Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kondisi Thoms


__ADS_3

"Bun, Yah! Ka-kakak, Kakak pingsan di kamar mandi. Bajunya basah semuanya!" teriak Ernest sekuat tenaga sambil berlari mendekati meja makan.


Wajah mereka langsung syok tidak tahu harus mengatakan apa selain mendengarkan penjelasan dari Ernest. Setelah pria itu selesai mengatakan apa yang dilihatnya di kamar Thoms, segera mungkin Sakha berlari bersama Ernest dan Justin untuk menolongnya. Sementara itu, Elice berlari ke luar rumah untuk memanggil bodyguard supaya membantu Thoms yang pingsan di kamar.


"Aku harus lihat---"


"Ingat, kamu baru selesai operasi, jahitan dadamu juga masih basah. Kalau kamu mau ke kamar Kakak, aku ambilkan kursi roda yang pernah dipakai suamimu dulu, tunggu di sini. Aku titip Barra sebentar," ucap Moana, bergegas berlari ke arah gudang untuk mengambil kursi roda di temani oleh pembantunya.


Naya menjaga amanah Moana untuk menjaga Barra yang sedang asyik makan sendiri. Meskipun, perasaannya sudah tidak karuan dia tetap harus mikirin kondisi diri sendiri supaya tidak egois. Apabila luka itu kembali basah, maka harapan Naya untuk segera sembuh semakin lama.


"Nyanyanyam, hem ...." Barra mengunyah makanan sesekali menawarkan makanan di tangannya kepada Naya yang ada di samping tempat duduknya.


Naya cuma terdiam sambil tersenyum, sesekali menyuapini Barra yang masih belajar makan sendiri. Hanya selang beberapa menit, Moana datang sambil membawa kursi roda Ernest.


"Pakai ini, kamu tinggal duduk dan pencet tombol ke depan untuk jalan, ke belakang mundur, dan kanan-kiri buat belok. Sudah paham? Cobalah!"


Naya menganggukan kepala, kemudian duduk di kursi roda sambil menggunakannya secara perlahan sesuai arahan dari Moana. Selepas mengerti, Naya langsung pergi tak lupa berpamitan.


Moana hanya tersenyum, walaupun dia ingin sekali melihat sang kakak tetap saja putra kecil kesayangan itu masih cukup takut untuk bertemu Thoms yang berhasil membuat memory buruk di dalam ingatannya.


Semoga Kakak baik-baik aja, aamin ... Maaf ya, Kak. Aku tidak bisa lihat Kakak dulu, soalnya Barra tidak bisa ditinggal kalaupun ikut, tetap dia akan nangis melihat wajah Kakak. Mungkin, perwakilan dari semua orang semoga bisa membantu Kakak. Cuma, nanti jika Barra sudah tidur aku paati lihat Kakak. Untuk saat ini aku hanya bisa berdoa semoga Kakak baik-baik aja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.


Setenang apa pun Moana di hadapan sang anak, hatinya tetap memikirkan keadaan sang kakak yang tidak tahu apakah baik-baik saja atau tidak. Dia hanya dapat menunggu kabar dari yang lain sesekali fokus menatap Barra yang begitu lahap menikmati sarapannya.

__ADS_1


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di depan kamar Thoms sudah ada semua orang yang menunggu di luar, sedangkan bodyguard berada di dalam kamar dalam keadaan pintu tertutup dan dikunci.


"Bun, Yah, gimana Thoms? Apa yang terjadi sama dia, kenapa kalian malah ada di luar? Terus, Thoms gimana di dalam?" tanya Naya wajahnya dipenuhi oleh rasa cemas, khawatir, juga ketakutan yang cukup besar.


"Bodyguardnya lagi bantu menggantikan baju Thoms karena basah kuyub, ini juga Ernest baru menghubungi dokter yang biasa menangani keluarga kita. Kita tunggu mereka selesai menggantikan baju Thoms, baru kita lihat. Kamu tenang ya, jangan banyak pikiran nanti dadamu sakit. Bunda yakin, Thoms baik-baik aja percayalah, oke."


Elice merubah posisinya, berdiri di belakang Naya untuk mengelus dan memberikan semangat agar gadis itu tidak merasa sedih ketika calon suaminya dalam keadaan tidak baik-baik aja.


"Sabar, doakan yang terbaik untuk calon suamimu. Dia laki-laki yang hebat, kuat, dan oantang menyerah. Jadi, tidak perlu khawatir," ucap Sakha.


"Tenanglah, dia baik-baik saja. Sebentar lagi dokter akan datang ke sini, aku juga sudah menyuruh mereka memakaikan baju hangatku dan mematikan AC supaya demam yang diakibatkan menggigil tidak semakin tinggi."


A-apa Papa sakit karena aku? Pasti Papa sedih karena ucapanku semalam yang membuat hatinya sakit. Ternyata apa yang Mommy katakan benar, aku cuma bisa membuat Papa dan Ayah sakit karena keegoisanku. Ayah sakit depresi karena merasabersalah padaku, dan sekarang Papa seperti ini akibat ulahku. Apa yang aku katakan semalam itu karena aku marah sama Papa, tapi aku tidak bermaksud menyakiti Papa. Aku sayang Papa, aku juga sayang Ayah. Maafin aku, aku udah buat kalian sakit, maaf ....


Isi pikiran Justin saat ini kurang lebih seperti itu. Dia merasa bersalah karena semua yang terjadi pada mereka disebabkan olehnya. Wajar saja, Justin masih sangat kecil apa yang dianggap tidak suka ya, di tetap tidak akan suka. Apa yang membuatnya terluka, melekat selalu di dalam pikirannya dan sulit menemukan kebenaran apa yang harus dilakukan.


Rasa khawatir di wajah anak kecil itu menyita perhatiian Naya. Tangisan tanpa suara membuat Naya mengerti betapa gelisahnya Justin ketika mengetahui keadaan sang paman hari ini dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Justin, sini sama Tante. Jangan di situ sendirian, sini, Sayang, sini!" titah Naya, membuat Justin ragu-ragu untuk mendekatinya. Namun, dengan segenap hati gadis itu berhasil membujuk Justin dan mendudukannya di pangkuan Naya sambil berjaga-jaga supaya tidak mengenai jahitan di sebelah dada kanan.


"Udah ya, jangan khawatir. Di sini ada Tante, kita berdoa sama-sama buat kesembuhan Papa Thoms, oke?"

__ADS_1


Justin menganggukan kepala dengan wajah murung yang penuh beban. Naya bisa tersenyum di depan Justin lantaran apa yang dirasa olehnya mengalir ke dalam hati. Sehingga, cuma dia yang paham akan penyesalan yang ada di bola mata anak itu.


Tak lama dokter datang bersama salah satu bodyguard yang mengantarkan sampai ke depan pintu kamar, bersamaan dengan bodyguard yang baru saja selesai menggantikan pakaian sang atasan.


Tanpa berlama-lama kembali, mereka masuk ke dalam kamar Thoms dan memberikan ruang untuk dokter agar bisa segera memeriksa keadaannya dalam keadaan tenang tanpa bersuara. Kurang lebih 10 menit, akhirnya dokter selesa mengecek kondisi Thoms dan memasukan semua alat-alat ke dalam tas yang seringkali dibawa tugas.


"Bagimana, Dok? Apakah anak saya harus dirawat?" tanya Sakha, membuat semuanya sedikit terkejut. Akan tetapi, tidak sampai menanamkan rasa cemburu di dalam hati Ernest. Yang ada, dia malah tersenyum karena sang ayang sudah berdamai dengan keadaan di masa lalu.


"Boleh saya tahu bagaimana kronologi pasien bisa seperti ini? Apakah memilimi riwayat depresi?"


Pertanyaan sang dokter mampu membuat mereka langsung menatap ke arah Naya. Dikarenakan gadis itu adalah calon istrinya, sudah pasti akan mengetahu sedikit tentang kehidupan Thoms.


"A-aku? Aku tidak tahu, kisah yang aku dengar dari Thoms sepertinya mengarah ke arah situ. Cuma, kalau dia pernah depresi atau tidak aku tidak tahu. Jika memang itu ada, kemungminan masa lalunya dulu mengaruskan dia untuk menjalani pengobatan seperti orang depresi sampai dia beranjak dewasa dan perlahan mulai lepas dari pwngobatan itu. Selebihnya, aku tidak tahu menahu soal itu," ucap Naya sedikit gugup lantaran gadis itu memang tidak mengetahui tentang riwayat penyakit yang dimiliki oleh sang kekasih.


"Lantas, bagaimana pasien bisa dalam keadaan seperti ini. Dari rambutnya yang basah, apa karena pasien mandi di saat kondisi tubuhnya tidak baik hingga akhirnya terjatuh? Atau, bagaimana?" tanya dokter kembali, wajahnya terlihat begitu serius.


Tidak tahu harus menjawab apa, semua hanya menatap ke arah Ernest membuatnya segera menceritakan bagaimana pria itu menemukan Thoms hingga suara lantangnya berhasil menggemparkan seisi rumah yang sedang menikmati sarapan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2