Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 162. Berdamailah Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Happy Reading..


Dimas dan Dessy telah berangkat ke Italia untuk berbulan bulan madu selama Dua Minggu. Dessy selalu memilih naik pesawat komersial dari pada memakai pesawat pribadi milik suaminya. Dessy berharap untuk kali ini dirinya tidak lagi mabuk perjalanan. Walaupun Dessy mengalami mabuk perjalanan tapi Dessy sudah tidak terlalu khawatir lagi karena Ada Dimas disisinya yang siap siaga.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam, Dessy masih was-was karena dirinya belum juga muntah atau pun pusing. Karena itu lah Dessy tidak mau tidur walaupun sudah dipaksa oleh Dimas.


"Yang tidur yuk, gak capek kah atau gak ngantuk gitu.??" tanya Dimas yang matanya sudah tinggal berapa what saja.


"Kalau Mas Dimas mau tidur silahkan ga apa-apa kok" ucap Dessy yang agak malu-malu ngucapin kata Mas untuk panggilan sayang kepada Dimas.


Karena itu untuk pertama kalinya dalam hidup Dessy memanggil seseorang dengan panggilan mas. Dimas menginginkan panggilan itu karena kebetulan Kakek Dimas dari Ayahnya berdarah Jawa. Jadi sah-sah saja lah Dessy memakai panggilan mas.


Dessy sudah menyiapkan berbagai macam kantong kresek untuk jaga-jaga jika dirinya tiba-tiba ingin muntah. Dessy pun tidak bisa memejamkan matanya. Hingga tanpa Dessy sadari, Dia pun tertidur pulas sampai pesawat pun mendarat. Dessy heran dengan keadaannya karena untuk pertama kalinya dirinya tidak mengalami mual,muntah dan pusing. Dessy sempat berfikir apa penyakitnya sudah sembuh karena Dimas sudah menjadi suaminya. Tapi Dessy tertawa sendiri dengan apa yang difikirannya.


"Masa gara-gara Dimas sudah menjadi suamiku jadi penyakitku sembuh total??". ucap Dessy yang heran sendiri.


Dessy dan Dimas akhirnya menginjakkan kakinya di Ibu Kota Italia Roma. Dessy sangat bahagia karena bisa menghirup udara kota Roma yang sedari dulu dia impikan. Mereka berangkat ke Hotel yang sebelumnya mereka telah pilih. Dessy tidak henti-hentinya tersenyum gembira karena impiannya sudah terwujud, sedangkan Dimas senyum-senyum sendiri dengan penuh arti.


"Bersiaplah nanti malam kita olahraga yah Sayang." bisik Dimas sambil berlalu dan keluar dari lift menuju kamar hotelnya.


Dessy terdiam dan belum mengerti maksud dari perkataan Dimas, Dessy seakan-akan pikun dan tidak tahu sama sekali maksud dari Dimas. Setelah beberapa saat akhirnya Dessy pun mengerti dan tersenyum malu-malu dan ikut berjalan di belakang Suaminya dan selalu menunduk karena malu.


Sedangkan di Tanah Air Beta, Keluarga besar Wiguna Albert Kim Said berkunjung ke rumah Delia dan Arya. Eliana dan Suaminya beserta yang lainnya ingin berkumpul sebelum berangkat ke Luar Negeri lagi. Suami Eliana aslinya berdarah campuran, Ayahnya berasal dari Indonesia dan Malaysia sedangkan Maminya berasal dari Inggris Korea Selatan. Dari semua tokoh BDP berdarah campuran yah Readers. Maklum othornya suka cowok blasteran dan suka makan gado-gado soalnya.


Hari ini, Delia masak berbagai jenis macam kue baik kue kering maupun kue basah. Delia antusias sekali memasak karena keluarganya meminta langsung kepada Delia untuk dibuatkan berbagai jenis kue langsung dari tangan Delia.


Bibi Ainun mendekati Delia yang sedang sibuk dengan adonan kuenya. Apron terpasang cantik di tubuhnya. Kalau orang cantik pakai pakaian apa pun tetap cantik yah.


"Sepertinya kuenya yang ada di oven sudah masak loh Delia". ucap bibi Ainun yang membuka tutup oven karena kue yang ada di dalam oven tersebut sudah matang.


"Silahkan bi, kalau kuenya sudah matang" ucap Delia yang memasukkan ke cetakan adonan terakhir kuenya.


"Del, apa kamu masih marah sama Pak Wiguna.??" tanya bibi Ainun yang membantu Delia memasukkan kue yang matang ke dalam Toples.


Delia menghentikan sesaat pekerjaannya lalu menatap bibinya. Delia pun tersenyum menanggapi perkataan dari bibinya.


"Bi, Delia tidak marah sama Ayah Wiguna tapi Delia hanya tidak bisa menerima kenyataan dari sikap Ayah saja, Aku sudah memaafkan Ayah tapi untuk melupakan maaf Bi, Delia belum bisa melupakan itu semua, tapi Delia akan berusaha untuk melupakan semuanya bi." jelas Delia.

__ADS_1


"Aku sangat mengerti dengan apa yang kamu hadapi Nak, tapi bibi mohon berdamailah dengan masa lalumu, Bibi tidak ingin lihat kamu menjadi pendendam dan akan menggangu hubunganmu dengan pak Wiguna" tutur Bibi Ainun yang berusaha memberikan masukan kepada Delia.


"Makasih banyak bibi, insya Allah Delia akan berusaha untuk melakukan apa yang bibi katakan" ucap Delia yang langsung memeluk tubuh bibinya.


Mama Elisabeth masuk ke dalam dapur dan tanpa sengaja melihat dan mendengar percakapan Delia dan bibinya. Mama Elisabeth bersyukur dan bahagia setelah mendengar perkataan delia yang sudah memaafkan suaminya.


"Apa kuenya sudah matang nak??." Tanya Mama Elisabeth yang berpura-pura tidak tahu apa pun yang terjadi.


Delia buru-buru menghapus jejak air mata yang sudah membasahi pipinya. Delia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan sang ibu Mertua.


"Alhamdulillah Ma, kuenya sudah matang semua" jawab Delia sambil menyodorkan nampang ke hadapan ibu mertuanya.


"Mama bawa ke depan yah kuenya, tapi Mama mau icip-icip dulu yah" ucap Mama Elisabeth yang langsung mengambil kue dari nampang yang dipegang oleh bibi Ainun.


Bibi Ainun dan Delia hanya tersenyum melihat mama Elisabeth yang makan kue dengan nikmatnya.


"Gimana ma rasanya, jangan-jangan tidak enak??." tanya Delia yang khawatir jika kue buatannya tidak enak.


Tidak ada yang bisa membaca raut wajah Mama Elisabeth saat makan kue sehingga Delia dan bibi Ainun juga ikut bertanya-tanya dengan sikap Mama Elisabeth.


"Ini kue buatan chef terkenal atau buatan kamu sih Del, kok enak banget?." tutur Mama Elisabeth.


"Sumpah ma rasanya enak, jangan-jangan Mama cuma mau lihat Delia gak kecewa" ucap Delia sambil ikut mencicipi kue buatannya.


"Kue buatanmu ini rasanya delicious bingits loh Del, pasti saudaramu yang lain akan suka dengan masakanmu." ucap Mama Elisabeth.


"Jadi Delia bawa kue ini semua ke depan yah Ma?." tanya Delia sambil membawa semua kue hasil masakannya ke depan.


Semua orang yang berada di dalam ruangan tengah tersenyum menunggu kue buatan Delia. Delia membantu bibi Ainun untuk menata kue itu di atas Meja.


"Silahkan cicipi kuenya, maaf Delia cuma bisa buat kue kampung" ucap Delia.


Mereka langsung mencicipi aneka jenis kue yang ada di atas Meja, Mereka sangat suka dengan hasil buatan tangan Delia.


"Kak ipar, kamu kursus di mana sih? kok pinter banget masaknya??." Tanya Emilia.


Delia tersenyum menanggapi perkataan Adi iparnya.

__ADS_1


"Iya Del, buatan mu emang sangat enak loh, Kalau bisa aku mau tahu resepnya yah". Ucap Eliana.


"Boleh kok Kak, kalau kakak ingin resepnya nanti aku tuliskan resepnya untuk kakak" ucap Delia.


"Moga saja aku bisa buat kue yang rasanya enak dan buat suamiku tidak melirik wanita lain." ucap Eliana sambil memandang ke arah suaminya.


Sedangkan Mark alAyubbi yang ditatap seperti itu hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Istrinya.


"Kamu mau belajar buat kue, gimana caranya pegang panci saja tidak pernah." canda Adrian yang meledek Istrinya.


"Iih kakak jangan buka kartu aku dong, kan jadi Malu nih" ucap Emilia sambil bercanda juga.


"Kalau Emilia tahunya cuma pegang pensil saja, nyalakan kompor saja gak tau" ucap Eliana yang tertawa terbahak-bahak.


Pak Wiguna tiba-tiba berdiri dan mendekati Delia yang duduk di samping Arya.


Pak Wiguna langsung berlutut di hadapan Delia Delia dan menangis tersedu-sedu.


"Delia Maafkan Ayah Nak, Ayah sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti kalian, dan kecelakaan Mamamu dulu bukan lah ayah sengaja bahkan Ayah waktu itu sudah berusaha untuk menghindari kecelakaan itu" ucap pak Wiguna.


Delia langsung membantu ayah mertuanya berdiri dan membalas pelukan Ayah mertuanya.


"Jangan seperti ini yah, Delia sudah memaafkan Ayah, Delia pun meminta maaf atas keegoisan Delia yang membuat Ayah bersedih" ucap Delia.


Yang lain pun ikut meneteskan air matanya karena ikut hanyut dalam suasana. Mereka bahagia karena selama ini terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Berdamailah dengan masa lalu, jika ingin hidup aman dan tenteram dan sejahtera. Keegoisan hanya akan menghancurkan tali silaturahim.


TBC..


Untuk kisah orang tua kandung Amanda, Hyuna untuk sementara Fania belum lanjut kisah mereka, Fania masih mikir nih idenya biar Readers gak bosan bacanya 🤔🤔🙏.


MAAF Fania hanya bisa update 1 bab saja soalnya mataku agak perih juga dan Sibuk dengan RL🙏🙏.


Makasih banyak untuk Readers yang telah memberikan dukungannya kepada BDP dalam bentuk apapun itu 🙏🙏🥰


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, 11 Maret 2022

__ADS_1


__ADS_2