Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 244. Rian or Alan


__ADS_3

Happy Reading..


Hyuna terpesona pada senyuman Koki baru yang bekerja di Villa Mama Elisabeth. Senyuman itu mengingatkan dirinya tentang almarhum suaminya.


"Kenapa senyumannya membuat Aku mengingat kamu sayang, tapi itu tidak mungkin kamu, karena kamu sudah tenang di sana, Mas Aku merindukan kamu sangat sangat merindukan kehadiran kamu, andai saja kami masih hidup betapa bahagianya Aku Mas".


Hyuna terus memandangi wajah Koki teresebut. Dan semakin Dia menatap wajah Rian semakin terlintas di kepalanya wajah Alan suaminya. Hyuna tanpa sadar semakin berjalan ke arah Rian yang sedang menyelesaikan masakannya yang tersisa. Para maid yang kebetulan berada di dalam dapur tersebut hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke arah Hyuna dan itu berlaku untuk semua Maid dan tidak boleh ada berani menatap langsung ke anggota keluarganya, aturan tersebut berlaku sedari dulu di keluarga besar Hendry.


Langkah kaki Hyuna semakin dekat dengan Rian sedangkan Rian tidak mengetahui jika Hyuna sudah berada di belakangnya.


"Maaf ada yang bisa kami bantu?" tanya kepala Koki yang langsung menghentikan langkah kaki Hyuna dan tangannya yang sudah ingin memegang lengan tangan Rian hanya bisa menggantung di udara tanpa mampu untuk menyentuh Rian.


Rian pun langsung membalikkan badannya dan matanya tanpa sengaja bersirobot dengan netra hitam milik Rian. Rian pun membalas pandangan mata Hyuna. Dan akhirnya mereka saling berpandangan seakan-akan mereka saling menyelami perasaan masing-masing.


"Mommy kok lama banget sih ngambil makanannya, Arjuna kan lapar Mommy" ucap Arjuna yang merengek karena sudah lama menunggu makanan yang dibawa oleh Hyuna tapi tidak kunjung datang.


"Maafkan Mommy sayang, katanya Pak Koki Arjuna harus menunggu beberapa menit lagi, Arjuna bisa kan nunggu Pak Koki untuk masak Sup konronya lagi?" ucap Hyuna yang langsung menatap Rian.


Sedangkan Rian yang ditatap seperti itu pun langsung mengerti dan tidak lama kemudian sudah membawa satu mangkuk mug besar yang berisi Sup konro yang sudah menggugah selera makan Hyuna dan langsung melupakan apa yang telah terjadi kepadanya tadi.


Keluarga besar Wiguna Albert Kim Said dan Hendry Wijaya Liem berkumpul bersama di hari nan Fitri mereka saling berbaur satu sama lainnya. Bahkan mereka seperti seakan-akan tidak pernah terjadi masalah diantara mereka. Darah lebih kental dari pada Air, itu lah pepatah yang cocok dengan perumpamaan yang menggambarkan kedekatan dan keakraban mereka.


Zack mendekati Keyna dan sepupunya yang lain. Zack bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan sanak saudaranya. Sedangkan Amanda pun sangat bahagia karena akhirnya Keyna dan Raditya bisa menerima kehadirannya sebagai putri dari Papinya dari perempuan lain.


"*Makasih banyak ya Allah Aku masih bisa berkumpul dengan keluargaku walaupun mereka tidak ada mengenaliku".


"Alhamdulillah senyuman kalian adalah kebahagiaan Mama".


"Saya sangat bahagia karena Mama Elisabeth masih bisa tersenyum bahagia dan hidup berbahagia dengan suaminya, semoga kami anak-anaknya pun bisa berbahagia hingga kami kakek Nenek*".


Beberapa hari kemudian, Adrian dan Emilia sudah bersiap untuk pulang ke Amerika serikat tepatnya di New York city, begitu pun halnya dengan Eliana dan Mark, tapi kali ini memboyong Amanda ke Inggris dan rencananya Amanda akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Inggris London. Emre dan Rina pun sudah berangkat ke Turky. Zack dan Zoe juga sudah kembali ke Inggris dan Korea Selatan, Aditya dan Helena juga hari ini berangkat ke Sidney Australia. Tinggallah Arya dan Delia, Dimas dan Dessy dan Hyuna dengan baby Arjuna yang kembali ke rumah masing-masing. Karina dan Arman berencana bulan madu ke Dubai dan Ratna Antika Monata bersama dengan suaminya Firman pun akan honey moon ke Italia yaitu negara yang terkenal dengan menara Pisa nya.


Senyuman di wajah Mama Elisabeth dan Pak Hendry tidak pernah pudar bahkan luntur sedikit pun saking bahagianya melihat anak cucumu hidup bahagia bersama dengan pasangan mereka.

__ADS_1


Dua bulan kemudian, Mama Elisabeth hari ini berencana ingin masak makanan khas Korea tetapi kesulitan karena stok bahan makanan untuk bahan dasar makanan tersebut habis di lemari pendinginnya. Mama Elisabeth pun meminta tolong kepada Rian untuk mengantarnya.


"Rian hari ini kamu sibuk gak nak? soalnya Ibu mau minta tolong sama kamu untuk mengantar Mama ke swalayan terdekat karena Mama mau masak makanan khas Korea Selatan" ucap Mama Elisabeth yang ingin lebih dekat dengan Rian karena entah kenapa perasaannya aneh dan ada rasa rindu yang mendalam yang mama Elisabeth rasakan saat dirinya berdekatan dengan Rian.


"Kenapa yah jika Aku menatap ke arah Rian wajah almarhum Alan yang selalu terlintas?"


"Makanan semuanya sudah siap Nyonya jadi mungkin saya bisa menbantu Nyonya, kalau boleh tahu Nyonya minta tolong apa?" Tanya Rian.


"Temani Saya ke Swalayan terdekat kebetulan, Saya mau masak makanan Korea Selatan tapi bahannya tidak tersedia di Kulkas" Jawab Mama Elisabeth.


"Baik Nyonya" ucap singkat Rian.


Mereka pun sudah berjalan ke arah mobil yang sudah selesai dipanasi oleh pak Udin selaku supir pribadi mama Elisabeth.


"Makasih banyak Pak" ucap Rian dan langsung mengambil kunci mobil yang ada di atas meja.


"Sama-sama" jawab Pak Udin yang merangkap tukang kebun dan juga supir.


"Aunty tunggu Hyuna dong" teriak Hyuna.


"Tunggu dulu Alan, Hyuna ingin ikut bersama kita" ucap Mama Elisabeth yang sudah tidak menyadari apa yang dia katakan barusan yang menyebut nama Rian dengan mengganti namanya menjadi Alan.


"Maaf Nyonya nama saya Rian bukan Alan" ucap Rian yang meluruskan perkataan dari Mama Elisabeth.


"Maaf Saya tidak sengaja, mungkin saya terlalu merindukan keponakan saya yang sudah meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas yang dialaminya" ucap Mama Elisabeth yang langsung meneteskan air matanya saking rindunya Mama Elisabeth kepada keponakannya itu.


Mama Elisabeth tidak membedakan antara anaknya sendiri dengan keponakannya sehingga semua anggota keluarganya selalu dekat dengannya. Rasa sayang yang diberikan oleh Mama Elisabeth rata tanpa ada perbedaan diantara anak dan keponakannya. Mama Elisabeth tidak menyangka jika akan menyebut nama Alan.


"Authy Hyuna boleh ikut gak?" tanya Hyuna.


"Ayok buruan masuk, jangan lama berfikirnya kasihan Rian" ucap Mama Elisabeth yang melihat Hyuna terdiam saja dan tangannya sudah memegang pintu mobil. Mobil pun melaju ke arah jalan ibu kota M, Hyuna diam-diam mencuri pandang dengan Rian sedangkan Rian yang tahu kalau Hyuna sedari tadi menatapnya langsung hanya pura-pura tidak melihatnya. Dan membuat Rian grogi saja karena sedari tadi diperhatikan oleh Hyuna.


"Hyuna, kenapa kamu gak ajak Arjuna nak?" tanya Mama Elisabeth.

__ADS_1


"Arjuna ke rumah Omanya Aunty tadi pagi dijemput sama Mama Anna" Jawab Hyuna.


"Mama kamu baik-baik saja kan Nak?" tanya Mama Elisabeth.


"Alhamdulillah Mama sehat dan baik-baik saja kok Aunty, tadi titip salam sama Aunty katanya belum ada waktu untuk berkunjung ke Villa Aunty" timpal Hyuna.


"Authy masih tidak percaya jika Alan sudah tiada, Aunty entah kenapa akhir-akhir ini serasa Alan berada di dekat Aunty" ucap Mama Elisabeth sambil menghapus air matanya.


"Hyuna juga demikian Aunty, Hyuna merasa yang meninggal dunia waktu itu adalah orang lain bukan suami Hyuna Aunty dan ada rasa aneh yang Hyuna rasakan belakangan ini" ucap Hyuna yang arah pandangan matanya tertuju sedari tadi ke arah Rian yang serius mengemudikan mobilnya.


"Kamu harus perbanyak berdo'a untuk kebaikan dan keselamatan Alan nak, biar Alan tenang di sana" ucap Mama Elisabeth.


"Iya Aunty, Hyuna selalu mendoakan yang terbaik untuk suami Hyuna" ucap Hyuna.


Mobil mereka sudah memasuki area parkiran swalayan tersebut.


"Mobil mereka sudah berada di depan swalayan jadi apa yang harus kami lakukan Nona?".


"Kamu terus awasi mereka jangan biarkan mereka lolos dari pengawasan Kalian, Aku akan segera ke sana".


Hyuna dan Mama Elisabeth sudah berada di dalam swalayan tersebut dan sibuk memilih bahan makanan yang akan mereka beli. Tiba-tiba Mereka menoleh karena ada seseorang yang berjalan ke arah mereka yang memanggil nama Rian.


"Rian" teriak seseorang.


To Be Continued..


Makasih banyak kepada kakak Readers yang masih setia baca Bertahan Dalam Penantian 🙏.


Tetap dukung BDP Yah Readers 🙏🥰


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Kamis, 05 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2