
Happy Reading..
Hyuna tergesa-gesa berlari ke arah kamarnya yang ada di Villa milik Mama Elisabeth bersama suaminya Hendry Wijaya Lim. Setiap anggota Keluarga Mama Elisabeth yang sering berkunjung ke Villa tersebut sudah memiliki kamar pribadi masing-masing.
Hyuna saking terburu-burunya sehingga melupakan dan mana dirinya berada. Hyuna hampir saja terjatuh gara-gara tidak hati-hati saat berlari dikarenakan lantai yang baru saja di bersihkan plus dipel. Untung saja ada Rian yang menolongnya sehingga terbebas dari mencium tanah air tercinta.
"Makasih banyak" ucap Hyuna malu-malu dengan wajahnya merona merah seperti tomat matang yang siap dipanen buahnya.
"Sama-sama dan tolong berhati-hati lah kalau berlari dan ingat di sini bukanlah Lapangan bola yang siapa saja bebas berlari ke sana kemari, tetapi ini adalah rumah jadi kedepannya jangan diulangi lagi Nona Hyuna" ucap Rian panjang lebar yang di dalam hatinya tersenyum melihat Hyuna yang malu.
"Kamu bawel juga ternyata bahkan ngalahin Emak-emak yang sedang antri dan berebut minyak goreng di A.M saja" ucap Hyuna sambil berlalu dari hadapan Rian karena semakin sedikit Waktu shalat ashar.
Hyuna berlari menaiki undakan tangga dan berhenti sejenak melihat ke arah Rian yang tiba-tiba ada desiran aneh yang muncul dari dalam hatinya saat mata mereka saling berserobot. Tapi Hyuna langsung melanjutkan langkahnya setelah Rian memberikan senyuman terindahnya yang Dia miliki.
"Kapan kamu bisa menghilangkan kebiasaan cerobohmu itu".
Hyuna segera melaksanakan Shalat ashar yang sempat tertunda gara-gara insiden kecil yang hampir saja membuatnya tergelincir di lantai. Hyuna melaksanakan shalatnya dengan penuh khusyuk dan tidak lupa membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Hyuna merapikan dan melipat perlengkapan shalatnya lalu menyimpannya ke dalam lemari yang ada di dalam kamarnya.
Hyuna duduk di atas ranjangnya dan mencari keberadaan Hpnya sedari tadi berdering. Hyuna tidak menemukan keberadaan hpnya di atas meja nakas tempat tidurnya lalu merogoh tas selempangnya hingga semua isi tasnya berhamburan keluar.
"Hpku ada di mana yah? seingat aku tadi aku menaruh di dalam sini deh tapi kok gak ada terus sumber suara dari nada dering hpku asalnya dari mana?".
Hyuna tidak menemukan hpnya, tetapi matanya menangkap sesuatu benda yang berkilauan terkena pantulan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya melalui celah tirai yang terpasang di dalam kamarnya tersebut.
"Ini kan cincin milik Mas Alan yang sedari dulu Aku cari, tetapi kata orang-orang Mas Alan tidak memakai cincin apa pun itu, dan kenapa cincin ini ada di dalam tasku padahal tadi tidak ada apa pun emas yang aku simpan di dalam tasku".
Hyuna memakai cincin tersebut di jari telunjuknya karena cincin itu kebesaran di dalam jarinya yang lain. Hyuna pun mengamati sedemikian rupa terhadap cincin tersebut tetapi masih bingung sekaligus tidak percaya apa yang sudah terjadi.
"Apa Aku harus memberitahukan hal ini kepada Kakak Arya dan mencari tahu tentang misteri apa yang terjadi dibalik kematian Mas Alan, Aku harus segera ke Perusahaan DA kalau gini".
Hyuna pun meraih tas selempangnya sekaligus Hpnya yang ternyata terletak dibawah bantal. Hyuna berlari kembali menuruni tangga hingga ke garasi tempat mobil berada. Hyuna hanya memakai mobil yang ada kuncinya di pos Security.
"Pak Udin saya ambil Kunci mobil Kakak Ratna yah dan kalau Mama Elisabeth mencari saya katakan kepada beliau kalau saya tiba-tiba ada urusan penting yang mendadak" teriak Hyuna yang sudah masuk ke dalam mobilnya dan sudah duduk di depan kemudiannya.
"Pesan Nona siap disampaikan" jawab Pak Udin.
"Aku mohon cepatlah sebelum terlambat dan segera selamatkan saya dari perempuan gila itu".
Hyuna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi hingga membuat beberapa pengendara motor dan mobil yang merasa terganggu mengumpat ke arah Hyuna.
__ADS_1
"Kalau tidak pintar kemudikan mobil diam baek saja di rumahmu" teriak pengendara sepeda motor matik tersebut yang hampir terjatuh gara-gara Hyuna yang bawa mobil dengan ugal-ugalan.
"Kamu sudah bosan hidup yah? kalau sudah bosan hidup jangan di jalan Raya, ini bukanlah tempat nenek moyang loh" ucap pengendara ojol yang motornya oleng gara-gara cara mengemudi mobil Hyuna yang sudah seperti orang kesetanan saja yang melupakan segalanya.
"Maaf Pak" teriak Hyuna ketika dia berhasil menyembulkan kepalanya ke arah jendela mobilnya.
Hyuna pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lagi, untungnya tidak banyak pengendara mobil atau pun sepeda motor yang lewat di sekitar mereka.
Hyuna tanpa henti melajukan mobilnya itu kalau melanggar bukan Dia yang dicari tapi melainkan Ratna atau Pak Hendry sang pemilik mobil tersebut. Hingga Mobil tersebut berhenti dan berhasil dengan selamat hingga ke depan Loby Perusahaan DA. Hyuna tidak memarkirkan mobilnya dengan baik.
"Semoga kakak Arya bisa membantuku dan mencari tahu apa yang sudah terjadi".
Hyuna kembali berlari ke dalam perusahaan DA tanpa melalui Loby Perusahaan DA. Hyuna pun masuk ke dalam Lift khusus petinggi dan pemilik perusahaan. Hyuna pun sudah sampai ke Lantai tempat Kantor pribadi milik Arya berada. Hyuna tanpa basa-basi langsung memegang handle pintu dan memeriksa ada Orang apa tidak.
"Kakak" teriak Hyuna dengan nafas yang memburu dan ngos-ngosan sehingga membuat Arya dan Dimas menatap dengan heran sekaligus bingung ke arah Hyuna.
"Apa yang terjadi kepadamu Hyuna?" tanya Arya sang CEO Perusahaan DA milikya. Dimas yang keheranan melihat Hyuna yang sudah banjir keringat bahkan bajunya sudah bermandikan Air keringatnya sendiri.
Dimas lalu berdiri dan berjalan untuk mencari gelas bersih. Dan menuang air putih ke dalam gelas tersebut kemudian menyodorkan gelas tersebut ke arah Hyuna, Hyuna pun mengambil gelas tersebut tanpa ba-bi-bu lagi.
"Minum air ini dulu dan kamu beristirahat lah sejenak setelah kamu minum air itu" ucap Arya.
"Segarnya air putih ini" ucap Hyuna Setelah berhasil meminum air putih tersebut.
"Bukan hantu tapi seperti orang yang kebelet ingin ke kamar mandi" ucap Dimas yang tertawa dengan perkataannya sendiri.
Hyuna hanya melepaskan cincin yang ada di jari telunjuknya tersebut dan menaruh cincin itu dihadapan ke dua kakak sepupunya. Arya dan Dimas saling berpandangan dan Dimas menaikkan pundaknya tanda tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Hyuna.
"Ada apa dengan cincin ini, apa kamu kekurangan uang sehingga kamu ingin menggadaikan cincinmu?" tanya Dimas yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kakak Dimas Aku serius bukan lagi bercanda!!" teriak Hyuna yang jengah mendengar perkataan dari Dimas.
"Terus kalau bukan itu, untuk apa Kamu melepas cincin pernikahan kamu?" tanya Dimas.
Sedangkan Arya hanya menjadi penonton dan terdiam melihat interaksi ke duanya.
"Apa Kakak masih ingat sewaktu Hyuna sembuh dari penyakit Hyuna, Waktu itu Hyuna mencari cincin Mas Alan tapi kalian bilang Mas Alan tidak memakai Cincin apa pun di jarinya?". tanya Hyuna yang ingin memastikan apa saudaranya ini masih mengingat peristiwa itu.
"Seingat Kakak waktu itu Kakak sudah memeriksa jarinya Alan tapi tidak ada satu pun cincin yang tersematkan diajarinya Alan dan karena itulah aku curiga dengan kecelakaan maut yang dialami oleh Alan suami kamu itu" ucap Arya yang meneliti cincin tersebut.
__ADS_1
"Iya itu benar sekali, bahkan Aku ke TKP mencari keberadaan cincin itu jangan sampai terlepas saat kejadian tapi hasilnya nihil" timpal Dimas.
"Apa jangan-jangan ini milik Alan?, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa bisa ada di dalam tasku Kak dan Saya tidak tahu siapa yang memasukkan cincin itu padahal setahu saya seingat Saya, tasku ini selalu saya pakai" ucap Hyuna yang semakin bingung dengan misteri Cincin itu.
"Bagaimana kalau kita mengecek langsung ke Toko perhiasan emas tersebut, Apa kamu masih ingat toko itu?" tanya Arya.
"Iya Kak, Aku sangat ingat dengan jelas karena Pemilik Toko tersebut adalah sahabatnya ibu mertuaku" jawab Hyuna.
"Kalau gitu kita ke Toko itu untuk memastikan apa ini asli dibuat di sana atau cuma imitasi saja dan apa lagi yang kalian tunggu?" ucap Arya lagi yang berdiri lalu mengambil jasnya serta kunci mobilnya. Hyuna dan Dimas pun berjalan mengikuti langkah Arya.
Mereka pun sudah berada di dalam mobil yang sama, sedangkan mobil yang dipakai tadi oleh Hyuna sudah diantar oleh supir pribadi yang bekerja di Perusahaan DA. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai ke Toko perhiasan emas tersebut.
Hyuna langsung mendatangi pegawai toko tersebut dan bertanya di mana keberadaan pemilik Toko itu.
"Maaf Mbak apa bapak Markus ada di Sini?" tanya Hyuna.
"Bapak ada di dalam ruangannya kalau Ibu ingin bertemu Saya akan menghubungi Bapak" ucap Pegawai tersebut.
Setelah beberapa saat Hyuna menunggu pegawai tersebut, Keluarlah Bapak Markus sebagai pemilik toko perhiasan tersebut dengan gayanya yang agak gemulai dengan gestur tubunnya seperti pria cantik.
Pak Markus langsung memeluk tubuh Hyuna Karena Pak Markus sudah mengenal Hyuna dengan baik.
"Gimana kabarnya cantik?" tanya Pak Markus.
"Alhamdulillah baik Pak, Oiya Saya datang ke sini karena ada yang ingin Saya tanyakan kepada bapak dan ingin memberikan sangat penting" ucap Hyuna yang memaparkan maksud kedatangannya.
"Kalau gitu kita berbicara di dalam ruanganku saja" tawar Pak Markus yang disetujui oleh mereka.
Mereka berjalan ke arah ruangan pribadi Pak Markus. Tanpa basa-basi lagi Hyuna pun mengeluarkan cincin tersebut ke hadapan Pak Markus.
"Apa bapak masih ingat dengan cincin ini?" tanya Hyuna.
Pak Markus memeriksa cincin tersebut dan sesekali menggigit cincin itu. Pak Markus menatap ke arah mereka dengan wajah yang sulit untuk ditebak.
To Be Continued...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian. FANIA bersyukur karena masih ada tetap setia mendukung BDP walaupun tidak bergabung dengan grup Chat FANIA dan selalu hadir di setiap Updatenya BDP 🙏🙏🥰.
Jangan Lupa untuk selalu memberikan dukungannya kepada BDP dengan Cara Like, Favoritkan, Rate Bintang 5 dan kalau ada poinnya bisa kasih Setangkai Bunga Mawar Merah untuk GIFT BDP ✌️🤭.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at, 06 Mei 2022