Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Selesainya Kesalah Pahaman


__ADS_3

Elice menoleh ke arah Sakha, tatapan mereka berdua pun mulai menjadi tidak tenang. Akankah Ernest dan Felix bisa kembali berteman seperti semula atau mereka akan berperang untuk memenangkan egonya masing-masing.


"Ka-kau? Nga-ngapain kau ada di sini, hahh? Jangan bilang kau ingin mengambil Justin, iya!" bentak Ernest, langsung melepaskan diri dan berjalan mendekatinya.


Felix hanya terdiam mematung dengan pandangan mata saling menatap satu sama lain. Jarak antara wajah mereka hanya berkisaran 1 jengkal tangan orang dewasa saja. Jadi, bisa di pastikan kalau suasana di dekat mereka sudah mulai menegang.


"Ayah, gimana ini? Apakah mereka akan berkelahi?" tanya Elice sambil berbisik di dekat suaminya.


"Semoga saja tidak, Bun. Ayah percaya, seegois apa pun Ernest. Felix tidak mungkin meladeninya, walau banyak selisih paham diantara mereka, tetapi mereka tidak akan saling menyakiti. Percayalah! Kita lihat saja, jika sesuatu terjadi pada mereka. Maka kita bisa langsung melerainya," sahut Sakha, berbicara sangat pelan.


Elice dan Sakha mulai memperhatikan gerak-gerik keduanya yang masih setia dalam tatapannya satu sama lain tanpa mengalihkan.


"Kenapa? Kau takut kalau aku akan mengambil anakku sendiri? Bukannya kau sudah menolaknya, bahkan kau sendiri telah menyakiti mentalnya. Jadi, buat apa aku membiarkan dia bersama dirimu, hem!" seru Felix menatap remeh.


"Kalau sampai kau menyentuh anakku, maka---"


"Apa aku tidak salah dengar? Anakmu? Hahh? Hahah ... Dia bukan anakmu, tapi anakku!"


Felix langsung memotong perkataan Ernest. Dia mulai menantangi Ernest, sehingga membuatnya mulai terpancing suasana.


"Tidak, dia anakku!" pekik Ernest.

__ADS_1


"Hehhh ... Ernest, Ernest. Kemarin aja kau sakiti mereka, dan sekarang baru menyadarinya. Dasar aneh!"


"Kauu!!"


"Apa? Mau marah? Silakkan! Aku tidak peduli, selama ini aku kira hubunganmu dengan Moana sudah membaik. Nyatanya, tidak! Kau malah menyakiti mereka seenak jidatmu demi balas dendammu. Dan setelah mereka seperti ini, kau baru merasa mereka penting? Hahah ... Lucu kau, Ernest. Lucu!"


Felix tertawa renyah meledek Ernest sesuka hatinya. Semua Felix lakukan bukan karena dia ingin menantang Ernest, melainkan dia ingin membuatnya sadar atas apa yang sudah di lakukannya.


Sakha dan Elice hanya bisa memantau tanpa ingin ikut campur masalah anaknya. Meski, mereka melihat Felix begitu sombong. Akan tetapi, mereka paham maksud di balik sikap Felix yang mulai menantang Ernest.


"Selama ini kedua orang tuamu, aku bahkan istrimu sendiri berusaha menjelaskan bahwa Moana sama sekali tidak ada sangkut pautnya atas kejadian yang menimpa dirimu. Mereka juga telah menjadi korban seperti diriku, karena yang bersalah di sini adalah aku! Aku satu-satunya orang yang sudah menjebak kalian semua, jadi yang pantas kau balaskan dendam adalah diriku. Bukan mereka!"


Felix langsung merogoh sakunya dalam keadaan terburu-buru tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Ernest. Setelah itu, dia perlihatkan sebuah video yang ada di TKP.


Terlihat jelas, bahwa Felix menggendong Moana dalam keadaan Moana yang masih dalam keadaan hanya tertutup selimut menuju kamar Ernest. Di situ barulah Ernest percaya, bila Moana sama sekali tidak ada niatan ikut campur atas jebakan yang Felix lakukan di hari itu.


Semua rasa kecewa, marah, dan juga ego mulai melembur menjadi satu. Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan. Semua perlakuan Ernest pda Moana dan Justin seketika mulai berputar satu persatu di dalam isi kepalanya. Bagaikan semua rekaman yang tidak bisa Ernest lupakan.


Ini yang dia benci dari dirinya sendiri. Ernest masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri agar tidak di kuasai oleh kebo*dohan serta rasa egoisnya yang cukup dominan.


Ketika Sakha melihat penyesalan di dalam wajah anaknya, senyuman menyeringai mulai terukir kecil. Lalu, menoleh ke arah Elice yang juga tersenyum. Terlihat sekali, bila mereka berdua begitu senang saat melihat anaknya menderita atas perbuatannya sendiri.

__ADS_1


Mungkin, bagi mereka berdua ini merupakan hukuman yang harus Ernest jalani. Setidaknya mata dan hatinya telah terbuka agar tidak terus menerus menyiksa istri dan anaknya.


Felix kembali memasukan ponselnya di dalam saku celananya, lalu perlahan memegang kedua pundak Ernest sangat erat.


"Aku tahu, kau pasti menyesal karena telah menyakiti mereka. Sama denganku yang telah menyesal melakukan semua ini. Cuman, aku yakin. Ketika kita berusaha untuk memperbaiki semuanya dan menjadikan ini sebagai pelajaran hidup. Maka, aku yakin. Moana dan Justin bisa memaafkan kita, walau kita harus berjuang kerasa untuk mengembalikan keadaan seperti semula!"


"Aku yakin, kau adalah orang baik, Ernest. Jadi aku titipkan anakku padamu agar kau bisa membahagiakannya dengan semua yang kau punya. Sebab, aku bukanlah Ayah yang baik untuknya. Kau tenang aja, kau tidak sendiri. Aku akan selalu bersamamu, kita hadapi semua ini bersama-sama!"


"Kita harus berjuang dari nol lagi untuk memperjuangkan mereka. Di mana kau perjuangkan keutuha rumah tangga dan kepercayaan akan cintamu. Sedangkan aku berjuang untuk anakku serta kembali menjalani hubungan sebagai Kakak dari Moana!"


Senyuman kecil terukir jelas di wajah Felix, meski matanya berkaca-kaca menatap Ernest. Entah keajaiban apa, Ernest langsung memeluk Felix begitu juga sebaliknya. Mereka meminta maaf satu sama lain atas kesalahannya masing-masing.


Tidak salah bukan, dugaan Sakha benar. Kini, hubungan antara Felix dan Ernest menjadi jauh lebih baik setelah selesainya kesalah pahaman di antara keduanya.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2