
Setelah semuanya selesai, mereka datang ke sebuah pemakanan keluarga yang sangat terawat. Telah di persiapkan 2 makan yang masih baru dengan ukuran yang berbeda. Di mana makan Moana dan Justin saling bersebelahan dengan tujuan agar mereka tetap bersama meskipun sudah tiada.
Tangis Ernest dan Felix tidak pernah berhenti, ketika mereka harus menyaksikan kedua orang yang sangat penting di dalam hidupnya perlahan mulai di tutup oleh tanah merah yang masih basah.
Sampai akhirnya tanah merah tersebut telah berbentuk tumpukan tanah yang menjulang tinggi bagaikan sebuah dataran tinggi.
Tidak lupa tepat di dekat kepalanya di tancapkan sebuah papan yang bertuliskan nama Tuan rumah, menandakan kalau rumah baru tersebut adalah miliknya. Dan bertujuan supaya pihak keluarga yang akan berkunjung tidak sampai lupa alamat rumah baru keluarganya yang sudah tiada.
Satu persatu seseorang mulai menaburkan bunga yang identik dengan mawar merah, melati, serta beberapa warna lainnya yang menjadi satu dan sering di sebut dengan kembang 7 rupa.
Kembang 7 rupa, merupakan sebutan bagi sehimpunan bunga yang di siapkan untuk upacara adat, keagamaan dan sebagainya. Apa lagi kembang tersebut sering kali di taburkan di atas makam seseorang sebagai pertanda, kalau ada yang datang untuk mengunjungi.
Belum lagi kembang 7 rupa sering kali menjadi kembang yang sangat di takuti oleh sebagian orang yang percaya akan makluk halus. Akan tetapi, ada juga yang berpikir jika bunga tersebut sebagai pengganti parfum setiap kuburan baru atau yang di kunjungi.
Felix dan Ernest tidak peduli, sekotor apa dirinya nanti setelah nekat memeluk tumpukan tanah orang yang di sayangi. Rasanya mereka benar-benar tidak ingin meninggalkan Moana dan Justin sendirian di dalam kuburan yang gelap, tanpa adanya sedikit cahaya yang akan menerangi rumah baru Moana dan Justin.
Sakha serta Elice berusaha untuk merangkul salah satu dari Felix dan Ernest, sebab kondisi seperti ini sangat membuat mereka terpukul akan kepergian orang-orang yang sangat di cintai.
Selepas pemakanan serta doa-doa yang di bacakan selesai, satu persatu orang yang ikut memakankan Moana serta Justin mulai meninggalkan pemakanan, termasuk kolega-kolega keluarga Ernest. Hanya saja, sebelum mereka pergi, mereka tetap mengucapkan bela sungkawa kepada pihak keluarga yang di tinggalkan.
Sampai seketika, di pemakanan hanyantinggal tersisa mereka berempat. Di mana Elice dan Sakha berusaha untuk menenangkan mereka berdua, meski beberapa kali sering mendapatkan penolakan. Elice dan Sakha tetap berusaha memberikan nasihat, sebab cuaca sudah mulai gelap akibat mendung.
__ADS_1
Saat rintikkan air hujan turun, segera Elice dan Sakha membawa mereka untuk masuk ke mobil walaupun ada sedikit perdebatan di antara mereka. Mobil yang di gunakan adalah mobil khusus keluarga, sehingga mereka semua masuk ke dalam satu mobil dan membuat sang supir segera pergi meninggalkan pemakaman bersamaan hujan yang langsung turun deras.
Selama perjalanan, Ernest dan Felix terdiam. Air mata terus menetes, tetapi tidak sebanjir tadi. Ingatan demi ingatan mulai berputar di dalam isi kepala mereka, ketika mengingat tentang kelucuan Justin dan keceriaan Moana.
Sakha dan Elice hanya bisa terdiam, melihat kerapuhan kedua pria yang salah satunya sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. Jika di bilang sedih, mereka pun sedih. Akan tetapi, kalau mereka sebagai orang tua tidak bisa kuat menghadapi semua ini, lantas siapa lagi yang akan menguatkan kedua pria yang sedang rapuh kalau bukan keluarga sendiri.
Mereka membawa Felix tinggal bersama mereka, bertujuan agar kedua orang tua Ernest bisa memantau apa yang akan Felix lakukan.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
1 Minggu lebih, setelah kepergian Moana dan Justin. Kini, kondisi keadaan Felix sama Ernest perlahan mulai membaik. Walau, mereka terlihat lebih dingin dan juga lebih suka menyendiri tanpa suka keramaian.
Pada pagi hari, mereka semua berkumpul untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Ini merupakan hari pertama mereka kembali melakukan aktifitasnya setelah hati mereka sudah jauh lebih tenang dan mencoba merelakan apa yang sudah terjadi.
"Aku gapapa, Bunda tenang aja. Kalau aku berdiam diri seperti ini, pikiranku malah semakin tidak karuan. Jadi, lebih baik aku bekerja seperti biasa agar pikiranku tidak terus-terusan kepikiran sama Justin," jawab Felix, mencoba menunjukkan senyuman kecilnya.
Mungkin Felix bisa membohongi dirinya sendiri, tapi tidak dengan mereka yang tahu betapa hancurnya Felix ketika harus kehilangan anaknya, sebelum Felix mendengar panggilan Ayah keluar dari mulut Justin.
"Sudahlah, Bun. Biarkan mereka kembali beraktifitas, itu malah bagus buat mereka. Sehingga pikiran mereka tentang Moana dan Justin bisa teralihkan, kalau mereka berdiam diri di rumah terus. Mereka akan semakin sedih, dan terus merasa bersalah," ucap Sakha, sambil makan.
"Baiklah, Bunda tidak akan melarang kalian bekerja. Tapi, ketika kalian tidak kuat langsung pulang ke rumah ya. Jangan di teruskan lagi, Bunda takut kalian drop," sahut Elice, khawatir.
__ADS_1
"Aku sudah besar, Bun. Aku bukan anak kecil lagi, kalau pun sakit aku juga tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, aku mohon. Jangan bersikap seperti ini, aku harus bisa mengurus diriku sendiri tanpa istriku!" seru Ernest, tatapannya terlihat begitu kosong.
"O-oke, oke! Bunda tidak akan mengaturmu lagi," ucap Elice, berusaha untuk mengerti kondisi anaknya.
"Bunda, Ayah, Ernest. Terima kasih kalian sudah berusaha untuk menguatkan aku, meski semua ini tidak mudah bagiku untuk menjalani keseharianku. Cuman, aku minta doanya agar aku bisa bangkit lagi dan tidak terlalu memikirkan semua yang sudah menjadi ketetapan takdir Tuhan. Dan, terima ksih juga kalian sudah memaafkanku serta kembali menganggapku sebagai keluarga. Mungkin, setelah ini aku akan kembali tinggal di rumahku sendiri. Jika kalian ingin berkunjung silakkan saja, pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalian."
Sedikit berat bagi Elice untuk membiarkan Felix kembali tinggal sendiri di saat hatinya masih sangat hancur.
Namun, apa daya. Mungkin ini yang terbaik untuk Felix belajar mengatasi perasaannya sendiri agar tidak selalu memikirkan tentang Justin. Sama halnya seperti Ernest, sedikit demi sedikit sikapnya mulai berubah.
Tidak ada lagi kehangatan di dalam diri Ernest saat berbicara kepada kedua orang tuanya seperti sebelumnya. Ya, kalau di bilang cuek dari dulu Ernest cuek. Hanya saja, kali ini berbeda. Sikapnya jauh lebih dingin, seakan-akan dia sedang menghukum dirinya sendiri.
Sakha dan Elice tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Kemudian mereka sarapan bersama dalam keadaan terdiam satu sama lain, sesekali Elice terus memantau pergerakan Ernest dan juga Felix.
Selesai semuanya, mereka berangkat ke kantornya masing-masing dalam keadaan Felix yang berusaha baik-baik saja dan Ernest terlihat seperti patung hidup tanpa sedikit memberikan senyuman kepada kedua orang tuanya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung