Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 123. Rina dan Emre


__ADS_3

Happy Reading...


Delia tanpa aba-aba langsung menampar wajah ganteng Emre setelah mendengar kenyataan dari mulut Emre. Delia sangat prihatin dengan kondisi dan kesehatan Rina. Delia takut jika terjadi sesuatu kepada jabang bayi Rina.


Arya berusaha menenangkan istrinya yang emosinya sudah tersulut.


"Emre, Maafkan atas tindakan istriku" ucap Arya.


"Tidak apa-apa kok Arya, wajarlah Delia marah. Siapa pun yang berada diposisi Delia pasti akan marah juga" ucap Emre sambil mengelus pipinya yang panas dan kemerahan.


"Aku juga tidak membenarkan apa yang kamu lakukan tapi aku tidak bisa ikut emosi, kita harus Fikirkan dampaknya terhadap kesehatan Rina dan bayinya, jika Saya marah dan Esmosi itu sama saja menambah beban dan masalah kalian" ucap Arya.


Delia segera kembali ke kamar Emre karena Delia mendengar ada suara benda jatuh.


"Rina, Aku mohon jangan lakukan itu, ingat ada bayi dalam perut kamu, apa kamu gak kasihan sama Bayimu??" ucap Delia yang berusaha untuk mencegah apa yang dilakukan oleh Rina.


"Stop! kalau kamu maju selangkah saja, aku akan mengakhiri hidupku" ancam Rina yang ingin mengiris pergelangan tangannya.


Emre dan Arya yang melihat itu segera bertindak untuk mendekati Rina secara diam-diam.


"Rina, istighfar Rina, ingat masih ada Allah dan kami yang akan membantumu, tolong jangan


seperti ini, apa kamu tidak kasihan kepada Bayimu?" ucap Delia sambil meneteskan air matanya.


Rina terpengaruh dengan perkataan Delia sehingga tidak ada lagi pergerakan dari Rina. Emre segera mengambil pecahan pas bunga dari tangan Rina.


Dan langsung memeluk tubuh Rina. Dan entah kenapa Rina menurut saja waktu Emre memeluk tubuhnya padahal sebelumnya Rina sempat histeris jika Emre mencoba mendekatinya.


Rina mempererat pelukannya dan langsung menangis tersedu-sedu. Rina yang seakan-akan menumpahkan segala gunda gulananya lewat pelukan dan tangisannya di dalam pelukan Emre.


Emre menatap ke arah Delia untuk meminta ijin agar Emre bisa membalas pelukan Rina. Emre tidak ingin dicap dan dikatakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Delia mengerti maksud dari tatapan mata Emre, sehingga Delia menganggukkan kepalanya tanda Dia setuju dengan permintaan Emre.


"Aku takut sekali, gimana kalau orang-orang menganggap aku wanita murahan yang hamil di luar nikah" Ucap Rina di sela tangisnya.


"Orang-orang tidak akan tahu Rina, kalau kita segera menikah" ucap Emre.


Rina langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Emre.


"Maksudnya kamu ingin menikah dengan Aku??" Tanya Rina.

__ADS_1


"Iya, Aku akan menikahi dirimu segera dan kalau bisa sekarang pun Aku bisa menikahimu" ucap Emre.


"Apa kamu tidak malu jika menikahi perempuan yang sudah tidak perawan lagi?" ucap Rina sambil menatap ke dalam Mata Emre yang seakan-akan mencari kebenaran dan kebohongan dari perkataannya.


Emre Ingin menjelaskan kepada Rina tentang apa yang telah Dia lakukan tetapi Delia segera memberi kode kepada Emre untuk sementara tidak berkata jujur mengingat Rina fikiran Rina yang sedang kacau dan trauma.


"Jika kamu setuju, Aku akan melamarmu kepada ke dua orang tuamu" ucap Emre.


"Tapi aku sedang hamil anak pria lain Kak, apa kamu bersedia menerima dan merawatnya seperti anak kandung kamu sendiri??" tanya Rina.


Arya dan Delia meneteskan air matanya melihat interaksi Antara Emre dan Rina. Mereka tidak ingin jika Rina kembali histeris dan berbuat sesuatu yang membahayakan bagi dirinya dan calon bayinya. Sehingga mereka memutuskan untuk menutupi kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya dari Rina. Mereka perlahan-lahan akan menjelaskan kepada Rina jika Kondisi kesehatan dan mental Rina sudah membaik.


Emre menganggukkan kepalanya tanda Dia setuju dengan perkataan Rina.


"Iya, Aku setuju menikahimu dan menerima segala keadaan kamu" ucap Emre dengan sungguh-sungguh.


"Makasih banyak Kak" ucap Rina sambil memeluk tubuh Emre.


Beberapa saat kemudian, Akhirnya Rina sudah kembali tenang dan kondisinya berangsur membaik.


"Kalau gitu Saya akan membawa pulang Rina, Karena kondisinya sudah membaik dan tidak baik jika Rina masih di sini bahaya" ucap Delia.


"Iya, Emre kami berniat ingin membawa pulang Rina ke rumahku, kami takut jika Rina tinggal seorang diri di rumahnya bisa melakukan hal yang berbahaya lagi" ucap Arya.


"Aku mohon jaga Rina dengan baik, aku sangat khawatir dengan keadaannya" ucap Emre.


"Tenang brotha, tanpa kamu bilang pun kami pasti menjaganya" ucap Arya.


"Alhamdulillah kalau gitu, Aku bisa tenang" ucap Emre.


"Kamu persiapkan saja dirimu untuk segera datang ke rumah untuk melamar Rina, kalau bisa secepatnya sebelum perut Rina semakin membesar" ucap Arya sambil menepuk pundak Emre.


"Saya sudah menghubungi ke Dua orang tua Rina, dan katanya mereka akan datang ke Kota" ucap Delia.


"Aku mohon bantuan kalian, Aku tidak tahu dan mengerti adat orang sini jika ingin melamar" ucap Emre memohon bantuan kepada Delia.


"Ok, kami siap membantu, kalau gitu Kami pamit pulang dulu" ucap Arya.


"Assalamualaikum" ucap Arya dan Delia.


"Waalaikum salam" ucap Emre.

__ADS_1


Delia membantu Rina untuk berjalan ke luar Kamar Hotel. Tetapi Rina selalu menatap ke arah Emre yang seakan-akan Rina tidak ingin berpisah jauh lagi dari Emre.


Ke Esokan Harinya, orang tua Rina sudah tiba di kediaman Delia. Atas permintaan Delia sendiri m Delia menginginkan acara lamaran dan Ijab qobul dilaksanakan di Rumahnya saja. Mereka duduk santai di belakang rumah Delia.


"Makasih banyak Nak Delia, andai saja kamu tidak ada, Bibi tidak akan tahu lagi gimana nasib Rina" ucap mamanya Rina.


"Bibi ngomong gitu kayak sama orang lain saja" ucap Delia sambil membalas pegangannya dari tangan mamanya Rina.


"Jadi kapan Emre datang melamar Rina nak??" Tanya Mamanya Rina.


"Insya Allah besok Emre dan keluarganya akan datang Bi" ucap Delia.


"Alhamdulillah kalau gitu nak, bibi sangat senang mendengarnya" ucap Mamanya Rina sambil mengusap air matanya dari wajahnya.


"Pisang goreng buatan Bibi selalu enak dan tidak ada Duanya loh Bi" ucap Delia yang mengalihkan pembicaraan mereka agar Bibi Musdalifah tidak semakin sedih.


Mereka menyantap pisang goreng buatan Bibi Musdalifah yang sudah terkenal rasanya yang enak dan garing. Karena Di Desa Bibi Musdalifah membuka warung kopi yang menyediakan aneka gorengan dan minuman yang sudah terkenal seantero kabupaten T.


Sedangkan di Hotel DA, Emre sangat bahagia karena Rina tidak lagi menghindarinya dan takut jika mereka berdekatan. Hati Emre semakin berbunga-bunga setelah membaca Chat yang dikirim oleh Rina kepadanya.


📲"Assalamu alaikum Kak Emre"


Itulah pesan singkat dari Rina yang membuat Hati dan fikirannya tertuju ke pada Rina seorang. Bahkan Emre senyum-senyum sendiri dan melupakan keberadaan Asisten pribadinya yang kebetulan berada di Dalam Kamar Hotelnya.


Saking gembiranya Emre sampai lupa membalas Chat Rina. Asisten pribadinya pun tidak ingin mengganggu aktifitas dan kesenangan dari bos besarnya. Entah kenapa apa yang dirasakan Oleh Emre kepada Emilia dan Rina sangat lah berbeda. Perasaan rindu dan berdebar tak pernah Dia rasakan saat mencintai Emilia dulu.


Asisten pribadinya Emre dibantu oleh keluarga besar Wiguna untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa esok hari sebagai seserahan pernikahan sudah siap. Tinggal menunggu Uncle Emre dari Turkey saja.


Emre adalah anak yatim-piatu dan tidak memiliki saudara. Emre adalah anak tunggal dari orang tuanya. Sedangkan orang tuanya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Jadi Uncle nya lah yang menggantikan posisi ke dua orang tuanya yang kebetulan menetap dan tinggal di Turki.


TBC..


🙏Typo Mohon dimaklumi 🙏


Fania mo ke Pasar beli baju dulu yah.. kan mau nunggu Bang Emre dan rombongan datang melamar Rina di rumah megah dan mewah Arya Wiguna Albert Kim Said.🤭✌️


Alhamdulillah Makasih Banyak kakak Fania ucapkan kepada Readers yang selalu setia mendukung BDP 🙏💞.


Fania senang baca komentar kalian loh..🥰.


Jangan bosan yah Kakak Readers untuk selalu menunggu Updatenya BDP 🙏.

__ADS_1


By FANIA Mikaila AzZahrah 💋.


__ADS_2