Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 228. Kemarahan Ratna


__ADS_3

Happy Reading..


Kedatangan kembali Ratna disambut hangat oleh Mama Elisabeth, walaupun Ratna bukanlah Anak kandung suaminya tapi kasih sayang yang beliau berikan tulus seperti halnya dengan Anak kandungnya sendiri.


Jam di dinding berdentang cukup keras, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di pagi buta itu, Arman sudah terbangun dari tidurnya seperti halnya dengan yang lain tapi hal itu tidak berlaku untuk Ratna yang masih bergelut dengan selimut tebalnya. Matanya masih asyik terpejam dan tidak ada niat untuk bangun dari tidurnya.


Mama Elisabeth mendatangi kamar Ratna Antika Monata untuk membangunkannya agar ikut bergabung makan sahur bersama dengan yang lainnya. Pak Hendry, Arman dan Karina pun sudah duduk di kursi masing-masing. Hanya minus Ratna yang belum hadir.


Tok... Tok.. Tok...


Berulang kali Mama Elisabeth mengetuk pintu kamar Ratna tapi tidak ada jawaban apa pun. Tapi Mama Elisabeth belum menyerah juga. Pintu kayu jati yang bercat putih itu menjadi saksi pantang menyerahnya Mama Elisabeth untuk membangunkan Ratna. Hingga tangan Mama Elisabeth memerah tapi Ratna tetap tidak bangun juga.


"Mungkin Ratna tidak terbiasa bangun jam segini jadi tidak bangun dan mungkin dalam hidupnya tidak pernah puasa, tapi aku akan membantu Ratna agar terbiasa puasa".


Mama Elisabeth berjalan ke arah dapur dengan senyuman yang terus mengembang dan tidak ingin menampilkan wajah kecewanya karena tidak berhasil membangunkan Ratna untuk makan sahur.


"Kok Ratna nya gak ikut sama mama, apa Ratna gak bangun??." tanya Arman yang sudah tahu kalau Ratna tidak bakalan bangun.


"Mungkin adikmu capek jadi gak bangun" ucap Mama Elisabeth yang tersenyum ke arah putranya.


"Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi, Ratna itu sudah besar bukan anak SD lagi yang masih harus dimengerti" ucap Pak Hendry yang sedikit marah dengan sikap kekanak-kanakan Ratna.


"Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita dan kita harus mengajari Ratna dengan perlahan-lahan dan dengan lembut jangan pakai kekerasan" ucap Mama Elisabeth sambil memegang tangan suaminya yang sudah ingin berdiri tapi dicegah oleh Mama Elisabeth.


"Mama Ratna itu bukan anak kecil yang harus dilembuti mulu, kapan Ratna bisa berubah untuk jadi perempuan yang baik jika kita biarkan Ratna seperti itu Ma" ucap Arman yang sedikit esmosi.


"Mama ingin melihat kalian baik tapi bukan berarti Mama harus memaksakan kehendak Mama dengan cara kekerasan, Mama akan mengajarkan Ratna perlahan, dan insya Allah Ratna bisa berubah" ucap Mama Elisabeth.


Karina hanya menyantap makanannya tanpa ada niat untuk ikut dalam pembahasan mereka karena itu bukanlah haknya untuk ikut berbicara karena Dia hanya lah orang luar.


"Ayok kita makan nanti masuk waktu imsak lagi" ucap Mama Elisabeth.


Mereka pun menikmati makanan yang ada di atas meja makan. Selama Mama Elisabeth yang mengolah dapur di Villa itu, Pak Hendry dan Arman sudah tidak pernah makan di luar kecuali dalam keadaan yang mendesak seperti ada kliennya yang meminta mereka untuk makan bersama.


Siang harinya sekitar pukul 1 Siang Ratna baru bangun dari tidurnya. Ratna berjalan ke arah dapur karena perutnya sudah keroncongan minta diisi.


"Pak Ade!!." teriak Ratna yang sudah duduk di kursi meja makan tapi tidak menemukan makanan apa pun.


Pak Ade yang dipanggil dengan suara yang cukup besar dan lantang itu langsung berjalan tergopoh-gopoh ke arah meja.


"Maaf Nona muda memanggil bapak?." tanya pak Ade.


"Iya betul sekali emangnya di rumah ini ada berapa orang yang bernama Pak Ade" ucap Ratna yang mulai jengah dengan jawaban pak Ade.


"Saya kira bapak salah dengar hehehe" ucap oak Ade dengan tawa cengengesannya.


"Diam!!, bapak tidak usah tersenyum atau pun tertawa aku panggil bapak ke sini bukan untuk tertawa" ucap Ratna yang membentak pak Ade dengan meninggikan suaranya.


Pak Ade hanya mengelus dadanya saja dan sudah tahu tabiat dan karakter Ratna seperti apa.


"Siapkan makanan untukku, Saya ingin makan siang" ucap Ratna yang semakin jengkel dengan sikap Pak Ade.


"Maaf Non, kami tidak masak makanan apa pun lagi kalau orang-orang di Villa sudah makan sahur dan nanti jam 4 kami akan kembali masak untuk santapan berbuka" ucap oak Ade panjang lebar.

__ADS_1


"Apa!!! yang benar saja pak Ade, apa bapak ingin membuat saya Mati kelaparan haaaa" hardik Ratna.


"Tapi ini arahan dari Nyonya besar Non" ucap Pak Ade lagi.


"Kalau mereka pu..... apa namanya Saya lupa, biarkan saja mereka yang melaksanakan tapi saya tidak pernah melaksanakan hal itu jadi tolong hargai saya juga dong" ucap Ratna yang mulai tersulut emosi nya dan perutnya semakin berbunyi.


"Tapi Non" ucap pak Ade.


"Tidak ada tapi-tapian, kalau nyonya besarmu marah aku yang akan bicara dengannya" ucap Ratna yang tidak habis fikir dengan jalan pikiran orang di rumah ini yang sudah berubah akibat kedatangan perempuan itu.


Pak Ade menatap ke arah Mama Elisabeth yang kebetulan ada di sana, Tapi memberikan isyarat agar kehadirannya tidak diketahui oleh Ratna. Mama Elisabeth pun menganggukkan kepalanya saat Pak Ade meminta ijin untuk membuat makanan siang untuk Ratna.


"Nona muda mau makan apa, biar Bapak buatkan" tanya pak Ade yang hanya tersenyum saja.


"Aku ingin makan sup ayam dan ayam geprek saja" ucap Ratna.


"Tapi maaf Nona masak makanan yang seperti nona inginkan pasti butuh waktu lama, apa nona masih sanggup untuk menunggu??." tanya pak Ade yang langsung menundukkan kepalanya.


Ratna pun berfikir sejenak, dan memikirkan perkataan dari pak Ade yang ada benarnya juga.


"Kalau gitu buatkan aku spaghetti saja tapi Pake topping udang yah" ucap Ratna.


Pak Ade pun segera memasak makanan yang dipesan oleh Ratna dengan ijin langsung dari Mama Elisabeth. Pak Ade baru ingin memutar badannya, Tapi Ratna kembali berkicau.


"Satu hal lagi pak Ade jangan pakai lama oke" ucap Ratna.


Pak Ade langsung menuju kompor dan segera memasak makanan yang diminta oleh Ratna.


Ratna menunggu masakan yang dua inginkan jadi, Ratna misruh-misruh di tempat duduknya.


Beberapa menit kemudian, sphageti pesanan Ratna sudah jadi. Tapi Ratna kembali marah-marah karena tidak ada udang di atas pasta tersebut.


"Pak Ade apa bapak tuli atau sudah pikun Haaa, aku sudah bilang pakai toping udang di atas spaghettinya bukan pakai suiran ayam pak Ade" bentak Ratna lalu membanting piring itu ke atas lantai yang membuat suasana gaduh di dalam dapur.


"Maaf Bapak Non, Stok udang di kulkas sedang kosong, Mbak Tuti baru berangkat untuk belanja bersama Nyonya besar" ucap pak Ade yang kaget dengan kelakuan kasar Ratna.


"Mungkin bapak sudah tua jadi sudah tidak becus bekerja di Sini lagi, bapak sebaiknya mengundurkan diri saja dari pada buat saya setiap hari marah dan naik darah" ucap Ratna lalu berdiri dan berlari naik ke lantai dua.


Ratna berpapasan dengan Mama Elisabeth dan langsung menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Mama Elisabeth.


"Ini semua gara-gara kamu, ingat ini hanya awal dari kehancuranmu, Jangan harap hidupmu akan tenang selama kamu tinggal di Sini dan satu hal lagi Walaupun Kak Arman dan papa sayang sama kamu tapi kau tidak bakalan Sayang sama kamu sampai kapan pun" ucap Ratna yang berbisik di telinga Mama Elisabeth sambil menunjuk ke arah dadanya.


Ratna pun berjalan ke arah kamarnya dan langsung membanting pintunya dengan sangat keras.


buuukkkkk.. bunyi pintu kamar yang dibanting dengan sangat kuatnya.


Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan dari anak sambungnya. Baginya itu hal yang sudah biasa beliau alami.


"Bantu aku ya Allah untuk meluluhkan dan melembutkan hatinya Ratna" .


Ratna kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke luar untuk mencari makanan. Ratna meraih kunci mobilnya yang tergantung di dinding dan tidak lupa mengambil tasnya dan segera berlari ke arah garasi Mobilnya. Ratna memilih mobil sport warna kuningnya yang selalu menjadi mobil kesayangannya.


"Hidupku terasa sial setelah perempuan itu hadir, Papa kenapa Papa menikahnya, Papa tidak sayang lagi kah sama Ratna?".

__ADS_1


Ratna menyusuri jalanan ibu kota tapi sampai detik ini juga belum menemukan titik terang keberadaan resto atau kafe yang buka.


"Sial apa satu pun Resto tidak ada yang buka jam segini, Apa mereka sudah kaya semua jadi tidak ada lagi yang buka restorannya di jam segini".


Ratna melajukan terus mobilnya hingga ke ujung jalan depan dan Ratna tersenyum melihat ada Restoran siap saji yang terbuka. Ratna pun memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir mobil. Ratna tersenyum bahagia karena sudah bisa mengisi perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Ratna pun duduk di pojokan Resto dan memanggil pelayan agar segera datang.


"Mas". Teriak Ratna.


Mas yang dipanggil Ratna pun berjalan ke arahnya dengan senyuman yang cukup manis yang membuat Ratna terkesima dengan senyuman Cowok itu yang seolah-olah rasa marahnya yang seharian ini dia rasakan terhempas jauh diterbangkan oleh angin dari mesin pendingin resto tersebut. Hingga Ratna hanya terdiam dan mematung saja. Padahal pria tersebut sudah bertanya dan mengajak berbicara Ratna yang hanya nampak bengong dan tersenyum sendiri.


Pria itu pun bingung dengan kelakuan Ratna yang hanya bisa diam seperti patung saja.


"Maaf Mbak ada yang bisa Saya bantu?." tanya pelayan yang bername tag Firman.


Tapi berulang kali perkataan tersebut dilontarkan oleh Pelayan tersebut tapi tidak digubris sama sekali oleh Ratna.


Pelayan wanita menghampiri mereka dan bertanya.


"Ada big bos dengan cewek ini?." tanyanya dengan suara yang sengaja dikecilkan.


Firman hanya mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan perempuan yang ada di depannya ini.


"Jangan-jangan Dia kerasukan setan Bos" ucap perempuan itu lagi yang sering disapa oleh orang-orang dengan nama Sinta.


"Bisa jadi dua lagi kerasukan setan karena sedari tadi senyum-senyum gak jelas" timpal Firman.


"Gimana kalau kita sadarkan dia dengan cara seperti ini" ucap Sinta sambil memukul pundak Ratna.


"Eeeehhh maaf" ucap Ratna yang malu-malu karena apa yang dua lakukan sudah menjadi tontonan gratis untuk pengunjung Restoran seafood tersebut.


"Tidak apa-apa kok Mbak, kami maklum kok, lagian Mbak bukan cewek yang pertama yang terpesona dengan senyuman manis teman saya ini" ucap Sinta sambil tersenyum ke arah Ratna.


"Mbak mau pesan apa?." tanya Firman.


"Sa.....aya pesan lobster, Kepiting tumis dan Ikan bakar sambal terasi" ucap Ratna.


"Baik Mbak ditunggu yah pesanannya" ucap Firman.


Sinta dan Firman berlalu dari hadapan Ratna yang masih bingung dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Senyuman itu membuat jantungku berdetak lebih cepat Apa yang sedang terjadi dengan jantungku, atau mungkin aku harus segera ke dokter".


Cerita BDP Dan Novelku yg sudah Kontrak Episodenya akan Sepanjang perjalanan episode sinetron ikan terbang yah jadi jangan bosan untuk baca Yah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩTo Be ContinuedΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian.


Tetap Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan FAVORITKAN Yah 🙏


Typo Mohon dimaklumi 🙏

__ADS_1


By Fania Mikaila AzZahrah


Makassar 18 April 2022


__ADS_2