Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 212. Hidup Penuh Dengan Misteri


__ADS_3

Happy Reading..


Kebahagiaan tidak bisa diukur dari banyaknya harta dan materi. Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan bahagia dengan limpahan dan bergelimang harta benda. Apalah artinya jika Kaya Tapi pelit. Orang Pelit sempit kuburnya. Miskin belum tentu sengsara dan begitu juga sebaliknya, kaya belum tentu hidupnya tenang dan bahagia.


Seperti halnya Oma Ella bergelimang harta, tahta dan kekuasaan tetapi selama ini hidup dalam kesepian. Kehadiran cucu dan cicitnya membuat hidupnya lebih berwarna dan bermakna. Oma Ella memandang satu persatu cicit kesayangannya. Ke Dua anak-anak Emre baby Zafirah dan Zeya bermain bola di belakang istana milik Oma Ella. Karena sudah kelelahan mereka lanjut beristirahat di dalam kamar pribadi Oma Ella.


"Sudah capek gak Za dan Ze?." tanya Oma Ella.


"Capek" Jawab Za singkat.


"Kalau Ze gimana sayang?." tanya Oma Ella.


"Zeya ngantuk Oma" jawab Zeya yang matanya sudah merem melek saat ditanya.


"Kalau gitu kita masuk ke dalam Oma yuk" ajak Oma Ella kepada cicitnya.


Mereka berjalan beriringan, Zeya di samping kanan Oma sedangkan Zafira di samping kiri Oma Ella. Zeya yang biasanya aktif hanya berjalan biasa saja karena sudah ngantuk. Tidak berapa lama Mereka sudah sampai ke dalam kamar Oma Ella. Zeya yang sudah ngantuk berat langsung melompat ke atas ranjang dan menutup matanya. Sedangkan Zafira sebelum tidur siang Dia membersihkan seluruh tubuh dan dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Oma Ella tidak menyangka anak sekecil itu sudah disiplin dan mandiri.


"Oma Zafira minta dibacain dongen yah?." tanya Zafira kepada Omanya.


"Zafira suka dongen yah?." tanya Omanya lagi dan teringat kepada anaknya Daddy dari Emre sejak kecil selalu dibacain dongeng dan tidak, bisa tidur kalau belum dibacakan dan Oma Ella.


"Zafira suka denger dongeng dari mama kalau zafira g bisa tidur Mama selalu bacain dongeng untuk Zafirah.


"Zafirah mau dibacain dongeng apa hari ini?." tanya Oma Ella.


"Zafira maunya dibacain dongeng Aladdin Oma". ucap Zafira yang duduk bersila menghadap Oma Ella yang sudah tidak sabar menunggu dibacakan dongeng.


Oma Ella pun berdiri lalu berjalan ke arah Rak buku yang tersusun rapi di dalam kamar Oma Ella. Di Rak buku tersebut berjejer macam-macam buku baik itu buku pelajaran, bisnis maupun buku dongeng semuanya ada di dalam lemari itu.


Oma Ella kemudian membacakan dongeng Aladdin dengan penuh penghayatan bahkan Zafira sangat senang mendengar Omanya membacakan buku dongeng tersebut dan tidak lama kemudian, Zafira pun tertidur.


Oma Ella menyelimuti cicitnya, kebiasaan Zafira dan adiknya Zeya jika berada di Indonesia selalu memanfaatkan waktu sorenya untuk beristirahat dengan tidur siang.


Oma Ella berjalan ke luar dan segera menutup pintu kamarnya, dan tidak lupa menghapus jejak air matanya karena kembali terumg, dengan masa kecil putra semata wayangnya. Karena keegoisannya dulu Putranya harus menderita bathin dan harus meninggal karena terpisah jauh dari perempuan yang disayanginya hanya karena perbedaan diantara mereka.


"Maafka Mami Zulham, gara-gara Mami kamu harus pergi untuk selamanya" ucap Oma Ella di depan pintu kamarnya.


Oma Ella segera menghapus jejak air matanya karena Emre sudah berjalan mendekat ke arahnya. Oma Ella menetralkan perasaannya dan menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Emre" panggil Oma Ella.

__ADS_1


Emre lalu mempercepat langkahnya dan mendekati Omanya dan langsung memeluk tubuh Omanya.


"Heeemm sepertinya ada bau-bau minta sesuatu ni". tanya Oma Ella kepada Emre.


Pak Ella sangat tahu jika Emre mendekati Omanya dan bermanja-manja dengan dirinya pasti Emre menginginkan sesuatu.


"Oma tahu banget kalau Emre menginginkan sesuatu?." tanya Emre.


"Oma bisa Bicara sebentar dengan Emre?." tanya Emre.


"Mau bicara apa?. kalau gitu ikut Oma ke Suatu tempat" ucap Oma Ella dan berlalu dari hadapan Emre dan berjalan ke suatu ruangan khusus.


Oma Ella sudah tahu maksud kedatangan Emre ke kamarnya dan pasti ingin mengetahui tentang ke dua orang tuanya terutama Maminya. Mereka masuk ke dalam suatu ruangan yang sampai sekarang masih sangat terjaga dan terawat. Ruangan itu adalah ruangan khusus barang-barang peninggalan ke dua orang tuanya Emre. Banyak lukisan yang masih utuh dan bagus yang berjejer di dinding tembok ruangan tersebut. Dan dari sekian banyak lukisan yang ada Emre tiba-tiba berdiri di depan lukisan seorang perempuan keturunan Korea dengan kulit putih, wajah oval dan ke Dua mata yang sipit yang jelas berbeda dengan mata orang asli pribumi Turki.


Emre tanpa ditunjukkan oleh seseorang tentang siapa perempuan di dalam lukisan itu Emre Sangat tahu dengan jelas bahwa itu adalah perempuan yang berjuang dengan sekuat hati dan ikhlas menerima kesakitan yang sangat hebat saat beliau melahirkannya. Bahkan tidak sedikit seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran dibuah hati mereka. Emre memegang bingkai lukisan tersebut dan tidak segan untuk meneteskan air matanya.


"Mami, Emre Ingin bertemu denganmu." ucap Emre yang sudah menangis.


"Maafkan Oma nak, ini semua gara-gara keegoisan Oma yang lebih mementingkan dan mengutamakan harga diri dan martabat dari pada kebahagiaan anaknya sendiri" ucap Oma Ella yang menangis tersedu-sedu dibalik punggung lebar Emre.


Oma Ella kemudian berjalan ke arah lemari yang ada di pojok ruangan tersebut. Lalu mengambil sebuah buku diary Daddy-nya Emre yang sudah nampak kusam. Emre pun segera mengambil buku harian tersebut dan berjalan ke arah Meja yang tersedia di dalam ruangan tersebut, Meja yang selalu daddy-nya pakai dulu jika melukis atau pun membaca.


"Silahkan Nak, carilah Mommy kamu dan bawa kembali Mami kamu ke Sini Nak dan berkumpul dengan keluarga besar kita" ucap Oma Ella.


"Insya Allah Oma" ucap Emre.


Sedangkan di Tanah Air Tercinta..


Setelah beberapa hari Hyuna di rawat di RS, kondisi kesehatan dan mental Hyuna berangsur membaik. Dan hari ini Hyuna sudah bisa kembali pulang ke rumahnya. Walaupun Hyuna masih kadang berteriak dan menangis dengan tiba-tiba tapi menurut dokter jika Hyuna dikelilingi oleh keluarga yang menyayanginya maka, kondisi Hyuna akan lebih cepat sembuh.nKarenanitu lah rumah Utama Wiguna menjadi alternatif pilihan mereka dan menurut mereka kalau pulang ke rumahnya sendiri akan mengingatkan Hyuna dengan Alan.


Hyuna pun di bawah kembali ke rumah Utama Wiguna demi proses penyembuhan Hyuna. Seluruh anggota keluarga pun turut berbahagia dan senang karena Hyuna sudah sehat dan bisa berkumpul dengan mereka lagi. Bahkan rumah Utama dihiasi dengan pernak-pernik untuk menyambut kedatangan Hyuna ke rumah.


Hyuna sangat terharu dan senang karena merasa dirinya sangat ditunggu dan diharapkan kehadirannya kembali walaupun kenyataannya memang seperti itu. Dokter pun berpesan jangan biarkan Hyuna diingatkan dengan kejadian meninggalnya Alan biarkan Hyuna sendiri yang dengan sendirinya bertanya dan mengingat kejadian itu.


"Welcome back Sayang" ucap Mama Ratu Mahdalena yang langsung menyambut Hyuna dengan senyuman dan pelukan.


"Makasih banyak Mami Hyuna sangat terharu dengan semua yang kalian lakukan" ucap Hyuna yang Menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Mama mertuanya.


"Kami sudah lama menunggu kehadiranmu di rumah ini, tanpa kehadiranmu rumah ini sangat sepi dan Aunty kangen dengan telur balado buatan tangan Hyuna" ucap Mama Elisabeth.


"Makasih banyak Aunty, Hyuna tidak bisa membalas semua yang kalian lakukan untuk Hyuna" ucap Hyuna.

__ADS_1


"Kamu balas lah semua curahan kasih sayang semua yang telah keluarga besarmu dan orang lain berikan kepada kamu dengan senyuman manis dan tulusmu nak" ucap Oak Richard ayah kandung Hyuna sambil mengulurkan dan meremtangkan tangannya ke arah Hyuna.


Satu persatu anggota keluarga Wiguna memberikan ucapan selamat datang dan berbagai macam doa Mereka panjatkan kepada Hyuna atas kesembuhannya.


"Mama bagaimana kalau kita mencari waktu untuk mengadakan buka bersama di rumah kita ini dan juga bagi-bagi sembako kasihan banyak Readers yang mengeluh akibat melonjaknya harga bahan sembako yang setiap hari naik, Aku kasihan dengan mereka terutama Minyak goreng" Usul Delia saat mereka berada di depan Meja makan sambil menikmati buka bersama.


"Ide yang bagus tuh Delia, hitung-hitungan itu sebagai wujud rasa syukur kita atas kesembuhan dari Hyuna" Ucap Emilia yang ikut menimpali.


"Kalau menurut Mama terserah dari kalian saja, atur saja gimana Baiknya Nak" ucap Mama Elisabeth yang sedang banyak pikiran karena seseorang dari masa lalunya ingin bertemu dengannya dan sudah tiga hari beliau memikirkan hal tersebut.


Hyuna yang sedang asyik memangku anaknya sambil menyuapi Baby Arjuna hanya mendengarkan saja dan tidak ingin membantah karena menurutnya mereka mempunyai ide yang bagus.


"Bagaimana kalau semua makanan yang akan kita bagi adalah masakan dari tangan kita sendiri?." usul Dessy.


"Huuumm bagus juga usulanmu Dessy, kita kan banyak dibantu dengan Maid yang ada aku yakin insya Allah kita bisa menyelesaikan semua menu masakannya tepat waktu" ucap Helena yang sangat antusias dengan rencana mereka.


"jadi kita berbagi dengan masyarakat sekitar kompleks saja atau terbuka untuk semua masyarakat dari kalangan mana saja?." tanya Elliana yang masih menikmati buah kurma makanan khas dan wajib ada dan harus tersedia di Meja makan jika Ramadhan tiba.


"Kalau menurut kau kita terjun langsung di Pinggir jalan dan membagi makanan, serta takjil dan sembako tersebut kepada setiap pengguna jalan yang lewat tapi hanya mereka yang bersedia kan ada tuh yang biasa menolak karena mungkin mampu dan merasa tidak berpuasa" ucap Dessy lagi yang memberikan saran.


"Intinya besok kita membagi kelompok dan berpencar untuk membagikan takjil dan sembako tersebut menggunakan mobil dan ada yang sebagian dari kita yang mendatangi langsung rumah-rumah warga, gimana menurut kalian?." tanya Delia.


Semua orang hanya manggut-manggut dan antusias untuk ikut melaksanakan rencana mereka.


"Jadi aku telpon grosir tempat yang jual bahan pokok, gimana kalau kita tambahkan setiap bungkus sembako dengan Mukenah dan Kopiah khusus untuk warga miskin saja yang mendapat tambahan itu??. tanya Eliana.


"Ide kamu sangat bagus tapi Tante ikut menyarankan beli juga baju muslim untuk anak laki-laki dan perempuan yang umurnya kira-kira 8 tahun ke atas tapi kita bagikan langsung ke anak tersebut dan bertanya kepada mereka pakaian yang cocok dengan ukurannya" kata ibu Ratu yang menambahkan lagi.


"Belilah apa pun itu yang mereka sangat butuhkan, Karena sebagian Resky yang kita dapatkan adalah sebagian ada hak mereka yang kurang mampu dan kurang beruntung dan masalah bajetnya kalian atur lah gimana baiknya" ucap Mama Elisabeth sambil berlalu dari hadapan mereka yang tampak murung dan bimbang.


Kehidupan dari semua pasangan suami-istri dan anggota keluarga Wiguna tentunya masalah yang mereka hadapi. Dan tidak mungkin hidup mereka selalu lancar damai yang namanya kehidupan pasti ada pasang surutnya. Begitu pun cobaan pasti akan datang ke dalam hidup yang namanya manusia. Ada cobaan dari Suami maupun Istrinya, ada cobaan kematian, ada cobaan yang tmdtangnya dari keluarga inti sendiri dan ada cobaan yang datangnya karena adanya rasa tersakiti akhirnya menimbulkan dendam yang berkepanjangan dan tak bertepi. Ada yang mengatakan jangan hidup kalau tidak mau mengahadapi Masalah dan Ujian dari Allah SWT.


To Be Continued..


Makasih banyak Atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian BDP 🙏


Maaf jika sering ada kesalahan dalam pengetikan ✌️


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 09 April 2022

__ADS_1


__ADS_2