
"E-edi, e-eluk U-ustin. U-ustin e-edinginan!" ucap Justin, suaranya terdengar begitu lirih.
Ernest yang tidak kuat mendengar nada kesakitan anaknya, langsung turun dari mobil dan langsung mengambil alih Justin dalam pelukan Felix.
Tangis Ernest kembali pecah, dia berusaha menahan rasa mual dan juga pusing di kepalanya. Fokusnya hanya satu, saat melihat Justin tersenyum kecil di sela tidurnya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Moana yang beberapa jam lalu pingsan tanpa sadar, seketika terbangun sambil berteriak sekuat tenaga. Di mana Elice langsung memeluk menantunya saat melihat reaksinya yang sangat memprihatinkan.
"Justin, awas!" teriak Moana.
Elice langsung menenangkan Moana dan memeluknya. Kemudian di sela pelukannya, Elice mencoba untuk menyangkal bila itu hanyalah sekedar mimpi belaka.
Tanpa di sadari, semua itu pada dasarnya adalah pesan yang di sampaikan melalui sebuah mimpi. Itulah sumber kekuatan ikatan batin antara anak dan juga Ibunya.
"Tenang, Sayang. Tenang! Bunda yakin, Justin baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu padanya!" ucap Elice mencoba untuk menenangkan Moana yang di landa kepanikan.
"Tidak, Bunda. Itu benar-benar nyata, tadi Moana membantu Justin lari. Entah kenapa tiba-tiba Justin tertabrak, Bun. Di situ Justin terluka parah, Moana tidak mau kehilangan Justin. Moana tidak mau!"
Moana menangis sesegukan di dalan pelukan Elice. Sakha yang melihat menantunya dalam keadaan secemas ini, sedikit mengkhawatirkan tentang kesehatannya dan juga mentalnya.
Akan tetapi, suara dering telepon terdengar nyaring yang berasal dari ponsel Moana. Tanpa melihatnya, Moana segera mengangkatbdalam keadaan yang masih panik.
[Hal ... A-apa? Ju-justin di rumah sakit? Ko-kok bisa?]
__ADS_1
[O-oke, a-aku ke sana sekarang!]
Moana mematikan ponselnya, dan segera bersiap-siap. Hanya saja, kepenasaran Elice langsung menghentikan akses gerak Moana. Bertujuan untuk mengetahui siapa yang belum lama tadi menelepon menantunya.
"Tadi siapa yang menghubungimu? Ernest?" tanya Elice.
"Bukan, Bun. Itu Kak Felix, dia menelponku karena sudah berhasil menemukan Justin, tapi ..."
Moana menghentikan ucapannya, sebab dia tidak kuat untuk mengatakan apa yang di katakan oleh Felix mengenai kondisi anaknya.
"Cucuku kenapa? Katakan sama Ayah? Ada apa, Moana? Katakan!" tanya Sakha, wajahnya terlihat datar.
Moana menatap satu persatu wajah kedua merduanya. Di situ Moana menjelaskan mengenai kondisi anaknya dari Felix. Bibir Moana sampai bergetar, bahkan mereka pun menjadi syok berat setelah mengetahui bahwa Justin sedang menghadapi jurang antara hidup dan ma*tinya.
Moana tidak henti-hentinya terus menyalahkan dirinya sendiri, akibat kejadian yang terjadi pada anaknya saat mengira dia telah gagal menjadi seorang Ibu.
"Bertahan sayang, Justin tidak boleh meninggalkan Mommy. Jika harus ada korban, biarkan Mommy yang menggantikan posisimu saat ini. Semua salah Mommy, karena Mommy sudah lalai dalam menjaga dirimu. Sekali lagi maafkan Mommy, sayang. Mommy janji. Mommy tidak akan pernah meninggalkan Justin lagi, Mommy sayang banget sama Justin. Jadi, Justin harus kuat ya. Sebentar lagi Mommy sampai di rumah sakit, dan kita akan bertemu lagi hiks ...."
Moana berbicara di dalam hatinya di saat pikirannya melambung tinggi memikirkan keadaan anak tersayangnya. Kurang lebih 40 menit, Moana sampai di rumah sakit bersama kedua orang tua Ernest.
Mereka bertiga segera berlari mencari ruangan UGD, di mana Justin di rawat. Dari jauh terlihat Ernest sedang duduk jongkok di lantai sambil memejamkan matanya dan memukul dahinya berulang lagi akibat rasa pusing yang melanda.
"Ernest, bagaimana anakku? Dia baik-baik aja, 'kan? Justin sehat 'kan? Justin tidak terluka, 'kan?"
Pertanyaan itu terus di tanyakan berulang kali pada Moana, dan langsung di peluk oleh Ernest. Di situ tangis Ernest pecah, dia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Justin dari kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Sementara Moana terdiam mematung ketika dia mendengar kejadian sesungguhnya dari mulut Ernest. Hati seorang Ibu yang mana, yang tidak akan hancur saat mendengar anaknya mengalami kejadian menyedihkan.
Felix menjelaskan kronologi sebenarnya pada Sakha dan juga Elice, sambil mereka menunggu kabar selanjutnya dari sang dokter.
Tidak lama, dokter keluar dengan wajah yang sangat datar dan sedikit lemas. Sorotan matanya terlihat begitu bingung, seperti tidak tahu harus menjelaskan dari mana lagi.
"Permisi\, Tuan\, Nyonya. Saya ingin berbicara penting mengenai kondisi saudara Justin saat ini. Sebelumnya kalian harus tenang terlebih dahulu\, saya yakin ujian ini akan segera berlalu. Jadi\, menurut hasil pemeriksaan yang di lakukan. Justin mengalami keretakan di bagian tengkorak kepalanya\, bahkan terdapat gumpalan da*rah yang membeku. Sehingga kita harus melakukan operasi\, tetapi kita harus membutuhkan 2 kantong da*rah karena pasien mengalami kekurangan akibat benturan cukup kuat di kelapanya!"
"Untuk itu\, saya sarankan agar kalian bisa menyumbangkan da*rah bagi kesembuhan pasien. Apa lagi golongan da*rah pasien sangatlah langka\, bisa juga mengambil dari salah satu orang tuanya. Karena dari kedua orang tuanya\, pasti salah satu ada yang sama atau keluarga lainnya. Semua ini harus kami lakukan secepat mungkin\, sebelum kal buruk terjadi pada pasien. Keadaan pasien semakin lama akan semakin drop\, apa bila kita tidak bisa segera mengambil tindakan untuk keselamatannya!"
Keterangan sang dokter, benar-benar berhasil mengobrak-abrikan perasaan mereka semua. Moana yang tidak kuat hanya bisa menangis mendengar nasib anaknya yang harus berjuang melewati ma*utnya di usia yang sangat kecil.
Tanpa harus banyak bertanya, mereka semua segera ikut bersama sang suster untuk mengecek kesehatan dan golongan darah agar bisa segera menjadi pendonor bagi Justin.
Wajah mereka terliha pucat, bukan berarti sakit. Melainkan mereka hanya mengkhawatirkan nasib Justin ke depannya. Semua takut akan kehilangan bocah yang lucu itu, karena kehadirannya selalu membuat semuanya di selimuti kebahagiaan.
Sampai tanpa di sadari, hati Felix bergetar saat dia memeriksakan golongan darahnya. Sorotan mata akan kebencian terhadap dalang di balik semua ini benar-benar terlihat. Dia tidak akan membiarkan Enza lolos begitu saja, dan juga pemilik mobil yang harus bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi pada Justin.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1