
Happy Reading..
Elang langsung menyunggingkan senyumnya yang sangat tipis, sehingga Zoya tidak melihat senyumannya itu.
"Aku tidak apa-apa kok, hanya saja...," ucap Elang yang sengaja menggantung perkataannya.
Elang dengan wajah yang pura-pura kesakitan. Sepertinya Elang jago akting dan berbakat jadi aktor saja mumpung wajahnya mirip dengan Ji Chang Wook dari pada jadi pemimpin gengster Black Dragon.
"Maaf tadi aku cuma refleks mendorong tangan Kamu soalnya tangannya menyentuh an.....buku," ucap Zoya yang sudah sangat malu jika melanjutkan perkataannya.
Wajah bersemu kemerahan yang sangat memerah menahan malu seperti warna kepiting rebus saja.
Elang tersenyum penuh kemenangan telah berhasil mempermainkan dan juga bisa mendapatkan pegangan gratis di area aset terpenting Zoya secara gratis, sekaligus menjadi orang yang paling pertama melakukan hal itu. Walaupun dalam keadaan yang tidak disengaja sama sekali.
Keadaan Elang juga tidak baik-baik saja karena juga dalam kondisi yang tidak dalam keadaan yang normal setelah tangannya mendarat dengan bebas di atas puncak mount Everest milik Zoya yang masih kenyal, montok.
" Entah kenapa setiap kali aku berdekatan dengannya apalagi bersentuhan langsung dengan kulit dan tubuhnya secara tidak langsung ada perasaan aneh yang muncul dari dalam diriku hingga membuat gairah nafsuku meningkat."
Elang berjuang keras untuk melawan hasrat yang tiba-tiba muncul hingga membuat kepalanya sedikit pusing. Untung saja pintu Lift segera terbuka karena mereka sudah sampai berada di lantai 20 unit apartemen nya Elang.
Zoya kembali memapah tubuh Elang masuk ke dalam ruangan Apartemen Elang. Zoya mendudukkan tubuhnya Elang ke atas kursi ruang tamu. Zoya tidak ingin masuk jauh lebih ke dalam lagi di Apartemen Elang. Di Apartemen sepupunya sendiri Zoya pun akan bersikap seperti itu. Hidup dari sejak kecil hingga sekarang di Inggris tapi tidak membuat sikap dan tingkah lakunya seperti orang London dan Eropa pada Umumnya. Zoya masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ketimuran. Untuk mengantar Elang hingga ke dalam ruangan Tamunya pun penuh dengan pertimbangan dan terpaksa mengantar Elang karena panggilan jiwa sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong Apa lagi Elang sakit juga ada andilnya dalam campur tangannya di dalam kejadian tersebut.
"Maaf aku tidak bisa mengantar Kamu hingga ke dalam kamar, soalnya tidak enak aku masuk lebih jauh lagi, kita ini tidak ada hubungan apa pun, keluarga juga bukan," tutur Zoya yang menolak mengantar ke dalam kamar pribadinya Elang.
"Kalau begitu Kita menikah saja gimana?" tanya Elang yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zoya.
Elang pun tak menyangka jika perkataan itu meluncur dari bibirnya. Bahkan Elang tidak tahu kenapa kata-kata itu yang terucap dari bibirnya. Entahlah apa itu serius atau hanya ucapan sepintas dari Elang yang tidak dia pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
Zoya hanya terdiam tanpa ada tanggapan darinya. Zoya hanya menatap Elang dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan. Elang hanya terdiam sambil menyunggingkan senyum tipis khasnya. Selama mengenal Zoya Elang sering sudah tersenyum, walaupun hanya dihadapan Zoya saja senyuman itu akan terlihat.
"Apa maksudnya, apa dia anggap pernikahan itu hanya permainan saja."
Zoya menatap ke dalam bola matanya Elang dan mencari kesungguhan atau pun kebohongan dari arti perkataan Elang. Zoya tidak menemukan adanya kebohongan atau pun hanya sekedar bercanda saja.
"Maaf aku tidak bermaksud apa-apa, tapi kalau boleh jujur aku serius dengan perkataan ku," timpal Elang lagi.
"Maaf pernikahan bagiku bukanlah permainan, lagian tidak mungkin Kamu serius menikahiku, padahal kita baru beberapa jam yang lalu bertemu, mengenal nama Kamu saja aku tidak tahu, aku yakin pasti Kamu pun tidak tahu tentang aku," ucap Zoya panjang lebar lalu menatap kembali ke dalam matanya Elang.
"Benar sekali apa yang Kamu katakan itu, tapi apa mencintai Kamu harus butuh alasan dan harus mengenal Kamu lebih lama baru cinta itu bisa hadir di dalam sini," ucap Elang yang menunjukkan ke arah dadanya.
Zoya hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Elang.
"Pikirkan matang-matang keputusan yang Anda ambil, ingat Pernikahan itu bukanlah permainan, semua yang kamu katakan, sebaiknya renungkan apa yang Kamu katakan," ucap Zoya lalu berjalan ke arah pintu yang kebetulan belum sempat Elang tutup rapat.
Elang segera mengangkat telponnya dan bergegas berjalan ke arah luar dan tidak lupa memberikan perintah kepada anak buah kepercayaannya untuk segera mengawasi dan mengamankan apartemennya. Langkah Elang ke parkiran cukup panjang dan lebar.
"Kamu tidak akan pernah lolos dariku," ucapnya lalu duduk di kursi balik kemudi mobilnya.
Elang membuka laci dasboard mobilnya lalu membuka box Kotak tempat penyimpanan topengnya yang selalu dia pakai untuk menemaninya dalam beraktifitas sehari-hari jika akan berangkat menuju markasnya. Elang memakai mobil yang berbeda dengan mobil yang tadi dia pakai.
Zoya tidak menyangka dengan apa yang dia alami hari ini. Seumur hidupnya untuk pertama kalinya dekat dengan seseorang pria dan Pria itu juga ingin menikahinya. Zoya tersenyum merasa aneh dengan sikap Elang. Sambil menyetir mobilnya, Zoya menggelengkan kepalanya.
"Pria aneh," ucap Zoya.
Zoya hari ini tidak pulang ke Apartemennya, tapi mengemudikan mobilnya kearah kediaman neneknya. Sudah hampir dua minggu tidak kembali. Rencana awalnya nanti bulan depan akan kembali ke kediaman Nenek Elisabeth tapi, tadi sebelum masuk ke dalam mobilnya, kakak sepupunya menelponnya untuk segera pulang ke rumah itu.
__ADS_1
Dengan santai Zoya memajukan mobilnya dan setiap kali mengingat perkataan Elang membuatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Bukan Elang saja yang selama ini menyatakan ingin melamarnya, tapi hanya Elang yang cukup berani mengatakan langsung di hadapannya.
Zoya segera memarkirkan mobilnya di dalam garasi rumahnya. Zoya melihat ada sebuah mobil mewah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya terparkir rapi di sana. Zoya turun dari mobilnya dan mengelilingi mobil itu.
"Sepertinya aku pernah melihat mobil itu, tapi di mana?" tanyanya lalu memutar dan mengitari mobil itu.
Zoya sudah berfikir keras tapi tidak menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sendiri yang merasa familiar dengan mobil putih itu. Zoya menyerah dan tersenyum sendiri dengan sikapnya yang sudah memutar otaknya, tapi tetap nihil.
Zoya berlari kecil hingga ke depan pintu rumah neneknya, dan sekilas dan samar-samar mendengar perkataan orang yang berada di dalam ruangan tamu neneknya.
"Saya datang ke sini dengan niat dan maksud yang baik, Saya ingin melamar salah satu cucu perempuan Nyonya Elishabet," ucap pria yang sudah berhasil dilihat punggungnya oleh Zoya.
Pria itu memakai kemeja warna biru Dongker dipadukan dengan celana panjang jeans biru tua yang sangat pas dan cocok orang itu pakai. Hati Zoya perlahan berdebar dan semakin penasaran dengan sosok pria itu, tapi langkahnya seolah terhenti seakan-akan ada lem yang menempel di ke dua kakinya itu.
"Ya Allah siapa pria itu dan siapa yang dia akan lamar, apa ini maksudnya Kak Key menyuruhku untuk pulang?"
..........
Alhamdulillah hari ini masih sempat untuk Update dua bab, makasih banyak yang masih setia dengan dukungannya ya selalu hadir disetiap Updatenya BDP😘.
Mohon maaf jika ada beberapa kesalahan dalam pengetikan cerita ini 🙏.
...********To Be Continued********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Rabu 08 Juni 2022
__ADS_1