
Happy Reading..
Mama Elisabeth dan Pak Hendry berjalan ke arah Ruangan ICU tempat Rian dirawat. Mama Elisabeth khawatir dengan keadaan dan keselamatan dari Rian. Perasaan yang dirasakan oleh Mama Elisabeth seperti seseorang Ibu kepada anaknya. Mama Elisabeth sering ngalamin hal seperti ini, jika ada anggota keluarganya yang mengalami suatu masalah dan bertaruh nyawa.
Mama Elisabeth pun semakin mempercepat langkahnya dan berjalan ke arah Suster yang sedang sibuk ke luar masuk dari ruangan ICU. Mama Elisabeth heran melihat dokter dan suster yang keluar masuk dari ruangan ICU.
"Maaf sus apa yang terjadi, dan bagaimana keadaan pasien yang bernama Rian?" tanya Mama Elisabeth yang semakin khawatir.
"Maaf Ibu, kondisi pasien atas nama Rian dalam kondisi yang sangat kritis dan Dokter akan segera melakukan operasi, tetapi stok darah di Bank darah rumah sakit kami sedang kosong Bu" tutur Suster yang bername tag Lili.
Mama Elisabeth terkejut mendengar penjelasan dari Suster tersebut.
"Itu tidak mungkin Sus, di Rumah Sakit milik Anak Saya ini sudah berdiri berapa tahun lamanya dan dalam sejarahnya tidak pernah mengalami kekurangan darah sekali pun, jadi itu tidak mungkin Sus?" Mama Elisabeth semakin tidak percaya.
"Makasih atas infonya Sus, dan tolong berikan yang terbaik untuk Rian" ucap Papa Hendry sambil memeluk tubuh istrinya agar tenang dan sabar menghadapi cobaan ini.
"Mas, tolong telpon Arya segera, karena hpku bakterinya kosong lupa charger tadi sebelum ke sini" terang Mama Elisabeth.
Pak Hendry pun segera melaksanakan Permintaan dari istrinya dan menelpon nomor hp Arya.
Arya yang sedang berduan dengan istrinya di dalam kamar perawatan.
"Delia" ucap Arya sambil menepuk ranjang kosong di dekatnya.
Delia yang mengerti dengan maksud dari suaminya hanya mengikuti perintah Arya tanpa banyak tanya dan komen.
"Del" ucap Arya kemudian mendekat ke arah Delia dan posisi Arya sudah berada di belakang Delia dan memeluk tubuh Istrinya.
Arya melepas hijab Delia lalu mengendus rambut Delia dan menciumi leher jenjang Delia.
"Delia mau itu" ucap Arya.
"Kak, tangan Kakak masih sakit loh, gimana caranya untuk itu" ucap Delia yang sudah tahu maksud dari suaminya dengan wajah yang menunduk malu dengan rona merah yang menghiasi wajahnya.
"Tapi kan masih ada tangan kanan kakak yang bisa memimpin dan menuntun kamu loh" ucap Arya yang sudah mulai bereaksi.
__ADS_1
Arya sudah mulai membuka kancing baju Delia, tetapi tangannya berhenti karena hp Arya tidak berhenti berdering, membuat Arya jengkel dan mengerang kesal.
"Siapa sih yang berani ganggu aktivitasku?" ucap Arya yang kesal dengan hpnya.
"Sayang angkat telponnya, sepertinya itu telpon yang sangat penting" ucap Delia yang membujuk Suaminya sambil tangannya memasang beberapa kancing bajunya yang sudah terlepas.
"Kenapa setiap kali Kau ingin itu, selalu ada saja yang menggangu?" Tanya Arya bingung dengan keadaannya.
"Hallo Pa, ada apa Pa?" tanya Arya yang sedikit malas mengangkat telponnya.
"Arya tolong konfirmasi ke bagian Bank darah karena Rian sedang dioperasi, tetapi katanya Suster stok darah yang sesuai dengan darah Rian itu kosong" jelas Pak Hendry.
"Apaaaaa!! itu tidak mungkin Pa?" tanya Arya yang langsung bangkit dari duduknya saking kagetnya mendengar perkataan dari Papa Hendry.
"Kalau kamu tidak percaya telpon direktur rumah sakit kamu" ucap Pak Hendry dan segera menutup sambungan telponnya.
Arya segera menelpon nomor hp Direktur Rumah sakitnya. Tapi Apa yang didengar oleh Arya tidak membuat Arya Wiguna Albert Kim Said dengan penjelasan dari Direkturnya.
"Ingat jika Saya melihat dan mengetahui semua itu terjadi karena kesalahan kamu, Saya tidak segan-segan untuk mengirim kamu ke daerah terpencil dan rawan tindak kriminal" ucap Arya lalu mencabut selang infusnya dari punggung tangannya.
"Jangan cuma bualan kamu saja yang saya dengarkan dan tidak ada tindakan nyata yang kamu lakukan" ucap Arya.
Sedangkan Direktur tersebut sudah mengeluarkan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dan juga sudah gemetaran karena takut mendengar ancaman yang pasti terjadi jika Dia melakukan kesalahan.
Pak Direktur tersebut segera berjalan ke arah Ruangan bawahannya dan memerintahkan kepada bawahannya untuk segera memeriksa Bank darah. Direktur tersebut takut dimutasi, tapi tidak melaksanakan kewajibannya dan tugasnya dengan baik bahkan setiap hari mereka hanya bisa makan gaji buta saja tanpa diketahui oleh Arya. Dan pastinya Pak Direktur tersebut akan dipindahkan ke daerah terpencil dan rawan bencana dan tindak kriminal juga.
Arya berlari ke arah luar dan melangkahkan kakinya yang cukup lebar. Delia memasang kembali hijabnya dan tergesa-gesa berjalan untuk mengikuti langkah suaminya.
"Kak tunggu, ingat Kakak itu masih sakit tolong hati-hati" teriak Delia yang menambah kecepatan kakinya untuk mengejar langkah Arya.
Arya tidak menghiraukan teriakan dari Istrinya dan semakin kesal dengan jajaran direksi yang bekerja di Rumah Sakitnya ini. Arya tidak menyangka jika orang-orang yang bekerja dibawah naungannya ternyata tidak sesuai dengan pemikirannya selama ini. Arya akan memeriksa langsung jika keadaan sudah kondusif.
Arya pun membuka pintu Bank Darah tersebut, tetapi ternyata pintunya terkunci dan terpasang segel dengan tulisan, "Maaf Ruangan Rusak dan dipindahkan ke Tempat Lain" dan membuat Arya tercengang mendapati bahwa di ruangan tersebut terdapat tulisan yang membuatnya itu tidak mungkin terjadi.
"Ini tidak mungkin terjadi, Ruangan yang baru dibangun bulan lalu bisa rusak, sepertinya ada yang sengaja membuat hal seperti ini dengan sengaja, karena mengetahui kalau Rian butuh donor darah" Arya kebingungan dengan kejadian yang mustahil menurutnya.
__ADS_1
"Iya Kak, ini sangat tidak mungkin dan Delia yakin jika ada yang sudah mensetting semuanya dengan baik dan terorganisir" timpal Delia.
Arya pun menelpon direktur Rumah Sakit DA dan juga kepala keamanan rumah sakitnya.
"Kamu cari kunci cadangannya cepat!!" teriak Arya kepada anak buahnya.
Doni dan Tony segera bertindak sesuai arahan dari big Bosnya. Hanya butuh waktu 5 menit anak buahnya sudah datang dengan membawa kunci serep ruangan tersebut. Arya pun masuk bersama rombongannya dan Arya kembali tercengang. Delia pun ikut heran dengan apa yang terjadi di Bank darah tersebut.
Pegawai dan perawat yang bekerja di Bank Darah tersebut ternyata semuanya sedang santai menonton siaran langsung dari Uber cup Indonesia versus Tiongkok. Mereka saking seriusnya menonton sampai-sampai tidak menyadari kedatangan pemilik Rumah Sakit DA.
Arya hanya geleng-geleng kepala melihat pegawainya yang saking seriusnya nonton live siaran Badminton Uber Cup di Televisi hingga tidak menyadari kedatangan rombongan Bosnya. Arya pun mengambil remote TV tersebut dan langsung mematikan televisi layar datar tersebut. Hingga mereka bereaksi diluar dugaan.
"Hey siapa sih yang berani mematikan Televisinya, apa kamu sudah bosan bekerja di si...." ucap Si Andi selaku kepala bagian Bank Darah yang menoleh ke arah belakang.
Dan ucapannya terpotong karena tidak sanggup berucap lagi dan lidahnya tiba-tiba keluh seketika.
"Iya benar yang kamu bilang pak Andi, apa mereka tidak tahu kalau yang main itu tim nasional kita" ucap Si Budi yang ikut tidak berkutik juga padahal sudah siap untuk memaki orang tersebut.
"Heheheheh Tuan Muda Arya" ucap mereka berbarengan.
"Ternyata begini yah kerjaan Kalian semua dan kenapa di depan pintu terpasang segel dan katanya Ruangan ini rusak dan stok darah habis, ada yang bisa jelaskan kepada saya dan satu hal lagi pintunya juga tergembok tanpa kalia sadari" ucap Arya yang kemudian duduk di hadapan Anak buahnya itu.
Satu pun diantara mereka tidak ada berkutik sedikit pun, bahkan mereka saling berpandangan dan menundukkan kepalanya bahkan sudah ada yang gemetaran dan berkeringat dingin.
Mereka tahu jika Arya Wiguna Albert Kim Said marah Dia tidak akan memberikan kesempatan ke dua kepada anak buahnya yang melakukan kesalahan yang disengaja.
...--------To Be Continued--------...
Author akan happy, bahagia dan senang jika tidak ada readers yg berkomentar jelek di kolom komentar. Tapi Kami Author juga tidak bisa mengatur dan mensetting kemauan dan jempol Readers juga. Tapi alangkah baiknya jika Reader menghargai karya dari seseorang, jelek atau bagusnya TIDAK USAH berkomentar Jelek apa lagi Harus Julid dan menjatuhkan semangat Author 🙏✌️.
Sedikit curhat 🤭🙏
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Kamis, 12 Mei 2022
__ADS_1