Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menolak pulang


__ADS_3

Semua unek-unek yang Nay keluarkan di dalam dekapan sang ibu sangatlah banyak. Nay tidak merasa sedikit atau kelelahan untuk menceritakan semua kisah hidup menjadi orang dewasa setelah ibunya tiada.


Sang Ibu hanya bisa tersenyum mendengarkan Nay bagaikan seperti radio yang tidak ada berhentinya untuk menyiarkan berita-berita duka suka menjalani hidup menjadi orang dewasa.


Dulu, saat Nay masih kecil sering kali mengeluh karena ingin secepatnya menjadi orang dewasa supaya bisa membeli semua menggunakan uang sendiri. Akan tetapi, setelah dewasa Nay barulah merasakan betapa beratnya menjalani hidup demi mencukupi kebutuhan.


Ternyata benar juga, semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin bertambah tingkatan ujian yang akan didapatkan. Sama seperti apa yang sedang Nay hadapi saat ini, hidup dia sangat berantakan setelah ayah tirinya terjun di dalam judi online, atau judi-judi yang lain.


Semua barang habis tak tersisa dijual untuk modal judi, mending ada hasil yang didapat jika minus, ya seperti inilah jadinya. Rumah peninggalan dari keluarga sang ibu hilang begitu saja setelah dijual secara diam-diam hanya demi berjudi.


Nay sampai harus pindah kontrakan akibat telat membayar dan diusir secara tidak terhormat, sampai seketika sang ayah diam-diam ingin memper*ko*sanya. Barulah, Nay tinggal terpisah dengan diberikan pertolongan oleh bos dari tempat kerja Nay.


Namun, tak berhenti dari situ. Sang ayah terus mencari, mencecar bahkan memaksa Nay untuk memberikan uang padanya. Nay tidak bisa apa-apa lagi, beberapa kali dia menolak. Hanya saja, hati kecil itu selalu merasa bersalah karena sang ibu memberikan amanah yang tidak boleh Nay langgar.


Seiring berjalannya waktu, Nay mulai lelah atas sikap pria berkedok iblis itu yang ingin memanfaatkan anak sambung atas dasar amanah. Hingga terjadilah pele*cehan kedua yang berujung Nay bertemu dengan Thoms.

__ADS_1


Semua itu Nay ceritakan tanpa terlewat sedikit pun. Sang ibu bisa merasakan bagaimana menderitanya gadis kecil yang selalu dia bahagiakan dan sayangi dengan sangat baik. Apa lagi, ayah kandung Nay adalah pria yang tidak pernah sedikit saja melakukan kekasaran atau membiarkan sang istri bekerja setiap hari. Berbeda sama ayah sambung yang hanya bisa duduk manis tanpa ada niatan bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya.


Untung saja, Nay tidak memiliki adik sambung sehingga hidupnya tidak semakin menderita. Sudah lama Nay menceritakan semua itu, membuat ibunya perlahan membawa Nay duduk beralasan rumput kecil berwarna hijau di tepi danau.


"Hidup itu pilihan, Sayang. Jika memang kamu tidak ingin berada di kehidupan yang pahit itu, kamu harus bisa bangkit kembali menjadi orang yang lebih baik. Ingatlah, Sayang! Hidup yang sedang kamu jalani saat ini, tidak lepas dari ujian serta takdir yang sudah Tuhan berikan. Kehidupan, kema*tian, rezeki, dan jodoh semua sudah diberikan Tuhan sebelum kita lahir. Jika kamu menyimpan dendam, sama saja seperti kamu menyalahkan takdir, juga menyalahkan Tuhanmu. Apa kamu tahu itu, hem?"


"Setiap menusia yang ada di muka bumi, akan diberikan cobaan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Harusnya kamu bersyukur, cobaan itu diberikan padamu untuk mempertamukanmu dengan pria yang sangat baik. Dia mengurusmu tanpa imbalan, meskipun pria itu terlihat menyeramkan, pekerjaannya tidak baik yang kamu kira, tetap saja. Dibalik itu semua dia punya hati yang sangat baik."


"Sejahat apa pun seseorang, dia masih memiliki sedikit kebaikan yang tersimpan rapat. Ibu tahu, pria itu awalnya adalah pria baik, jika tidak kemungkinan besar dia akan seperti ayah sambungmu yang menerkammu tanpa berpikir. Apa lagi, kamu sudah tinggal seatap dengan pria yang bukan suamimu. Maka, akan ada banyak celah yang dia ambil demi mendapatkan kepuasan dunia. Kamu tahu, 'kan? Apa pekerjaannya, bagaimana sifatnya. Namun, pria itu tetap menjagamu dan lebih memilih memuaskan bersama wanita lain."


"Itulah yang ibu katakan, sebenarnya dia pria baik hanya saja terbungkus oleh kain hitam yang melekat erat di dalam tubuhnya. Tugasnya sekarang, cobalah ikhlas dan merelakan semuanyang terjadi di dalam hidupmu sebagai takdir yang tidak bisa kamu cegah. Jika kamu berhasil melewatinya, maka kamu akan berhasil menghapus dendam di dalam hati untuk ayah tirimu."


"Bila ada noda dendam sedikit saja ada di dalam hatimu, maka sampai kapan pun noda itu akan sulit dihilangan hingga tumbuh menjadi manusia yang tidak akan pernah bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Apa kamu paham, cantik?"


"Ibu ngerti, kok. Semua ini pasti berat untuk kamu menjalani semua dengan kesendirian, tapi ingatlah. Kamu masih punya Tuhan yang akan menemani setiap langkahmu. Berdoalah, dan meminta agar kamu bisa dijauhkan dari orang-orang jahat dan semakin di dekatkan oleh orang-orang yang baik. Ibu minta maaf, nasibmu begitu malang akibat keegoisan Ibu yang menikah sama ayah tirimu, hingga menjerumuskanmu di jurang yang sangat dalam."

__ADS_1


"Cuman, ingatlah satu hal, Sayang. Kasih sayang Ibu buat Nanay, tidak akan pernah putus. Meskipun, Ibu dan Nanay sudah berbeda alam, tetap saja Ibu masih ada di dalam hati kecil Nanay. Ibu akan nunggu Nanay kembali bersama Ibu di sini, jadi Nanay jangan takut kalau Nanay tidak lagi bisa bersama Ibu. Pokonya Ibu sudah berjanji sama Tuhan kita, kalau Ibu akan menunggu Nanay di taman ini. Nanti kita bisa main bersama sepuas-puasnya."


"Sekarang Nanay kembali ke rumah ya, Nanay sudah terlalu jauh main ke sini. Jika Nanay tetap berada di sini, Nanay akan membuat seseorang merasa sedih. Tanpa Nay sadari, kepergian Nanay bisa membuat orang itu semakin terjebak di dalam lubang hitam tanpa ada satu orang yang akan membantunya. Nanay tidak perlu tahu siapa orangnya karena nanti Nanay akan tahu sendiri. Ayo, Ibu antar Nanay pulang biar orang itu yang akan mengobati luka di tubuh Nanay. Berdirilah, Sayang!"


Ibu Nay berusaha mengajak anaknya untuk berdiri. Nay hanya bisa mengikuti sang ibu dalam keadaan bingung. Nay tidak mengerti apa maksud yang ibunya sampaikan, hingga akhirnya mereka sampao di sebuah pintu keluar taman berwarna pink dengan kabut putih.


Nay berdiri di dekat pintu tanpa mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Sementara pintu, perlahan dibuka oleh wanita yang sudah melahirkan Nay dalam keadan tersenyum.


"Pulang, Nak. Kamu sudah terlalu jauh main ke sini! Percayalah, suatu saat nanti kamu akan kembali ke sini di saat yang tepat. Sekarang bukan waktumu ada di sini, setidaknya kamu sudah bertemu dengan Ibu sesuai permintaanmu. Waktumu akan segera habis, Sayang. Cepatlah kembali, atau kamu akan menyesali semuanya!"


Perintah dari sang Ibu tidak di gubris sedikit pun oleh Nay. Gadis itu malah terdiam menatap ibunya, lalu menggelengkan kepala penuh ketegasan. Dia tidak ingin pulang seperti apa yang ibunya katakan, Nay malah memilih untuk memeluk erat wanita yang dia rindukan selama ini tanpa ingin melepaskanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2