Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Minta Maaf


__ADS_3

"A-apa Ustin ahat ya cama Edi, Omi?"


Mata Justin menatap lekat ke arah Moana, di mana Moana sendiri pun bingung. Jika di bilang Justin jahat, ya bukan jahat. Akan tetapi, lebih mengarah belum bisa memahami situasi yang ada.


"Hem, Justin tidak jahat kok sama Daddy. Justin cuman belum bisa memporsikan rasa sayang yang Justin punya terhadap Daddy atau pun Paman Felix. Tapi, gapapa, Sayang. Justin masih kecil, jadi belum bisa membagi kasih sayang dengan baik. Mommy yakin, Justin pasti bisa sayang lebih-lebih dari Paman Felix kepada Daddy. Asalkan Justin mau memberikan kesempatan pada Daddy untuk membuktikan kalau Daddy juga layak di sayang sama Justin," ucap Moana mengusap pipi anaknya sambil tersenyum.


"Teyus Edi temana? Tok adi ndak teiyatan? Edi mayah cama Ustin ya, Omi?" tanya Justin, wajahnya semakin terlihat murung.


"Daddy enggak marah kok, sama Justin. Daddy hanya sedih, soalnya Justin main tidak mengajak Daddy. Malah Justin lebih asyik sama Paman Felix. Jadi, Daddy cemburu deh," jawab Moana.


"Cembuyu itu apa, Omi?" tanya Justin, berulang kali.


"Cemburu itu artinya, Daddy merasa sedih ketika melihat anak kesayangannya lebih asyik main sama orang lain dari pada dirinya sendiri. Contohnya kaya waktu itu, Mommy pergi sama Daddy terus Justin nangis suruh Mommy pulang. Nah, Daddy juga begitu. Paham 'kan sama apa yang Mommy katakan?"


Justin menganggukan kepalanya perlahan, lalu dia kembali mengatakan sesuatu yang lagi-lagi membuat Moana menjadi bingung, "Itu altina, Edi cekayang agi angis di kamal dong cama kaya Ustin temayen? Alo itu, Usti au te temal Edi duyu, Ustin au inta a'ap ndah uwat Edi cedih!"


Justi berlari meninggalkan kamarnya menuju kamar Ernest dan Moana. Sedangkan, Moana. Dia sedikit frustasi karena anaknya salah salah memahami perihal contoh yang telah di berikan.


Namun, apa bila di pikir-pikir. Ernest pasti akan meneteskan air matanya tanpa sepengetahuan semua orang yang melihatnya. Sehingga, Moana segera menyusul anaknya yang berlari ke arah kamarnya.


"Edi!" teriak Justin, ketika sudah masuk ke dalam kamarnya dan melihat Ernest baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah.

__ADS_1


"Ehh, ko--"


"Edi, a'aapin Ustin!" seru Justin, memeluk kaki Ernest. Wajah bingung serta bertanya-tanya mulai membuat Ernest menatap Moana yang hanya tersenyum.


Perlahan Ernest membungkuk lalu menggendong anaknya dan duduk di tepi ranjang sambil memangkunya. Dimana Justin malah menangis karena dia merasa bersalah pada Daddynya sendiri.


"Anak Daddy kenapa nangis, hem? Apa karena Mommy memarahin Justin, iya? Coba bilang sama Daddy, kenapa Mommy marahin Justin. Kalau Justin tidak salah, Daddy yang akan marahin Mommy," ucap Ernest, menghapus air mata anaknya.


Justin menggelengkan kepalanya dengan cepat, kembali membuat Ernest menjadi bingung. Jika bukan di marahi oleh Moana, terus kenapa Justin nangis seperti ini? Itu yang membuat Ernest sedikit mengkhawatirkan kondisi anaknya, tanpa mencerna bila Justin sudah meminta maaf padanya.


"Kalau bukan di marahin Mommy, terus Justin nangis kenapa? Daddy jadi bingung loh, coba bilang sama Daddy. Justin kenapa, hem? Mau mainan? Mau jalan-jalan? Atau mau apa, hem?"


"Ustin au inta a'aap alo Ustin uwat Edi cedih, Edi angan angis ya. Ustin cayang tok cama Edi, cayang anget. Uman ...."


"Edi celalu mayah-mayah cama Omi, Ustin cecel iyatna. Adi Ustin alas Edi cepelti itu, cupaya Edi uga bica aya Omi. Ustin iyat Omi cuka angis pas di mayahin Edi, adi Ustin ndak au iyat Omi cedih agi. Bial Edi aja yang cedih, itu!"


Moana dan Ernest yang mendengar perkataan anaknya, meskipun masih belepotan. Mereka cukup paham, itu artinya selama ini Moana dan Ernest mengalami problem Justin sudah mulai mengerti. Apa lagi saat Moana nangis ketika menidurkan Justin, di situ Justin melihat reaksi kurang baik dari Ernest kepada istrinya sendiri.


Ernest yang tidak tahu harus menjawab apa, langsung memeluk anaknya sambil menciumnya. Entah kenapa, air mata Ernest menetes secara perlahan yang membuat Moana hanya bisa tersenyum.


Akhirnya Ernest dan Justin bisa kembali berbaikan tanpa adanya problem di antara mereka berdua. Setelah Ernest memaafkan Justin, begitu juga sebaliknya mereka kembali terlihat happy ketika Ernest menggelitiki tubuh anaknya.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama, kemudian kembali turun ke bawah dalam keadaan Ernest menggendong Justin. Melihat suasana hati Justin yang bahagia berhasil menarik simpati kedua orang tua Ernest dan juga Felix. Semuanya tersenyum, ketika menyaksikan keromantisan keluarga kecil Ernest.


"Wihh, udah ada yang baikan kaya nih, Opa. Sepertinya kita harus ngadain acara nanti malam, gimana?"


"Wahh, boleh tuh. Acara apa ya?"


"Akal-akal ocis Oppa, Ustin au ocis!"


Justin langsung mengeluarkan suaranya saat sudah duduk di pangkuan Ernest dan menatap ke arah Elice dan Sakha.


"Ahaa, boleh juga. Oma bilang sama Bibi dulu ya buat belanja beli bahan-bahannya, jangan lupa Felix kamu juga datang bawa calon istrimu. Bunda mau kenalan, 'kan sebentar lagi kalian akan menikah. Tinggal menunggu bulan saja," sahut Elice, di angguki oleh semuanya sambil menatap Felix.


"Aku tidak janji ya, Bun. Soalnya aku belum tahu jadwal pemotretan dia seperti apa, kalau kemaleman tidak enak juga," jawab Felix.


"Gapapa, nanti kita mulai jam 8 saja bakar-bakarnya. Kalian nginap pun tidak masalah, kamar tamu di sini masih banyak jadi jangan khawatir."


Felix tersenyum dan hanya bisa mengangguk. Kemudian dia berpamitan kepada semuanya, sebelum Elice pergi ke arah dapur. Felix harus menyiapkan semua yang mereka butuhkan untuk persiapan pernikahan yang akan di adakan beberapa bulan lagi.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2