Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 351. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Happy Reading..


Pertemuan yang tak terduga dan sama sekali tidak disangka oleh keduanya. Antara Listie dan Dimas yang ternyata mereka sahabat sedari kecil.


"Pak ini semua bukti dan berkas yang bapak minta tadi," ucap Zidane yang menyodorkan berkas tersebut ke hadapan Kepala pengacara Keluarganya yang nantinya akan mengurus segala keperluan gugatan perceraian dan tuntutan yang akan dilayangkan ke Roy.


"Tuan Muda tenang saja, Kami pasti akan berusaha sekuat tenaga dan kemampuan Kami untuk menolongnya dan yakinlah jika kita pasti akan memenangkan kasus ini," jawabnya.


"Amin ya rabbal alamin, Alhamdulillah saya senang mendengarnya," balasnya.


Listi sedang di dalam ruangan pemeriksaan dan sudah hampir dua jam dia di dalam. Listie diperiksa oleh Tim penyidik Polda Metro Jaya. Mereka tidak ingin bertindak sebelum ada bukti nyata yang mereka pegang.


Zidane sedikit merasa was-was menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim kepolisian terhadap Tante Listiani.


Dimas memegang tangannya Zidane yang mengerti dengan kegelisahan yang dia rasakan.


"Si apa Kamu sudah yakin, jika apa yang Kamu rasakan terhadapnya adalah murni cinta bukan hanya nafsu sesaat dan obsesi saja?" Tanya Emre yang memperhatikan raut wajah Zi.


Zi melihat ke arah Pamannya sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Entahlah Uncle, hanya yang aku tahu setiap kali bertemu dengannya, hatiku merasakan kegembiraan dan jantungku selalu berdebar-debar jika berdekatan dengannya," jawabnya.


"Zi apa Dia perempuan pertama yang dekat denganmu?" Tanyanya lagi Emre.


Emre ingin mengetahui apa yang terjadi di antara Zi dengan Listi. Mereka sangat jelas-jelas tahu jika, mereka berbeda jauh usianya. Mereka tidak ingin, jika Zi salah melangkah dan mengambil keputusan dalam hidupnya.


Di dalam keluarga besar Wiguna Albert Kim Said, status janda atau pun duda tidak menjadi halangan atau pun batasan untuk memulai hidup baru.


Mereka menghormati dan menghargai segala bentuk keputusan dan pilihan dalam hidup anggota keluarganya. Bagi mereka kebahagiaan yang paling utama dari segalanya.


Yang paling penting status dari calon pasangan hidup mereka jelas. Maksudnya sudah tidak terikat dengan orang lain dalam hubungan apa pun itu.


"Iya Uncle, dia yang pertama dalam hidupku, tapi Zi masih bingung dengan apa yang Zi rasakan saat ini, hanya Zi tahu kalau Zi bahagia ada di dekatnya."


"Kalau gitu jangan terlalu cepat mengambil keputusan lagian Kamu juga baru tahun ke dua kuliah, hidup Kamu masih panjang dan nikmati masa muda Kamu lebih dulu," Emre menepuk pundak keponakannya.

__ADS_1


"Makasih banyak Uncle atas nasehatnya, Zi pasti akan ingat selalu lagian Zi belum ada niat ataupun rencana untuk menikah hanya jalani saja seperti air yang mengalir," tuturnya.


"Satu hal yang perlu Kamu ingat jangan sekali-kali untuk bertindak atau melakukan hal diluar kendalimu, karena penyesalan itu selalu datangnya di belakang Nak," jelasnya lagi.


Mereka tidak ingin Zi salah melangkah dan membuat keputusan yang bodoh hanya untuk menuruti hawa nafsunya saja.


Tidak lama kemudian,Listi sudah kembali dan berjalan ke arah mereka. Semua yang dikatakan oleh Mereka didengar langsung olehnya. Listi merasa jika Zi sangat disayangi dan dilindungi oleh keluarganya.


Tapi, hati kecilnya merasa sedih dan sedikit kecewa karena Zi masih sangat muda untuk memikirkan hubungan yang sangat serius. Apa lagi mengingat Zi adalah pewaris tahta dari kerajaan Perusahaan Sinopec Group.


Dia berharap untuk terbaik dalam hidupnya. Dia tidak ingin terlalu bermimpi yang tinggi. Ia hanya berharap semoga kepahitan dan kesedihannya di masa lalu tidak kembali menghampiri dan mengusik ketenangan masa depannya.


Setiap manusia memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bahagia. Mereka memiliki peluang untuk merubah dan meraih mimpi indahnya.


Listie tersenyum ke arah tiga pria yang berbeda generasi tersebut. Listi tidak ingin mengikuti hawa nafsunya dan mementingkan kepentingan pribadi semata.


Mulai detik ini dia sudah bertekad untuk memulai hidup yang baru tanpa ada bayang-bayang masa lalunya.


"Tante apa semuanya sudah selesai?" Tanya Zi setelah melihat kedatangan Listie.


"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai yang kita harapkan, dan katanya Pak polisi besok Roy akan digiring ke Kantor Polisi," jelasnya.


"Sama-sama,ingat ucapan Uncle berfikir lah dengan matang jika hendak ingin mengambil keputusan apa pun itu."


"Siap Uncle Emre, uncle Dimas, Zi pamit dulu ngantuk sudah," tuturnya.


"Okey, hati-hati di jalan jangan ngebut gak apa-apa lambat yang ada penting selamat sampai tujuan," ujarnya.


Listi dan Zi pulang dari Kantor Polisi. Rencananya besok mereka akan segera ke Pengadilan Agama untuk menyelesaikan gugatan cerainya.


"Tante sebaiknya kita pulang ke rumah ke dua orang tuaku,kalau pulang ke rumah Tante takutnya Roy akan datang mengamuk dan menculik Tante," jelas Zi.


"Tapi, bagaimana dengan anggota keluargamu Tante tidak ingin mereka keberatan dengan kehadiranku nantinya," ucapnya dengan wajah sendu.


"Tante jangan berfikiran aneh dan tidak-tidak, Insya Allah keluargaku tidak seperti itu, mereka sangat menghargai dan menghormati keputusan dari anak-anaknya dan Alhamdulillah Ayahku orangnya humble dan tidak pernah merendahkan orang lain," jelasnya panjang lebar kali tinggi sama dengan luas.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau seperti itu, dan Tante harap seperti itu kenyatannya," ucapnya yang sedikit ada kecemasan dan ketakutan yang muncul dalam benaknya.


Mobil mereka terus meluncur di atas aspal di tengah malam itu. Sebenarnya besok mereka seharusnya menangani masalah ini, tetapi mereka tidak ingin jika Roy suaminya lebih duluan bertindak dari pemilik mobil tersebut.


Mobil berwarna merah dengan plat nomor kendaraan yang cantik dibuatkan khusus untuk Di oleh Ayahnya Arya Wiguna. Sudah terparkir di dalam garasi rumahnya.


Mereka berjalan ke arah pintu dan sudah membunyikan bel berulang kali. Agar pintu segera terbuka. Listi melipat kedua lengannya ke depan dadanya yang menahan dinginnya angin malam.


Listi sempat mengangumi bentuk rumahnya Zi dan terbesit di pikirannya jika rumah Zi sangat besar dan mewah dibandingkan dengan rumahnya Roy yang sudah dia anggap adalah istana.


"Zi bukanlah rakyat biasa,aku yakin kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya sangatlah banyak."


Listi sedari tadi memperhatikan model dan gaya arsitektur Kediaman Arya Wiguna. Zi yang melihat Listie kedinginan dia segera melepas jaketnya dari tubuh atletisnya lalu dia pakaikan ke tubuhnya Lesti yang sudah menggigil kedinginan.


Cuaca semakin dingin saat fajar hampir muncul di ufuk Timur. Sudah jam empat subuh, mereka sampai ke depan rumahnya Zi.


Pintu tinggi berdaun dua itu perlahan terbuka dan ternyata yang membuka pintu itu adalah Zoeya kakaknya.


Zoe Saldana yang memegang tangannya karena menguap menahan kantuknya.


"Kenapa baru pulang, Kamu dari mana saja?" Tanyanya yang tidak mengerti dengan alasan kepergian dari adiknya tadi.


"Ada sedikit keperluan Mbak, jadi harus keluar sebentar," jawabnya.


"Ooh gitu, masuk jangan berdiri terus di luar entar kalian masuk angin dan nanti sakit," tuturnya.


"Makasih banyak Kak," jawab Listie.


"Enggak usah pakai Kakak manggilnya Kak sepertinya Tante yang lebih tua dari Zoe," ujar Zoe disertai tawanya yang garing.


Mereka berjalan menaiki tangga rumah menuju Lantai dua tempat kamar yang sudah disediakan oleh Delia untuk tamu putra bungsunya.


Emre sudah menelpon Arya dan menginformasikan semuanya bahwa Zi memiliki teman yang akan dia bawa ke kediamannya. Emre tidak jika besok-besok ada masalah yang terjadi pada mereka dan Arya tidak tahu apa pun itu.


...Makasih banyak kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada BDP....

__ADS_1


...Bu Fania Mikaila Azzahrah...


...Makassar, Kamis, 07 Juli 2022...


__ADS_2