Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kegelisahan Felix


__ADS_3

Semua orang sudah melewati proses pemeriksaan kesehatan dan juga golongan darah. Mereka harus menunggu beberapa saat agar sang dokter bisa menyampaikan siapa dari mereka yang pantas untuk menjadi pendonor.


Perasaan mereka semua semakin tidak karuan, di saat sang dokter sedang melakukan operasi menggunakan 1 kantong darah yang masih tersisa dari rumah sakit untuk Justin.


Beberapa jam kemudian, akhirnya ruang operasi terbuka bersamaan dengan keluarnya sang dokter dalam kondisi wajah yang masih berkeringat.


"Bagaimana, Dok? Apakah anak saya baik-baik saja?" tanya Ernest, wajahnya terlihat panik.


"Justin, selamat 'kan, Dok? Dia pasti sehat 'kan?" sahut Moana, dalam kondisi tubuhnya yang mulai pucat.


Semua satu persatu mengutarakan perasaan khawatir masing-masing, sampai tidak sedikit pun memberikan sang dokter ruang untuk menjawab semua pertanyaan mereka.


Sang dokter terdiam, lantaran dia memaklumi mereka yang masih dalam keadaan syok dan juga gelisah atas kondisi anak yang masih sekecil Justin.


Sampai, pada akhirnya asisten sang dokter mencoba meminta mereka untuk memberikan sedikit ruang, supaya sang dokter bisa menjelaskan mengenai kondisi Justin saat ini.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Mohon pengertiannya, saat ini dokter baru saja selesai melakukan operasi. Jadi, berikan sedikit ruang untuknya menyampaikan semua kondisi pasien agar tidak ada kesalahan," ucap sang suster, mencoba menenangkan semuanya. Terutama Moana, yang terlihat begitu terpukul atas kejadian anaknya.


"Moana, Ernest! Kalian tenang dulu, biar dokter menjelaskan semuanya. Dan, Bunda juga. Jangan ikut-ikutan panas-panasin mereka, percayakan semuanya pada Tuhan. Setidaknya dokter sudah melakukan yang terbaik untuk cucu kita. Jadi, kita tidak boleh berlebihan seperti ini!" seru Sakha, berusaha memeluk istrinya yang masih belum bisa tenang sebelum mengetahui keadaan cucunya.

__ADS_1


Moana dan Ernest pun terdiam, di mana Ernest memeluk Moana. Dia mencoba memberikan kekuatan pada istrinya agar tidak semakin melemah, apa lagi terlihat dari fisik Moana yang semakin terlihat pucat.


Setelah semuanya sudah mulai tenang, sang dokter tersenyum kecil lalu menjelaskan semua mengenai kondisi Justin.


"Sejauh ini, keadaan pasien cukup stabil. Hanya saja, kita harus segera memberikan transfusi darah agar tekanan darah pasien tetap berada di angka stabil. Dikarenakan, itu akan mempengaruhi kestabilan pasien."


"Jadi, saat ini kita fokus pada pendonor agar bisa segera di berikan pada Justin. Setelah itu kita akan memantau hasilnya untuk beberapa jam ke depan, karena jika saya prediksi benturan yang cukup keras itu bisa mengakibatkan pasien kehilangan daya ingatnya untuk sementara. Cuman, semoga saja ini hanya prediksi saya dan tidak terbukti."


Moana yang mendengar apa bila ada kemungkinan anaknya akan mengalami amnesia, tubuhnya seakan melemah. Sehingga, Ernest langsung membopongnya duduk di kursi tunggu sambil memberikan kekuatan.


"Justin, hiks ... Ma-maafin Mommy, sayang. Mommy tidak mau sampai Justin akan melupakan Mommy, Mommy tidak akan kuat, sayang. Hati Ibu yang mana, yang tidak akan hancur bila anaknya tidak mengenalinya. Maka dari itu, saya mohon, Dok. Berikan obat yang bagus untuk anak saya, saya tidak mau dia kehilangan ingatannya, saya tidak mau, tidak mau!"


Moana berteriak di sela-sela tangisannya, dia tidak rela apa bila anak kesayangannya bisa melupakan siapa orang yang sudah melahirkannya.


Sampai di saat semuanya sedang sibuk menenangkan kondisi Moana, Felix yang melihat ada ke sempatan segera masuk ke dalam ruangan. Di mana dia melihat Justin masih dalam keadaan tubuh di penuhi oleh alat-alat. Beberapa perawat dan suster yang melihatnya, segera membawa Felix ke luar.


"Tuan! Kenapa Tuan masuk ke ruangan ini? Tuan tidak boleh ada di sini! Lebih baik sekarang Tuan, keluar! Ini melanggar peraturan rumah sakit!"


Seorang perawat berbicara penuh penegasan, lalu dia sama beberapa kawannya langsung memegangi tubuh Felix sambil menggeretnya keluar.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak mau keluar! Saya mau ketemu Justin, saya mau peluk dia. Lepaskan, lepaskan saya!" pekik Felix, suaranya begitu menggema sampai-sampai membuat semuanya terkejut dan bergegas menatap ke arah Felix.


"Astaga, Felix! Kau ngapain masuk ke dalam?" ucap Sakha, terkejut.


"Saya ingin melihat Justin! Saya ingin memeluk Justin, dia butuh saya!"


"Apa, maksudmu ngomong gitu, hahh! Apa kamu lupa, semua ini terjadi karena ulah calon istrimu! Harusnya kamu sadar atas hal, itu!" bentak Ernest, langsung berjalan mendekati Felix yang sudah di lepaskan oleh perawat.


Elice langsung memeluk Moana dan bergantian menenangkannya di saat Ernest terlihat begitu marah pada Felix, akibat ulah Enza yang sudah menjadi dalang di balik semua kejadian ini.


Perdebatan Ernest dan Felix mulai terjadi, Sakha mencoba melerai mereka sampai sang dokter pun ikut memisahkan. Di saat suasana mulai menegang, seorang suster datang untuk memberikan hasil LAB yang keluar lebih cepat sesuai permintaan sang dokter yang menangani kasus Justin.


Akhirnya, Ernest dan Felix bisa mereda. Mereka melihat ada beberapa amplop kertas yang ada di tangan sang dokter. Wajah Ernest dan semuanya terlihat tegang, begitu juga Felix yang gelisah dan mulai salah tingkah.


Hati Felix benar-benar tidak tenang, rasanya Felix ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya. Akan tetapi, dia menahan semua itu dengan harapan agar semuanya baik-baik saja.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2