Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Teringat Kejadian Lalu


__ADS_3

Felix masuk ke ruangan, kemudian di persilakan duduk oleh Ernest tepat di depan meja kerjanya. Felix mulai menyampaikan semua kepentingannya bertemu Ernest.


Setelah selesai, Felix bangkit dari kursinya dan baru ingin meninggalkan Ernest seketika tidak jadi. Dia hampir saja lupa untuk menyampaikan pesan dari Moana.


Melihat Felix kembali duduk membuat Ernest bingung dan sedikit menyipitkan matanya, dalam keadaan duduk santai menyandar di kursi kebesarannya.


"Kenapa? Ada yang lupa?" tanya Ernest, datar.


"Ma-maaf, Tuan. Saya lupa kalau Nyo-, ma-maksudnya sekretaris Moana menitipkan 1 pesan untuk Tuan." ucap Felix, terbata-bata.


"Pesan? Pesan apa yang dia titipkan? Jangan bilang mengenai ngidamnya? Iya?" tanya Ernest, sudah bisa menebak semua itu.


Felix mengangguk kecil, lalu menjelaskan apa yang Moana pesankan kepadanya. Di sini Ernest terlihat begitu kesal dan langsung menggebrak mejanya.


"Hahh? Apa kamu bilang? Rujak di dekat rumah? Gila!"


"Apa dia tidak mikir, jarak rumah dan Perusahaan kurang lebih 1 jam, belum kalau macat atau terjebak lampu merah!"

__ADS_1


"Memang tidak bisa apa, beli ketika pulang? Setengah jam lagi saya ada meeting penting di luar. Bagaimana bisa saya membuang waktu hanya menuruti hal yang tidak penting!"


Kemarahan di wajah Ernest terlihat begitu jelas, bahkan Felix pun menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia bukan takut kepada Ernest, melainkan dia sangat bingung harus bagaimana.


Padahal tadi Moana bilang Ernest seperti sudah mulai memperhatikan dirinya dan juga bayinya, akan tetapi respon seperti ini membuat Felix bingung. Dia harus mempercayai siapa? Moana atau Ernest?


Pada akhirnya perkataan Ernest mampu mengejutkan Felix, dia langsung mengangkat kepalanya sampai menatap Ernest dengan mata membelalak. Felix tidak menyangka Ernest bisa melakukan semua ini, hanya demi mementingkan meeting dari pada anaknya sendiri.


"Mulai detik ini, semua rasa ngidam atau keperluan Moana sampai dia melahirkan itu adalah tugas utamamu, mengerti!"


"Saya ingin hidup tenang, bekerja dengan fokus tanpa harus memikirkan bagaimana caranya menuruti semua ngidam konyol itu!"


Ernest menekankan kata-katanya. Suara terdengar sangat lantang dan tegas. Lalu dia segera bersiap-siap mengambil jasnya yang berada di belakang kursi kebesarannya.


Kemudian Ernest pergi sambil membawa tasnya menuju suatu tempat yang sudah di jadwalkan. Meeting penting ini hanya melibatkan CEO Perusahaan saja, jadi bisa di katakan Meeting 4 mata.


Melihat Ernest keluar dari ruangannya, Moana segera berdiri dan menatap lirikan maut dari suaminya. Moana yang tidak mengerti dengan lirikan itu, bergegas menanyakan pada Felix yang baru saja keluar dari ruangan Ernest.

__ADS_1


Tatapan Felix terlihat begitu kesal saat menatap Moana. Lagi-lagi di sini Moana menjadi linglung ketika mendapatkan tatapan seperti itu.


Dia bertanya-tanya di dalam hatinya sebenarnya ada apa sama mereka berdua. Kenapa mereka terlihat lebih menyeramkan dari biasanya, sampai Moana harus memundurkan langkahnya di saat Felix mulai maju beberapa langkah.


"Tu-tuan, a-ada apa dengan kalian? Ke-kenapa perasaanku tidak enak?" ucap Moana sangat gugup, hingga tubuhnya menabrak dinding dan langsung di kunci rapat oleh Felix.


Kedua mata mereka menatap sangat dalam, sungguh Moana tidak mengerti dengan semua ini. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikiran Moana hanya satu, dia tidak mau kejadian mengerikan itu kembali terulang untuk ke sekian kalinya sama orang yang berbeda.


Melihat Moana menangis membuat Felix merasa bingung, dia melepaskan Moana dan membantunya duduk di kursi. Tangis itu sama persis seperti tangisan Moana saat bersama Ernest di hari itu.


Felix merasa bersalah dan segera meminta maaf atas semua yang dia lakukan, hingga kembali mengingatkannya pada kejadian itu. Trauma yang cukup membekas itu membuat Moana belum bisa sepenuhnya melupakannya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2