja sudah membuat perutnya semakin berdisko. Ratna pun mulai ingin menyantap makanannya tapi heran karena tidak melihat adanya kelengkapan makan seperti sendok atau pun garpu. Ratna pun memperhatikan sekeliling warung yang semua pelanggan tidak ada satu pun dari mereka yang makan memakai sendok.


Ratna pun mulai makan dengan menggunakan tangan kanannya dan agak kagok karena selama dia tinggal di Villa Ratna sudah tidak pernah memakai tangan lagi. Ratna pun membiasakan dirinya karena perutnya yang terus berontak untuk diisi sedari tadi. Ratna kerepotan memakan makanannya menggunakan langsung tangannya. Sedangkan ada seseorang di pojokan warung terus memperhatikan tingkah laku Ratna yang lucu di matanya dan membuatnya semakin tertawa. Orang tersebut sedari tadi mengikuti langkah Ratna sejak dari panti asuhan hingga ke dalam warung.


"Rasanya enak, dengan harga yang terjangkau dan semua kalangan bisa menikmatinya".


Ratna segera menyelesaikan makannya dan berjalan ke arah Mas yang punya warung. Ratna memberikan selembar uang kertas berwarna biru dan Mas tersebut memberikan kelebihan uang dari Ratna.


"Makasih Mas, masakan Mas enak loh dan maaf mas tadi saya sempat mengapload menu masakan ke dalam sosmedku, gak apa-apa kan Mas?." tanya Ratna yang menunjukkan hpnya ke arah Mas tersebut.


"Malahan Mas senang loh, kalau Mbak bantu promosi warung Mas" ucap Mas tersebut yang bahagia.


"Kalau gitu Ratna pamit dulu yah Mas, kapan-kapan Ratna akan ke Sini lagi tapi Ratna mau Pake gratis hehehe" ucap Ratna yang tertawa dengan perkataannya sendiri.


"Pokoknya wokeh lah Mbak" balas mas tersebut.


Itu lah sisi lain Ratna. Ratna Antika Monata yang memiliki dua sisi dalam dirinya yang kadang muncul di saat situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan. Kadang akan marah jika hal tersebut memancing emosinya dan akan ramah jika lawan bicaranya ramah dan sopan. Didikan Linda mantan istrinya pak Hendry banyak memakan korban.


Anak terlahir bagaikan kertas putih yang kosong, karakter anak akan terbentuk tergantung dari lingkungan dan didikan dari orang di sekitarnya.


Bonus Visualnya Firman dan Ratna yang setelah tiga kali oplas.




Semoga suka dengan Visualnya mereka yah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩTo Be ContinuedΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan Lupa untuk tetap mendukung Bertahan Dalam Penantian dengan cara Like, Setiap Episodenya, Favoritkan, Dan RATE BINTANG 5 Yah 🙏


Makasih banyak atas dukungannya 🙏

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, 19 April 2022


__ADS_2