Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 202. Pilihan Yang Berat


__ADS_3

Happy Reading..


Ujian dalam hubungan rumah tangga pasti ada, dan banyak macamnya dan ragamnya. Mampu atau kah tidak dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut tergantung dari pasangan tersebut yang mengartikan cobaan itu.


Sebagian rumah tangga yang diiuji dengan kekurangan atau kelebihan harta. Ada juga yang diuji dari kesetiaan ke dua pasangan tersebut dan bahkan ada yang diuji oleh Allah dari pihak mertua. Hidup tanpa ujian juga bagaikan sayur tanpa garam. Ujian lah yang akan mewarnai kehidupan seseorang dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi bersabarlah dalam menghadapi ujian tersebut. karena kesabaran itu tanpa batas yang berbatas itu adalah tingkat keimanan seseorang.


Seperti halnya dengan Hyuna dan Alan yang sedang diuji kekuatan cinta mereka dari orang lain yang ingin merusak pernikahannya. Hyuna sempat stress dan banyak pikiran sehingga janin yang ada di dalam kandungannya mengalami gangguan. Untung saja hal itu tidak berakibat fatal pada kesehatan ibu dan calon anaknya.


"Ingat kalau kamu punya masalah atau pun beban pikiran berbagi lah dengan orang yang kamu anggap tepat dan jangan kamu pendam sendiri karena jika hal itu terjadi sangat berbahaya untuk calon anakmu." ucap Aulia saat dirinya kembali memeriksa kondisi kesehatan Hyuna yang kembali cekup setelah keluar dari rumah sakit.


"Insya Allah Kak, Hyuna akan usahakan" ucap Hyuna.


"Gimana kabarnya Alan?.' tanya Aulia yang sambil memeriksa laporan hasil lab kondisi kesehatan Hyuna.


Alis Aulia berkerut setelah berulang kali memeriksa kertas hasil laboratorium dari Hyuna yang mengira bahwa hasilnya keliru.


"Ini pasti tidak mungkin" ucap Aulia yang tidak percaya dengan kondisi terakhir kesehatan Hyuna.


Hyuna memperhatikan wajah Aulia yang tidak biasa. Dan heran dengan sikap Aulia tersebut. Hyuna ingin bertanya tapi segang.


"Aku harus menelpon langsung Alan dan berbicara empat mata dengan Alan" monolog Aulia.


"Ada apa Kak kok diam?." tanya Hyuna.


"Ohh tidak apa-apa kok, cuma ada hal yang mengganjal di pikiran Kakak" jawab Aulia.


"Ohh gitu yah, jadi aku sudah bisa pulang atau masih menunggu lagi?." tanya kembali Hyuna yang menatap raut wajah Aulia yang berubah-ubah ketika membaca laporan hasil kesehatan Hyuna dan Bayinya.


Usia kandungan Hyuna sudah memasuki bulan ke 9. Tetapi jika tidak segera bertindak untuk menangani hal tersebut bisa berakibat fatal pada kondisi dan keselamatan Hyuna dan bayinya. Hal ini terjadi karena penyakit yang diderita Hyuna dulu sewaktu dirinya dengan paksa menggugurkan bayi yang dikandungnya.


Aulia tidak bisa berbuat apa-apa jika seandainya mereka harus dihadapkan pada dua pilihan dan harus memilih hanya satu saja.


Setelah kepergian Hyuna, Aulia Segera menelpon Alan untuk segera datang ke rumah Sakit.


"Assalamu alaikum Alan." ucap Dokter Aulia.


"Waalaikum salam Kakak dokter" ucap Alan.


"Maaf apa kamu ada waktu siang ini, kalau ada boleh kita bertemu di kafe dekat rumah sakit Kafe Besti" ucap Aulia.


"Boleh berarti sekitar satu jam lagi yah dari sekarang" ucap Alan sambil melihat jam di hpnya.


"Aku tunggu" ucap Aulia.


"Siap kakak Dokter" ucap Alan sebelum menutup telponnya karena sedang Meeting dengan salah satu kliennya yang berasal dari Korea Selatan.


Alan yang kebetulan di luar tidak di kantornya sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Kafe sesuai janjinya dengan Dokter Aulia. Baru beberapa menit Alan duduk dan sudah memesan minuman dingin, Aulia pun datang.

__ADS_1


"Maaf Kakak terlambat datang" ucap Aulia sambil duduk dengan perutnya yang sudah buncit.


Kandungan Hyuna dengan Aulia cuma beda Dua bulan saja lebih duluan Hyuna. Alhamdulillah kondisi kesehatan Aulia dan bayinya baik-baik saja hanya Hyuna yang menghawatirkan.


"Maaf kak mau pesan apa biar aku pesankan?." tanya Alan.


"Jus jambu saja gak tahu hari ini maunya minum Jus jambu" ucap Aulia yang malu-malu dengan permintaannya.


Pelayan tersebut yang dipanggil segera datang ke arah Meja mereka dan segera mencatat pesanannya.


"Mbak satu jus jambu yah tapi tidak pakai gula" ucap Alan.


"Ada lagi Pak atau ibu?". tanya pelayan itu lagi sambil menatap secara bergantian ke arah Aulia dan Alan.


"Cukup itu saja dan makasih banyak Mbak" ucap Aulia yang tersenyum ke arah Mbak pelayan tersebut.


Beberapa saat kemudian, pesanan Aulia pun sudah datang dan Aulia pun heran tidak tahu harus memulai pembicaraan mereka dari mana. Aulia takut jika Alan akan bereaksi lain jika dirinya berkata jujur terhadap kondisi kesehatan dari Bayi dan tubuhnya Hyuna.


"Maaf sebenarnya aku memanggil kamu ke sini untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting tapi aku tidak tahu harus berkata dari mana dulu padahal biasanya aku tidak akan mengalami hambatan apapun untuk menyampaikan kondisi kesehatan dari Pasienku" ucap Aulia yang heran dengan hal tersebut.


Alan mengaduk-aduk minumannya padahal sudah tecampur rata di dalam gelas tersebut walaupun Alan tidak perlu repot-repot lagi untuk mengaduknya Dan entah kenapa pikirannya tertuju kepada Hyuna dan bayinya.


"Kakak bicara langsung saja pada intinya, jujur aku khawatir dengan kondisi kesehatan Hyuna" ucap Alan.


Aulia pun mau tidak mau harus berkata jujur kepada Alan. Berat sebenarnya bagi Aulia untuk mengatakan hal tersebut tetapi jalan yang terbaik berterus terang dari pada sudah terlambat.


"Kondisi kesehatan Hyuna dan bayinya dalam keadaan yang tidak baik" ucap Aulia.


"Hyuna dan bayinya dalam keadaan yang tidak baik dan kamu harus memilih salah satu diantara mereka, bayimu atau Hyuna." jelas Aulia.


"Itu tidak mungkin dokter, Aku yakin dokter salah diagnosa, Aku sangat yakin Hyuna baik-baik saja dan bayi kami pun begitu" ucap Alan lagi.


Alan tidak percaya dengan penuturan dari mulut Aulia.


"Aku yakin Kakak salah, pasti kalian keliru dengan hasil kesehatan Hyuna dan bayi kami." ucap Alan lagi.


"Saya pun sama dengan kamu, Saya awalnya tidak ingin mempercayai bahwa kehamilan Hyuna bermasalah dan jika terus dipertahankan akan bahaya dan bisa-bisa keduanya pun tidak bisa diselamatkan" jelas Aulia.


"Jadi aku harus memilih salah satu dari mereka maksudnya begitu?." tanya Alan yang menyugar rambutnya karena prustasi.


"Kita harus segera bertindak sebelum terlambat dan kandungan Hyuna sudah cukup besar makanya kondisinya Hyuna semakin parah jadi tolong pilih lah mana yang ingin kamu pertahankan Hyuna atau anaknya" ucap Aulia lagi.


"Kalau Aku pasti memilih Istriku dan Hyuna masih bisa hamil lagi setelah dioperasi" jawab Alan.


"Maaf sayangnya Hyuna tidak akan bisa hamil lagi karena kandungannya harus diangkat jika tidak akan berbahaya ke depannya". jelas Aulia lagi.


"Tapi Hyuna aku yakin akan lebih memilih anak kami dibandingkan dengan keselamatan dirinya sendiri" ucap Alan yang sudah berkaca-kaca matanya dan bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


"Tolong segera putuskan untuk kebaikan Hyuna" ucap Aulia.


"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa Kak, kalau seperti ini kejadiannya" jawab Alan.


"Keputusan ada ditanganmu dan berfikir lah dengan baik jangan sekali-kali gegabah dalam mengambil keputusan" ucap Aulia.


"Insya Allah Kak." ucap Aulia.


Tanpa mereka sadari kalau ternyata Hyuna mendengar percakapan mereka. Awalnya Hyuna ingin membawakan makanan siang untuk Alan suaminya. Tetapi Hyuna ingin memberikan kejutan kepada Alan. Sesampainya di Kantor Hyuna tidak menemukan keberadaan suaminya. Jadi Hyuna berniat untuk pulang. Sesampainya di Loby Perusahaan, Hyuna melihat Alan memutar mobilnya dan menuju ke area Rumah Sakit.


Hyuna pun berinisiatif untuk mengikuti Alan. Hyuna curiga jika Alan akan bertemu dengan seseorang di luar sana. Sehingga Hyuna pun memutuskan untuk membuntuti Alan dari belakang. Hyuna segera berjalan ke arah mobilnya dan menyuruh supir pribadinya untuk mengejar mobil Alan. Hyuna mengikuti Alan bagaikan stalker saja. Hyuna melihat Alan masuk ke dalam Kafe sendirian.


"Kalau bertemu klien pasti tidak sendirian tapi di mana Asisten pribadinya?." tanya Hyuna.


Hyuna pun menelpon nomor hp Alan. Tetapi Alan selalu tidak mengangkat telponnya. Hingga puluhan kali Hyuna memanggil nomor handphone Alan tapi hasilnya masih sama. Hyuna pun mengirim pesan lewat aplikasi chat yang berwarna hijau. Tapi hanya dibaca tidak dibalas satupun.


Hyuna pun meneteskan air matanya lalu masuk ke dalam Kafe tersebut secara diam-diam agar Alan tidak mengetahui keberadaannya.


"Maaf Mbak mau pesan apa?." tanya Mbak pelayan tersebut.


"Air putih saja" ucap Hyuna.


Pelayan tersebut diam-diam mencibir Hyuna yang hanya memesan air putih toh.


"Dari penampilannya sih seperti istri Sultan dan cara berpakaiannya pun pasti orang-orang akan jelas tahu kalau Dia ini kaya, tapi tidak seperti orang kaya karena cuma pesan air minum saja sangat berbanding terbalik dengan fakta yang ada" ucap pelayan tersebut sambi menggelengkan kepalanya.


"Makasih Mbak' ucap Hyuna yang hampir kehilangan jejak dari Alan dan pandangannya selalu tertuju ke arah Alan dan perempuan yang berhijab tersebut.


"Siapa Yah perempuan itu tapi kok kayak aku kenal yah?." tanya Hyuna yang menganggap demikian.


Hyuna terus memandangi Alan dan perempuan yang selama ini dia kira orang yang Hyuna kenal. Hyuna berpindah tempat karena sudah menajamkan pendengarannya tetapi tidak berhasil juga apa yang mereka bicarakan. Sehingga Hyuna mengambil kursi baru dan posisinya tepat dibelakang mereka. Tapi Aulia tetap membelakangi Alan sehingga Hyuna penasaran dengan apa yang mereka bahas. Dan Hyuna sangat shock setelah mendengar perkataan Aulia dan Alan yang mengatakan bahwa kehamilannya yang sekarang ini sangat berisiko tinggi dan bisa mengakibatkan kematian dan Alan harus memilih satu diantara mereka. Hyuna menahan Isak tangisnya agar tidak ada yang curiga kalau dirinya sedari tadi menguping pembicaraan Alan dan dokter Aulia yang.


Perut Hyuna tiba-tiba kram dan membuat Hyuna meminta kepada pihak Kafe untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tetapi belum sempat berjalan ke rumah sakit dirinya kembali dibuat heran dengan rasa sakit tersebut yang tiba-tiba hilang. Hyuna tidak jadi berjalan ke rumah sakit karena perutnya tidak lagi sakit.


"Aku harus bagaimana ya Allah, tolonglah Aku, Aku tidak mungkin membunuh anakku cukup yang telah lalu yang membuat aku semakin terpuruk dalam jurang penyesalan tetapi jika aku terus mempertahankan anak kami maka hidupku dan nyawaku yang menjadi taruhannya." ucap Hyuna.


Dilema diantara kebahagiaan yang ingin menggendong seorang bayi mungil dan hidupnya. Hyuna dan Alan dalam dilema.


To Be Continued..


Maafkan author yang ceritanya tidak berfokus pada satu tokoh saja. Arya dan Delia bukanlah pemeran utamanya melainkan semua tokoh yang terlibat di dalam novel Fania adalah pemeran utama.


Typo Mohon dimaklumi 🙏🥰.


Jika berkenan maka jadiin Favorit Novel BDP yah Kakak Readers dan dukung terus Novel fania.🙏


Makasih banyak untuk all Readers.

__ADS_1


By FANIA Mikaila AzZahrah


Makassar 04 April 2022


__ADS_2