Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
Bab. 113. Harus Gagal


__ADS_3

Happy Reading..


Harap Bijak πŸ™πŸ™


Malam itu Turun Hujan Salju yang menjadi saksi kejadian yang tidak Boleh Terjadi. Tangisan Sang perempuan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan Hasrat menggebu dari Seorang pria yang tidak pernah merasakan hal yang Sedang Dia nikmati.


"Aku mohon Tolong jangan lakukan ini kepadaku!!" ucap perempuan itu sambil menangis dan menahan sakitnya hati dan bagian bawahnya.


Sakit yang amat sakit. Bahkan Mati pun Perempuan itu, jika Dia harus memilih tidak akan mengurangi rasa sakit, hancur dan kecewanya.


Tapi Emre tidak memperdulikan permohonan perempuan itu bahkan Emre semakin dibuat Gila dan nafsunya semakin besar. Emre sudah lupa daratan dan tidak ingat dengan akibat dari perbuatannya itu.


Di Lain tempat, seorang perempuan sangat Marah dan sudah mengacaukan isi kamar termahal di Hotel itu.


"Kemana perginya pria itu, padahal aku sudah memberinya obat perangsang, apa Mungkin Dia sedang di Kamar mandi??" Cewek itu pun segera memeriksa Kamar mandi.


Dan hasilnya masih sama, kosong melompong tidak ada tanda-tanda kalau seseorang baru Saja telah memakai kamar mandi.


"Pria itu ada di mana yah? gagal sudah aku menikmati tubuh dan Uangnya" ucap cewek itu sambil membuang bantal ke Sembarang arah.


Cewek itu pun akhirnya meninggalkan kamar Hotel milik Emre. Sedangkan di kamar lain. Seseorang sedang menikmati indahnya surga dunia Walaupun dalam keadaan yang tidak Sadar karena pengaruh alkohol dan obat perangsang yang dimasukkan oleh seseorang ke dalam minumannya.


Setelah beberapa saat, Emre akhirnya tumbang juga di atas tubuh perempuan itu yang masih Saja menangis tersedu-sedu dan menyesali kejadian yang dialaminya.


Perempuan itu berusaha untuk memindahkan tubuh Pria yang baru saja merebut mahkotanya. Mahkota yang seharusnya Dia persembahan untuk sang suaminya kelak. Tapi apa lah Daya Nasi sudah menjadi bubur.


Perempuan itu seharusnya hari ini menjalani masa-masa terakhirnya di Negara Paman Sam dengan jalan-jalan, Shopping atau pun Makan makanan Khas orang Amerika. Tapi apa lah Daya semua tinggallah rencana yang terpaksa gagal dan tak mungkin Bisa dia lakukan.


Perempuan itu berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Sakit sangat sakit Atas bawah. Air matanya pun seakan-akan mengalir yang tidak ada habisnya.


Pernikahan yang sudah ada di depan mata harus kah berlanjut atau berakhir, Jika Calon suaminya mengetahui kalau Dia sudah tidak perawan lagi.


Rina terus membasahi tubuhnya dan menggosok dengan kuat seluruh tubuhnya dengan air dan sabun Agar sisa dari jejak laki-laki itu bisa hilang dan tidak membekas dari tubuhnya.


Ya dialah Rina Gadis Yang datang ke New York karena urusan pekerjaan. Seharusnya Minggu depan Dia sudah melaksanakan ijab qobul bersama kekasih hatinya yang sudah berlangsung 8 tahun. Tapi harus dinodai oleh perbuatan dari laki-laki asing di Negeri Orang lagi.


Awalnya Rina tidak menerima surat perintah dari Atasannya dikarenakan, Dia sudah ingin mengambil cuti untuk menanti hari pernikahannya. Tapi karena salah satu teman kerjanya mengalami kecelakaan sehingga Rina lah yang menggantikan posisi Rekan kerjanya itu.


Dengan hati yang berat dan terpaksa, Rina berangkat ke Amerika bersama 3 Orang rekan kerjanya dari Sinopec Group.


Malam ini adalah malam terakhirnya di USA, Tapi sekaligus Menjadi malam yang sangat menyedihkan dan sangat Dia sesali.


Matahari sudah terbenam dan menampakkan keperkasaannya yang menyinari seluruh isi Dunia. Yang tidak pernah lelah untuk menyinari Bumi ini.


Rina segera mengemas semua barang-barangnya dan bersiap untuk ke Bandara bersama rekan kerjanya yang lain. Rina sudah tidak memperdulikan Pria yang masih asyik dalam tidurnya, Bahkan apa yang dilakukan Rina tidak berhasil mengusik tidur cantiknya.

__ADS_1


Rina berusaha sekuat tenaga untuk menahan deraian air matanya. Bahkan Rina tidak mampu untuk menangis lagi. Rina meninggalkan Kamar Hotel itu dengan penuh rasa kecewa, sakit dan penyesalan yang mendalam.


"Hay sayang apa kamu baik-baik saja?" Tanya Delia sambil merangkul sahabat baiknya yang sedari kecil selalu bersama dengan Delia.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok" ucap Rina yang berusaha untuk menyembunyikan apa yang telah dialaminya.


"Tapi kok matamu bengkak dan merah gitu kayak...?" ucapan Delia terpotong karena Arya sudah datang.


Rombongan Arya, Delia dan beberapa karyawan perusahaan Sinopec Akhirnya bertolak ke Indonesia.


Sedangkan di Rumah Emilia dan Adrian. Entah kenapa Adrian mendiamkan Emilia sejak kemarin. Adrian seakan-akan sedang berpuasa bicara tapi hanya dengan Emilia saja sedangkan dengan Orang lain hal itu tidak terjadi.


Emilia tidak ingin bertanya atau pun mempermasalahkan hal itu, Emilia hanya bisa bersabar menghadapi sikap suaminya. Karena seperti itu lah sikap Adrian, jika ada hal yang Dia tidak disukai oleh Adrian dari Emilia.


Hari ini Emilia tidak bisa datang menjemput Anaknya. Sehingga Emilia meminta tolong kepada Suaminya untuk menjemput Putera semata wayangnya. Emilia sudah ingin menghubungi nomor Adrian untuk meminta tolong tapi Pintu ruangan kerjanya diketuk oleh seseorang.


Emilia segera berdiri untuk membuka pintu ruangannya yang kebetulan terkunci.


Emilia tersenyum melihat suami dan anaknya. Andreas segera mengambil tangan Maminya untuk segera mencium tangan maminya.


"Assalamu alaikum Mami" ucap salam Andreas.


"Waalaikum salam Prince Mami" ucap Emilia sambil mengelus rambut puteranya yang nampak pirang.


"Mami boleh tak minta ijin nginap di rumah Aunty Astrid entar malam??" tanya Andreas yang memohon untuk diijinkan oleh maminya.


Sedangkan Adrian sepertinya tidak terganggu dengan percakapan anak dan istrinya. Dia masih sibuk membalas pesan Chat dari salah satu rekan bisnisnya yang dari Indonesia dan Dubai.


"Michelle katanya Mi, Omanya akan datang dari Indonesia hari ini, jadi Michelle mengajak Aku untuk nginap di sana" ucap Andreas.


"kalau Mami tidak masalah sih Nak, tapi gak tahu juga sama papi kamu" ucap Emilia.


Andreas Segera mendatangi Papinya yang masih asyik berchat ria.


"Boleh yah Pi, Andreas ke rumah Aunty Astrid??" tanya Andreas kepada papinya.


Tanpa pikir panjang Adrian langsung memberikan ijin kepada Puteranya. Dalam hati Adrian sedang bersorak karena akhirnya sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk berduaan dengan Emilia bisa terlaksana.


"Silahkan Nak, kalau prince ingin nginap di Sana, berapa lama pun Papi tidak keberatan kok" ucap Adrian sambil tersenyum yang penuh arti.


Emilia dan Adrian akhirnya mengantarkan Andreas ke rumah Aunty Astrid. Dalam perjalanan pulang, Adrian pura-pura tetap tidak ingin mengajak Emilia untuk berbicara. Adrian Ingin melihat reaksi dari Emilia.


"Pi! Masih marah kah sama Mami gara-gara kemarin saat Saya Jatuh pas di...??" ucapan Emilia belum selesai Adrian langsung menutup mulut istrinya dengan ciuman.


Adrian segera menghentikan laju mobilnya kemudian menepikan mobilnya ke sisi jalan. Untung saja jalanan agak sepi.

__ADS_1


Ciuman mereka berlangsung cukup lama, sehingga membuat pasokan udara yang masuk ke dalam rongga hidung mereka menipis. Adrian segera menghentikan ciumannya dan langsung menyentuh bibir Emilia yang sedikit membengkak karena ulahnya sendiri.


"Maafkan papi yang sudah mendiamkan Mami, Papi terlalu cemburu melihat kalian" ucap Adrian sambil menempelkan hidung mancungnya ke hidung Emilia.


"Mami sangat tahu kalau papi sedang cemburu, berarti itu tandanya Papi sangat sayang pada Mami kan" ucap Emilia menggigit kecil hidung mancung Adrian.


"Kamu udah mulai nakal yah sayang" ucap Adrian.


"Jangan sayang, Ingat kita ini di jalan loh" ucap Emilia yang mencoba untuk menghentikan aksi suaminya.


Tapi Adrian tidak bergeming dan terus melanjutkan aksinya yang sudah melucuti seluruh pakaian Emilia.


Pakaian mereka sudah teronggok di lantai. Adrian sudah mulai ingin mrnanca*** tapi tiba-tiba Handphonenya berbunyi.


Adrian tidak ingin menggubris telponnya tapi handphonenya terus Saja berdering.


"Angkat dulu Pi, jangan sampai telpon itu sangat penting" ucap Emilia yang berusaha untuk menahan sesuatu.


Adrian sangat jengkel dan marah karena lagi lagi Aksinya mendapatkan gangguan. Kemarin putera mereka yang selalu menjadi orang ke Tiga sekarang handphonenya sendiri.


Adrian dengan terpaksa mengangkat telponnya.


"Halo, ada apa??" tanya Adrian.


Adrian setengah hati mengangkat telponnya Mami Elisabeth. Yah ternyata yang menelpon Adrian dan menjadi pengganggu aktifitasnya adalah mertuanya sendiri.


"Ada apa Ma, apa itu benar??" Tanya Adrian.


TBC..


Kasihan yah Adrian yang kembali gagal untuk malam ke duanya πŸ€­πŸ€­βœŒοΈπŸƒ.


Ada apa yah Mami Elisabeth menelpon Adrian???πŸ€”πŸ€”.


Jadi penasaran nih Readers..


Yang penasaran seperti Fania so tunggu yah Update selanjutnya πŸ™πŸ™.


Makasih banyak πŸ™πŸ™.


πŸ“’ Typo Mohon dimaklumi Kakak ReadersπŸ“’


Fania ucapkan terima kasih banyak kepada Readers yang telah memberikan dukungannya kepada BDP πŸ™πŸ™


FANIA Mikaila AzZahrah πŸ’‹

__ADS_1


Makassar, 14 Februari 2022.


__ADS_2