Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Laki-laki Tidak Peka


__ADS_3

Melihat Thoms berdiam diri seperti patung, membuat Nay langsung kesal. Dari tadi dia berusaha mengemis pertolongan, tetapi tidak ada satu orang yang berniat menolongnya. Baik Thoms, ataupun para bodyguard yang ada di sana.


"Kalau Tuan tidak mengenalku, perhatikan baik-baik. Lihatlah, Tuan, lihat!"


Suara bentakan keras yang Nay berikan mampu menyadarkan Thoms dari lamunannya. Dia langsung menatap wajah gadis yang masih bercucuran air mata dipenuhi perasaan kesal.


"Baju dres yang aku pakai ini merupakan pemberian darimu, Tuan! Di lemari besar itu, terdapat 10 setel baju dengan harga sangat fantastis. Kemudian aku memilih salah satu dari baju tersebut, lalu memakainya. Tidak lupa juga aku mempadukannya sama pemberian Tuan yang lainnya, seperti sepatu, perhiasan kecil, make up, dan semuanya!"


"Namun, kalau kalian semua masih tidak percaya aku ini adalah Kanaya Farizka. Maka, silakan tanyakan saja pada toko yang tertera dibanderol baju tersebut. Nanti kalian akan menemukan jawabannya sendiri!"


"Dahlah, lepaskan tanganku! Lebih baik aku pergi dari sini, dari pada harus menerima tuduhan dari kalian semua yang mengatakan kalau aku ini seorang penyusup. Sementara aku saja, tidak tahu siapa orang yang kalian maksud itu!"


"Aku mohon, Tuan. Lepaskan tanganku sekarang juga, atau aku akan membenci kalian semua! Ingat, Tuan. Aku tidak akan peduli seberapa besar hutang budiku kepada Tuan, cuman kalau cara Tuan memperlakukanku bagaikan seorang penjahat. Maka, sampai ma*ti pun, aku tidak akan pernah terima!"


Tatapan tajam yang gadis itu berikan pada Thoms, membuatnya benar-benar salut. Nay tidak sedikit pun merasa gentar, padahal kondisi keselamatannya sudah berada diujung tanduk. Selain itu, keempat bodyguard yang berdiri di dekat Nay langsung menodongkan senjata tepat di kepala gadis tersebut.


Semua anak buah Thoms tidak terima ketika King Mafia dihina seperti itu, terlepas kata-kata Nay sangat kasar ataupun tidak. Mereka tetap saja tidak suka seseorang memperlakukan Thoms layaknya seorang dengan kekuasaan dibawah Nay.


Baru kali ini mereka semua mendengar Thoms dibentak oleh seseorang, tetapi King Mafia itu malah terdiam mamatung. Matanya sesekali memperhatikan setiap penampilan Nay dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, tanpa memperintahkan mereka untuk menembaknya.


Padahal, setiap kali Thoms mendampatkan bentakan atau hinaan orang tersebut akan tewas dalam hitungan detik dengan keadaan mengenaskan. Ada yang pembuluh da*rah di kepala pecah, jantung bolong, atau lebih parah lagi ditembak tepat di kedua mata.


"Tuan, apakah kita harus menghabisinya sekarang?" tanya bodyguard yang terus memegangi Nay.

__ADS_1


"Turunkan senjata itu, dan pergilah!" titah Thoms menatap satu persatu mereka secara bergantian.


"Baik, Tuan. Permisi!" jawab salah satu dengan tegas untuk mewakilkan semuanya.


Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan lantai atas termasuk pria yang dari semalam sudah menjaga Nay. Mata Thoms langsung beralih ke arah pergelangan tangan Nay, di mana terdapat luka merah akibat cengkraman kuat dari tangan salah satu bodyguardnya.


"Kenapa tanganmu?" tanya Thoms, membuat Nay langsung menatap penuh rasa marah.


"Apa Tuan tidak punya mata, sehingga tidak bisa melihat luka yang sangat jelas ini, hahh?" tanya Nay balik dengan nada ketusnya.


"Apa itu sakit?" tanya Thom, wajahnya benar-benar polos.


"Ck! Pakai nanya lagi, dasar pria tidak peka!" gumam Nay sangat kecil bahkan nyaris tidak di dengar oleh Thoms.


Laki-laki macam apa dia, sama sekali gak ada peka-pekanya. Masa iya, lihat wanita terluka sedikit saja gak ada rasa kasihan. Aneh!


Percuma, dia punya wajah tampan bahkan mendekati sempurna dengan postur tubuh tinggi, putih, berisi, tapi gak punya hati. Cihh, menyebalkan!


Nay berbicara di dalam hati sambil membongkar semua laci yang ada di sana untuk mencari obat-obatan sekedar memberikan salep untuk meredakan rasa perih agar menghilangkan pergelangan tangan yang memerah.


"Hei, Nona! Saya belum selesai berbicara padamu, kenapa kau pergi begitu saja?" Thoms berjalan masuk ke dalam kamar mendekati Nay yang sedang sibuk mencari salep.


"Daripada mendengar ocehan Tuan yang tidak bermutu, lebih baik aku mengobati lenganku. Itu jadi lebih penting!" seru Nay berjalan ke arah lemari.

__ADS_1


"Apa kau bilang, hahh?" Thoms langsung menyelip Nay, lalu berdiri tepat di depan pintu lemari.


Nay sedikit terkejut atas perilaku Thoms yang sudah ada tepat di depannya. Wajah mereka berhadapan satu sama lain dengan kedua mata saling bertatapan.


"Ocehanku tidak penting, iya?"


"Ya, kenapa? Tuan mau marah padaku?"


"Kau itu kenapa sih, aneh banget! Saya nanya baik-baik, siapa tahu bisa bantu kamu untuk mengobati tanganmu itu, tapi----"


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Makasih! Terus, di mana kotak obat-obatan itu?" tanya Nay, datar.


"Mana saya tahu, emang kamu kira ini sama apotik berjalan!" sahut Thoms, cuek.


"Ck! Dahlah, minggir! Jangan ganggu saya, pergilah!" Nay mendorong sedikit keras tubuh Thoms hingga dia hampir nyungsep menabrak tepi kasur kalau bukan kedua tangannya refleks menahan.


Nay hanya menongolkan wajahnya sedikit dari pintu lemari yang sudah dibuka, melihat Thoms nyungsep senyuman miring terukir jelas dari sudut bibir gadis tersebut. Thoms langsung berbalik, lalu melirik Nay penuh dengan aura kema*tian. Akan tetapi, akibat rasa kesal di dalam hati atas tuduhan dari semua anak buah Thoms membuat Nay tidak merasa takut sedikit pun pada pria menyebalkan itu.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2