
Happy Reading...
Senyuman kelegaan yang terpancar dari wajah mereka harus luntur ketika Putri tanpa terduga berhasil merebut diam-diam pistol yang tergantung di pinggang Pak polisi yang mengantarnya masuk ke dalam mobil polisi.
Tanpa ba-bi-bu Putri langsung membidik sasarannya ke arah rombongan keluarga besar Wiguna Albert Kim Said dan sasarannya adalah Arya, menarik pelatuk pistolnya tanpa ada rasa takut dan gentar sedikit pun, disertai dengan tawa licik nan sinis tawa khas Putri si manusia psikopat itu.
Putri pun menarik pelatuk pistolnya dan menghabiskan seluruh amunisi yang ada di dalam pistol tersebut hingga habis. Sebanyak lima kali tembakan itu secara beruntun dilesatkan oleh Putri ke punggung orang yang ditembaknya.
Tak ada satu pun yang menyangka jika Putri berhasil mengambil pistol tersebut yang punya senjata pun hanya berdiri bengong melihat aksi dari Putri.
"Ti-daaaaaaaaaaakkkkk!!!!!"
Teriak dari Arman yang melihat tubuh itu limbung ke atas aspal. Dengan kucuran darah segar yang menetes dari hidung, mulut korban yang berhasil ditumbangkan oleh Putri.
Putri segera dipukuli oleh Polisi yang berada didekatnya hingga pingsan. Sedangkan yang berada di sekitar korban tidak tahu harus berbuat apa saking shocknya melihat kejadian itu di depan matanya.
Gelas air minum yang dipegang oleh Mama Elisabeth tanpa sengaja terlepas dari genggamannya.
"Apa yang terjadi yah Allah, Hati ini tiba-tiba gelisah dan tidak tenang?"
Delia yang melihat kejadian itu langsung berlari kecil ke arah Ibu mertuanya dengan raut wajah yang khawatir melihat kondisi Mama Elisabeth yang nampak pucat pasi.
"Apa yang terjadi Ma, Mama baik-baik saja kan?" tanya Delia.
Mama Elisabeth hanya langsung memeluk tubuh menantunya itu tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Mama baik-baik saja kan?, Mama lihat Delia Ma, ini Delia putri Mama?" teriak Delia untuk menyadarkan mama Elisabeth yang sudah menangis histeris.
Delia memeriksa seluruh tubuh mertuanya dan tidak ada yang terjadi pada tubuhnya, jari dan tangannya juga terbebas dari luka goresan pecah beling.
"Mbak Siska tolong bersihkan pecahan gelasnya," perintah Delia yang sedikit berteriak ke arah pembantunya.
Yang lain langsung berlari ke arah Delia yang berteriak mereka heran dengan apa yang terjadi pada Delia yang katanya tadi hanya mengambil air saja tapi, tiba-tiba teriak.
"Ada apa Del, kok berantakan gini dapurnya?" tanya Emilia.
"Ini Mama Elisabeth gak tahu kenapa tiba-tiba nangis tersedu-sedu hanya gara-gara menjatuhkan sebuah gelas saja, Aku sudah periksa dan tanya Mama tapi, ga dijawab sama sekali," jelas Delia.
"Mama lihat Emilia Ma, apa yang terjadi dengan Mama, please Mama bicara dong?" ucap Emilia dengan deraian air matanya pun sudah membasahi pipinya.
Mereka sudah mengelilingi Mama Elisabeth. Dan sudah memeriksa dengan seksama kondisi Mama Elisabeth tapi, mereka tidak menemukan keganjalan apa pun itu.
"Bawa Mama Kalian ke dalam kamarnya, biarkan Mama kamu beristirahat," titah Ibu Anna.
"Baik tante," ucap Eliana.
Sesampainya di dalam kamar, Mama Elisabeth diberikan aroma terapi dan berhasil membuat Mama Elisabeth terdiam dan lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya.
Mereka hanya saling berpandangan dan kebingungan dengan kenyataan yang ada.
Sedangkan di sekitar area Gedung pencakar langit tempat hajatan pernikahan Putri yang harus batal, semua orang yang berada di sana memperketat pengawasan dan penjagaan sekitar Putri bahkan Putri di bawah ke tahanan yang sangat terisolasi dari dunia Luar. Di sana lah Putri akan menerima nasip dan ajalnya.
"Papa bangun Pa, ini Arman Pa," ucap Arman yang sudah menangis tersedu-sedu melihat kondisi Papanya yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
"Papa jangan tinggalin Ratna Pa, Ratna tidak bisa hidup tanpa Papa," ucap ratap Ratna yang berusaha menahan darah yang semakin banyak yang keluar dari hidung Pak Hendry.
Pak Hendry adalah orang yang menyelematkan Punggung Arya sehingga terbebas dari amukan peluru yang ditembakkan oleh Putri tadi. Pak Hendry mendorong kuat tubuh Arya Setelah melihat bidikan pistolnya Putri.
Arya pun tidak kuasa menahan tangisnya melihat Ayah sambungnya terkapar bersimbah darah.
"Papa Arya mohon bangunlah, Kami semua ada di Sini Pa," ucap Arya yang tidak kuasa menahan Isak tangisnya.
Lima peluru yang berhasil bersarang di dalam dadanya Pak Hendry membuat kondisinya langsung drop dan tidak sadarkan diri lagi.
"Arya ayok segera bawa ke Rumah Sakit, jangan kalian hanya menangis saja!!" teriak Adrian.
Mereka sudah bersiap untuk menggendong tubuh pak Hendry tapi pak Hendry terbatuk dan menggelengkan kepalanya dan semakin terbatuk darah segar.
"Ti-dak usa-h nak, Pa-pa per-gi Allahu...... akbar," ucap pak Hendry disertai dengan buliran air mata terakhirnya yang menetes membasahi pipinya dengan hembusan nafas terakhirnya.
"Tiiiiiiiiidaaaaaakkkk!!!!!"
Teriakan dari Arman yang menggelegar di malam itu menjadi saksi kepergian Pak Hendry untuk selamanya. Tangis pecah di sekitar lokasi tempat itu. Semua meneteskan air matanya melihat kepergian Pak Hendry.
Pihak kepolisian pun sangat menyesali kejadian yang tidak terduga yang terjadi begitu cepatnya.
"Papa bangunlah Pa, jangan seperti ini, Ratna akan hancur jika Papa pergi huhuuuhuhu," ucap Ratna yang menggoyang tubuh Papanya.
"Sayang sadarlah, jangan goyang terus tubuhnya Papa kasihan Papa sayang," ucap Firman Suaminya.
"Papa sudah pergi meninggalkan kita semua," ucap Arya yang terduduk di samping mobilnya seperti orang linglung saja.
"Betul apa yang dikatakan Dimas, kasihan Papa jika dalam kondisi seperti ini terus," timpal Firman.
"Aku harus bilang apa sama Mama Elisabeth, pasti Mama akan kecewa sama Saya Bang, Maafkan Arya Ma yang tidak mampu menjaga Papa Hendry," ratap Arya yang semakin kacau.
Adrian segera mendekati adiknya angkatnya itu.
"Kamu harus kuat dan sabar jika Kamu seperti ini siapa yang akan menjaga Mama Arya," ucap Adrian yang sebenarnya juga sama dengan apa yang dirasakan oleh Arya.
"Bawa segera ke Rumah Sakit tubuh Pak Hendry Tuan Muda," ucap Anton Bachrul.
Mereka pun menggendong tubuh Pak Hendry ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke RS.
"Dimas hubungi orang di rumah tapi, usahakan jangan buat mereka terkejut terutama Mama Elisabeth," perintah Adrian yang mengemudikan mobilnya.
"Baik Bang," jawab Dimas.
Sedangkan Arya dan Anton yang berada di jok kursi belakang mobil dalam keadaan yang shock berat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kehilangan dua kali seorang pemimpin, panutan dalam keluarganya. Arya memikirkan kondisi dan nasib Mamanya.
Arya sudah pernah melihat langsung saat Mamanya kehilangan Ayahnya yang hingga berbulan-bulan baru lah Mamanya kondisinya stabil dan normal seperti sedia kala.
Pihak kepolisian sudah memberikan polis line pada TKP dan meringkus semua anak buahnya Putri tanpa terkecuali termasuk di Botak pun tidak lepas dari borgol kepolisian.
Jenazah Pak Hendry segera dilarikan ke dalam ruang operasi untuk mengeluarkan dan mengangkat lima buah timah panas itu.
Dessy yang dihubungi oleh Dimas tidak mengangkat telponnya padahal sudah berkali-kali ditelpon. Jadi, Dimas memutuskan untuk menghubungi nomor handphone Delia.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, sambungan telpon pun terhubung ke nomor hpnya Delia Paramitha Wirawan Albert Kim.
"Assalamu alaikum Dimas," ucap Delia yang masih berada di dalam kamar Mertuanya.
Mama Elisabeth sudah terlelap dalam tidurnya setelah berhasil diberikan aromaterapi yang langsung membuatnya tenang.
"Waalaikum salam, Mbak Del Papa Hendry terkena tembakan dan sudah meninggalkan kita semua," ucap ragu Dimas.
"A-paaaaaaaaa!!! ucap Delia dan langsung menjatuhkan gawainya ke atas lantai.
Treeeeenggggg...
Bunyi HP Delia yang berhasil mendarat di atas lantai keramik.
Orang yang berada di dalam ruangan itu heran dengan reaksi Delia. Tubuh Delia langsung luruh kea atas lantai dan terduduk hingga menangis tersedu-sedu.
"Itu tidak mungkin, pasti ada yang salah," ucap Delia yang menutup mulutnya tapi tetap menangis tersedu-sedu.
"Delia apa yang terjadi padamu, apa yang terjadi dengan mereka Del?" tanya Rina.
"Iya Del, jangan seperti ini ayok jujur sama kami," ucap Emilia.
"Papa Hendry meninggal dunia," ucap Delia dengan menutup mulutnya agar suaranya tidak jelas dan tidak sampai ke telinga Mama Elisabeth.
Praaaaaannnnnnggggg.....
Suara benda pecah kembali terdengar dari dalam kamar luas itu.
............
Othor hanya bisa bilang Selamat Jalan Pak Hendry mungkin ini yang terbaik untuk semuanya, Pak Hendry mengorbankan nyawanya demi menggantikan Posisi Arya.
Sedih juga harus melihat Mama Elisabeth harus jadi janda ke dua kalinya
Tapi mau diapa seperti itu lah yang tertulis di dalam takdir yang sudah digariskan oleh Author hehehe.
Semoga yang ditinggal bisa bersabar dan tabah menjalani cobaan dan ujian ini.
Jangan Lupa untuk tetap memberikan Dukungannya kepada BDP dengan Cara
LIKE 👍
Gift Poin atau Koin 🎁
Favoritkan ♥️
Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐
...********To Be Continued********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Minggu, 29 Mei 2022
__ADS_1