Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyusul Istrinya


__ADS_3

Namun, hanya berselang beberapa menit Ernest kembali terbangun akibat dia tidak bisa tertidur dengan tenang. Seakan-akan pikirannya selalu tertuju pada kondisi Moana yang sedang hamil.


"Aarghhh, menyusahkan! Apa dia lupa, di dalam perutnya itu ada anakku. Lantas bila terjadi sesuatu pada anakku bagaimana, hahh? Dasar wanita egois!"


Ernest langsung bangkit dari ranjangnya dalam keadaan tergesa-gesa. Kemudian Ernest mengambil jaket serta kunci mobil untuk menyusul istrinya.


Semua itu Ernest lakukan bukan semata-mata karena dia peduli sama Moana, melainkan dia hanya takut jika kedua orang tuanya akan memarahinya. Jikalau sesuatu buruk sampai terjadi pada menantu dan juga cucu kesayangannya.


10 menit berlalu, Ernest mencoba untuk menelusuri jalan utama yang akan di lewati oleh Moana. Akan tetapi, Ernest tidak juga menemukan keberadaan Moana.


Rasa kesal kini mulai menyelimuti hatinya, hanya saja Ernest tidak ingin menyerah dengan cepat. Dia harus kembali lebih fokus menelusuri semua jalan yang terlihat sangat gelap, demi menemukan keberadaan istrinya.


Benar saja, usaha Ernest tidak sia-sia. Dia berhasil menemukan Moana yang sedang berjalan dalam keadaan menangis.


Tak perlu basa-basi lagi, Ernest menghentikan mobilnya. Kemudian keluar mendekati istrinya yang hanya melihatnya sekilas.


"Masuk mobil!" titah Ernest. Dia berjalan tepat di belakang Moana.


Sayangnya, Moana tidak menggubris perkataan suaminya sama sekali. Sebab, Moana masih merasa sakit hati atas ucapan Ernest yang berhasil melukai hatinya. Pada akhirnya Moana berjalan sangat cepat sambil mengusap air matanya.


"Kau itu budek, apa tuli sih!" pekik Ernest menyeimbangi langkah Moana.


"Tidak perlu peduli denganku, lanjutkan saja tidurmu. Ngapain juga repot-repot menyusulku!" jawab Moana ketus.

__ADS_1


"Hey, Nona. Saya tidak peduli apapun yang akan kau lakukan itu hakmu, tapi jangan pernah lupakan bila anak yang ada di dalam perutmu itu adalah an--"


Moana menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arahnya. Begitu juga Ernest, dia tiba-tiba ikut menghentikan langkahnya tepat di depan Moana sambil melihat mata Moana yang mulai bengkak.


"Dia bukan anakmu, Tuan. Akan tetapi, dia adalah anakku. Anakku, paham!"


Perkataan itu sengaja Moana tekankan, ketika dia mendekatkan wajahnya ke arah Ernest supaya dia bisa melihat kemarahan yang ada di dalam sorotan matanya.


Ernest terkejut atas perlakuan istrinya. Bibirnya seakan membeku, tubuhnya mulai terasa kaku. Akan tetapi ketika Moana ingin kembali pergi meninggalkannya, tangan Ernest refleks langsung menariknya.


Jantung Moana berdetak tidak karuan saat tubuhnya menabrak bidan keras suaminya. Mata mereka pun saling menatap, sampai akhirnya Ernes menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah Ernest mendudukan Moana di kursi depan sambil mengaitkan sabuk pengaman, dia langsung segera berlari kecil kembali duduk di kursi pengemudi.


Ernest menghentikan mobilnya sejenak, lalu dia membenarkan tempat duduk Moana dengan posisi sedikit tiduran.


"Tidurlah, jangan banyak gerak!" ucap Ernest sangat cuek, tetapi begitu perhatian.


"Enggak mau! Aku mau makan jangung bakar, Tuan!" jawab Moana memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.


"Kalau kau tidak mau istirahat, jangan harap kita bisa sampai di Puncak!" sahut Ernest sesekali menatap istrinya dengan tajam.


Moana hanya bisa mendengkus kesal, terus mengusap perutnya agar bayi yang ada di dalam perutnya bisa sedikit tenang.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu 1 jam setengah, akhirnya mereka tiba di Puncak sesuai keinginan Moana.


Untungnya di jam yang terbilang sudah sangat malam itu, masih ada beberapa pedagang yang masih menjual jagung bakar. Walaupun hanya tinggal tersisa beberapa saja, tetapi tidak sampai membuat Ernest kesusahan untuk mencarinya.


"Aaa ... Wanginya benar-benar menggoda. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin langsung memakannya." ucap Moana, wajahnya terlihat begitu bahagia setelah sampai di salah satu kedai yang menjual jagung bakar.


Baru saja Ernest ingin mengatakan sesuatu, Moana malah segera meninggalkannya di dalam mobil sendirian.


"Pak, pesan jagung bakarnya 5 ya, terus minumannya 2 yang dingin sama yang hangat. Kalau makan di sini, bisa?" ucap Moana yang sudah sangat mengiler.


Bapaknya yang sedang membakar jagung, kedua matanya langsung beredar mencari tempat yang kosong untuk Moana.


Namun, sayangnya. Semua tempat sangat penuh, semakin malam malah semakin ramai yang mampir ke kedai tersebut. Pada akhirnya, sang Bapak merasa bingung. Ingin menolak Moana, tetapi itu rezeki. Jika tidak menolaknya, kasian juga melihat kondisi Moana yang sedang hamil.


Hanya saja, ada satu cara yang membuat Bapak itu tidak kehilangan rezekinya dan juga Moana yang tetap bisa memakan jagung bakarnya dengan tenang.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2