
Happy Reading..
Elang memasangkan sendal tersebut dan sangat pas di kakinya Zoe. Elang masih berlutut di hadapan Zoe. Bahkan ada sebuah kotak buludru yang dia pegang di arahkan ke hadapan Zoe.
Zoya terbelalak melihat sebuah cincin Emas murni 24 Karat yang bertahtakan berlian yang sangat cantik.
"Mau kah Kamu menjadi istriku sekaligus menjadi Ibu dari anak-anakku?"
Ke dua matanya melebar, mulutnya menganga membulat sempurna. Saking tidak percayanya mendengar perkataan dari Elang.
Zoya Saldana menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang didengar oleh kedua telinganya.
Wajahnya memerah menahan malu. Bahagia, shock, heran bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak malu Bandara adalah tempat umum, yang pastinya banyak masyarakat yang datang.
Pernyataan cinta sekaligus lamaran Elang ditonton oleh beberapa pengunjung Airport, bahkan ada di antara mereka, yang menyiarkan langsung dan mengabadikan momen tersebut ke dalam hpnya.
Zoe tidak menyangka, jika pria yang baru beberapa kali bertemu dengannya hanya hitungan jari saja berani melamarnya. Lamaran itu di hadapan ke dua orang tua dan keluarga besarnya.
Memang dia akui, jika ada rasa yang berbeda yang dia rasakan saat bersama dan berada di dekat Elang. Tapi, dia tidak yakin apa perasaan yang dirasakan olehnya adalah cinta atau hanya obsesinya semata.
Beberapa menit kemudian, Elang masih berlutut seperti tadi. Di mana Elang berlutut dengan satu kakinya bertumpu ke atas lantai.
"Zoeya Saldana Arya Wiguna Kim Said, apa Kamu bersedia menjadi istri dan pendamping hidupku?"
Elang kembali mengulangi perkataannya. Karena hingga saat ini, Zoeya sama sekali tidak memberikan jawaban apa pun, apa kah menolak atau menerima lamaran Elang.
"Ayok terima saja."
"Jawab yes dong, kasihan cowoknya sedari tadi, berlutut."
"Kalau Kamu gak mau, aku saja yang gantikan Kamu."
Teriakan demi teriakan di dengungkan oleh semua orang yang melihat langsung lamaran dadakan Elang.
Arya dan Delia saling berpandangan, lalu berjalan ke arah di mana mereka berada.
Delia memegang tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Zoe, jawab lamaran Elang Nak, kasihan sedari tadi berlutut, gimana kalau entar lututnya terkelupas bergesekan dengan lantai."
__ADS_1
"Putriku tercinta, untuk mencari pria yang berani melamar Kamu di depan orang banyak, itu sangat susah, dan yakin lah jika ada pria melamar Kamu, berarti dia itu serius dan tidak akan membuat Kamu menangis."
Delia dan Arya sebagai orang tuanya, memberikan wejangan dan nasehat kepada putri tunggalnya itu.
Zoe menatap satu persatu anggota keluarganya. Mereka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Elang berharap agar Zoe menerima lamarannya. Walaupun Elang hanya sepintas memikirkan hal tersebut. Tetapi, dia memantapkan hatinya dan yakin jika jalan yang dia pilih adalah yang terbaik.
Walaupun dia mengesampingkan siapa dia sebenarnya. Kisah hidup Elang yang sesungguhnya penuh dengan tantangan dan sangat berisiko. Jam terbang di Dunia bawah tanah pun penuh dengan rintangan yang harus mereka lalui.
Tapi, Elang yakin bahwa Zoe adalah wanita yang paling cocok jadi pendamping hidupnya. Dengan mengesampingkan perasaannya kepada gadis Indonesia yang sejak pertemuan pertamanya, sudah membuatnya tertarik dan penasaran.
Elang tersenyum ke arah calon mertuanya. Dengan dukungan dari mereka membuat perasaan Elang melambung tinggi hingga ke Langit ke tujuh.
Raditya segera mengirim chat ke nomor hpnya Aditya untuk mencari tahu siapa Elang. Setelah ditatap oleh Arya. Dia segera bertindak untuk melaksanakan perintah dari Arya tersebut.
Arya mengamati dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, Elang bukanlah orang biasa saja.
"Aku yakin Elang bukanlah pria yang mudah di ganggu dan dari wajahnya seperti seseorang yang memiliki kekuasaan yang tidak terbantahkan."
"Aku tahu Ayah mencari tahu siapa saya, tapi yang Ayah akan dapatkan hanya sebatas sebagai CEO ternama saja, bukanlah pemimpin Black Dragon."
Zoe masih tidak bergeming sedikit pun, dia masih terdiam seribu bahasa. Sehingga tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Rina dan Dessy yang melihat Zoe seperti orang bisu yang tidak tahu harus berbicara apa segera menengahi mereka.
"Nak Elang berdirilah, gak baik dilihatin terus sama orang-orang."
Rina membantu Elang. Dengan memegang tangan Elang dengan penuh kelembutan. Dessy pun membantu Elang untuk berdiri.
Perlakuan yang diberikan oleh keluarga Zoe membuat hatinya tersentuh. Dia teringat kembali kepada mendiang Maminya. Perhatian yang tulus beliau berikan untuk Elang, begitu besar walaupun Maminya hanya memberikan perhatian beberapa tahun saja, sebelum beliau meninggal dunia dalam kecelakaan maut.
"Nak Elang, berikan kesempatan dan waktu kepada Zoe untuk berfikir matang dan Mama janji Zoe pasti akan menerima pinangan Kamu."
Delia menjelaskan kebisuan putrinya. Delia yakin Zoe belum yakin dengan apa yang dia rasakan. Delia dan Arya tidak ingin memberikan tekanan, paksaan atau pun intervensi terhadap apa pun keputusan anak-anaknya.
Mereka selalu memberikan kebebasan penuh kepada anaknya untuk memilih jalan hidup mereka. Baginya orang tua, itu hanya bisa memberikan nasehat dan masukan yang terbaik untuk mereka, tampa harus memaksakan kehendak dan mengatur pilihan hidup mereka.
Zoe masih berdiri mematung di depan mereka. Elang tidak menyangka jika reaksi dari Zoe akan seperti itu.
__ADS_1
Hingga suaranya yang sedari tadi ditunggu oleh Elang akhirnya bersuara juga.
"Abang, berikan aku waktu untuk berfikir, Aku tidak bisa begitu saja memutuskan bahwa akan menerima atau pun menolaknya."
Hatinya terenyuh saat Elang mendengar pujaan hatinya memangilnya dengan sebutan Abang. Dia sangat bahagia hanya dipanggil seperti itu saja sudah woow, apa lagi jika Zoe sudah mengatakan kalau dia setuju akan semakin lengkap sudah kebahagiaannya.
"Abang akan menunggu sampai kapan pun, hingga ujung usiaku, Aku akan selalu setia menunggu jawabanmu itu."
"Kalau gitu kami pamit pulang dulu, datanglah ke rumah untuk membahas semua ini dengan baik, Ayah tunggu Kamu di rumah nak."
Arya berkata seperti itu,agar Elang tidak berkecil hati.
"Makasih banyak Ayah, insya Allah dua hari lagi saya akan datang ke rumah Ayah."
"Kalau gitu Kami pamit duluan, Kami mau istirahat soalnya."
Delia berpamitan lalu mereka memberikan senyuman yang tulus sebagai perpisahan untuk sementara waktu.
"Assalamu alaikum."
Mereka sama-sama saling mengucapkan salam. Elang tersenyum ke arah Zoe yang sedari tadi tersenyum malu-malu selalu menunduk tidak berani menatap ke arah Elang. Zoe tidak seperti biasanya jika mereka bertemu.
"Ternyata Kamu juga bisa malu-malu, Aku semakin sayang denganmu gadis kecilku."
Arya berjalan beriringan dengan Emre, Adrian dan Dimas. Mereka berbincang-bincang setelah sudah jauh dari tempat Elang berdiri hingga detik ini.
"Apa kalian sudah mendapatkan informasi tentang Elang?"
Emre langsung memberikan hpnya karena dia tidak bisa menjelaskan semuanya mulai dari mana.
Arya membaca artikel biodata tentang Elang. Mereka terkejut setelah membaca keseluruhan data diri Elang.
"Ternyata dugaanku benar, kalau Eiang bukan orang yang mudah disinggung."
...********To Be Continued********...
Makasih banyak all Readers.
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Sabtu, 02 Juni 2022