
HAPPY READING...
Hari ini Emre pulang tidak seperti biasanya. Emre untuk pertama kalinya pulang terlambat bahkan Emre pulang jam 1 malam. Rina menunggu Emre pulang karena Rina sudah mengirimkan Chat ke HP Emre untuk membuat janji untuk makan malam bersama. Rina sengaja ingin makan malam bersama suaminya karena ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan. Rina tidak ingin menundanya lebih Lama lagi.
Tapi sampai jam 11 malam Emre belum juga muncul. Rina masih setia menunggu Emre pulang. Makanan yang dibuat oleh Rina pun sudah dingin. Rina juga belum makan malam gara-gara menunggu kepulangan Emre.
Rina duduk di kursi ruang tengah rumahnya. Rina membuka Sosmednya untuk menghilangkan rasa bosan dan ngantuknya.
"Nyonya mau dibuatkan sesuatu." tanya artnya.
"Aku minta tolong yah bik buatkan susu hangat saja" ucap Rina kepada artnya.
"Baik Nyonya" ucap Art tersebut.
Rina masih asyik berseluncur di Dumai dan entah kenapa Rina kepo dengan sosmed suaminya. Rina pun mulai mencari nama suaminya dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Rina menemukan nama Emre. Rina ragu untuk membuka dan melihat isi postingan Emre tetapi rasa penasaran dan rasa keponya lebih dominan dari rasa takutnya.
Rina dibuat terperangah ketika melihat postingan terakhir Emre. Emre sedang berfoto bersama seorang perempuan di lokasi proyek yang sedang dikerjakan oleh Emre. Walaupun dalam foto tersebut bukan hanya mereka berdua tetapi banyak pegawai bangunan maupun Karyawan lainnnya. Tetapi hati Rina merasakan rasa cemburu dan tidak suka melihat foto tersebut.
"Cantik, rambutnya panjang terurai, bodynya aduhai seksinya, pasti Abang tidak akan menolak jika perempuan itu menginginkan sesuatu" ucap Rina yang sudah meneteskan air matanya.
Entah kenapa selama kehamilannya ini, Rina lebih manja dan lebih cengen dari aslinya Rina.
"Pantesan Abang dengan mudahnya menyetujui permintaan aku yang tidak ingin satu kamar dengannya, mungkin Abang jijik atau gak suka aku di dekatnya" ucap Rina disela tangisnya.
Rina bebas menangis dan mengeluarkan uneg-unegnya karena ibunya sedang ke Desa untuk mengurus penjualan Sawah dan Rumahnya.
"Tega loh Bang lakukan ini kepadaku, Kalau Abang tidak mencintai adek kenapa Abang menikahi Rina Bang??" ratap Rina.
Rina pun Menangis bahkan sudah mengencangkan dan membesarkan suara tangisannya dan tidak peduli dengan orang-orang yang nantinya mendengar tangisannya.
Hingga Rina terlelap dalam tidurnya sambil memeluk hpnya yang masih on. Emre pulang setelah jam 1 malam. Emre sangat Lelah karena harus bolak-balik ke lokasi proyek dengan Perusahaannya. Emre menyalakan lampu ruang tengah rumahnya. Dan Emre langsung melihat Istrinya tertidur pulas di atas kursi.
Emre segera mendekati Rina dan ingin memindahkan Rina ke kamar mereka. Emre melihat susu cokelat yang ada dalam gelasnya masih utuh.
"Ini anak susah banget kalau disuruh minum susu" ucap Emre.
Emre menggendong Istrinya ala bridal style. Dan tidak sengaja Emre melihat ada bekas jejak air mata di ujung kelopak mata Istrinya. Emre membaringkan Rina ke atas ranjang king size-nya kemudian menyelimuti seluruh tubuh istrinya. Lalu Emre menghapus jejak air matanya Rina.
Emre segera ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh badannya yang terasa lengket. Setelah itu Emre segera ke ruang kerjanya untuk mengecek Cctv-nya yang ada di Ruang tengah. Emre Ingin tahu apa alasannya Rina menangis. Setelah beberapa saat akhirnya Emre tersenyum dan bahagia karena ternyata Rina cemburu dengan kedekatannya dengan Putri dari salah satu rekan kerjanya.
__ADS_1
"Ternyata kamu sudah mulai membuka hatimu untuk Aku" ucap Emre.
Emre Kemudian membuka ponselnya yang seharian ini dia lupakan. Ternyata banyak chat dan telpon dari Rina. Bahkan Rina mengirimkan Chat untuk mengajaknya makan malam di rumah. Tetapi Emre tidak tahu sama sekali akan chat itu.
Emre berlari ke arah kamarnya dan ingin segera menemui Rina. Andai saja Rina terbangun dari tidurnya mungkin Emre akan bersujud di hadapan Rina. Emre kemudian ikut berbaring di samping Rina. Emre masuk ke dalam selimut yang dipakai Rina. Emre sebenarnya ingin meminta haknya tetapi Emre takut jika Rina histeris dan kembali teringat dengan traumanya. Emre pun akhirnya memejamkan matanya dan ikut terbawa dalam dunia mimpi.
Keesokan paginya, Rina terbangun dari tidurnya dan merasakan ada benda yang menimpuk perutnya. Rina terbangun dan betapa kagetnya melihat Wajah Suaminya yang terlalu dekat dari wajahnya. Bahkan Emre memeluk tubuh Rina. Ada rasa nyaman dan hangat yang dirasakan oleh Rina disaat dirinya dipeluk oleh Suaminya sendiri yang untuk pertama kalinya Dia rasakan. Rasa yang tidak seperti rasa yang dia rasakan malam itu. Jantung Rina berdetak lebih kencang dari biasanya. Emre sebenarnya sudah bangun disaat Rina bergerak dan ingin menyingkirkan tangannya. Tetapi Emre berpura-pura tertidur kembali. Emre bisa merasakan jantung Rina yang berdetak kencang. Emre hanya tersenyum menanggapi Rina.
"Ya Allah ini jantung kok berdetak lebih cepat dan kuat yah, apa aku sakit, sebaiknya besok aku tanyakan ke dokter kandungan kebetulan besok jadwalnya untuk periksa." ucap Rina.
Rina tidak ingin melepaskan pelukan Emre dari tubuhnya saking nyamannya berada di pelukan Emre Rina Akhirnya tertidur kembali. Rina sudah mendengkur halus. Emre tersenyum melihat wajah polos Rina.
Sedangkan di Tempat lain, ada seseorang yang sedang asyik melihat pantulan dirinya di depan cermin bundar yang tergantung di dinding kamarnya. Orang tersebut tidak ingin dihari pertamanya bekerja Dia membuat kekacauan atau pun masalah.
Dessy segera mengambil Tasnya dan segera pamit kepada ke dua orang tuanya.
"Mi Dessy berangkat dulu yah" ucap Dessy kepada maminya.
"Kamu tidak sarapan dulu nak?? sebelum berangkat" ucap Mami Dessy.
"Aku makan di kantor saja Mi, takut terlambat" ucap Dessy sambil salim kepada maminya dan mencium pipi maminya.
"Waalaikum salam" ucap maminya Dessy.
Dessy berangkat ke tempat kerjanya untuk pertama kalinya. Deasy sangat bersyukur karena diterima bekerja di Perusahaan milik Arya suaminya Delia.
"Assalamu alaikum Mbak" ucap Dessy.
"Waalaikum salam, ada yang bisa kami bantu??" Tanya Resepsionis.
"Aku mau tanya ruangan asistennya presdir di bagian mana yah Mbak??" tanya Dessy.
"Kamu Dessy yah??" tanya Mbak itu.
"Iya Mbak Saya Dessy" jawab Dessy.
"Silahkan naik ke lantai 9, kamu sudah ditunggu" ucap resepsionis itu.
"Makasih banyak Mbak"
__ADS_1
"sama-sama kak" ucap Mbak itu.
Dessy berjalan ke lift dan menekan tombol 9. Pintu Lift terbuka lebar dan masuklah Dessy ke dalam Lift tersebut. Setelah beberapa saat, Dessy sampai ke lantai 9.
Tok.. tok.. tok..
Dessy terus mengetuk pintu ruangan atasannya. Dessy mengetuk pintu ruangan asisten pribadinya Arya hingga seseorang dari dalam mengijinkan Dessy masuk.
"Masuk" ucap Suara bariton dari dalam ruangan Asisten pribadi Presdir.
Dessy pun masuk ke dalam dan langsung duduk di kursi yang ada di depan atasannya. Karena posisi atasannya yang membelakangi Dessy sehingga Dessy tidak melihat penampakan wajah dari atasannya. Hingga sang atasan membalik kursinya langsung berhadapan dengan Dessy.
Dessy terkejut ternyata yang ada di depannya Adalah Dimas. Dimas yang sering hadir di saat Dessy butuh sandaran.
"Kamu" ucap Dessy."
"Iya Saya, emangnya kamu kira saya Hantu apa" ucap Dimas sambil tersenyum manis ke arah Dessy yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Bukan begitu aku kira bukan kamu yang menjadi atasanku" ucap Dessy sambil tertawa.
"Cantik" ucap Dimas.
"Maaf pak, bapak bicara apa tadi??." Tanya Dessy.
"Tidak ada kok" ucap Dimas.
Dimas pun menjelaskan kepada Dessy semua tugas dan pekerjaan Dessy dengan telaten dan sabar. Dimas senang karena Dessy cepat tanggap dengan semua yang dia jelaskan.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar dan masuklah seseorang yang memanggil Dimas dengan sebutan Papi.
TBC...
FANIA udah ngantuk nih tapi tidak ada yang mau kasih secangkir kopi ๐ข๐๐คงโ๏ธโ๏ธ.
Atau setangkai mawar juga boleh dengan senang hati Fania terima ๐คญโ๏ธโ.
Jangan Lupa terus dukung BDP yah Readers ๐๐.
Bu Fania Mikaila AzZahrah.
__ADS_1
Makassar 28 Februari 2022