
Happy Reading..
Suasana di dapur milik Delia sedang ramai, dikarenakan kedatangan Cilla yang membantu Mommy kece.
Hal itu terjadi saat Cilla menggantikan Mami mertuanya untuk memecahkan dan mengocok telur yang mau dijadikan Emilia kue brownies kesukaan Zack dan Zoe.
"Sepertinya kehadiranku di sini hanya sebagai pengamat saja," ucap Cilla yang jengah melihat ke dua orang yang lebih tua darinya.
Delia dan Emilia saling berpandangan satu sama lain lalu tersenyum.
"Ya ampun, maafkan Aunty yang lupa kalau ada pengantin baru di antara kita yang kepengen ikutan membantu rupanya," ucap Delia dengan menutup mulutnya lalu tersenyum.
"Aku yang salah di sini, punya menantu cantik dan nganggur gak dimanfaatin tenaganya," timpal Emilia.
Cilla mengerucutkan bibirnya kehadapan ibu mertuanya.
"Jangan digituin bibirnya kalau ada Andreas bisa-bisa bibir Kamu tambah monyong loh," ujar Emilia.
"Iihh kenapa bisa Mi?" tanya Cilla yang bertingkah laku seperti gadis remaja SMP saja yang tidak tahu apa-apa tentang masalah gituan.
"Gak usah dijelasin, cepat atau lambat nanti dia sendiri akan tahu," terang Delia.
"Mana nih Mi yang Cilla bisa bantuin?" tanya Cilla.
"Kamu pecahkan telur ini ke dalam mangkok bundar ini terus kocok pakai mixer," jelas Emilia.
"Sepuluh butir yah Mami yang harus Cilla hancurkan?" tanya Cilla yang menunjukkan butir telur itu ke hadapan Mami mertuanya.
Emilia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari menantunya.
Tanpa menunggu lama mixer itu pun sudah berputar dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Tahap pertama saat menghidupkan lalu menyalakan mesin Mixer itu berjalan mulus tanpa kendala apa pun.
Emilia tersenyum bangga melihat ke arah menantunya. Emilia mengira jika Cilla berhasil mengembangkan telur tersebut dengan gula pasir dan siap dimasukan beberapa bumbu dan bahan kue. Sudah beberapa menit, Emilia memperkirakan bahwa adonan telur itu sudah mengembang dan siap dimasukan ke dalamnya terigu.
Emilia pun mendekati Cilla yang posisinya berdiri dari depan meja dapur. Tapi, senyumannya langsung pudar setelah melihat langsung kondisi adonan tersebut.
Tawanya langsung meledak memenuhi ruangan dapur tersebut. Emilia bahkan sudah memegang perutnya yang sudah agak sakit saking tidak bisa menahan tawanya.
Delia yang melihat adik iparnya terbahak-bahak segera berjalan ke arahnya karena heran sekaligus penasaran dengan apa yang dialaminya.
"Emilia kamu kenapa sih, dari tadi tertawa gak jelas, lihat gara-gara tawa Kamu maid jadi ketakutan," terang Delia yang sudah berdiri di samping kirinya Emilia.
Sedangkan pelaku utama dari kehebohan itu hanya terdiam dan terpaku menatap ibu mertuanya dengan penuh tanda tanya.
Delia segera melihat ke dalam wadah tempat adonan yang seharusnya sudah mengembang malahan tidak tahu bentuknya sudah seperti apa.
Delia pun yang sudah berusaha untuk menahan tawanya sedari tadi pun ikut tertawa dan meramaikan suasana Dapur itu.
__ADS_1
Sehingga semakin hebohlah dapur itu, maid yang awalnya takut jika ikut tertawa akan terkena Omelan ataupun marah tidak bisa menahan tawanya mereka. Para Maid sudah melupakan konsekuensi dari tingkah mereka yang menambah suasana menjadi kisruh.
Setelah beberapa saat lamanya, tawa mereka pun sedikit sudah reda.
"Ya Allah Cilla, Sayang ini bukan adonan kue lagi kalau gini," ucap Emilia yang menutupi mulutnya yang kembali ingin tertawa.
"Menantumu niatnya sudah baik tapi, sayangnya caranya kurang tepat," tutur Delia.
Delia pun menunjukkan cara memecahkan telur yang baik, hingga ke tahapan pencampuran adonan yang setengah jadi dengan beberapa bumbu dan bahan-bahan keu lainnya.
Baru beberapa detik, Cilla yang tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejadian tadi yang dia lakukan.
Sedangkan di dalam ruangan khusus bapak-bapak dan pria muda lainnya sedang bersantai sambil menikmati kopi hangat yang dibuat oleh Delia.
Andreas dengan Papinya saling berdampingan di kursi itu tapi, mereka sama sekali tidak ada yang saling bertegur sapa. Hingga Adrian tiba-tiba memeluk tubuh putra sulungnya itu dengan sangat erat.
Tubuhnya bergetar hebat, tangisannya pecah,air matanya yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh juga membasahi pipinya.
"Maafkan Papi nak, Papi sedikit pun tidak bermaksud untuk menjodohkan Kamu dengan Laila, itu semua hanya rencananya saja ke dua orang tuanya, lagian Papi belum menyetujui rencana mereka," ucap Adrian.
Andreas awalnya tidak memeluk tubuh Papinya sekarang tangannya perlahan membalas pelukan Papinya.
"Papi tidak punya salah sedikit pun sama Andreas, jadi Papi tidak perlu meminta maaf, seharusnya yang harus meminta maaf adalah Andreas yang sudah terlalu keras sama Papi," ucapnya.
"Tidak ada salah dalam masalah kalian ini, yang salah hanyalah keegoisan dari Kalian semua yang sama-sama keras kepala, kan bagus jika setiap ada masalah kalian duduk saling berdampingan untuk membicarakan apa yang seharusnya kalian lakukan," ucap Arya panjang lebar.
"Arya apa Mama sudah ada kabarnya mereka sekarang ada di mana?" tanya Adrian setelah keadaannya sudah membaik.
Baru sekitar 1 menit Arya berbicara seperti itu. Pintu lebar nan tinggi berdaun pintu dua itu terbuka. Masuklah anak kembarnya, Mama Elisabeth serta keponakannya yang lain pun ada dalam rombongan tersebut.
Adrian dan Arya Wiguna berjalan ke arah Mamanya. Seperti biasa mereka selalu salim menciumi punggung tangan Mamanya.
"Bagaimana perjalannya Mama, apa Mama baik-baik saja?" tanya Arya.
"Alhamdulillah seperti biasanya lancar jaya selalu," jawabnya.
Mama Elisabeth memeluk satu persatu tubuh putranya dan yang terakhir cucu kesayangannya yaitu Zidane.
"Grandma, Zi kangen loh sama Grandma,"
"Nenek juga kangen sama Zidane," ucapnya lalu mengelus rambut cucunya.
"Welcome di Jakarta," ucap Zidane ke arah saudaranya.
Mereka satu persatu saling berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu masing-masing.
"Adik kecilku sudah besar yah," ucap Zack Lee Kim Said.
__ADS_1
"Tentu saja besar Abang kan setiap hari makan makanan enak buatannya Mama Delia," jawabnya.
"Kakak juga merindukan Mama mereka yang beberapa tahun ini mereka tidak bisa bertemu gara-gara pandemik Covid 19 Corona.
"Mama Kalian ada di mana?" tanya Nenek Elisabeth.
"Ad di dapur sibuk buat masakan untuk nenek dengan yang lainnya."
"Oohh gitu."
"Hey Tuan Putri Keyna, Aunty Eliana gak ikut sama Kakak,?" tanya Zidane yang celingak-celinguk mencari saudara kembar Ayahnya.
Delia, Emilia dan Cilla berjalan ke arah luar. Setelah mereka mendapatkan informasi kalau Mama Elisabeth dan yang lainnya sudah datang dari London, Inggris.
Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka yang ada di dalam ruangan itu. Setelah beberapa tahun mereka terpisah dan tidak bisa berkumpul akhirnya pada kesempatan kali ini mereka memanfaatkan momen menyambut hari raya idul Adha.
Ada yang cipika-cipiki ada yang saling berpelukkan hingga mereka sama-sama menyalurkan rasa bahagianya dan rindu mereka.
"Kenalkan ini menantunya Aunty Emilia, Zoya apa sudah saling kenal kalau belum kenalan yuk," ujar Emilia.
Emilia memperkenalkan mereka satu sama lainnya. Zoeya dan Amanda saling bertatapan dan hanya tersenyum saja ke arah Cilla sedangkan Cilla menunduk malu jika kembali harus mengingat kejadian terakhir yang mereka lalui bersama.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian, jangan bosan untuk memberikan dukungannya kalian kepada BDP yah. Kalau gak punya waktu untuk baca setiap Babnya bisa dicicil juga boleh.
Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg judulnya:
Sang Penakluk
Cinta Yang Tulus
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Tetap Dukung BDP dengan Cara:
Like setiap Babnya,
Rate Bintang 5,
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya dan
Votenya Juga serta Giftnya yah ✌️
********To Be Continued********
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at, 24 Juni 2022