
Happy Reading...
Pro dan Kontra pasti akan muncul dalam mengambil keputusan. Seperti halnya dengan keputusan Mama Elisabeth yang memutuskan untuk menerima persyaratan Pak Hendry untuk menikah dengannya. Ke dua anak perempuannya marah bahkan menghakimi dirinya tapi Mama Elisabeth tetap sabar menghadapi sikap ke dua putrinya. Karena dibalik seseorang yang menolak keputusannya masih banyak yang menerimanya dan menghargai keputusannya itu.
Sore harinya, Mama Elisabeth berjalan ke arah dapur Karena Dia ingin memasak makanan persiapan buka puasa. Mama Elisabeth memperhatikan setiap sudut Villa tersebut yang sudah banyak berubah tidak seperti awal dirinya datang. Mama Elisabeth berhenti di bawah lukisan seorang perempuan yang sedang hamil besar yang duduk di kursi Taman.
Mama Elisabeth kembali teringat kepada ke dua anak kembarnya.
"Nak kamu di mana, kembalilah kepada Mama" ucap Mama Elisabeth sambil mengelus lukisan tersebut dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Pak Hendry yang ingin berjalan ke arah Ruangan pribadinya langkahnya terhenti sesaat dan memperhatikan gerak gerik dari istrinya. Pak Hendri ikut sedih dengan kehilangan putra pertamanya.
Flashback on..
Pak Hendri melakukan perjalanan bisnisnya ke luar kota, dan kliennya mengajaknya ke Bar untuk merayakan keberhasilan kerja sama mereka. Dan di sana pula lah awalnya bertemu dengan perempuan yang menjadi penghancur rumah tangganya. Pak Hendry awalnya hanya berkenalan biasa saja dan saling bertukar nomor hp. Pak Hendry sedikit pun tidak ada niat untuk berselingkuh. Setiap hari Perempuan itu menelpon nomor hp Hendry tanpa kenal waktu. Hingga perempuan itu pindah ke Kota M.
Intensitas pertemuan mereka semakin hari semakin sering saja. Bahkan Pak Hendry sudah perlahan-lahan melupakan tanggung jawabnya kepada Elizabeth yang sedang hamil besar. Sikap pak Hendry berubah drastis dari yang perhatian dan sayang kepada istrinya sekarang mengantar sang istri pun ke dokter kandungan sudah tidak pernah.
Suatu hari Mama Elisabeth merasakan nyeri dibagian perutnya, dan meminta tolong kepada Hendry tapi apa yang diperoleh oleh Elizabeth waktu itu hanya hardikan dan kata-kata kasar bahkan segala macam umpatan dia dapatkan.
"Assalamu alaikum Pa" ucap Mama Elisabeth.
"Iya ada apa kamu menelponku, aku sedang sibuk" ucap pak Hendry yang hanya sibuk memuaskan selingkuhannya.
"Pa boleh aku minta tolong gak diantar ke rumah sakit untuk cek up, perutku sakit?." Harap Elizabeth.
"Aku tidak bisa, tadi kan Aku sudah bilang aku itu sibuk Banyak kerjaan aku yang numpuk" Ucap Pak Hendry dengan suara yang agak besar dan sedikit kasar. Elizabeth menjauhkan sedikit hpnya dari telinganya.
"Tapi Pa perut aku sakit banget, aku mohon antar aku yah?." harap Elizabeth kepada suaminya.
__ADS_1
"Harus berapa kali aku bilang padamu kalau aku itu sibuk dan tidak punya waktu untuk kamu lagian ada supir pribadi yang bisa mengantar kamu pergi ke rumah sakit, kamu itu terlalu ngeyel sudah dibilangin kalau aku sibuk dan tidak punya waktu Apa kamu tuli haaaa" hardik pak Hendry.
Mama Elisabeth yang mendengar perkataan suaminya langsung menangis tersedu-sedu karena selama tiga tahun terakhir pernikahannya Sedikit pun tidak pernah dirinya diperlakukan kasar seperti sekarang ini.
"Ya Allah apa salahku, apa yang terjadi padamu Pa?" monolog Elisabeth yang menguatkan dirinya untuk ke rumah sakit.
Elizabeth pun berangkat ke rumah sakit. Dengan hati yang sakit teriris sembilu, Elisabeth melangkahkan kakinya perlahan ke dalam ruangan pemeriksaan. Untung saja saat itu ke dua bayi kembarnya baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, Elisabeth pun pulang ke rumahnya dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkan karena saat dirinya turun dari mobil tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Sehingga Elizabeth kedinginan dan sudah bersin-bersin.
Elizabeth segera berjalan naik tangga, satu persatu undakan tangga dia lewati dengan susah payah.
"Rumah kok sunyi banget, para Maid ada di mana yah?." tanya Mama Elisabeth yang heran karena untuk pertama kalinya Villa tersebut sepi bagaikan rumah yang sudah sejak lama tak berpenghuni.
Dengan keadaan yang cukup dingin, Elizabeth melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya tapi alangkah terkejutnya Elizabeth saat dirinya mendapati Suaminya sedang bercumbu dengan seorang perempuan yang tidak dua kenali. Elizabeth menutup mulutnya dengan rapat agar tangisannya tidak keluar hingga membuat Suaminya menyadari kehadirannya.
Mama Elisabeth pun mundur perlahan-lahan dan berjalan ke arah kamar tamu. Di sanalah dia menumpahkan segala gunda gulananya dan tidak hentinya menangisi nasibnya yang begitu malang.
Hingga subuh hari, Hendry dan selingkuhannya masih bercocok tanam tanpa hentinya. Sedangkan Mama Elisabeth tidak bisa terlelap dalam tidurnya, hanya bisa bolak balik ke kanan dan ke kiri.
Kejadian ini berlangsung hingga beberapa hari, Pak Hendry tidak pernah lagi ingin menyentuh istrinya bahkan melihat pun sudah tidak berminat. Hidup enggan mati pun segan. Kisah rumah tangga yang awalnya sehat adem ayam tiba-tiba diterpa gelombang pasang yang cukup besar yang langsung menjungkir balikkan keadaan dan perasaan Hendry terhadap istrinya.
Satu bulan kemudian, Hendry sudah terang-terangan memperlihatkan dan menunjukkan kemesraan mereka di depan mata Elisabeth hingga Elizabeth ingin melahirkan ke dua anaknya. Sakit hati yang dia rasakan disaat Suaminya berselingkuh mengalahkan sakit perut yang dia rasakan akibat kontraksi yang akan melahirkan.
Lengkap sudah penderitaan dari Elizabeth ke rumah sakit harus naik mobil angkot karena perempuan selingkuhan suaminya melarang semua supir pribadinya untuk mengantarnya ke rumah sakit. Hanya seorang diri berjuang bertaruh nyawa agar ke dua anaknya lahir dengan selamat ke dunia ini. Sakit sangat sakit sekali rasanya saat bertaruh nyawa untuk melahirkan tidak dihiraukan lagi oleh Elizabeth.
Air matanya menetes dikala anaknya sudah selamat lahir ke dunia ini. Air mata itu bercampur dengan air mata duka karena disaat bahagianya satu pun keluarganya tidak hadir mendampinginya dan suaminya pun turut tidak hadir menemaninya melahirkan.
Dua hari kemudian, Elizabeth sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya beserta membawa ke dua buah hatinya.
__ADS_1
Mama Elisabeth berjalan perlahan dan mendorong troli anaknya masuk ke dalam Pintu. Dengan senyuman yang tulus dari wajahnya, Elizabeth melangkahkan kakinya menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti di kala dirinya melihat Hendry yang bermesraan dengan selingkuhannya. Hatinya hancur berkeping-keping tak terbentuk lagi. Air matanya menetes membasahi pipinya.
Elizabeth berjalan ke arah mereka dan tanpa aba-aba, Elizabeth langsung menampar wajah perempuan itu hingga dua kali. Hendry yang melihat hal itu langsung memegang tangan Istrinya dengan kuat. Hingga Elizabeth mengeluh kesakitan saking kuatnya pegangan tangan suaminya.
"Sekali lagi kamu menyentuh wanitaku aku tidak akan segan untuk memukulmu" ucap Hendry yang matanya sudah memerah pertanda dirinya sangat marah.
Sedangkan perempuan itu tersenyum licik ke arah Elizabeth yang memegang tangannya yang sudah kemerahan.
"Hanya karena demi perempuan yang baru kamu kenal dan gak jelas kamu tega menyakitiku, ingat siapa yang membantumu selama ini, siapa yang menyuntikkan dana ke perusahaan kamu waktu perusahaanmu bangkrut, demi perempuan itu kamu tidak peduli sedikitpun kepada anak-anakmu, apa salahku kepadamu mas, kamu tega sekali melakukan hal ini kepadaku" ucap Elizabeth yang setengah berteriak dengan deraian air matanya.
"Perempuan itu akan menjadi calon istriku pengganti dirimu karena mulai hari ini aku talak kamu dan pergilah dari sini tapi ingat kamu tidak boleh membawa anakku keluar dari sini pasti kemungkinan dan jangan bawa apa pun barang-barang yang kamu beli pakai uangKu" ucap Hendry yang sudah gelap mata yang tega mengusir istrinya demi perempuan gak jelas.
"Baiklah Aku akan keluar dari rumah ini tapi ingat suatu saat kamu akan menyesali apa yang kamu pilih hari ini dan satu hal lagi jika kamu menyesali semuanya dan itu sudah terlambat" ucap Elisabeth dan berlari ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa barang-barangnya dan tidak lupa memasangkan sepasang gelang kecil peninggalan ke dua orang tuanya.
"Maafkan Mama sayang, insya Allah Mama pasti akan datang menjemput kalian" ucap Mama Elisabeth kepada ke dua anak kembarnya.
Elizabeth berjalan menuruni undakan tangga dan tidak menoleh sedikit ke arah mereka. Dan hanya air mata yang menjadi saksi kehancurannya hari itu. Dengan berat hati dia melangkahkan kakinya ke luar dari rumah yang menorehkan banyak kenangan di dalam hidupnya.
"Maafkan aku ya Allah, aku sudah mempertahankan pernikahanku tapi aku tidak tahu harus berbuat apa jika dia sudah tidak menginginkan aku lagi berada di sampingnya" ucap Mama Elisabeth.
Dan sejak itu lah hubungannya dengan Hendry sudah putus, setiap hari dia mendatangi villa untuk melihat kondisi dari ke dua anaknya tapi setiap kali dia datang setiap kali Dirinya datang dia tidak diijinkan untuk bertemu dengan putra dan putrinya. Hanya mampu memandang dari kejauhan anak-anaknya dan tidak diperbolehkan untuk mendekat dan melewati pintu pagar villa itu yang cukup tinggi.
Hal ini dilakukan oleh Mama Elisabeth yang terakhir kalinya karena sudah pasrah terhadap nasibnya sendiri. Dan di saat dirinya terpuruk ada yang mengulurkan tangannya ke hadapannya dan selalu ada di saat dia butuh bantuan apa pun itu, ya dialah Wiguna Albert Kim Said yang sejak dulu telah diam-diam mencinta dirinya tapi dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Elizabeth. Hingga suatu hari dirinya memutuskan untuk menerima lamaran dari pak Wiguna.
To Be Continued..
makasih banyak atas dukungannya 🙏
maaf Typonya untuk dimaklumi 🙏
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 11 April 2022