
Happy Reading..
Tangis kesedihan yang dirasakan oleh Mama Elisabeth ketika kembali mengenang masa lalunya. Air matanya sudah membanjiri wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Pak Hendry yang menyaksikan langsung ikut bersedih dan sangat menyesali keputusannya dulu.
"Maaf atas semua kesalahanku padamu dulu, Maaf atas duka yang aku torehkan dalam kehidupanmu dulu, Aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan mengisi waktu yang telah terbuang" ucap oak Hendry yang menghapus air matanya.
Lalu berjalan ke arah di mana Istrinya yang masih berdiri menatap lukisan itu. Lalu memeluk tubuh mama Elisabeth dari belakang. Mama Elisabeth terkejut dengan perlakuan yang diterimanya dari Pak Hendry. Dan refleks berpindah dari posisinya berdiri.
"Maaf tolong lepaskan tidak baik dilihat orang apa lagi kita belum buka puasa" ucap mama Elisabeth yang sebenarnya agak risih disentuh langsung oleh pak Hendry yang notabene adalah suaminya sendiri.
Pak Hendry langsung mengangkat tangannya ke atas dan berpindah posisi.
"Maaf aku tidak berniat untuk membuatmu terkejut ataupun ingin membatalkan puasamu sayang" ucap oak Hendry.
"Tidak apa-apa, maaf saya permisi dulu mau ke dapur untuk masak persiapan buka nanti" ucap mama Elisabeth yang langsung pamit untuk ke dapur.
"Kenapa kamu harus repot-repot padahal di rumah kita ini banyak koki yang bisa melakukan itu semua, lagian tangan dan jarimu bisa kasar dan kotor" ucap pak Hendry yang memegang tangannya Elizabeth.
Mama Elisabeth langsung menarik tangannya karena dia tidak ingin membuat dirinya terjatuh ke dalam luka lamanya lagi yang mengakibatkan sejarah terulang untuk ke Dua kalinya.
"Tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa dan anak-anakku lebih senang makan makanan dari hasil tanganku sendiri dari pada koki" ucap Mama Elisabeth yang melupakan kalau dua sudah tinggal bersama pak Hendry dan anak sambungnya.
Pak Hendry hanya tersenyum kecewa karena menurutnya Elizabeth seakan menjaga jarak darinya tapi dia menyadari jika hal itu terjadi karena kesalahannya sendiri yang sulit untuk dilupakan atau pun dimaafkan.
Mama Elisabeth berjalan ke arah dapur dan meminta bantuan kepada beberapa koki di sana untuk membuat beberapa masakan. Mama Elisabeth ingin mulai hari ini Suaminya makan masakannya sendiri karena dulu Hendry selalu makan dari hasil masakan koki yang ada. Beberapa jam kemudian makanan pun sudah jadi. Mama Elisabeth kembali ke dalam kamarnya karena ingin mandi sambil menunggu waktu berbuka.
Bedug pun berbunyi dan toa mesjid pun sudah mengumandangkan adzan Magrib. Mama Elisabeth segera memanggil pak Hendri untuk berbuka bersama. Mereka sudah duduk di kursi masing-masing, hanya mereka berdua saja padahal meja makan cukup besar dan panjang yang bisa menampung beberapa kepala rumah tangga. Mereka pun Makan dengan lahapnya.
"Masakan kamu ternyata enak bahkan mengalahkan masakan koki di sini" puji pak Hendry yang tersenyum bangga dengan istri Lama rasa baru.
"Alhamdulillah kalau mas suka dengan masakan Aku, Arman gak ikut kita makan yah mas?." tanya Mama Elisabeth.
"Sepertinya Arman belum pulang dari kantor" jawab Pak Hendry yang tahu keberadaan Arman yang marah dan menolak pernikahan mereka.
Pintu rumah terbuka lebar dan masuklah seseorang dengan langkah yang lebar dan panjang, rahangnya tampak mengeras dan tidak ada senyuman yang terukir di wajahnya. Hanya kilatan kebencian dan amarah yang ada.
Mama Elisabeth yang melihatnya langsung berdiri dan mendatangi Arman seperti kebiasaan yang dia lakukan terhadap semua anaknya dan anggota keluarga besar Wiguna Albert Kim Said.
"Sini tasmu mama yang bawa masuk" pinta Mama Elisabeth yang mengulurkan tangannya untuk mengambil tas Arman.
Arman malah menghempas tangan mama Elisabeth kebelakang dan bahkan membentaknya.
"Tidak usah sok perhatian sama saya, kita tidak ada hubungan apa pun dan jangan coba-coba untuk menyentuh semua barang-barang pribadiku apa pun alasannya dan satu hal lagi bagiku semua ibu itu sama semuanya jahat" ucap Arman yang menghardik mama Elisabeth pas depan wajahnya lalu berlari menaiki undakan tangga.
Tapi Arman kembali berteriak ke arah Mama Elisabeth sebelum dirinya berada di lantai Dua dan sedikit mundurkan langkah nya.
"Aku tidak ingin makan masakan kamu jangan sampai kamu menaruh racun ke dalam makananku" ucapnya lagi dan kembali berlari naik ke atas Lantai dua tempat kamarnya berada dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat.
Mama Elisabeth hanya mematung dan tidak menyangka jika dirinya akan mendapat perlakuan seperti itu padahal niatnya baik tidak ada udang di balik terigu. Pak Hendri mendatangi Istrinya dan langsung mengelus punggung mama Elisabeth.
"Maafkan sikap Arman yang tidak sopan, Arman sudah seperti itu dari dulu dan ini juga karena kesalahannya aku yang salah mendidiknya" ucap Pak Hendri yang sangat menyesal dengan sikap Arman yang sangat kasar.
__ADS_1
Pak Hendri melangkahkan kakinya ingin naik ke lantai atas tapi tangannya dipegang oleh Mama Elisabeth sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Kok, wajar saja dia bersikap seperti itu, karena kami baru saling kenal mugkin seiring berjalannya waktu pasti sikapnya akan berubah, Lagian aku tidak apa-apa." Jawab mama Elisabeth lalu berjalan ke arah Meja makan untuk merapikan meja makan tersebut.
Satu Minggu kemudian, Arman kembali Bar untuk mencari Karina yang pernah menolongnya sewaktu dirinya mabuk berat. Tapi hasilnya masih sama karena Karina tidak masuk bekerja. Arman lalu mencari Alwi untung nya Alwi sip pagi hari ini sehingga dia bisa ketemu dan meminta alamat Karina.
"Maaf mas aku mau ketemu dengan Alwi?." tanya Arman kepada OB yang sedang membersihkan lantai.
OB tersebut menghentikan aktifitasnya sejenak lalu menjawab pertanyaan dari Arman.
"Alwi ada di belakang pak, dia lagi membuang sampah" jawab OB itu.
"Makasih banyak Mas" ucap Arman sambil memberikan dua lembar uang kertas merah kepada OB itu.
"Makasih banyak pak" ucapnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Arman bertanya padanya.
Arman melangkahkan kakinya menuju bagian belakang Bar. Arman melihat Alwi sedang sibuk membereskan beberapa botol bekas minuman para pelanggan.
"Alwi" teriak Arman.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?." tanya Alwi yang memperhatikan wajah Arman yang sepertinya dia kenali.
"Kamu temannya Karina yang OG di Sini juga, boleh aku minta alamatnya?." tanya Arman.
"Bukannya bapak yang beberapa hari lalu yang kami tolong karena pingsan di lantai Bar?." tanya Alwi.
"Iya benar sekali, kok kamu tahu?." tanya Balik Arman.
"Kalau gitu boleh saya minta nomor hpnya Karina atau alamat rumahnya?." ucap Arman yang berharap sekali.
"Kalau nomor hpnya gak ada pak karena Karina menjual hpnya demi pengobatan mamanya dan alamatnya di jalan suka damai lorong 2" ucap Alwi.
"Makasih banyak, dan ini ucapan Makasih saya karena kamu sudah menolongku tempo hari dan ini untuk informasi Karina." ucap Arman yang menyerahkan sekitar 10 lembar uang kertas merah. Othor kok gak dikasih yah hehehe.
Arman segera berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya ke alamat yang telah dia terima dari Alwi. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke alamat yang Arman cari.
"Ternyata ada tempat seperti ini di dalam kota yang sangat besar, gimana caranya mereka bisa hidup yah?." tanya Arman pada dirinya sendiri setelah melihat keadaan perkampungan tersebut.
Arman menimbang apakah dia masuk ke kompleks tersebut atau tidak. Mobil Arman menjadi sorotan dari semua orang yang melewatinya karena heran dengan kedatangan mobil sports yang sangat mewah dan tentunya mahal. Selama mereka tinggal di sana tak ada satupun mobil seperti itu memasuki daerah itu.
Arman merasa risih terus diperhatikan oleh semua warga masyarakat yang ada di sana.
Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang memakai pakaian kerja yang bertuliskan nama Bar yang biasa dia kunjungi dan sudah menjadi langganannya selama ini. Arman buru-buru membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah perempuan tersebut. Arman langsung menarik tangan cewek itu dan mendorong masuk ke dalam mobilnya.
"Aaaaahh tolong, ada pencuri!!!." teriak Karina yang terus meronta dan berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Arman dari tangannya.
Arman tidak berbicara sepatah kata pun dan hanya terus menyeret tangan Karina ke arah mobilnya.
"Siapa kamu, aku tidak punya apa-apa yang bisa kamu curi, kumohon lepaskan aku huhuuuhuhu" ucap Karina yang terkejut karena tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan didorong dengan kasar ke dalam mobil.
Arman kemudian melajukan mobilnya ke Arah jalan raya dan satu tangannya memegang setir sedangkan yang satunya lagi tetap memegang tangan Karina.
__ADS_1
"Tolong pak lepaskan Aku, aku tidak kenal bapak lagian aku tidak punya barang berharga apa pun Pak" ucap Karina lagi.
"Kamu bisa diam tidak?, Kalau kamu tidak diam aku yang diam" ucap Arman.
Yang membuat Karina tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan dari Arman.
"Pak kamu masih muda tapi kenapa mau menjadi seorang pencuri, dan bapak salah sasaran aku ini orang miskin pak makan saja apa adanya terus orang tuaku tidak punya uang untuk menebus saya pak, bapak rugi Kalau menculik saya" ucap Karina yang sudah seperti burung beo yang berkicau.
"kamu itu terlalu pede, Emangnya siapa juga yang mau menculik perempuan jelek dan Kampungan seperti kamu, aku rugi sangat kalau mencuri kamu" ucap Arman.
"Terus maksudnya bapak yang memegang tanganku sedari tadi dan langsung memasukkan aku ke dalam mobil bapak maksudnya untuk apa????." tanya Karina yang bingung dengan cowok tampan yang ada di depannya.
"Kamu bisa diam tidak kalau kamu gak diam aku akan menciunmu" ancam Arman.
Karina langsung terdiam setelah mendengar ancaman dari Arman.
"Tapi tolong lepaskan tangan Aku, sakit tahu" ucap Karina yang sudah merasakan sakit dipergelangan tangannya.
Arman segera melepaskan tangannya dan menghentikan mobilnya pas depan Bar tempat kerja Karina.
"Apa tidak ada tempat kerja lain yang bisa kamu tempati, sudah berapa lama kamu Bekerja di Bar ini?." tanya Arman yang bingung dengan jalan pikiran cewek yang ada di sampingnya itu.
"Banyak sih kalau masalah tempat kerja, tapi pekerjaan apa yang cocok untuk saya yang hanya tamatan Sekolah dasar pak? sedangkan adik dan mama saya butuh uang, mau tidak mau saya bekerja di sini, lagian pekerjaan saya Halal pak bukan jual diri kok" Tanya balik Karina yang heran dengan pria yang ada di sampingnya yang mempermasalahkan masalah Kerjaannya.
"Apa kamu tidak takut jika ada pelanggan yang mabuk dan ingin melukaimu?." tanya Arman lagi yang kepo dengan kehidupan Karina tapi dia juga bingung kok dia ingin mengetahui kehidupan Karina.
"Takut juga sih pak tapi Alhamdulillah sampai detik ini tidak ada tamu yang bersikap kurang ajar sama Saya, padahal saya kerja di sini sudah hampir empat tahun loh" ucap Karina yang mengingat resiko pekerjaannya.
"Kalau gitu Kamu masuk kerja saja dan ini ucapan terima kasih aku karena Minggu yang lalu kamu sudah menolongku" ucap Arman.
"Tidak usah pak Saya ikhlas menolong bapak kok" jawab Karina yang mengembalikan amplop cokelat pemberian Arman.
"Biasanya orang dikasih uang gak nolak ini malah nolak padahal dua butuh Sekali dengan uang itu?." monolog Arman.
"Maaf pak Saya membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan saya dan kemarin itu kebetulan bapak yang pingsan dan saya ada di tkp" ucap Karina yang tersenyum manis ke arah Arman.
Senyuman Karina berhasil menghipnotis Arman hingga membuat jantung Arman berdetak lebih cepat dari biasanya. Mereka saling bertatapan hingga Hp Arman berdering yang membuat Arman tersadar dari lamunannya begitu pun dengan Karina. Arman melihat siapa yang menelponnya tapi Arman langsung mematikan telponnya dan tidak ingin diganggu.
"Ambil saja, Aku ikhlas kalau kamu tidak mau ambil aku akan menciummu" ucap Arman yang memajukan bibirnya ke arah wajah Karina.
Karina langsung mengambil amplop itu kemudian berlari ke luar mobil dan terus berlari ke arah belakang Bar karena takut Jika Arman menciumnya. Sedangkan Arman tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dan reaksi Karina yang menurutnya lucu.
"Cewek aneh" ucapnya lalu mengemudikan mobilnya untuk segera ke kantornya.
To Be Continued..
Makasih banyak atas dukungannya kepada BDP 🙏
MET menjalankan ibadah puasa bagi yang berpuasa Yah ✌️
by Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang
__ADS_1
Makassar, 12 April 2022