
Moana terlihat bahagia saat dia kembali menjadi pengantin, walau ini pernikahan yang kedua kali bersama orang yang sama. Akan tetapi, rasanya benar-benar berbeda. Hari ini Moana merasa seperti seorang gadis yang baru menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria yang dia cintai.
"Gimana? Apa kamu suka?" tanya Ernest menjalankan kursi roda untuk mendekati istrinya.
Moana segera berbalik, lalu menatap suaminya. Mengarahkan kursi roda milik Ernest ketepi ranjang agar dia bisa duduk menyamakan posisi Ernest yang duduk di kursi roda.
"Wah, ini lebih dari sekedar suka, Sayang. Sumpah, aku seperti di perlakukan sebagai seorang gadis yang baru masuk ke dalam keluargamu. Sungguh, aku tidak bisa menggambarkan betapa senangnya hatiku saat kita bisa kembali bersama. Untuk itu, terima kasih karena kamu sudah berjuang demi bertahan dengan cinta yang sebenarnya kamu sendiri sudah tahu kalau aku ini telah tiada. Namun, keyakinan hatimu membuatmu bertahan sampai akhirnya takdir mempersatukan kita kembali."
Tangan Ernest terangkat mengelus pipi istrinya, kemudian mereka berpelukan bersama untuk beberapa menit. Di dalam pelukan itu mereka menangis bersama untuk menumpahkan semua kebahagiaan satu sama lain. Ketika hati sudah mulai tenang, perlahan pelukan terlapas mambuat Ernest dan Moana saling tersenyum.
"Terima kasih juga, karena kamu sudah bisa menerimaku kembali. Maaf, beribu maaf apa bila aku memiliki banyak kekurangan juga fisik yang tidak sempurna ini. Hanya saja, aku berjanji aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik untuk dan ayah terkuat untuk anak-anakku. Sekali lagi terima kasih, Sayang. I love you more, Baby!"
"I love you to, My Husband."
Sorot mata mereka tidak lagi dipenuhi dengan rasa kesal, kekecewaan dan sebagainya. Hanya akan ada cinta yang besar bersemanyam di dalam hati mereka, sehingga membuat tatapan mereka tiba-tiba berubah berbeda.
Perlahan mereka mulai terhanyut, sampai Ernest menarik sedikit tengkluk leher Moana supaya mereka bisa menyatukan bibir yang sudah lama tidak tersentuh. Suara yang sudah lama tidak di dengar, berhasil membuat mereka mulai terbawa suasana.
Moana hanya bisa menerima sentuhan manis dari bibir suaminya sesekali membalas pergerakan sang suami. Lidah mereka saling melilit di dalam rongga mulut sebagai perkenalan pertama sebelum mereka melakukan adegan lain.
Sebisa mungkin, Ernest memperlakukan sang istri penuh kelembutan juga cinta. Tidak ada sedikit saja kekerasan di dalam sentuhan Ernest, demi menjaga berlian yang sekarang dimiliki agar tidak lecet juga hilang.
Sentuhan yang diawali dengan kelembutan, kini berubah menjadi sedikit tegang. Di mana Ernest memperdalam luma*tan bibirnya, hingga lidah Ernest berhasil mengabsen seluruh isi yang ada didalam rongga mulut istrinya.
Moana yang mulai kesulitan untuk menyeimbangi Ernest, sedikit memukul dada suaminya. Akan tetapi, Ernest terus saja menikmati suasana yang sudah lama tidak dia rasakan.
Pergerakan lidah Ernest berhasil menyapu bersih mulut Moana hingga dia memukuli dada suaminya, akibat aksi Ernest yang menjengkelkan. Di mana mulut Ernest menyedot kuat lidah Moana begitu dalam, sampai-sampai Moana tersedak.
Ernest yang baru menyadari aksinya sedikit ekstream segera melepaskan Moana. Melihat istrinya terbatuk-batuk lantaran keselek air liurnya sendiri, membuat Ernest merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalahnya, Ernest segera mengambil air minum yang ada di meja dekat sofa kamar mereka. Kemudian memberikannya pada Moana secara perlahan.
Moana sedikit kesulitan bernapas akibat aksi suaminya yang cukup ekstream. Maklum saja, Ernest baru melakukannya kembali setelah sekian lama tidak melakukannya. Sehingga, hasrat yang terpendam mulai keluar ketika dia mendapatkan lawan main.
__ADS_1
Setelah selesai minum, Moana mencoba menetralkan napasnya sambil melirik kesal ke arah Ernest, sedangkan suaminya itu hanya bisa cengengesan ketika mendapatkan tatapan mengerikan.
"Hahh, sumpah. Ciumanmu benar-benar membuatku trauma," ucap Moana sambil menarik napasnya.
"Hehe, maaf, Sayang. Habisnya aku gemas, tahu sendiri aku udah lama tidak melakukannya. Jadi, maafin aku ya, please!"
Kedua tangan Ernest mulai dia satukan di depan dadanya sambil memohon pada istrinya. Tidak lucu dong, apa bila pengantin di malam pertamanya berantem hanya karena ciuman ekstream. Jadi, Ernest berusaha untuk mencoba menenagkan istrinya.
"Sayang ...."
"Udahlah, aku mau bersih-bersih sambil ganti baju dulu. Kalau nanti udah selesai baru aku gantikan bajumu, sementara kamu duduk di ranjang dulu. Sini aku bantu!"
"Aku mau ikut, Sayang. Aku mau ikut!"
"No! Tunggu di sini, atau malam ini tidak akan ada uhh hahh uhh hahh, mau?"
Ernest langsung menggelengkan kepalanya setelah duduk di tepi ranjang dibantu oleh istri tercinta. Wajah cemberut Ernest tidak berhasul membuat Moana luluh, dia hanya melirik sinis lalu pergi meninggalkan Ernest masuk ke dalam kamar mandi
"Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Ernest. Dasar bod*doh!"
"Bisa-bisanya melakukan kesalahan di malam yang berharga ini. Ingat, Ernest! Gatotmu sudah lama berdiam diri di dalam sangkar. Jangan lagi, kau patahkan semangatnya yang udah membara ini!"
"Apa kau tidak tahu, dia sudah menunjukkan jatinya. Lihat saja celanamu, mengembang bukan? Itu artinya dia sudah meronta-ronta ingin segera masuk ke dalam goa, bukan lagi sangkar yang sempit kaya gini!"
"Hahh, intinya kalau sampai malam ini gagal. Aku tidak akan membuka mulutku selama seminggu, sebagai hukuman untuk bibirmu yang nakal ini!"
Celoteh Ernest tanpa di sadari, membuat Moana terkekeh geli di dalam kamar mandi saat mengintip perilaku suaminya yang terlihat menggemaskan. Bagaimana tidak, Ernest persis seperti anak kecil yang lagi ngambek. Dia mengoceh sesuka hatinya ketika sedang menggerutuki kebo*dohannya sendiri atas napsu yang sulit terkontrol.
Sehabis itu Moana segera membersihkan wajahnya, kemudian mengganti gaun pernikahan dengan baju tidur yang sudah di siapkan. Kurang lebih 30 menit, Moana selesai. Dia segera kembali ke kamarnya dan terkejut saat melihat suaminya sudah mengganti bajunya menggunakan bathdrobe (baju berbahan handuk).
"Loh, kamu sudah ganti baju? Kenapa pakai baju itu?" tanya Moana yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Biar nanti gampang, hehe ...." Ernest tertawa kecil membuat Moana menyipitkan sebelah matanya.
"Gampang apa?" tanya Moana sambil duduk di meja rias.
"Buka bajunya dong, jadi enggak perlu lama-lama. Tinggal tarik talinya langsung kebuka semuanya deh, hehe ...." Wajah Ernest terlihat menggoda, tetapi tidak membuat Moana luluh.
"Bagus dong, dengan begitu besok pagi kau bisa mandi dengan mudahnya. Dahlah, aku mau tidur, badan capek banget. Good night!"
Selesai membersihkan wajahnya, Moana langsung berjalan mendekati ranjang di sisi berlawanan dengan Ernest. Kemudian Moana merebahkan tubuhnya sambil sedikit menarik selimunya dan tertidur dalam posisi membelakangi Ernest.
Nelihat aksi istrinya yang seperti ini, lgi-lagi Ernest merasa kesal. Apa yang dia lakukan membuat malam pertamanya lagi-lagi harus tertunda. Sesuai perjanjian, dia akan berpuasa berbicara selama 1 Minggu kedepan.
Perlahan Ernest mengangkat kakinya satu persatu agar bisa merubah posisi duduknya menjadi tiduran. Setelah itu dia memejamkan kedua matanya dalan keadaan Gatot yang masih menebar pesona.
Kurang lebih 5 menit, Ernest tidak bisa tidur karena si Gatot terus menginginkan rumahnya kembali. Akan tetapi, saat Ernest membuka matanya Moana terlihat pulas tertidur membelakanginya. Sehingga dia tidak berani untuk menganggu aksinya.
"Malang sekali nasibmu, Ernest! Inilah akibatnya kau bermain-main dengan betina, kau sendiri yang rugi. Huhh, dasar menyebalkan!"
"Udahalah, Tot. Mending lu tidur, ngapain bangun mulu. Percuma, goa lu udah di segel lagi. Paling juga bulan depan lu bisa dapetin lagi. Dari pada lu bangun, terus bikin gua susah tidur, mending lu tidur deh, biar gua gak emosi mulu bawannya. Yang ada lama-lama lu yang gua potong, mau!"
Ernest melampiaskan kesalahannya pada si Gatot. Membuat Gatot bukan tertidur malah semakin bereaksi. Otot-otot kemarahan Gatot semakin memuncak, menyulitkan Ernest untuk beristirahat.
Sampai pada akhirnya saat Ernest sedang berusaha kembali mencoba menetralkan perasaannya, tiba-tiba sesuatu terjadi di luar dugaan membuat Ernest melototkan kedua mata secara spontan.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1