
Malam hari, tepatnya pukul 7. Thoms baru sampai di rumah keluarga mertua dari Moana. Tanpa berlama-lama, mereka langsung pergi ke ruang makan untuk melaksanakan makan malam bersama-sama.
Semua ini atas undangan Moana juga Ernest, sebagai keluarga mereka harus tetap menjaga silaturahmi dalam tujuan supaya tidak membuat Thoms sendiri merasa kesepian. Apa lagi Moana sudah kembali bersama Ernest, otomatis Thoms akan merasa sendirian saat kembali pulang.
Makan malam kali ini, benar-benar sangat lengkap. Thoms merasa begitu dihargai juga disayang oleh keluarga Ernest layaknya anak mereka sendiri.
"Tuan, Thoms. Ayo, makan yang banyak. Jangan malu-malu, ini ada ayam, naget, ikan, sayur, daging, udang, cumi. Pokoknya ambil saja, anggaplah kami ini keluargamu. Dari pertama kali Moana menjadi menantu di keluarga ini, kami sudah menyayanginya seperti anak perempuan kami sendiri. Begitu juga dengan Tuan, kami juga sudah menganggap Tuan sebagai putra pertama kami. Jadi, jangan sungkan ya."
Becca menawarkan Thoms semua lauk pauk serta sayur-sayuran yang ada di atas meja panjang. Thoms bukan malu untuk mengambil semua itu, melainkan dia memimikirkan tentang kesehatannya sendiri.
Thoms tidak ingin semua penyakit menyerang tubuhnya. Dia sangat ketat untuk menjaga kesehataan, sehingga Thoms bingung sendiri harus memilih menu yang mana. Semua menu bisa dikatakan sehat, tetapi apa bila di makan secara berlebihan itu yang membuatnya tidak sehat.
"Terima kasih, Nyonya." Thoms sedikit mengukirkan senyuman kecil nyarus tidak terlihat. Kemudian, setelah Moana selesai mengambilkan makan suami juga anaknya. Barulah dia mengambilkan nasi untuk sang kakak, serta menawarkan menu apanyangbakan Thoms makan.
Thoms hanya mengambil udang balado dan sayur kangkung. Selebihnya dia tidak mengambil lagi, nasi pun dia hanya secentong saja tidak lebih. Semua itu demi menjaga roti sobek, supaya wanita-wanita yang berada didekatnya tidak akan pergi.
Tahu sendiri, bukan. Banyak wanita yang menginginkan suami atau pasangan dengan bentuk tubuh ideal. Gagah, berwibawa, tampan juga memiliki roti sobek, merupakan surga bagi setiap wanita. Tidak ada di dunia ini yang tidak ingin memiliki suami atau pasangan seperti itu, semua pasti sangat menginginkannya.
Hanya saja, Thoms belum mempunyai pasangan hidup yang memang mencintainya dengan tulus tanpa melihat pekerjaan juga fisiknya. Mungkin, jika dia sudah menemukannya Thoms tidak akan hidup tanpa arahan seperti saat ini.
"Mommy, kakak mau naget lagi," ucap Justin yang sekarang tidak lagi di panggil menggunakan namanya.
"Boleh, Sayang. Daddy, mau nambah lagi?" tanya Moana langsung berdiri mengambilkan naget untuk Justin, sambil melihat ke arah Ernest.
__ADS_1
"Aku udah kenyang, Sayang. Kakak aja makan yang banyak ya, biar cepat besar. Kalau nanti sudah besar, jangan lupa bantuin daddy kerja di kantor. Oke?" sahut Ernest, menatap ke arah Justin.
"Siap, daddy. Kakak akan bantuin daddy kerja, biar daddy gak capek-capek lagi," jawab Justin sambil tersenyum lebar.
"Pintarnya cucuku, semoga nanti kakak bisa punya perusahaan sendiri biar bisa jadi orang sukses," sambung Elice dengan wajah bangganya.
"Aamiin ...." Semuanya menjawab secara bersamaan, lalu kembali melanjutkan malam malamnya sampai tuntas.
Malam ini, Barra tidak ikut hadir bersama semuanya dikarenakan dia sudah tertidur pulas akibat kekenyangan menyusu. Sehingga, Moana meninggalkan Barra di kamar seorang diri dengan terus memantau setiap pergerakan Barra melalui sebuah layar kecil bagaikan CCTV yang di pasang tepat di tempat tidur Barra.
Moana selalu membawa alat itu agar bisa memantau anaknya ketika terbangun atau menangis. Semua itu akan terlihat bahkan, apa bila Moana berbicara pasti Barra juga bisa mendengarnya. Walaupun dia tidak tahu dari mana sumber suara tersebut.
20 menit sudah, mereka semua baru selesai makan bersama. Kemudian, Sakha mengajak yang lainnya untuk pergi ke ruang keluarga untuk duduk santai. Sedangkan Moana juga Elice, mereka menyiapkan cemilan serta minuman yang nanti akan menemani mereka. Tidak lupa membantu bibi membereskan meja makan agar kembali bersih.
Melihat Justin tertawa bersama Ernest, sedikit membuat Thoms merasa cemburu. Biasanya dia yang selalu ada di samping Justin, walaupun Thoms tidak selalu ada di rumah menemani kedua ponakannya.
Akan tetapi, semua kembali lagi pada kenyataan. Moana juga kedua anaknya adalah milik Ernest, itu tidak bisa di sangkal lagi bagi Thoms. Terpenting, Ernest sudah bisa berubah itu sudah cukup untuk membuat hati Thoms lega meninggalkan mereka di sini.
"Sebelumnya saya ingin Meminta maaf, apa bila pertanyaan saya nanti akan membuat Tuan Thoms tersinggung. Apakah Tuan mengizinkan saya menanyakan sesuatu?" tanya Sakha, suaranya terdengar sangat lembut. Semua itu demi menjaga perasaan Thoms, agar tidak menimbulkan masalah kembali.
"Silakkan, Tuan! Tanyakan saja, apa yang ingin Tuan tanyakan. Jika saya bisa menjawab, maka saya akan jawabnya," ucap Thoms menatap ke arah Sakha, seperti sudah menebak apa yang akan dia tanyakan.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan bisa menjawabnya jika Tuan berkenan. Saya hanya ingin bertanya, sebenarnya Tuan ini sedang menjani bisnis apa? Karena saat saya mendengar cerita dari Justin, kalau dia bilang Tuan ini sering sekali terbang jauh. Bahkan pulangnya bisa seminggu atau sebulan sekali dan liburnya juga hanya beberapa hari, lalu terbang lagi seperti biasanya."
Thoms sedikit syok, tapi dia tetap terlihat baik-baik saja tanpa rasa gugup sedikit pun. Sebisa mungkin Thoms tersenyum kecil, agar tidak membuat Sakha mencurigai tentang siapa jati dirinya.
Benar dugaan Thoms, lama-kelamaan keluarga Ernest pasti akan menaruh rasa janggal juga penasaran atas pekerjaan yang Thoms jalani. Melihat dia memiliki musuh juga anak buah, pasti mereka berpikir bahwa Thoms sedang menjalani bisnis ilegal.
Ernest hanya menyimak obrolan Sakha dengan Thoms, lantaran dia juga penasaran sama pekerjaan yang Thoms jalani. Beberapa kalo Ernest menanyakan pada Justin, dia tidak tahu menahu soal pamannya ini. Sementara menanyakan pada Moana, dia tidak menjawab dan sering sekali mengalihkan pembicaraan.
Lalu, sekarang? Pertanyaan Sakha seperti mewakilkan cara cemas juga penasaran yang ada di dalam hati Ernest. Di saat Thoms ingin menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba saja Moana sama Elice datang membawa cemilan serta minuman. Padahal, mereka batu saja selesai makan malam, tapi tetap saja mereka menyiapkan semua itu demi menemani obrolan mereka semuanya.
Justin yang tidak mengerti hanya fokus menatap layar besar yang sudah menyala. Mata Justin tidak lepas dari film anak kecil yang memang dia sukai. Selepas Moana dan Elice duduk di kursinya masing-masing, Thoms kembali menarik napas demi membuatnya tidak terlihat gugup.
Thoms tidak ingin memberitahu mereka sebelum dia menemukan musuh terakhir yang masih tidak ditemukan tentang keberadaannya. Sedetail mungkin Thoms memikirkan sebuah alasan atau jawaban yang cocok untuk menjawab semua demi mewakilkan pekerjaan ilegal tersebut.
Mungkin, Thoms tetap akan menjelaskan tentang pekerjaannya melalui kode-kode tertentu. Semua itu akan terbaca mudah apa bila orang yang mendengarkannya nyimak serta memiliki profesi yang sama dengan dirinya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1