Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 233. Boneka Pororo Obat Penenang Ratna


__ADS_3

Happy Reading..


Kepergian ibunda tercinta Karina menyisakan luka yang mendalam. Karina pun semakin khawatir saat mengetahui kalau adiknya akan dibawa ke luar Negeri untuk dijual. Karina tak henti-hentinya berdo'a untuk keselamatan adik-adiknya. Anak buah Arman sudah menangkap bapak tiri dari Karina dan sekarang sudah berada di dalam ruangan penyekapan milik Arman.


Pak Mustari dengan tega menukar anaknya dengan pelunasan semua hutangnya. Hutang pak Mustari ternyata belum lunas setelah oak Mustari merebut semua gaji yang diperoleh oleh Karina dan ternyata hutang piutang yang dimiliki oleh bapak Tiri Karina senilai 500 juta yang setiap hari bunganya semakin bertambah.


Karena sudah didesak oleh rentenir untuk membayar hutang tersebut sedangkan Pak Mustari sama Smsekali tidak memiliki uang sepeserpun dan jika tidak segera melunasi maka Pak Mustari akan dibunuh.


"Ingat baik-baik yah Pak Mustari, jika bapak tidak segera melunasi semua hutang bapak beserta bunganya maka nyawa bapak yang akan menjadi taruhannya" ancam anak buah pakka Joni selaku rentenir yang memberikan pinjaman uang untuk Pak Mustari.


"Bapak terlalu sok mampu untuk melunasinya, jadi bapak tidak berfikir gimana susahnya mencari uang, tapi gampang Saja kalau bapak ingin melunasinya bapak tinggal menyerahkan kepada kami semua putri bapak yang tiga orang itu dan kami akan membawa mereka ke Dubai untuk dijadikan perempuan yang tentunya akan menghasilkan uang yang sangat banyak dan semua hutang bapak dianggap lunas beserta bunganya" ucap Pak Mansyur salah satu anak buah pak Joni.


Pak Mustari pulang ke rumahnya dan langsung memenuhi permintaan mereka yaitu membawa ke dua putrinya dengan tega dan tidak berperasaan sama sekali bahkan memukul istrinya yang sedang sakit. Kepala Pak Mustari sudah dibayangi oleh uang banyak sehingga lupa daratan dan kalap untuk menyiksa Istrinya agar bebas membawa ke dua putrinya. Untung saja Karina berada di luar pasti Karina akan bernasib sama seperti ke dua adiknya.


"Pak kumohon jangan bawa mereka pak, kasihan mereka masih kecil, bapak mau bawa mereka ke mana?" tanya Ibunya Karina yang masih menarik kaki suaminya agar tidak berhasil membawa anaknya.


Tapi teriakan dan perkataan dari mulut istri dan anaknya sudah tidak dihiraukan oleh Pak Mustari bahkan pak Mustari dengan tega menginjak kaki istrinya yang sedari tadi merangkak memegang kakinya.


"Bapak tolong lepaskan kami Pak, kasihan Ibu tidak ada yang menjaganya" ratap adiknya Karina yaitu Karmila.


Tapi Pak Mustari sama sekali tidak menghiraukan ucapan dari anaknya dan masih terus menarik ke dua tangannya seperti seseorang yang sedang menarik kambing saja.


"Pak kasihan Ibu, tolong kami lepaskan kami pak kami akan memenuhi semua permintaan bapak asalkan jangan bawa kami pergi dari sini" ucap Kania yang meronta ingin berlari ke arah ibunya yang sudah terkapar dengan bersimbah darah di sekujur tubuhnya.


Para tetangga melihat dan menyaksikan langsung kejadian tersebut tapi mereka tidak ada yang berniat untuk membantunya karena mereka tahu dan sadar jika mereka ikut campur maka mereka akan dipukuli oleh Pak Mustari. Mereka sudah mengenal pak Mustari yang terkenal sangar dan kejam. Mereka sering sudah melihat langsung kebiadaban pak Mustari jika Karina tidak ada di rumahnya tapi jika Karina ada Pak Mustari seakan-akan tidak berkutik untuk menyiksa Istrinya dan anaknya.


"Ayok bangun!! kamu belum puas tidur kah??" ucap anak buah Arman sambil menyiram air yang sangat dingin ke tubuh pak Mustari.


Pak Mustari yang diguyur air dingin langsung terbangun dari pingsannya. Saking dinginnya air tersebut membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya yang sudah tidak seperti sebelumnya dan banyak luka lebam di sekujur wajahnya bahkan masih banyak darah segar yang mengalir di sekujur tubuhnya.


"Ingat jangan biarkan dia cepat mati usahakan dia berteriak kencang untuk meminta kematian mendatanginya dari pada harus menanggung penyiksaan dari kalian" ucap Arman sebelum meninggalkan ruangan yang pengap dan sumpek tersebut.


Ruangan itu khusus untuk dijadikan tempat penyiksaan bagi siapa pun yang melanggar aturan atau pun orang yang ingin mengganggu ketenangan keluarganya.


"Terus cari Kania dan Karmila apa pun yang terjadi walaupun harus sampai ke Dubai" ucap Arman.


Selepas dari ruangan tersebut Arman mengendarai mobilnya dan menghentikan laju mobilnya karena lampu merah menyala. Arman tidak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan suaminya Hyuna kapten kapal pesiar yang pernah Arman pakai jasanya saat Arman melakukan perjalanan ke luar negeri dengan menggunakan kapal pesiar miliknya. Dari situlah Arman mengenal sosok Alan. Arman pun mengikuti arah mobil Alan setelah lampu hijau menyala. Arman ingin meminta tolong kepada Alan agar dia membawa kapal pesiarnya ke Dubai dalam rangka honeymoon dirinya dengan Karina sambil mencari keberadaan adiknya Karina.

__ADS_1


Arman terus melajukan mobilnya hingga ke depan salah satu Kafe. Arman pun ikut ke dalam Kafe tersebut dan mencari sosok Alan. Arman sudah melihat Alan yang sudah duduk di meja bersama seorang perempuan. Arman menepuk pundak pria yang dia anggap Alan tersebut. Tapi ternyata orang yang ditepuk itu adalah orang lain yang hampir wajahnya mirip dengan Alan.


"Maaf Saya salah orang Saya kira anda adalah teman saya" ucap Arman yang malu sendiri karena ternyata salah orang.


"Tidak apa-apa kok, slow saja hal seperti ini biasa terjadi" ucap pria yang wajahnya hampir sama dengan Alan.


Arman langsung berjalan ke arah luar Kafe dan melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Karena sudah hampir adzan magrib. Arman membelikan makanan pesanan Mamanya karena hari ini Mamanya tidak sempat masak karena kurang sehat. Arman membeli banyak aneka makanan sesuai pesanan Mama Elisabeth. Sebenarnya banyak koki yang bisa memasak makanan tapi Arman mencegah mereka untuk memasak. Arman berfikir sekali-kali makan makanan dari penjual makanan yang ada di pinggir jalan hitung-hitungan membantu perekonomian mereka.


Ratna yang kedatangan tamu setiap hari merasa jengah karena Ratna tidak suka dengan Firman yang menurutnya terlalu over protektif terhadap dirinya yang sedang sakit. Ratna tidak suka jika dilarang makan makanan yang pedes padahal makanan itu adalah makanan paling disukai oleh Ratna.


"Maaf mulai hari ini, makanan yang seperti ini tidak boleh ada di dalam menu makanan Nona muda" Ucap Firman saat melihat dan memeriksa menu makanan malam Ratna yang dibawa oleh Maid di atas nampan.


"Jangan dibalikin itu kan makananku, lagian aku yang akan makan bukan kamu Kalau kamu tidak suka yah itu urusanmu" ucap Ratna.


Maid tersebut menaruh kembali ke atas meja nakas Ratna. Tapi Firman kembali mengambil mangkok tersebut dan menaruhnya di atas nampan lalu menyuruh Maid untuk pergi tapi maid tersebut takut jika dia mengikuti perintah Firman.


"Kalau Mbak tidak pergi dari sini saya akan menelpon bapak Hendry untuk memecat Mbak" ucap Firman sambil meraih hpnya yang pura-pura ingin menelpon.


Ratna hanya membelalakkan matanya tanda tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Firman.


"Kamu tidak berhak untuk mengatur kehidupanku dan apa pun yang aku lakukan" teriak Ratna yang mulai terprovokasi oleh sikap Firman.


Ratna kemudian mengamuk dan langsung melempar semua barang yang ada di depannya. Firman berusaha untuk menghindari semua lemparan itu ke arahnya agar tidak mengenai tubuhnya tapi naas kepala Firman terkena lemparan hp yang berlogo apel yang sudah tergigit sepotong. Tapi firman tidak putus asa untuk membantu Ratna agar kembali tenang. Firman langsung meraih tubuh Ratna yang terus merontah ingin melepaskan dirinya dari pelukan Firman.


"Lepaskan Aku, Aku tidak ingin berdekatan dengan kamu, kamu itu jahat sudah melarangku untuk makan" ucap Ratna.


Tapi Firman tidak melepas pelukannya malahan semakin mengeratkan pelukannya agar Ratna berhenti untuk melempar barang, Firman sangat sedih dan tidak menyangka melihat kondisi Ratna yang tidak pernah Firman ketahui kalau Ratna seperti ini.


"Ratna kumohon tenanglah, apa kamu tidak sayang dengan dirimu sendiri Ratna!!" ucap Firman.


Firman menelpon seseorang agar segera datang ke dalam kamar Ratna. Sedangkan Mama Elisabeth yang ingin mendekati mereka langsung dicegah oleh Firman agar Mama Elisabeth tidak terluka gara-gara terkena lemparan benda yang dilempar oleh Ratna. Mama Elisabeth semakin terisak dalam tangisnya karena tidak sanggup melihat putrinya yang seperti itu.


"Ya Allah tolonglah Anakku dan sembuhkan lah penyakitnya, kasihanilah anak-anakku".


Seseorang membuka pintu dan membawa sebuah paper bag yang berwarna biru muda. Firman segera meraih Paper bag tersebut.


"Makasih banyak dan tunggu aku di bawah" ucap Firman.

__ADS_1


"Baik Bos" ucap anak buahnya yang tadi ditelpon.


"Mama beristirahatlah biarkan Aku saja yang menangani Ratna" ucap Firman kepada Mama Elisabeth.


Mama Elisabeth pun menuruti perkataan dari Firman.


"Tapi ingat luka di dahimu harus segera kamu obati terlebih dahulu jangan sampai infeksi" ucap Mama Elisabeth sebelum menutup pintu kamar Ratna.


"Ratna Apa kamu sudah melupakan ini?" tanya Firman sambil memperlihatkan sebuah boneka Pororo kesayangannya yang bersulam namanya Ratna dan nama sahabat kecilnya yaitu imam. Imam adalah nama kecil firman tapi orang-orang panti asuhan lebih sering memanggil namanya dengan Imam dari pada Firman. Firman adalah sahabat kecilnya Ratna sepanti asuhan dulu.


Ratna meraih boneka Pororo tersebut lalu memeluk boneka tersebut sambil menangis tersedu-sedu.


"Imam, aku merindukan kamu imam" ucap Ratna yang semakin menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka Pororonya.


Ratna kemudian memperhatikan wajah Firman sedemikian rupa lalu berdiri dan langsung berhamburan ke dalam pelukan Firman.


"Imam jangan tinggalkan aku lagi, Aku kesepian, aku tidak punya teman lagi" ucap Ratna yang tubuhnya bergetar di dalam pelukan Firman.


Firman mengelus punggung Ratna agar Ratna bisa tenang dan nyaman.


"Ibu Linda begitu kejam membuat kamu seperti ini, Aku tidak menyangka jika hidupmu seperti ini padahal waktu Ibu Linda datang mengangkat kamu menjadi anaknya sangat lah baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kejelekannya".


"Kamu tidak akan meninggalkan aku lagi kan, kamu akan bersamaku kan Iman?" ucap Ratna yang masih memeluk tubuh Firman


"Iya aku akan selalu bersamamu hingga keadaan kamu membaik" ucap Firman.


"Aku takut jika malam hari datang apa lagi ada petir yang menyambar" ucap Ratna.


Ratna pernah dikurung di dalam ruangan yang gelap tanpa ada cahaya apa pun yang masuk, dan saat itu adalah saat di mana hujan turun dengan lebatnya disertai petir dan halilintar saling bersahutan. Ratna yang tubuhnya penuh luka semakin diperparah dengan suara dari Petir tersebut. Ratna meringkuk di pojok ruangan tersebut hingga pagi hari. Seperti itulah yang akan dialami oleh Ratna kecil jika Ibu Linda marah dan jengkel di saat Pak Hendry tidak ada di rumah.


...-------- To Be Continued --------...


Makasih banyak atas dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian 🙏 Dengan Cara LIKE, RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN.


Maaf jika banyak typo dalam pengetikan cerita nya ✌️.


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 23 April 202200⁰


__ADS_2