
Happy Reading..
Arya tidak melanjutkan perjalanannya menuju indahnya dunia bersama sang istri, Delia Paramitha Wirawan Kim karena telpon dari Pak Hendry. Arya dan Delia segera berjalan ke arah Bank darah untuk mengecek langsung apa yang terjadi sehingga terjadi kekosongan dan kekurangan stok darah. Dan sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya Rumah Sakit DA milik Arya.
"Ini tidak mungkin terjadi, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi yang mengakibatkan kekurangan stok darah" ucap Arya sambil terus melangkahkan kakinya menuju bank darah tersebut.
Delia mengikuti langkah panjang Suaminya dan berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah Arya.
"Apa yang kakak katakan pasti itu ada motif dari semua ini, dan menurut Delia ini ada hubungannya dengan kecelakaan Hyuna dan tes DNA yang Kakak lakukan kepada jenazah Alan" ucap Delia disaat dirinya sudah berjalan beriringan dengan suaminya.
"Karena itu kita harus segera sampai di sana lalu melakukan pemeriksaan yang berhubungan langsung dengan Rian dan Hyuna" ungkap Arya.
Arya dan Delia serta anak buahnya juga mengekor dibelakang, dan mengikuti kemana langkah kaki big bosnya. Orang yang melihat hal tersebut hanya menatap heran ke arah mereka, tanpa harus mengomentarinya jika tidak ingin terlibat kedalam masalah.
Diam bukan berarti salah, Diam bukan berarti kalah dan Diam itu Emas. Kata bijak ini yang cocok untuk mengahadapi kerasnya kehidupan.
Arya sudah tiba di depan Bank darah dan kembali shock melihat adanya segel yang terpasang tepat di depan pintu.
"Lihat ini, siapa yang masang segel di depan pintu kalau Ruangannya rusak dan stok darah kosong" ucap Arya yang memegang segel tersebut.
Delia juga ikut heran dengan kejadian tersebut.
"Sepertinya, ada orang yang sengaja melakukan ini dan tujuannya untuk menganggu jalannya operasi Rian dan satu hal lagi Delia yakin kalau semua ini ada kaitannya dengan teka teki kematian Alan" ungkap Delia.
"Betul yang kamu bilang Sayang, Doni segera kamu ke ruangan cctv untuk memeriksa keadaannya dan Kamu Toni cari cepat kunci serep ruangan ini Kalau tidak dapat cari saja alat yang bisa dipakai untuk buka secara paksa" ucap Arya.
"Baik tuan Muda" ucap serentak Doni dan Toni.
Mereka segera melaksanakan perintah dari junjungannya sebelum dapat kata-kata mutiara dari bibir seksi Arya Wiguna Albert Kim Said. Tidak butuh waktu lama, Mereka sudah melaksanakan perintah tersebut dengan baik.
Arya mengambil kunci cadangan dari tangan Toni. Dan hal yang terjadi di dalam ruangan pun kembali membuat Arya dan yang lainnya pun geleng-geleng kepala saja. Karena keasyikan nonton langsung Piala Uber cup antara Indonesia dan Tiongkok, membuat mereka tidak nyadar jika ada yang mensabotase ruangan mereka.
Arya pun memberikan sanksi kepada Pegawai yang bekerja di bawah naungannya karena sudah lalai dalam menjalankan tugasnya. Arya segera berlari membawa beberapa Kantong darah ke ruangan Operasi. Rian sedang bertaruh nyawa di atas meja operasi.
__ADS_1
Berkat pertolongan dari Mama Elisabeth yang kebetulan golongan darahnya sama dengan Rian membuat operasinya berjalan lancar sesuai yang mereka harapkan dan sudah terbebas dari keadaan yang kritis. Mama Elisabeth segera memerintahkan kepada anak buah kepercayaannya untuk mengambil sampel darah dari Rian dan mencocokkan dengan darah putranya Hyuna, yaitu Arjuna.
Langkah yang ditempuh oleh Mama Elisabeth dipermudah karena ibu mertuanya Hyuna membawa Arjuna ke rumah sakit untuk bertemu dengan Hyuna yang kebetulan juga dirawat di RS.
"Mas, Mama ingin melakukan tes DNA terhadap Rian, entah kenapa perasaanku mengatakan kalau Rian adalah Alan" ucap Mama Elisabeth di hadapan suaminya.
"Kalau menurut kamu itu jalan yang baik, lakukan saja dan Saya akan membantu kamu untuk memuluskan rencana kamu itu" timpal Pak Hendry.
"Alhamdulillah Makasih banyak Mas" ucap Mama Elisabeth dengan senyuman yang mengemban dari wajahnya yang membuat Pak Hendry semakin mencintai istrinya itu di usianya yang tidak muda lagi.
Pak Hendry pun segera menghubungi anak buah kepercayaannya yang dia miliki dan tidak ingin membuat istrinya menunggu lama.
"Kamu tenang saja, anak buahku sudah bergerak, tapi yang jadi masalah gimana caranya kita dapatkan sampel dari Arjuna putranya Hyuna" pak Hendry kebingungan gimana caranya bisa mudah untuk mengambil sampel tersebut.
Hp Mama Elisabeth yang sudah dicas berdering dan yang menelpon adalah Ibu Anna ibunya Alan. Mama Elisabeth mendapatkan solusi yang tepat di saat Ibu Anna yang mengatakan kalau dirinya akan ke rumah Sakit, membuat Mama Elisabeth sangat bersyukur karena rencana yang dia gagas ternyata mendapatkan solusi yang tepat.
"Mas katanya ibu Anna sudah ada di depan rumah Sakit yang akan menuju ruangan Hyuna dan kebetulan beliau membawa Arjuna bersamanya" ucap Mama Elisabeth yang tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau gitu kita ke sana dan ingat jangan biarkan ada yang curiga atau pun mengetahui apa yang kita lakukan" ucap Pak Hendry.
"Assalamualaikum" ucap Mama Elisabeth dan suaminya.
Hyuna dan Dokter Aulia yang sedang berbincang-bincang santai melihat ke arah pintu yang terbuka lebar. Mereka menghentikan percakapan mereka karena ada yang membuka pintu kamar perawatan Hyuna tanpa salam atau pun mengetuk pintu itu.
"Waalaikum salam" ucap Mereka.
"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Mama Elisabeth saat sambil cipika-cipiki dan memeluk tubuh Hyuna.
"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin Aunty" ucap Hyuna.
"Gimana dengan putrimu dan Mami kamu Aulia?" tanya Mama Elisabeth lalu melakukan hal yang sama kepada Aulia.
"Alhamdulillah baik Bi, Mami juga baik tapi beliau berangkat Umroh tiga hari yang lalu" terang Aulia.
__ADS_1
Panggilan mereka berbeda-beda untuk mama Elisabeth, ada yang memanggil Aunty, Bibi dan ada juga yang memanggil dengan sebutan Tante bag Mama Elisabeth itu tidak jadi masalah karena tujuan mereka baik.
Aulia dan Hyuna pun salim kepada Pak Hendry secara bergantian. Pak Hendry bahagia karena semua keluarga Mama Elisabeth baik dari Istrinya sendiri atau pun keluarga dari Wiguna Albert Kim Said almarhum suami Elizabeth semuanya baik dan sudah menerima kehadirannya di dalam hidup Mama Elisabeth.
"Rencananya mami mau ke sini tapi kok sampai sekarang mereka belum sampai padahal sedari tadi sudah ada di sekitar rumah sakit?" Hyuna keheranan sendiri.
"Mungkin Mami kamu kebingungan untuk cari ruangan kamu" timpal Mama Elisabeth.
"Aku sudah merindukan putraku sudah tiga hari aku tidak melihatnya" ucap Hyuna lagi.
Baru saja Hyuna mengeluarkan perkataannya, Pintu sudah terbuka dan Arjuna sudah berlari ke arah Mommynya.
"Mommy, Arjuna tangen sama Mommy" ucap Arjuna yang langsung berhamburan ke atas ranjang Hyuna.
"Mommy juga kaaaaangen banget sama Arjuna, Mommy selalu merindukan Arjuna setiap saat malah" ucap Hyuna yang sudah memangku putranya.
"Arjuna juga lindu cama Moms" ucap Arjuna lalu menciumi wajah mommynya.
Pak Hendry memberikan kode kepada Mama Elisabet agar segera mengambil sampel dari rambut Arjuna. Mama Elisabeth pun segera mendekati Arjuna. Mama Elisabeth mencari celah untuk mengambil beberapa lembar rambut Arjuna dan akhirnya berhasil juga saat Arjuna sendiri yang berlari ke dalam pelukan mama Elisabeth yang mempermudah rencana mereka.
"Alhamdulillah, semoga kami segera mengetahui siapa sebenarnya Rian itu, apa dia adalah Alan atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kami dan Saya ingin mengetahui teka teki kematian Alan".
...----------------...
Makasih banyak atas dukungannya, Fania sangat bersyukur karena masih ada yang baca novel receh Fania ๐๐ฅฐ.
Sambil nunggu update BDP, Kakak juga bisa mampir mampir membawa like di novel receh lainnya Fania:
๐Cinta Yang Tulus
โฅ๏ธ Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar ๐
...--------To Be Continued--------...
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at 13 Mei 2022