
Happy Reading..
Arya dan Dimas berjalan ke arah UGD agar mereka segera mendapatkan pertolongan karena kondisi mereka mengkhawatirkan. Baru beberapa langkah mereka terhenti akibat suara tembakan yang terdengar nyaring bunyinya di telinga mereka m Arya dan Dimas menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.
"Apa yang kamu lakukan haaaa!! sudah aku bilang jangan menembak mati penjahat tersebut, karena kita menginginkan untuk menangkap mereka hidup-hidup untuk mengintrogasi mereka dalam keadaan apa pun" ucap Komandan polisi tersebut.
"Maafkan Saya komandan, Saya refleks melakukan hal itu, karena Penjahat itu sudah mengarahkan pistolnya ke arah Tuan Arya dan Dimas" kilah polisi sedangkan sudut bibirnya mengisyaratkan bahwa rencananya berhasil.
Danu cahyono sudah terkapar di lantai keramik yang dingin. Danu ditembak mati oleh anggota kepolisian, padahal Komandan mereka sudah memberikan arahan dan peringatan agar tidak bertindak gegabah dan karena Arya menginginkan salah satu dari mereka hidup agar bisa mengorek informasi dari anak buahnya yang tersisa.
Setelah kondisi di rasa sudah aman dan kondusif, pihak kepolisian memasang polis Line agar tidak ada orang yang mendekati lokasi tersebut untuk melancarkan pekerjaan pihak kepolisian.
Dimas dan Arya sudah ditangani segera oleh dokter terbaik yang dimiliki oleh Rumah Sakit DA. Dimas yang kondisinya lebih parah dari pada Arya dilarikan ke dalam ruangan operasi. Dessy yang dihubungi oleh Mama Elisabeth pun sudah datang dan berada di depan ruangan operasi. Dessy tidak henti-hentinya menangis iba melihat kondisi suaminya.
"Lindungi dan selamatkan lah suamiku ya Allah, Jangan Engkau biarkan suamiku kenapa-kenapa".
"Kamu harus sabar sayang, doakan yang terbaik untuk suami kamu agar dia diselamatkan oleh Allah, Mami juga sedih mendengar Suami kamu yang sedang di operasi" ucap Mami Dessy.
"Makasih banyak Mami, Mami sudah menemani Dessy di Sini" ucap Maminya Dessy.
Sedangkan di dalam kamar perawatan Arya. Delia dan Mama Elisabeth marah kepada Arya karena menurutnya Arya sudah menyembunyikan kebenarannya kalau dia sedang terluka dan terbaring lemah di atas Bangkar.
"Kakak selalu saja merahasiakan hal penting dari kami, Kakak tidak menganggap kami itu adalah keluarga?" ucap Delia yang sudah menangis bersedih karena kelakuan Arya.
Arya langsung menghapus jejak air mata di wajah cantiknya Delia.
"Maafkan Kakak, Kakak tidak akan mengulanginya lagi" ucap Arya.
Delia langsung memeluk tubuh Arya yang membuat Arya meringis kesakitan.
"Aaaaaaahhh" ucap Arya.
Delia langsung khawatir dan memeriksa seluruh kondisi tubuh dari suaminya.
"Mana yang sakit kakak, coba katakan sama Delia agar Delia bisa memanggil Dokter?" Tanya balik Delia.
"Tidak ada yang sakit Kok sayang, yang Sakit itu cuma ini yang sakit" ucap Arya sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Sakit sekali yah Kakak, Kalau sakit Delia akan ke ruangan dokter agar dokter segera memeriksa Kakak" ucap Delia yang sudah sangat khawatir.
Arya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Delia yang tidak mengerti maksudnya.
__ADS_1
"Kepala Kakak juga ikut sakit yah, kalau gitu tunggu Delia yah ka, Delia panggil dokter dulu" ucap Delia yang berdiri dari posisi duduknya untuk berjalan ke arah luar.
"Delia" ucap Arya.
Delia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepalanya ke arah Arya sedangkan Arya hanya tersenyum.
Delia berjalan ke arah Arya dan kembali duduk di samping bangkar Arya. Arya pun memberikan kode kepada Arya agar Delia mendekati Arya dan mendekatkan telinganya ke bibir Arya. Arya kemudian membisikkan sesuatu kata-kata yang membuat wajah Delia memerah tersipu malu.
Sedangkan Mama Elisabeth dan Pak Hendry sudah berdiri di depan ruangan Operasi sehabis dari ruangan Arya.
"Gimana operasinya dan kondisi Dimas kabarnya gimana Sekarang?" tanya pak Hendry.
Mama Elisabeth memeluk tubuh Dessy dan berusaha untuk menenangkan Dessy.
"Kamu harus sabar dan kuat, do'akan yang terbaik untuk Dimas" ucap Mama Elisabeth.
"Iya Tante, Makasih banyak" ucap Dessy.
Beberapa saat kemudian, Dimas sudah di bawah ke dalam ruangan perawatan untuk melihat kondisi perkembangan kesehatan Dimas setelah operasi.
"Gimana dengan kondisi Arya Tante, apa dua baik-baik saja?' tanya Dessy.
"Alhamdulillah Arya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi" timpal Mama Elisabeth.
"Iya, Hyuna keserempet Mobil sewaktu ingin menyebrang jalan, tapi keadaannya juga sudah membaik tetapi Rian yang membantu Hyuna dari kecelakaan tersebut belum sadarkan diri
sampai sekarang" ucap Mama Elisabeth.
"Alhamdulillah kalau mereka baik-baik saja" ucap Dessy dengan tulus.
"Jadi gimana dengan penjahatnya apa mereka sudah diamankan oleh polisi, emangnya kenapa dengan mereka?" tanya Dessy.
"Mereka tidak ada yang selamat, dan tes DNA mereka sudah keluar tapi hasilnya direbut oleh Penjahat itu, mereka tidak bisa lagi melakukan tes DNA tersebut, dikarenakan mereka memberikan obat untuk menghancurkan bukti yang kita dapatkan jelas.
"Berarti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, padahal Arya dan Dimas sudah mengeluarkan segenap kemampuan mereka tapi sayangnya mereka sangat pintar dan kerjaan mereka terpaksa harus digagalkan oleh Anak buahnya penjahat itu" ucap Dessy.
"Semoga Dimas segera tertolong jadi Kita bisa bertanya kepada Dimas tentang siapa sebenarnya Rian itu, Entah kenapa setiap aku menatap Rian wajah Alan langsung muncul di pelupuk mataku" ucap Mama Elisabeth.
"Kok kita sama yah Tante, Aku pun begitu jika melihat Rian tersenyum pasti aku teringat dengan Alan" timpal Dessy.
"Apa jangan-jangan Rian itu Ala" ucap Delia.
__ADS_1
"Sepertinya itu tidak mungkin Delia. Kalau itu Alan kenapa Dia menyembunyikan identitasnya dan apa maksudnya mereka menyembunyikan hal ini dari kita?" tanya Mama Elisabeth.
"Andai saja Tes itu tidak hilang, mungkin kita sudah mendapatkan bukti yang akurat, tetapi kalau seperti ini pupus sudah harapan kita" Tutur Delia.
"Aku pamit pulang dulu Nak Dessy, insya Allah Aku akan datang lagi untuk menjenguk Dimas" Mama Elisabeth.
"Paman sudah mengirimkan beberapa orang di sekitar rumah sakit untuk memberikan keamanan pada kalian, dan mereka akan melaporkan kepada Paman apa pun yang mereka lihat dan mereka akan melaporkan hal tersebut" ucap Pak Hendry.
"Makasih banyak Paman, semoga penjahat itu bisa ditangkap segera oleh pihak kepolisian dan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya mereka" ucap Dessy.
Mama Elisabeth dan pak Hendry berjalan ke arah ruangan Rian karena ingin melihat keadaan Rian setelah operasi. Pengawal dan pengawas sudah berjaga-jaga di sekitar ruangan Dimas dan Pak Hendry yakin jika mereka akan datang lagi ke rumah sakit untuk mengambil Rian yang sudah tidak sadarkan diri. Mama Elisabeth melihat ada beberapa perawat dan dokter yang berlarian ke Luar masuk ruangan perawatan Rian. Mama Elisabeth pun mempercepat langkahnya dan bergegas ke kamar tersebut.
"Suster, apa yang terjadi dengan pasien di dalam ruangan itu?" tanya Mama Elisabeth.
"Kondisinya tiba-tiba menurun, tekanan darahnya juga tidak normal, denyut jantungnya pun semakin lemah" ucap suster tersebut.
"Makasih banyak atas infonya Sus" ucap Mama Elisabeth kemudian berlari ke arah ruangan Rian.
Pak Hendry mengikut langkah panjang Istrinya.
"Ya Allah selamatkan lah Rian, lindungilah Rian dari segala marabahaya".
Mama Elisabeth sangat mengkhawatirkan keadaan Rian. Dokter pun datang untuk mengecek kondisi dari Rian. Pak Hendry pun maju dan bertanya kepada Dokter.
"Apa yang terjadi dengan Rian Dokter?". tanya Pak Hendry.
"Kondisi dari saudara Rian semakin mengkhawatirkan" ucap Dokter.
...--------To Be Continued--------...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏. Ucapan ini akan Fania ucapkan setiap kali Update, karena Fania tidak bisa membalas kebaikan kalian yang sudah memberikan dukungannya kepada BDP 🙏.
Sambil menunggu Updatenya BDP Kakak juga bisa singgah ke Novelku yg lain:
1.CInta Yang Tulus.
2.Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Alhamdulillah semuanya sudah Lulus kontrak 🙏🥰.
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Rabu, 11 Mei 2022