
Sesampainya di rumah, Enza langsung pergi ke kamarnya dalam keadaan senang. Sementara Thoms pergi menuju ruang kerjanya, karena ada sedikit urusan yang harus dia selesaikan saat ada salah satu anak buahnya yang menghampirinya.
Tanpa mengganti pakaiannya, Enza langsung menjatuhkan diri di atas kasur dalam posisi terlentang sambil membuka lebar kedua tangannya.
"Aaa ... Sungguh, malam yang sangat indah! Aku tidak menyangka Tuan Thoms bisa melamarku seromantis ini, rasanya aku tidak ingin malam ini cepat berlalu!"
Mata Enza menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang berbunga-bunga, senyuman hari ini tidak sedikit pun memudar karena kebahagiaan terus menyelimuti hidup Enza.
Inilah yang aneh, di satu sisi ada seorang wanita yang sedang memperjuangkan keluarganya agar bisa kembali hidup bahagia.
Sementara di sini, ada Enza yang telah menghancurkan kebahagiaan wanita itu, kini malah mendapat kehidupan yang jauh lebih bahagia darinya. Kenapa bisa? Itulah rahasia kehidupan, kita tidak bisa menebaknya. Hanya Tuhan yang tahu, apa yang berhak kita dapatkan.
Tanpa terasa Enza memejamkan kedua matanya, dan perlahan memasuki alam sadarnya. Hanya berselang beberapa menit, Enza tertidur. Lagi-lagi dia mendapatkan mimpi yang sangat menakutkan.
"Dasar, Tante pembu*nuh! Tante sudah berhasil menghilangkan nyawaku, dan membuat orang tuaku merasakan kesedihan yang teramat menyakitkan. Maka dari itu, Tante harus mendapatkan balasan. Aku akan melakukan apa yang sudah Tante lakukan padaku!"
"Aku akan merenggut nyawa Tante, seperti Tante yang berhasil merenggut nyawaku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkan Tante untuk bahagia, di mana pun Tante bahagia. Maka, aku akan selalu menjadi bayang-bayang yang tidak akan pernah membiarkan Tante tidur dengan tenang. Hahah!"
__ADS_1
Suara anak kecil itu yang menyerupai Justin, berhasil membuat Enza tidak pernah tertidur tenang. Dia selalu di hantui oleh rasa bersalah, lantaran sudah membuat Justin berada di dalam bahaya.
Apa lagi Enza tidak tahu, bagaimana perkembangan nasib Justin setelah kecelakaan tersebut. Dia pun sama sekali tidak tau apa-apa mengenai khasus Justin yang sebenarnya. Sebab, selama Enza memiliki hubungan dengan Felix, sedikit pun Felix tidak pernah membahas tentang masa lalunya. Bagi Felix membahas semua itu tidaklah baik untuk kehidupan mereka kedepannya.
"Tidak, hentikan! Jangan pernah kembali mengganggu hidupku, bocah! Aku sudah bahagia sama hidupku yang baru, jadi pergilah. Pergi!" titah Enza sambil berteriak menjauhi Justin.
"Aku tidak peduli\, mau Tante hidup bahagia atau tidak. Aku tetap akan membalaskan dendamku\, jika aku ma*ti karena Tante. Maka\, Tante juga harus ma*ti!" ucap Justin\, mengejar ke mana pun Enza pergi.
"Stop, aku bilang stop! Jangan mengejarku lagi, aku ingin hidup bahagia! Pergi, pergi!" teriakan Enza tidak berhasil membuat Justin pergi, dia malah tertawa ketika sedikit lagi keinginannya akan terpenuhi.
Enza berlari sekuat tenang, tetapi sayangnya dia kesandung dan terjatuh. Di situ, Justin langsung menghampirnya lalu mencekik leher Enza sampai dia tidak bisa bernapas lega.
"Aaaa ... Tu-tuan! Tuan ngapain di sini? Tu-tuan ingin membu*nuh saya, iya?" pekik Enza sedikit menjauh dari Thoms, sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.
Napas Enza masih tersenggal-senggal, dia begitu gugup ketika hidupnya akan berakhir sia-sia berkat mimpi yang dia alami beberapa menit lalu.
Thoms duduk dengan wajah bingung, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Enza. Padahal niat dia baik, tetapi Enza malah salah paham terhadapnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu berkata seperti itu pada calon suamimu sendiri? Mana mungkin saya membu*nuhmu, sedangkan saya saja saat mendengar suara teriakanmu langsung lari ke sini!"
"Ketika sampai di sini, saya malah melihat tanganmu mencekik lehermu sendiri. Maka dari itu saya berusaha keras untuk menyelamatkanmu. Tapi, apa yang saya dapat? Saat kamu terbangun, dengan seenaknya kamu malah menyangka kalau saya berniat ingin membu*nuhmu!"
Setelah mendengarkan penjelasan dari Thoms, Enza langsung terdiam. Dia kembali mengingat semuanya, di saat sudah teringat barulah dia sadar. Kalau seseorang yang berniat ingin membu*nuhnya bukanlah, Thoms. Melainkan Justin yang selalu muncul di mimpinya.
"Tu-tuan, maaf. Aku tidak sengaja mengatakan itu, aku kira nyata, tapi ternyata mimpi. Sekali lagi maafkan aku, Tuan. Maaf!" ucap Enza, panik. Dia segera mendekati Thoms secara perlahan dan berusaha untuk mengambil perhatiannya lagi.
Susah payah Enza membujuk Thoms, pada akhirnya Thoms pun mula kembali ke dalam pelukannya. Sifat manja Enza berhasil meluluhkan Thoms, sampai mereka melakukan adegan yang tidak seharusnya di lakukan.
Malam itu, mereka habiskan waktu yang panjang hanya berdua saja dengan di temani oleh decitan suara ranjang akibat pergerakan liar mereka yang cukup mengga*irahkan.
Kucuran keringat satu sama lain, mewakilkan kenikmatan yang tidak bisa mereka jelaskan. Cukup di wakilkan dengan suara indah mereka yang saling bersahutan satu sama lain.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung