Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 339. Keraguan Zoe


__ADS_3

Happy Reading..


Arya membaca artikel biodata tentang Elang. Mereka terkejut setelah membaca keseluruhan data diri Elang.


"Ternyata dugaanku benar, kalau Elang bukan orang yang mudah disinggung."


"Kamu akan memiliki menantu yang luar biasa, Elang adalah pebisnis yang berhati dingin terhadap saingannya, dia tidak akan segan untuk menyingkirkan lawannya."


Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka kembali ke kediaman Arya Wiguna.


Perbincangan mereka menjadi seru ketika mereka membaca langsung data-data semua aset kekayaan yang dimiliki oleh Elang.


Mereka juga sangat kaya, tapi ternyata masih ada dan banyak yang lebih kaya dari mereka. Harta kekayaan Elang dikategorikan masuk rangking 7 besar di seluruh dunia.


"Kalau kekuatanmu digabungkan dengan kekuatannya pasti kalian akan semakin hebat dan sama-sama kuatnya." Emre menimpali percakapan mereka.


Sedari tadi, Zoe kebanyakan terdiam memikirkan lamaran dadakan dari Elang. Pria yang sempurna, ganteng, tajir melintir, di mata semua wanita, Elang sangat sempurna.


Zoeya menatap ke arah luar jendela, sambil memikirkan tentang perkataan yang diucapkan oleh Elang.


Suara Elang terngiang-ngiang di telinganya, dia ingin bilang ya tapi ada setitik keraguan dan kebimbangan yang muncul di dalam hatinya.


Dia tidak memungkiri jika di dalam hatinya akhir-akhir ini merindukan Dosen baru di kelasnya itu. Pria yang terpaut jauh dengan usianya. Elang sudah berusia 30 tahun, usia yang sangat matang sedangkan Zoe baru 20 tahun. Mereka selisih 10 tahun.


Cinta itu sudah ada, tapi untuk menikah ada kekhawatiran yang melandanya. Adelia yang melihat putrinya termenung dengan menatap terus pemandangan ke luar, sangat tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Delia memegang ke dua tangan anaknya, Zoe menoleh saat dia merasakan sentuhan halus di atas kulit tangannya. Zoya tersenyum membalas senyuman mamanya.


Minta lah petunjuk sama Allah, jika ada keraguan di dalam hatimu, berserah dirilah padaNya Nak, jika Kamu belum yakin dan kebingungan akan jawaban apa yang engkau berikan," wajahnya teduh dan penuh kasih sayang ke pada anak keduanya sekaligus putri tunggalnya.


"Iya Ma, tapi aku belum siap untuk menikah," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi, menurut Mama hatimu menginginkannya, hanya saja Kamu terlalu takut jadi banyak pertimbangan yang muncul dalam hatimu,"

__ADS_1


Zoeya menatap sendu perempuan yang telah melahirkannya dan merawatnya dengan setulus dan sepenuh hatinya.


"Mama hanya meminta sama Kamu jalani saja dulu, kalau Kamu belum siap, Mama dan Ayah tidak bakalan memaksa Kamu untuk mengiyakan jika emang hatimu tidak menginginkannya."


Zoe memeluk tubuh Mamanya, itu lah hal yang paling disyukuri dan disukai oleh Zoeya dari Mamanya. Beliau tidak pernah sedikit pun memaksakan kehendaknya. Mereka akan menempatkan dirinya sebagai sahabat untuk saling berbagi suka duka.


Berbanding terbalik dengan perlakuan dan sikap mendidik anak-anaknya dengan saudaranya yang lain.


"Insya Allah Ma, Zoe akan shalat istikharah dan meminta petunjuk kepada Allah SWT," jelasnya.


Delia mengelus surau putrinya. Delia bangga memiliki anak yang mudah diajak bertukar pendapat. Mereka setiap kali ada masalah dan keluhan apa pun yang sudah tidak bisa mereka tanggung sendiri, barulah mereka meminta bantuan pada kedua orang tuanya.


Masalah seberat apapun,jika dihadapi dengan kepala dingin dan musyawarah insya Allah akan berakhir dengan kesepakatan bersama.


Elang masuk ke dalam mobilnya, entah kenapa setiap kali menyebut namanya Zoe saja sudah membuat hatinya bergetar. Dia merindukan semua yang ada ditubuhnya Zoya.


Bahkan selama dirinya berada di Jepang, bisa dibilang setiap hari dia merindukan suara, senyuman, canda tawanya Zoe.


"Aku akan melakukan, apa pun untuk mrndapat**kamu, menukarmu dengan semua yang aku miliki pasti akan aku lakukan."


"Tuan Muda, kita mau ke mana?" supirnya sedikit meninggikan volume suaranya.


Barulah Elang kembali ke dunia nyatanya. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sang supir malah kebingungan, karena Elang hanya memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya. Seharusnya menjawab ya atau tidak.


Supir tersebut membawa Elang berkeliling Jakarta. Elang datang ke Indonesia untuk yang pertama kalinya.


Awalnya, dia ingin kembali bekerja sampingannya sebagai Dosen baru hanya untuk bertemu setiap hari dengan Zoe, tapi dia mendapatkan kabar jika, Zoe berada di jalan pulang ke Indonesia dari Paris, Prancis.


Sehingga dia segera berangkat segera, karena jarak dari Jepang ke Indonesia lebih dekat dari pada dari Paris ke Jakarta.


Cinta pada pandangan pertama membuatnya berubah menjadi pria yang sedikit romantis. Padahal mengenai cinta dia sangat minim pendalaman bahkan dengan mencintai Zoe adalah cinta pertamanya.


Zoe berlari menuruni tangga, setelah mendapatkan telpon dari teman-teman smp nya dulu. Mereka janjian akan kumpul bareng. Zoe selama di Indonesia memanfaatkan kesempatan dan waktunya untuk hangout bersama dengan teman masa kecilnya.

__ADS_1


"Mama!!"


Zoe berlari kecil mencari Delia mamanya dengan teriakannya yang memenuhi seisi ruangan.


Delia yang mendengar suara teriakan putrinya, segera mencuci tangannya yang penuh dengan tepung terigu.


Delia hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang tidak berubah itu sedari dahulu.


"Ya ampun anak gadis kok gini amat tingkah lakunya, apa seperti ini setiap hari di London?" menggelengkan kepalanya melihat putrinya.


"Mama kayak lupa sudah dengan kebiasaan Zoe," dia cengengesan ke arah Mamanya.


"Mama nggak akan pernah lupa dengan kebiasaan dari anak-anakku, walaupun Mama sudah tua renta sekalipun," dengan senyumannya yang selalu manis tanpa pengawet dan pemanis tambahan.


Delia menoel pipi putrinya yang sedikit gembul selama pulang ke Indonesia bentuk wajah dan tubuhnya berubah sedikit montok dibandingkan waktu di UK.


"Mama, Zoe pamit mo ketemu teman, boleh yah?" tangannya mengambil sepotong kue yang sudah matang yang ada di dalam piring ceper.


"Boleh, tapi tidak boleh lewat dari jam 11 malam pulangnya, dan..." ia menunjuk ke arah pipinya.


Zoe segera berjalan maju ke depan ke arah Mamanya, dia akan mencium pipi Mamanya seperti biasa jika akan berpergian ke luar ke mana pun itu.


"Makasih banyak Ma, Zoe sangat sayang Mama Delia," tangannya kembali mengambil dua potong kue yang masih sedikit mengepul asapnya.


Zoe segera berlari menuju pintu karena temannya sedari tadi, sudah mengirimkan pesan berulang kali menanyakan kedatangannya.


Zoe berbalik lagi karena belum menciumi pipi kanan mamanya. Delia bahagia melihat putra putrinya yang sudah besar tanpa harus kesusahan sedikit pun untuk merawat putra putrinya. Padahal dia sedikit pun tidak pernah menggunakan jasa Baby sitter.


"Mama sangat sayang sama kalian, Mama akan semakin bahagia jika kalian sudah memiliki pasangan hidup yang akan nantinya menjaga kalian dan berada di samping kalian hingga akhir waktu."


...********To Be Continued********...


...Makasih banyak all Readers....

__ADS_1


...by Fania Mikaila AzZahrah...


...Makassar, Minggu, 03 Juni 2022...


__ADS_2