Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kisah Singkat Kehidupan Dinda


__ADS_3

"Saya juga tidak tahu, Tuan. Pada saat itu saya memiliki tabungan untuk biaya hidup saya kedepannya dengan hasil kerja keras saya sendiri. Setelah saya menolongi seseorang dan mengajaknya tinggal bersama saya di kontrakan. Di mana semua biaya hidupnya saya yang menanggung semuanya, sampai dia bisa mendapatkan pekerjaan."


"Semua itu, karena saya bisa merasakan bagaimana kerasnya hidup di jalanan tanpa keluarga. Cuman, entah mengapa, teman satu saya itu malah mengkhianati saya. Dia mengambil semua penghasilan saya selama ini, lalu membawanya pergi. Tidak lupa dia juga meninggalkan saya dengan hutang pinjaman dia di sebuah aplikasi. Saya terkejut saat ada seseorang yang menagih ke kontrakan dan memberikan tagihan cukup besar, di situ dia menggunakan KTP saya untuk meminjam uang demi kebutuhannya."


"Di situlah hidup saya yang awalnya mulai stabil, kini kembali hancur. Saya harus melunasi hutang yang sama sekali tidak saya pinjam. Sehingga saya tidak bisa membayar kontrakan beberapa bulan demi membayar semua itu dan untuk kebutuhan saya sehari-hari."


"Apa lagi ketika saya mengundurkan diri, saya tidak mendapatkan pesangon sedikit pun dari hasil kerja keras saya selama bertahun-tahun di sana. Beliau berkata jika uang pesangon serta gaji saya selama sebulan itu sebagai pelunas hutang yang saya pinjam dengan cara mencicil setiap gajian untuk melunasi pinjaman online tersebut."


"Saya harap, dengan saya kerja sama Tuan hidup saya akan semakin membaik, tapi sayang. Ketika saya menghubungi Tuan, Tuan malah berkata seperti itu. Ya sudah, hidup saya semakin hancur dan lontang-lantung seperti saat ini. Saya di usir oleh pemilik kontrakan, dan sewaktu-waktu apa bila saya bertemu dengannya kembali maka saya harus melunasi hutang kontrakan itu, jika tidak maka hidup saya tidak akan bisa tenang."


Dinda menceritakan semua itu sambil menahan air matanya dengan senyuman yang dia ukir secara perlahan. Terlihat jelas, apa bila Dinda seperti sedang menahan kesedihan di hatinya dengan menutupinya sangat rapat.


Ernest saja yang mendengar kisah sekilas itu, membuat hatinya merasa kesal. Sebab, apa yang Dinda ceritakan padanya hampir mirip dengan kisah yang Ernest rasakan.


Jika Dinda di khianati oleh orang yang di tolongnya, Ernest pun sama. Dia di khianati oleh sahabat sekaligus asisten Perusahaan yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri.


Baru Ernest ingin mengatakan sesuatu, seorang pelayan datang sambil membawa pesanan mereka berdua dengan hati-hati. Dia menaruh makanan sesuai dengan menu yang mereka pesankan, sambil tersenyum lalu sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Silakkan, Tuan, Nyonya. Selamat menikmati hidangannya, semoga Tuan dan Nyonya menyukai cita rasa yang ada di Restoran ini. Saya pamit, apa bila ada yang di butuhkan, silakkan panggil kami kembali. Terima kasih," ucap pelayan itu dengan kemurahan senyuman di bibirnya demi memberikan nilai terbaik untuk pelayan di Restoran tersebut.


Selepas perginya pelayan tersebut, Ernest segera menyuruh Dinda untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Baru mereka akan kembali membicarakan obrolan yang belum tuntas itu.


Dinda hanya bisa tersenyum kikuk, kemudian memakan makanannya secara perlahan. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya, membuat Dinda merasakan cita rasa nasi goreng yang berbeda dari biasa dia bikin setiap saat.


Perpaduan rasa racikan bumbu dan juga seafood yang ada di dalam nasi goreng tersebut, berhasil membuat lidah Dinda bergoyang. Dia baru pertama kali makan di tempat seperti ini, jadi sedikit merasa terkejut atas cita rasa yang dia nikmati saat ini.


Jujur, sebenarnya Dinda ingin sekali makan makanan seperti Ernest. Hanya saja dia malu dan sedikit bingung akibat cara makan yang sama sekali tidak Dinda ketahui. Dia bingung bagaimana memotong daging tersebut menggunakan garpu dan juga pisau kecil.


Namun, ketika melihat Ernest makan dengan lahap tanpa kesulitan untuk memotongnya. Membuat Dinda mulai percaya diri, sepertinya dia bisa memakan seperti apa yang Ernest tunjukkan.


Dari tadi Ernest mencoba untuk melirik sekilas Dinda ketika dia terus menatapnya. Akan tetapi, cara melihat Dinda seperti itu, malah salah di artikan oleh Ernest. Dia kira Dinda sedang memperhatikan wajahnya, padahal nyatanya Dinda hanya ingin tahu bagaimana cara makan Steak dengan benar.


"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak bermaksud seperti itu. Saya janji tidak akan menatap Tuan lagi," sahut Dinda, gugup.


Kedua tangannya sedikit bergetar saat mendapat omelan dari Ernest. Kini, Dinda kembali makan dalam keadaan menunduk tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ernest. Sementara Ernest, makan sesekali melihat tingkah Dinda yang sangat aneh.

__ADS_1


Selesai mereka makan, Ernest kembali meneruskan pembicara yang sempat tertunda. Di mana posisi Dinda masih dalam keadaan menunduk sambil memainkan bajunya, bagaikan anak kecil yang di marahi oleh orang tuanya.


"Huhhh ...." Ernest menghembuskan napasnya secara kasar. Dinda tetap terdiam, dia hanya takut mendapatkan kemarahan kembali apa bila dia berani menatapnya.


"Angkat kepalamu! Dan bersikaplah seperti biasanya, mengerti!" titah Ernest.


Suaranya sontak membuat Dinda terkejut dan lamgsung bersikap biasanya menatap Ernest dalam keadaan tangan sudah mulai keringat dingin.


"Me-mengerti, Tuan!" seru Dinda.


Ernest menganggukan kepalanya lalu, kembali meneruskan obrolan mereka yang tertunda. Ernest memberikan pekerjaan yang berhasil membuat jantung Dinda hampir saja lompat keluar dari tempatnya.


Dinda tidak menyangka, bila Ernest bisa memberikan pekerjaan yang seperti itu padanya. Jelas-jelas mereka saja dekat akibat Ernest yang menolong Dinda, tetapi kini malah Dinda mendapatkan tawaran yang cukup mengejutkan.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2