
Di rumah yang terbilang kecil dan jauh dari permukiman warga menjadi salah satu tempat terbaik Enza untuk bersembunyi membawa Justin.
Sikap Enza begitu manis untuk menjaga Justin agar tidak merasa tertekan, sebab Enza takut apa bila dia nangis pasti akan membuat orang yang melihatnya menjadi curiga.
"Ante, Omi tok ndak ateng-ateng cih. Atana Omi au ke cini, au inep cama ita. Teyus temana Omi? Ante epon Omi, dong!"
Justin sudah mulai merasa tidak nyaman, karena hampir beberapa jam ini dia jauh dari Moana. Enza tersenyum kecil, sambil menyerahkan sebuah tablet yang terdapat gambar apel di gigit, agar bisa menjadi hiburan bagi Justin.
"Nanti Mommy ke sini kok, Justin sabar dulu ya. Mendingan Justin main mobil-mobilan aja ya, di sini banyak mainan loh. Ada mainan mobil, motor, bola, ikan dan masih banyak lagi. Justin mau main yang mana?" tanya Enza berusaha mengalihkan pemikiran Justin, supaya tidak mencari keberadaan Moana terus menerus.
Sayangnya, Justin malah menggelengkan kepalanya secepat mungkin. Dia tidak ingin bermain apa pun, kecuali Moana. Saat ini Justin benar-benar sangat merindukan Moana, dia tidak bisa jauh sedikit pun dari Moana.
"Ndak au, ndak au! Ustin au temu Omi, ita puyang aja yuk, Ante. Omi ayana upa deh, coalnya Omi cuka lupa. Ustin ndak bica lama-lama auh dali Omi. Ustin angen, Ante. Ustin au peyuk Omi," ucap Justin, matanya mulai berkaca-kaca. Pertanda bila suasana seperti ini sudah tidak baik untuk Enza.
Dan, benar saja. Dalam hitungan detik Justin menangis kencang ketika dia merasakan rasa kangen terhadap Moana, sama halnya seperti Moana yang baru sadar. Dia juga menangis menyalahkan dirinya sendiri di dalam pelukan Elice, hatinya menjadi tidak enak ketika merasakan sesuatu akan terjadi pada anaknya.
"Diamlah, jangan nangis terus. Tante jadi pusing denger tangisanmu itu. Mendingan kamu mainan ini aja, oke? Mommymu juga nanti datang ke sini kok, udahlah jangan cengeng. Please, ya jagan buat Tante marah. Tante dari tadi sudah coba untuk baik-baik ya!"
Enza mulai kesal, ketika tangisan Justin tidak kunjung berhenti. Dia malah semakin kencang, serta sesegukan.
Namun, yang membuat Enza semakin kesal adalah ketika tablet gambar apel di gigit itu di berikan pada Justin langsung di lempar ke sembarang arah. Sehingga tablet tersebut hancur berantakan dan juga ma*ti.
"Ndak au! Ustin au cama Omi, otokna Usti au Omi Usti au etemu Omi. Usti au puyang hiks ...."
__ADS_1
"Arrghhh ... Berisik banget sih, hahh! Lu lihat ini, gara-gara lu barang berharga gua jadi rusak. Dasar anak tidak tahu di untung, udah di baikin malah ngelunjak. Rasakan ini!"
Tangan Enza langsung menjewer keras telinga Justin sampai memerah. Justin malah semakin menangis, ketika merasakan kesakitan yang luar biasa. Tidak hanya itu, Enza juga mencubit keras paha Justin sampai dia berteriak begitu kencang.
"Arrghh ... Hiks ... A-atit, Ante. A-jangan di ubit hiks, a-atin. Omi, olong Ustin hiks ...."
Tanda biru terpampang jelas di paha Justin, artinya Enza memang sudah benar-benar keterlaluan menyiksa Justin hanya karena dia kesal terhadapnya.
Terlihat sekali, dari sudut mata Justin kalau dia mulai trauma akibat perlakuan Enza yang sangat tidak baik ini. Baru kali ini Justin mendapatkan perlakuan buruk, sedangkan kedua orang tuanya ketika marah tidak sampai memululnya atau ringan tangan.
Namun, Enza. Dia tidak henti-hentinya menyiksa Justin sebelumnya dia terdiam. Di dalam tekanan yang cukup membekas, akhirnya Justin terdiam. Meski dadanya terasa sangat sakit, sama seperti apa yang Moana rasakan di rumah.
Dia pun merasakan sesak dan juga seluruh badannya merasa begitu sakit, entah apa yang sudah terjadi pada anaknya. Moana hanya bisa berdoa semoga kelak Justin bisa kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apa pun.
"Sampai gua denger lu nangis lagi, mulut lu akan gua jahit sampai lu enggak bisa ngomong lagi. Mau?" bentak Enza sangat keras. Justin sesegukan menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Enza yang begitu menyeramkan.
Enza yang sudah jengah melihat Justin, langsung pergi meninggalkannya menuju sebuah kamar. Sementara Justin berada di ruang tamu dalam kondisi tubuh kecilnya yang mulai merasa linu akibat cubitan, jeweran sampai pukulan cukup keras.
"Hiks ... O-omi Ustin atut, Ustin au puyang. Ante Nza ahat, dia ukan olang aik aya Aman Eli. Ustin angen cama Omi cama Edi, Justin au puyang api gimana calana?"
"Ustin atut, Omi. Ustin ndak au di sini, iyat aja kaki Ustin Omi. Kaki Ustin cakit anget, Ustin inta aap Ustin calah ndak dengelin apa ata Omi. Alusna Ustin ndak itut cama Ante itu, Ustin iya Antena aik, api auna Antena ahat anget hiks ...."
Justin menangis dengan suara yang sangat lirih, dia takut ketahuan sama Enza apa bila dia mengeluarkan suara yang jauh lebih kencang.
__ADS_1
Di saat Ustin sedang menangis sesegukan, tiba-tiba dia melihat seseorang yang persis seperi Moana. Justin berdiri menatap ke arah pintu sambil tersenyum.
"O-omi? O-omi ateng? O-omi au emput Ustin, iya?" ucap Justin, wajahnya berubah menjadi senang.
Bayangan Becca hanya melambaikan tangan. Dia memberikan kode untuk Justin membuka pintu, setelah Justin membukanya secara perlahan. Ternyata benar, pintunya lupa di kunci oleh Enza. Sehingga Justin langsung berjalan keluar rumah.
Hanya selang beberapa detik, Enza yang mendengar suara pintu terbuka segera keluar dan melihat Justin sudah berada di luar rumah.
"Justin! Mau kemana kamu, berhenti di situ Tante bilang! Jangan coba-coba kabur ya!" pekik Enza, dia langsung berlari mengejar Justin.
Justin menoleh dan kembali merasa takut akan kehadiran Enza, tetapi bayangan Becca menyuruhnya untuk berlari sekencang mungkin.
Pada akhirnya Justin berlari seakan-akan tangannya di gandeng oleh Becca, padahal tidak. Itu hanya ilusi Justin ketika dia merindukan akan kehadiran Moana, setidaknya bayangan itu berhasil mebuat Justin keluar dari rumah tersebut.
Akan tetapi, itu masih belum pasti apakah Justin akan selamat dari Enza ataukah Enza berhasil kembali menangkap Justin dan membawanya kembali ke dalam rumah.
Justin terus berlari, walau pun dia terjatuh berulah kali. Lututnya terasa begitu perih akibat terluka ketika jatuh, tetapi Justin tidak putus asa. Dia masih percaya bila yang di sampingnya adalah Moana, sehingga Justin berasa kabur dari Enza di temani oleh Mommynya sendiri.
Jarak antara Justin dan Enza semakin lama semakin dekat. Tinggal sedikit lagi, Enza berhasil menangkap Justin. Hanya saja, Justin terus berlari meski kakinya sudah terasa mulai melemas.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung