
Happy Reading..
Dia melihat Listie yang berdiri di ujung Taman. Lalu mematikan mesin mobilnya. Dia tanpa segan dan aba-aba langsung memeluk tubuhnya Listie dari belakang. Dia tidak berontak sama sekali karena dia mengenal wangi parfumnya. Malahan dai hanya terdiam saja sambil meresapi rasa yang ada di antara mereka.
"Aaahh!" teriaknya saat tangannya Zi tanpa sengaja menyenggol tangannya Listi yang terluka.
Beberapa luka yang terdapat pada tubuhnya Listie tidak nampak jelas hanya samar-samar saja dikarenakan pengcahayaan lampu yang minim.
Zidane segera memeriksa tubuhnya Listie yang terluka.
"Apa yang terjadi pada Tante dan semua ini ulahnya siapa?" tanyanya yang sudah khawatir melihat kondisi dari Listie.
"Tidak apa-apa kok, ini sudah biasa terjadi pada saya," jawabnya.
"Ini tidak boleh dibiarkan berulang-ulang, kalau seperti ini terus Tante bisa mati," ujarnya.
Perkataan dari Zi membuat hatinya menghangat. Untuk pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh seorang pria seumur hidupnya.
"Ya Allah kenapa hati ini bahagia hanya dengan ucapan seperti itu saja, membuatku terbang melayang hingga ke ujung langit tertinggi."
"Bagaimana kalau kita ke Kantor Polisi agar bisa memperkuat tuntutan kita?" tanyanya yang terus memeriksa beberapa luka lebam yang ada ditubuhnya Listi yang memar dan sudah membiru.
"Tapi!! aku takut jika Roy datang dan membuat keadaan semakin parah saja," balasnya.
"Tante tidak perlu khawatir dengan hal itu, serahkan semuanya pada Zidane, insya Allah semuanya akan baik-baik saja," terangnya.
"Tapi Zi, Kamu itu belum tahu siapa Mas Roy, dia itu tipe pria yang berbahaya dan punya banyak relasi di Kantor Polisi nantinya apa yang kita usahakan akan berakhir sia-sia saja," ujarnya.
Zidane memegang ujung pundaknya Listie.
"Tante yakinlah bahwa apa yang akan kita lakukan nantinya akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita harapkan," jelasnya.
Setelah berbicara seperti itu, mereka berjalan meninggalkan taman akan berangkat ke Kantor Polisi. Zidane memegang tangan Listie lalu mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan hingga ke dekat mobilnya yang terparkir.
Zidane segera menghubungi nomor uncle nya.
Tut.. Tut.. Tut..
__ADS_1
"Nggak diangkat, apa Uncle Dimas sedang ini dengan Aunty Dessy? hehehe," senyumannya mengembang saat membayangkan apa yang sedang dilakukan pasutri di tengah malam.
Listi yang melihat hal tersebut geleng-geleng kepala lalu mencubit lengannya Zi.
"Pasti isi kepala loh ngeres yah, sedari tadi senyum senyam sendiri," ucapnya.
"Gak lah Tante, cuma itu anu..."
"Apa anu, ayok jujur apa yang sedang Kamu pikirkan?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya ke depan Zidane.
"Pokoknya ga ada Tante, aku hanya..."
Perkataannya terpotong karena jarak wajah mereka sangat dekat. Hingga hembusan nafasnya Zidane menerpa wajahnya Lestie.
Mereka saling bertatapan dan berpandangan satu sama lain. Ke dua mata mereka saling beradu pandang. Satu pun tidak ada yang berkedip. Hingga tanpa disadari, Listie yang notabene dengan pengalaman yang banyak, berinisiatif terlebih dahulu.
Dia mengalungkan tangannya ke leher Zidane, lalu mulai mengecup bibir seksi milik Zidane.
Zidane yang diperlakukan seperti itu terlonjak kaget karena seumur hidupnya, ini lah yang pertama dia berdekatan sangat dekat dengan seorang perempuan.
Matanya membulat sempurna, bibirnya menganga hingga Listie tersenyum dan mendapatkan rambu-rambu untuk berbuat lebih dan melanjutkan apa yang sudah dia mulai. Memancing pemuda bau kencur yang tidak memiliki pengalaman sekali pun tentang ciuman.
Listi menggigit kecil bibirnya Zi, hal itu dia lakukan agar Zi mengikuti permainannya. Si yang diperlakukan seperti itu perlahan tapi pasti sudah mengetahui dan mengimbangi permainan bibir Listi.
Mereka berciuman di samping mobilnya. Si mampu meladeni kemahiran dan keahlian dalam bermain lidah dengan Wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan percintaan.
Mereka saling *******, saling bertukar saliva hingga ciuman mereka memiliki durasi yang cukup lama. Lesti tersenyum karena Zi tipe cowok yang mampu membuatnya bahagia.
Yang pertama kalinya, tetapi Zidane tidak mau kalah dengan perempuan yang perlahan sudah merebut hatinya. Dering hpnya Zi membuat mereka harus mengakhiri ciuman yang begitu syahdu itu.
Zidane menghapus jejak salivanya yang ada di ujung bibirnya Listi sebelum mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum uncle Dimas," jawabnya setelah sambungan telpon terhubung.
Tangan kanannya memeluk erat pinggang Listie dengan posesif sedangkan tangan kirinya memegang hpnya. Listie yang diperlakukan seperti itu, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Zi.
Listie tersenyum mendengar debaran jantungnya Zi yang berdetak dengan cepat.
__ADS_1
"Waalaikum salam Nak, ada apa Kamu menelpon uncle malam-malam begini?" tanyanya yang berbaring di samping istrinya Dessy.
Dessy melanjutkan tidurnya setelah mereka memenuhi kewajibannya satu sama lainnya.
"Uncle Zi butuh bantuan, dan hanya Uncle yang bisa tolongin Zi," terangnya.
"Hemm, kira-kira pertolongan yang gimana yang Kamu maksud, uncle tidak ngerti dari perkataanmu," tanyanya.
Zi pun menjelaskan kepada Dimas tentang apa yang sedang dialaminya. Awalnya Dimas tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya dari penuturan Zi.
Dia sempat mengerutkan keningnya dan tidak percaya jika keponakannya sangat berani mengambil keputusan dan resiko untuk menolong perempuan itu yang notabene masih menjadi istri orang.
Awalnya dia tidak setuju dengan rencana dan langkah yang diambil oleh Si, mengingat Listie adalah istri orang lain yang cukup berkuasa di Ibu Kota. Tetapi makin ke sini, Dimas sudah mengerti arah pembicaraan dari Zi.
"Oke, Uncle akan hubungi pengacara terbaik Keluarga Wiguna dan Uncle juga akan segera menghubungi polisi agar membantumu untuk memberikan keamanan untuk Listie," tuturnya.
Zidane tersenyum bahagia karena Dimas bersedia dan siap membantunya. Tetapi perkataan terakhir dari mulut Dimas membuatnya tercengang dan kembali bertanya kepada hatinya sendiri.
"Sepertinya Kamu mencintai perempuan itu, tapi Uncle harap bukan karena Kamu dia menggugat dan melaporkan kepada pihak berwajib suaminya," terangnya yang sudah bersiap ke kantor polisi.
Zi terdiam setelah mendengar perkataan dari adik sepupu Ayahnya. Dia tidak menampik apa yang dikatakan oleh Uncle nya, hanya saja belum bisa membedakan apa ini murni karena cinta yang tulus atau hanya obsesinya dan nafsu semata belaka.
"Uncle menunggumu di Kantor polisi, karena masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, satu hal lagi Kamu harus ekstra hati-hati karena uncle yakin jika Roy suaminya pasti akan menyusul kalian."
"Ok, makasih banyak uncle Dimas," jawabnya lalu sambungan telpon pun terputus.
"Ayok kita cepat ke Kantor polisi sebelum antek-anteknya suamimu datang dan melihat kita berada di sini," ujarnya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Si segera menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya ke arah jalan yang menuju Kantor Polisi.
Dimas pamit kepada istrinya, Dessy sudah terbiasa dengan kebiasaan suaminya yang kadang akan pergi di saat tengah malam, jika ada pekerjaan yang urgen dan tidak bisa ditunda.
"Hati-hati Abang," ucapnya lalu kembali merapatkan selimutnya.
Dimas mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Usia pernikahan boleh saja sudah banyak, tapi kebersamaan dan kemesraan jangan pernah pudar dan lekang di makan waktu.
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Makassar, Kamis, 07 Juli 2022